Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 8 – Klub Membaca I


__ADS_3

Lembaran lama tidak dapat di hapus dan di tulis ulang. Namun lembaran yang baru bisa di cetak sesuai yang kita inginkan.




Selesai insiden dari mobil tadi, adalah awal langkah baru untuk pernikahan kami kedepannya. Setidaknya itulah yang aku rasakan ketika hari selanjutnya dan selanjutnya, bisa di bilang aku lebih leluasa mendekati dirinya.



Contohnya seperti sekarang, ketika di sekolah saat jam pelajaran berlangsung, aku keluar kelas meminta izin ke WC.



Entah karena takdir saat itu, aku melihat Bu Lisa berjalan di lorong sendiri, mungkin dia baru saja beranjak pergi dari kelas, karena pergantian pelajaran.



Aku dengan perlahan mengendap-ngendap di belakang Bu Lisa, mencoba mendekatinya. Untung saat itu di lorong tidak ada murid atau guru, jadi tidak ada yang melihat tingkah anehku.



Berjalan dengan perlahan tanpa ada jejak suara sedikitpun, aku langsung menggapai tangannya dan dengan cepat menariknya ke ruangan gudang yang tepat berada di samping.



Tentu itu semua sudah sesuai perhitungan, seperti menculik anak kecil. Aku langsung masuk ke gudang dan dengan cepat menutup pintunya, takut kalau ada orang yang melihat.



Gudang yang dimasuki adalah gudang peralatan sekolah, di sana sangat gelap hanya ada beberapa celah cahaya yang memasuki. Sebenarnya ini bukan tempat yang cocok untuk seseorang mengobrol, tapi setidaknya tempat ini aman untuk kami berdua.



Aku menghembuskan napas dengan pelan, mencoba menenangkan diri, tindakanku sekarang sangat nekat. Saat pandanganku teralih melihat wajahnya, dia ternyata sudah melotot menatapku dengan tajam. ‘Apa yang kau lakukan Raka’ mungkin itulah maksud dari tatapannya.



Tanpa pembicaraan apapun, aku langsung mencium bibir kecilnya dengan lembut. Itung-itung sebagai jawaban alasanku menarik ia ke gudang. Ciumanku hanya bertahan dua menit sebelum ia mendorong tubuhku dan meninggalkan beberapa jarak.



“Kau gila, Raka! Ini sekolah, kau tidak takut orang lain melihat kita.” Dia berseru galak namun tetap nada setengah berbisik, tentu ia masih takut kalau ada orang di luar yang mendengarnya.



Aku hanya menyeringai. “Tadi tidak ada orang di lorong, hanya kita berdua.”



Dia melotot kesal, bukan itu alasan yang mau dia dengarkan, bagaimanapun ini tetap sekolah. Bukan tempat mesra-mesraan seperti pacaran apalagi hal intim seperti ini.



Setelah itu dia membalikan badan dan hendak mau pergi ke luar, walau saat itu dia memarahiku sebenarnya aku tidak terlalu takut, malah sangat senang, karena dengan begitu dia memperhatikanku.



Tidak kehilangan ide, aku kembali menciumnya disebelah pipinya sekilas. Ia melirikku tajam tanpa protes sebelum mengalihkannya kembali dan menggeser pintu, melirik kanan-kiri memastikan tidak ada orang, dan setelah itu ia pergi keluar meninggalkanku.



Begitu juga selanjutnya, setelah ia pergi. Aku menunggu terlebih dahulu untuk menyisakan jarak beberapa saat, sampai tiba waktunya aku baru keluar.



Tidak ada lagi niatan ke WC, karena memang niat awalnya tidak kesana, aku keluar hanya berniat untuk menghirup udara segar, pengap sekali di kelas, banyak bau-bau otak mengepul karena berpikir.



Kembali menuju kelas, aku berjalan menyelusuri lorong, tidak ada orang di sepanjang jalan hanya aku sendiri. Itu tidak sulit di jelaskan karena memang saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, dimana semua murid berada di kelas mereka masing-masing.

__ADS_1



Bagaikan seorang anak ayam yang di tinggal induknya, ketika sampai di kelas. Terdengar suara riuh para murid mengobrol dan bercanda ria.



Jika para murid bisa memilih antara lebih baik libur atau jam kosong. Maka kemungkinan mereka akan banyak memilih jam kosong, karena memang letak suka cita SMA berada di titik ini.



Awalnya memang dugaanku seperti itu, tapi apalah daya, tidak semua murid selalu senang dengan jam kosong pasti ada dari mereka yang kelewat rajin.



Dan yang aku maksud adalah temanku, Della. Ia yang selaku ketua murid, beranjak dari kursi dan berniat untuk memanggil guru agar mengisi jam kosong tersebut.



Sontak sebagian murid langsung berseru protes,apalagi laki-laki yang sebagai mayoritasnya. Mereka berteriak tidak terima, katanya itung-itung jam santai, lalu yang lainya mengatakan bahwa ini jam kemerdekan, dan lainya lagi mengatakan ini jam tidur. Dan masih banyak lagi alasan mereka yang tidak masuk akal.



Aku yang sudah duduk kursi hanya bisa menghela napas panjang melihat pemandangan di depan, keributan kelas sudah tak bisa di bendung lagi.



