
“Sudah dulu ya, Mas.” Bu Lisa menahan dadaku agar tidak mendekatkan kembali padanya. Dia takut jika aku terus menciumnya bakal ada orang yang lihat.
“Sekali lagi… aku janji.” Kali ini dia melepaskan tangannya, membiarkanku mencium bibirnya terakhir kali, “Terima kasih, Dek.”
Istriku tersenyum kecil sebagai jawabanya, sesudah itu kami duduk di salah kursi taman, saling memegang tangan.
Entah dari mana, ada tiga anak kecil datang bermain di depan kami, wajah mereka penuh tawa dan canda. Dilihat baik-baik, dua dari mereka membawa tali karet yang terhubung, kemudian di rentangkan karet itu.
Entah aku dan Bu Lisa hanya bisa tersenyum melihatnya, itu adalah permainan lompat tali, permainan dulu waktu kami masih kanak-kanak.
Salah satu gadis kecil yang harus bagian melompat, dia mengambil jarak sejauh mungkin bersiap akan melompati tali karet yang setinggi dadanya. Setelah lumayan agak jauh dia berlari sekencang ia bisa.
Huft!
Gadis itu berhasil melewatinya, kemudian tali karet di tinggikan lagi ke bagian dagu, level selanjutnya. Itu ukuran yang lumayan tinggi bagi tubuhnya yang kecil, namun setelah kembali bersiap-siap dia berhasil lagi.
Bu Lisa dan aku reflek bertepuk tangan, gadis itu hebat sekali, loncatannya sangat tinggi. Tali karet yang sebelumnya di bagian dagu berpindah ke atas kepala, untuk sekarang, ketinggiannya sama dengan si gadis pelompat.
Tapi jelas sekali bagi gadis itu tidak masalah, dia dengan mudahnya melompati tali itu dengan bantuan tangannya. Aku dan Bu Lisa kompak menepuk tangan kembali.
Berbeda jauh dengan yang sebelum-sebelumnya, kedua gadis kecil yang memegang tali karet kini mengacungkan kedua tangannya sehingga tali karet itu ikut teracung tinggi.
Aku yang melihatnya menjadi tegang, itu terlalu tinggi, bagaimana bisa si gadis pelompat dapat meraihnya. Bu Lisa juga fokus menotonnya, dia mencengkram tanganku erat, merasakan hal yang sama.
Hei! Aku benar-benar meremehkan gadis pelompat itu. Lihatlah, dengan bantuan tangannya yang menekan tali karet ke bawah, dia masih bisa melewatinya dengan mudah.
Ketika hendak kami bertepuk tangan kembali, sayangnya si gadis pelompat itu tidak semulus yang terlihat, salah satu kakinya terpeleset mendadak saat mendarat, membuat lututnya telak menyentuh tanah.
“Aww...” gadis itu meringis kesakitan, lututnya berdarah.
Aku segera hendak ingin menolongnya namun ternyata Bu Lisa lebih cepat bertindak dari pada aku. Dengan gesitnya istriku melepaskan cengkraman tangannya dan berlari ke arah gadis itu.
Bu Lisa langsung mengambil sesuatu di tasnya, dan saat aku meyusul dia, ternyata yang di keluarkan adalah plaster luka. Aku sedikit heran, kenapa istriku membawa plaster, namun sebelum pertanyaan itu selesai aku segera menepisnya.
“Sakit kak…” ringis gadis itu, sedangkan kedua temannya di samping mecoba menghiburnya agar ia tidak menangis.
__ADS_1
“Bentar ya sayang, ini kakak mau ngobatin dulu. Tahan ya…” Bu Lisa menumpahkan air botol minuman ke arah lutut gadis itu, lalu ia menyeka pelan dengan sapu tangannya hingga kering, baru setelahnya plaster yang ia pegang di tempelkan ke arah luka. “Nah, selesai…”
“Masih sakit kak…” rengek gadis itu hampir menangis.
“Bentar ya, kakak belum selesai mengucapkan mantranya, jadi rasa sakitnya masih ada.”
Jangankan ketiga gadis itu, aku saja yang lebih dewasa sama-sama di buat heran oleh perkataan istriku. Emang Bu Lisa bisa sihir, kenapa ia pakai mantra segala?.
“Kalau kakak sudah ngucapin mantranya, kamu harus segera meniup lukanya. Kalau enggak nanti mantranya tidak bekerja,” ucap Bu Lisa menjelaskan, yang langsung di angguki oleh gadis itu.
“Siap. Hei.. hei.. hei.. wahai luka jahat segera pergilah. Ayo sayang segera tiup!”
Tanpa pikir panjang, gadis kecil itu langsung meniupnya beberapa kali, sengaja tiupannya lebih kuat, biar mantrannya benar-benar terjadi.
