Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 40 — 12 Keluarga Terpandang


__ADS_3

Seringkali mereka melihat uang dan harta sebagai jembatan kebahagiaan, namun mereka tidak menyadari bahwa jembatan kebahagiaan ada pada dirinya



“Aku tahu kamu itu orang kaya tetapi tidak menyangka bakal sekaya ini.” Reza berujar tak percaya memandang liontin yang berada di genggaman tangannya.



Liontin itu adalah milik Arin. Di beberapa detik lalu Reza meminjamnya untuk memeriksa lebih lanjut takut bahwa dirinya salah lihat.



Liontin itu memang sangat indah, warna perak darinya seperti menyilaukan ketika terlihat di mata. Aku saja yang sedang membaca buku tidak luput teralihkan untuk menatapnya.



Sebelumnya, kami berenam berpindah tempat dari kelas ke ruangan klub sehubungan jam kosong yang berangsur hingga jam pulang.



Ruangan klub membaca selain digunakan untuk hal yang semestinya kami juga menggunakannya untuk tempat beristirahat. Di ruangan ini suasananya sangat damai dan sunyi, sehingga cocok buat orang yang menginginkan ketenangan.



“Kenapa kau tidak pernah mengatakan bahwa dirimu dari keluarga terpandang, Arin?” Reza bertanya heran sambil menyerahkan kembali liontin itu.



“Itu bukan hal penting Za,” Jawab Arin. “Lagian jika kamu tahupun tidak ada mamfaatnya kan.”



“Yeah kau benar, ini berarti ada tiga orang yang berasal dari 12 keluarga terpandang selain kamu dan Airin di sekolah ini.” Ucap Reza memegang dagunya.



“Oh ya? Siapa yang ketiga?” Tanya Arin yang berubah berantusias.



“Nah kan jadi penasaran, jika kau mau tahu, tanya saja pada orang yang di pojok meja itu, dia pasti tahu jawabannya.”



Yang di maksud Reza di pojok meja adalah aku sendiri. Dia mengatakan hal tersebut mengartikan bahwa akulah orang yang di maksud.



“Raka, kau juga sama?” Arin menatapku tidak percaya, ia sama terkejutnya dengan ekpresi Reza tadi.



Aku secara perlahan mengangguk. Bukan Arin saja yang memandangku dengan seperti itu melainkan Airin dan Della juga sama, mungkin hanya Zildan saja yang tidak tertarik karena memang sudah tahu.



Sebutan 12 keluarga terpandang berasal dari wali kota sebagai hadiah julukan penghargaan, karena dengan adanya 12 keluarga terpandanglah kota ini menjadi terbantu kemakmuran dan kesejahteraannya.



Singkatnya, 12 keluarga terpandang adalah orang-orang kaya yang memiliki kekuasaan dan harta berlebih. Kekayaan yang lebih itu biasanya akan di gunakan untuk kepentingan orang banyak.



Salah satu contohnya adalah keluarga Arin dan Airin yang sama sepertiku, keluargannya mendapatkan harta berlebih dan mendonasikan pada bidang-bidang yang berbau pendidikan. Mereka menyedekahkan uang itu pada sekolah-sekolah.



Sedangkan untuk keluargaku menyalurkan harta berlebih untuk membeli tanah sekitar dan merubahnya menjadi sebuah kebun. Nah, kebun itu akan di proses pada orang yang tidak mampu dan hasil panennya akan di bagi menjadi dua.



Berita ini sebenarnya sangatlah umum dan lama, namun meski begitu orang-orang tidak akan lupa. Karena bagaimanapun 12 keluarga terpandang adalah orang kaya yang baik yang telah menolong mereka.



Ketika Arin menunjukan liontin itu pada Della sebelumnya, aku juga sama terkejutnya dengan Reza. Liontin itu adalah simbol dari lambang keluarga terpandang, dimana yang memilikinya menandakan keturunan.

__ADS_1



Aku juga memiliki liontin tersebut, tetapi karena aku laki-laki aku tidak pernah memakainya. Liontin itu adalah pemberian orang tuaku saat dulu berumur 10 puluh tahun. Pemberian bahwa aku adalah salah satu keturunan 12 keluarga terpandang itu.



Apakah aku orang kaya? Jawabannya sangat kaya. Bukan aku bermaksud sombong, tetapi seperti itulah kenyataannya. Kalian masih ingat dengan hadiah rumah pernikahanku dengan Kalisa, bagi kedua orang tuaku membeli rumah tersebut adalah hal yang mudah.