Della memimpin salah satu pihak yang positif, sedangkan Reza yang entah dari kapan ia langsung memilih pihak kebalikan, yaitu pihak yang menginginkan jam kosong.



Aku menepuk jidat, jika ada kedua orang itu maka keributan yang sekarang bukan sepersepuluh dari keributan yang aslinya. Bukanya saling menenangkan perdebatan ketika menjadi pemimpin, ini malah ikut terjun berdebat.



Tuk! Tuk! Tuk!




“Ada keributan apa ini?”Ucap Bu Lisa bersuara tegas.



“Eh, itu Bu... Mm... ini tadi hanya diskusi” kata Della berbohong, tergugup.



Bu lisa mengerutkan alisnya “Diskusi? Diskusi apa?”



Della terdiam kaku, dia tidak mungkin menjelaskan kalau ini adalah diskusi tentang jam kosong, bahkan di bilang diskusi saja sudah salah, tepatnya ini adalah perdebatan.



“Diskusi tentang festival ulang tahun sekolah bu, ini masalah tema yang nanti kami akan pakai,” itu bukan Della yang menjawab, melainkan Reza.



“Bukannya masih lama, kenapa harus sekarang” tanya Bu Lisa menyelidik.



“Eh? Ini... Cuma persiapan aja Bu, kalau-kalau nanti gak harus berdiskusi lagi,” kini Della mengambil alih pembicaraan.



“Iya begitu Bu, aku dan Della saat ini memimpin untuk diskusi tersebut.” Reza membantu, mencoba meyakinkannya lebih nyata lagi.


__ADS_1


Bu lisa hanya ber’*ohh* sebagai jawabannya, sebelum ia pergi menuju kelas yang akan ia ajar.



Aku dan Zildan yang berada di samping bangku langsung menepuk jidat bersamaan, kami saat ini sama-sama berpikir heran, bagaimana mungkin Reza dan Della bisa sepihak seperti itu, jelas ini adalah momen yang paling langka.



Jika di pikir-pikir perkataan Zildan saat itu bisa jadi memang benar. Ketika mereka berkelahi justru keakrabanlah yang akan tercipta dari mereka.



Setelah itu kelas kami tidak ada yang berani berdebat lagi, Reza dan Della selaku kedua pemimpin juga terdiam. Sudah cukup mereka berbicara, jika tidak, mereka akan membangunkan singa yang lagi tertidur, seperti tadi.



Mungkin dari seisi kelas hanya aku yang merasa biasa saja. Tentu, seberapa kali dia marah, di hadapanku dia tetap istriku yang lucu dan imut.



\*\*\*



“Permisi, untuk yang namanya Raka, Zildan, Reza, Della, Arin, dan Airin. Mohon untuk ke ruang guru selepas pulang nanti, ini ada perintah dari Bu Lisa.”



Tiba-tiba saat jam pelajaran tengah mulai, seorang murid wanita mengetuk pintu kelas yang membuat seisi kelas mengalihkan pandangan menatapnya. Aku yang mendengarnya mengerutkan kening dengan heran, pasalnya ini baru pertama kali aku di panggil ke kantor guru.



Aku menoleh pada Zildan sambil menaikan alis ‘ada apa?’ Dia hanya menaikan bahu “aku tidak tahu”. Terus aku menatap Reza yang berada di seberang bangku depan, kebetulan ia juga menatapku hendak mau bertanya, aku menggeleng kepala, tidak tahu.



Waktu melesat begitu cepat, jam pulang sudah sejak beberapa menit yang lalu berdering. Kami ber’enam berkumpul sejak tadi di kantor guru dan kini sedang berhadapan dengan Bu Lisa. Setelah beberapa kata dia berbasa-basi, akhirnya ia tiba di poin utamanya.



“Jadi dari data sekolah, hanya kalian berenam yang belum masuk klub ekstrakulikuler, bukankah benar?” Bu Lisa bertanya mencoba memastikan.



Kami hanya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk bersamaan. Di kelas satu SMA para guru memang mewajibkan muridnya untuk mengikuti kegiatan ekskul, minimal satu ekskul dan boleh lebih dari itu.



“Kebetulan,” dia menjawab mantap. “Saat ini, ada klub ekskul membaca yang bisa di bilang sudah tidak ada anggota, jadi kalau bisa kalian berenam bisa masuk ke sana."



“Klub membaca?” Della reflek bertanya.



“Iya, Della. Nah.. karena kamu adalah pemimpin kelas jadi Ibu akan menunjukmu sebagai ketua klub membaca.”



Jika saja Della berani sekarang, mungkin sejak tadi ia akan protes, bilang bahwa dia menolaknya, bilang bahwa dia tidak tertarik. Tapi apalah daya, itu hanya niatan saja dan tak mungkin dia katakan secara langsung pada bu Lisa.



Aku hanya tersenyum, tidak keberatan. Sebenarnya aku tidak masalah masuk ekskul mana pun, toh niat awalnya juga cuma daftar dan hadir doang.



\*\*\****Silahkan like dan Votenya, bila perlu koment kekurangan novel ini, biar author nanti bisa memperbaiki***..


__ADS_1


***Terimakasih***\*\*\*..!!


__ADS_2