Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 21– Pacaran I


__ADS_3

Di malam harinya selepas cerita masalah Arin, aku sebenarnya tidak buang-buang energi untuk memikirkan itu, terlalu banyak hal yang harus saya kerjakan, misalnya seperti sekarang, bermain game.


Hari ini adalah malam minggu jadi aku bisa leluasa untuk tidur lebih malam dari biasanya.


Semenjak aku sudah menikah juga, aku jarang berkeliaran keluar rumah. Tentu, adanya Bu Lisa lah penyebabnya, orang yang aku cintai, aku ingin selalu berlama-lama berada didekatnya.


Saat menonton televisi.


Mataku saat ini memang melihat layar TV di depan, walaupun pikiranku tidak kesana. Terkadang aku sesekali mengalihkan pandangan pada pintu dapur, melihat apakah Bu Lisa sudah selesai memasaknya apa belum.


Penantianku tidaklah lama, setelah beberapa saat dia baru keluar dari dapur dan membawakan sepiring makanan. Aku tersenyum ringan memandangnya sebelum kembali menatap layar TV, berfokus bermain game Playstastion.


Bu Lisa memakai baju piyama panjang dengan celana panjang, warnanya pink dengan pola gambar beruang kecil mengisi seluruh pakaian dan celana.


Walaupun pakaiannya sederhana dan simpel, ia tetap terlihat sangat cantik dan manis. Aku menduga bahwa apapun pakaian yang ia pakai, ia pasti akan terlihat cocok dan cantik.


Jika bukan karena aura kedewasaan yang memancar, dia bisa dibilang seperti anak remaja seusiaku, atau setidaknya dia seperti kakak kelas. Wajah dia yang terlihat begitu muda membuat orang lain bersalah paham tentang umurnya.


Ngomong-ngomong dia memang muda, umurnya saat ini 21 tahun berselisih 5 tahun dengan usiaku yang masih 16. Jarak umur kami memang jauh tapi itu masih sama-sama muda.


“Dek suapin yak?” kataku pelan di sela meliriknya.


Bukan apa-apa aku menyuruhnya, karena saat ini tanganku tidak bisa di gunakan. Aku masih membutuhkannya untuk memegang stik playstation, jika tidak maka aku tidak akan bisa bermain.


“Manja banget sih mas, gak malu sudah gede masih di suapin.”


Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Bu Lisa, padahal jika di pikir-pikir aku telah beberapa kali di suapi olehnya, jadi mana ada rasa malu.


Walaupun aku fokus main game dan tidak memandang ke wajahnya, dia tetap menyuapiku sesendok demi sesendok. Masakannya sangat lezat meski aku tidak tahu masakan apa itu.


“Mas, teman-temanmu punya banyak masalah ya?” Ucapnya setelah memasukan makanan ke dalam mulutku.


“Iya dek, biasa masalah anak remaja” ucapku ringan tanpa menoleh.


“Emang mas~”


“Eh, dek.. dek.. ambil minum dong, mas tersedak nih.” Aku cepat-cepat berseru tanpa peduli apa yang akan ia hendak ucapkan.


Sial memang, saking asik main game sampai lupa tidak mengunyah makanan terlebih dahulu. Untungnya ia cekatan mengambil air minum dan menyodorkannya padaku.

__ADS_1


“Makanya mas, kalau makan tuh fokus jangan sambil main game.”


Aku tidak terlalu mendengar omelan Bu Lisa, lebih fokus meminum dan menghabiskannya, setelah beberapa detik kemudian aku menghela nafas lega. Menyandarkan duduk di atas sofa.


Tidak ada lagi niat main game, lihatlah! Permainanku sejam lalu gagal seketika hanya gara-gara tersedak makanan. Aku mendengus, buru-buru mematikan PlayStation sebelum aku bertambah kesal dan membuangnya keluar rumah.


“Kok di matiin mas?” dia bertanya polos.


“Enggak apa-apa, tadi kata gamenya di suruh makan dulu.” Jawabku asal.


Dia tertawa kecil mendengar omelan kesalku hingga sampai terlihat lesung pada pipinya yang halus. Astaga! Kenapa dia begitu manis sihh.


Aku mengambil piring yang telah ia letakan di meja sebelumnya, terlihat nasi gorengnya masih banyak dan baru habis separuh.


“Dek, buka mulut ya?”


Seakan langsung tahu yang aku maksud, ia dengan cepat menggeleng tegas.


“Kenapa?” tanyaku.


“Enggak mau.”