“Gimana, sudah gak sakitkan?” tanya Bu Lisa tersenyum ramah.
Gadis kecil itu mengangguk terpana, dia mungkin heran kenapa tiba-tiba rasa sakitnya hilang, begitu juga dengan gadis di sampingnya.
Berbeda dengan mereka bertiga, aku justru menepuk jidat. Apanya yang mantra, itu cuma bualan ucapan saja.
“Kupikir kamu memang bisa sihir, Dek?” celetukku di perjalanan pulang.
Bu Lisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Kamu ini, Mas. Itu kan hanya bohongan, masa kamu percaya sih sama bualan untuk anak-anak.”
Aku menggaruk kepala. Siapa tahukan, Bu Lisa itu beneran bidadari yang turun dari langit dan di tugaskan untuk menikahi laki-laki yang bernama Raka. Iyakan, siapa yang tahu?
“Mas, itu dagang apaan ya? kok menyala-nyala.” Suara Bu Lisa memecah keheningan setelah beberapa langkah berjalan, ia menunjuk salah satu kios dagangan gerobak sisi jalan.
“Kamu mau lihat?” tanyaku.
“Mm… Adek agak penasaran. Kita kesana yuk Mas, siapa tahu ada sesuatu yang dibutuhkan.”
Aku mengangguk, apa salahnya mengikuti apa yang istri katakan. Setelah mendekat pada gerobak bercahaya itu, kami jadi tahu bahwa ia berjualan lampu hias dan aksesoris yang bercahaya.
Bu Lisa sedikit kecewa, sepertinya dia mengharapkan yang lain, tetapi aku justru kebalikannya, aku malah tertarik dengan dagangan itu.
__ADS_1
“Ini gelang apaan ya, bang?” aku melirik dua buah gelang hitam yang di bungkus oleh plastik kecil.
“Oh ini ‘gelang pasangan’ namanya.” Ucap si pedagang itu tersenyum ramah. “ini cocok buat Mas sama mbak yang lagi berpacaran.”
Aku dan Bu Lisa saling lirik, tidak mengerti. Beruntung, sebelum aku bertanya kembali si pedagang menambahkan penjelasanya.
“Kalau kedua gelang ini saling berdekatan…” si abang mengambil gelang yang tadi aku pilih, dia membuka plastiknya kemudian mendekatkan kedua gelang itu, dan seketika ada sesuatu yang terjadi. “Gelang ini akan saling merespon dan kemudian akan menyala.”
Aku berseru takjub dalam hati, itu terlihat keren sekali. Sebenarnya gelang itu tidak menyala semuanya, karena gelang tersebut terbuat dari tali biasa.
Yang bisa membuatnya menyala adalah gantelan pada benang itu yang memang adalah lampu kecil tipe sensor, itulah kenapa jika didekatkan keduanya dapat hidup.
“Berapa, bang?” aku sudah mantap ingin membeli kedua gelang ini.
“Mm.. satunya sepuluh ribu, Mas, jadi jumlahnya dua puluh ribu.”
Aku segera merogoh saku dan memberikan uangnya pada si pedagang. Bu Lisa disisi lain sedikit mengernyitkan alis namun dia tidak bercakap apapun. Baru setelah kami tiba di teras rumah istriku bertanya.
“Kamu kenapa sih, Mas, beli yang ginian. Buang-buang uang tahu,” Ucap Bu Lisa berdiri di hadapanku dengan wajah cemberut.
Aku terkekeh pelan, kemudian aku berlutut di lantai sedangkan kedua tanganku mengambil gelang tadi di saku celana.
Dengan suasana senja, aku berposisi berlutut mantap dan berkata “KALISA. Maukah kamu menjadi istriku, jika iya tolong terimalah gelang ini...”
Hei! Lihatlah sekarang, aku seperti orang-orang di film yang sedang melamar kekasihnya. Jika seharusnya lamaran memberikan cincin maka aku memberikan gelang sebagai gantinya.
“Apaan sih, Mas, cepat bangun ih... Emang kamu pikir ini lamaran.” Bu Lisa gelagapan, bingung harus berbuat apa.
“Kamu jawab dulu, sayang… aku akan ulangi lagi nih...” Aku berdehem pelan. “Kalisa, maukah kamu kelak menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi pendampingku selamanya.”
Walaupun ini terkesan gurauan namun ucapanku seperti seorang yang serius, seperti aku memang akan melamar gadis.
Wajah Bu Lisa bersemu merah, dia mengangguk pelan. “Adek siap menjadi istri, Mas.”
Aku tersenyum sumringah, mengecup punggung tangannya lalu memasukan gelang yang tadi. Maka mulai saat ini, pacaran kami telah resmi bertunangan.
__ADS_1