Yah, walau memang keluargaku kaya, tetapi mereka mengajarkan tentang kesederhanaan padaku.



Ayahku pernah berkata, “Bersikap berlebihan tidak akan memastikan kamu puas dan bahagia, malah sering kali penyesalanlah yang kau dapatkan.”



Atau ibuku pernah menasehatiku dengan senyuman hangatnya, “Seringkali mereka melihat uang dan harta sebagai jembatan kebahagiaan, namun mereka tidak menyadari bahwa jembatan kebahagiaan ada pada dirinya.”



Yeah, intinya kedua orang tuaku mendidikku dengan baik, tidak pernah abai sedikitpun apalagi jika itu berhubungan dengan harta.



Selama sejam kemudian topik pembahasan kami diruangan klub hanya membicarakan tentang 12 keluarga terpandang.



Gara-gara Reza aku banyak di tanya oleh Arin dan Della tentang siapa identitas orang tuaku. Mungkin, Jika itu Arin dan Airin yang tidak tahu masih bisa di maklumi, namun berbeda dengan Della yang sering sekelas di masa SMP dulu.



Sepanjang dia berteman denganku dia baru tahu soal aku berasal dari keluarga terpandang. Yah, padahal suruh siapa dia tidak bertanya, iya kan?



Selepas tanya jawab dari kedua gadis itu, aku beranjak pergi menuju kantin berniat membeli air di mesin minuman. Kebetulan sekali aku berpapasan dengan Bu Lisa, ketika kontak mata kami saling bertemu, Bu Lisa langsung tersenyum padaku.




“Gak usah formal gitu sayang, tidak ada orang disini.” Aku menjawabnya lembut. Sudah sejak tadi aku rindu pada istriku ini.



Untungnya di kantin saat ini tidak ada siapa-siapa, karena memang waktu mendekati pulang biasanya murid-murid tidak akan pernah kesini.



“Mau, minuman apa sayang? biar aku aja yang beli!”



“Gak apa-apa Mas, Adek bawa uang, kok.”



“Tidak apa, yang mana hm?”



“Eh, yaudah yang itu aja.” Dia menunjuk kaleng minuman cokelat.



Aku mengangguk dan segera menekan tombol pada mesin itu, “Nih sayang…” aku menyodorkan minuman kaleng tersebut



“Loh, Mas gak beli?” Tanyanya.



“Beli. Itu yang ada di tangan kamu,” Aku menunjuk kaleng yang sudah ia minum.

__ADS_1



“Kata Mas, ini buat adek tadi.”



“Iya, maksud Mas nanti bekas kamu. Nah, kamu jangan habisin semuanya biar aku kebagian.”



“Kenapa gak beli aja sih.”



“Aku suka minuman bekas bibir kamu sayang, lebih manis.” Aku terkekeh jail. “Sini sayang duduk! Kamu gak boleh minum sambil berdiri!” kataku menepuk paha.



“Nanti ada orang Mas, Adek gak mau.”



Aku melirik area sekitar sebelum meraih tangannya dan menarik kesalah satu sudut kantin, tempat ini sangat aman, orang-orang tidak bisa melihatnya dari jauh.



Bu Lisa masih ragu untuk duduk di pangkuanku namun aku tidak menunggunya melainkan langsung menarik tangannya sehingga ia terduduk di pahaku.



“Aku rindu tahu sama kamu,” Ucapku merengek manja.



“Iya Mas, nanti dirumah juga bisa ketemu.”



Aku terkekeh jail, “Mau itu dong?”



“Ini?” Dia mengangkat kaleng minuman. Aku menggeleng, “Bukan itu, bibir kamu sayang.”



“Enggak!” ucap Bu Lisa tegas.



“Yasudah, pipi aja ya?”



“Ih, kamu denger gak sih Mas?”



“Boleh ya?” Tanyaku sekali lagi. “Cuma cium pipi aja kok.”



Aku tidak menunggu jawaban lagi ketika Bu Lisa terdiam, itu tandanya dia memperbolehkan tapi malu untuk mengatakannya.



Namun sangat jelas niatku bukan sekedar hanya itu saja, setelah mencium pipi dia, aku berpindah tempat dan mencium bibirnya sekilas yang justru membuat ia merona.



“Mas bohong.” Cicitnya pelan memukul dadaku.



Aku tersenyum lebar melihat wajahnya malu-malu, sudah jelas dia juga menginginkan ciuman dibibir, tetap saja berbohong.


__ADS_1


Jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.


Terima kasih


__ADS_2