“Eh, bukan gitu. Cuma.. cuma.. aku malu,” cicitnya tertunduk.


Ah, jadi karena itu.


“Gak apa-apa yang, sama suami sendiri juga. Ngomong-ngomong ini ciuman tidak langsung loh.”


Dia mengangkat kepalanya tidak mengerti, ciuman tidak langsung, apa maksudnya? Begitu kira-kira dari ekspresinya.


Aku tersenyum tidak melanjutkan perkataan ku, terlanjur sudah menyodorkan sendok menuju bibirnya. Walaupun dia terlihat ragu-ragu tapi dengan cepat ia mengerti dan membuka mulutnya.


Amm..


Helaian rambut dia kembali terulur ke depan wajahnya, aku meletakkansendok dan piring terlebih dahulu sebelum membenarkan rambut ia kembali. Ya ampun! Ketika wajahnya sedekat ini aku masih tidak percaya kalau di depan mataku ini adalah istriku.


Mata kami saling bertemu dan terkunci, dengan wajah sedekat ini kami saling mengutarakan perasaan lewat pandangan, membiarkan hati kami yang bicara.


Tatapanku berangsur lama, perlahan demi perlahan aku mengikis jarak membiarkan bibirku lebih mendekatinya. Namun tepat tinggal sedikit lagi, tiba-tiba ia mendorong bahuku pelan.

__ADS_1


“Maap mas, adek makan bawang. Nasi goreng tadi ada bawangnya”


Mendengar tutur katanya membuatku tersadar kembali, segera aku memalingkan muka, entah kenapa rasanya tiba-tiba aku menjadi malu sendiri.


Suasananya berubah jadi canggung, tapi untungnya dia berinisiatif bergerak, mengambil piring lagi.


“Mau lagi mas?” dia bertanya padaku dengan sendok yang sudah menjulur.


Aku tersenyum hangat sebelum akhirnya mengangguk, melanjutkan makan malam. Ini adalah malam mingguku dengan dia, walaupun sederhana tapi kesannya jelas berbeda, kami saling mencintai meski dia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung, dia mencintaiku lewat tindakannya.


Malam semakin larut, waktu menunjukan jam 8.30. Ah tidak, ini masih di bilang sore. Pada akhirnya aku tidak jadi bermain game semalaman, aku memutuskan untuk tiduran di teras rumah bersama dia, menikmati langit malam yang bertabur jutaan bintang,


Posisi kami seperti biasa dengan aku yang tiduran di pahanya, sedangkan ia duduk bersandar di kursi. Sesekali aku memainkan ujung rambutnya atau kalau tidak aku menenggelamkan wajahku ke perutnya yang rata.


Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersama dia, kami seperti pacaran, itu benar kami memang pacaran, pacaran setalah nikah.


“Dek kita pacaran yuk?” ini adalah ide konyol yang aku ucapkan, aneh memang, tapi bila di pikir-pikir aku belum pernah pacaran selama ini, jadi setidaknya di masa mudaku aku berpengalaman tentang hal ini.


Dia jelas heran mendengar ucapanku, wajah cantiknya terlihat tidak mengerti. Seolah dia salah mendengarkan, dia kembali bertanya.


“Gimana mas, kita pacaran?”


Aku mengangguk dan bangkit dari lahunannya “Iya kita pacaran kayak orang lain” kataku bersemangat “kayak berpegangan tangan, kencan, malam mingguan, terus.. apa ya, ohh nonton.”


Bu Lisa hanya tertawa melihat tingkahku yang mungkin seperti anak kecil.


“Lantas apa bedanya dengan yang sering kita lakukan?” tanyanya.


Aku berpikir sesaat, benar juga, malah kami lebih intim dari pada itu. Bahkan aku tidur dengannya setiap hari, berciuman, terus kami serumah lagi.


“Iya sih bener, tapi pokoknya kita harus berpacaran,” aku tetap keras kepala “Jadi gimana dek, kamu mau gak jadi pacar aku?”


Sebenarnya mau dia nerima atau nolak, dia tetap jadi milikku. Di banding hubungan pacaran yang tidak jelas, justru aku sudah mempunyai ikatan yang lebih sempurna dari itu.


Sambil menahan tawanya Bu Lisa akhirnya mengangguk, jadilah mulai hari ini kami berpacaran.


**Besok-besok mungkin author akan memperbaiki bacaan dari eps. 1, banyak yang salah!! tapi tenang, di setiap harinya ini akan tetap update. InsyaAllah..


Like dan Votenya jangan lupa..

__ADS_1


Terimakasih**


__ADS_2