Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 11–"Maaf Mas.."


__ADS_3

Rasa dingin itu perlahan menghangat dan membuatku menjadi tersenyum.




Puncak kepalan tanganku sudah mengeras dan siap memukul sesuatu. Saat itu, ketika aku tidak mengizinkannya, maka lantas dia tidak akan pergi ke sana. Namun sayangnya ucapanku hanya di anggap angin lalu.



Bu Lisa yang biasanya patuh terhadap ucapan atau keinginanku, hari ini telah dia hiraukan. Tak lama setelah sekolah dibubarkan, ia pergi bersama Pak Farhan ke toko buku.



Ketika aku melihatnya secara langsung, emosiku naik. Tepat di depan sana, Bu Lisa dan Pak Farhan berduaan turun dari mobil, mereka hendak memasuki toko buku.



Aku menggertakkan gigi tak kuasa menahan marah dan benci. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa mengikuti mereka lebih lanjut, kalaupun mengikuti justru membuatku tambah emosi.



Langit yang awalnya cerah mendadak mendung dan gelap, angin berhembus kencang masuk melalui celah-celah jaket. Perlahan tapi pasti hujan menjadi lebih deras dan besar.



Tidak peduli apa, aku tetap menarik pedal gas motor agar melaju lebih cepat. Sebasah apapun hujan ini tidak akan membuat api dalam emosiku padam, ia sudah terlanjur panas dan tidak akan mengecil.



Sesampainya di rumah, aku tak langsung masuk ke dalam, aku memutuskan untuk menunggu dia di teras. Baju sekolah yang aku pakai sudah sejak tadi basah kuyup, tidak peduli angin yang berhembus dingin menusuk tulang, aku tetap menunggu dia datang di luar.



Dua jam lamanya telah berlalu, langit yang memang gelap perlahan mulai redup dan kehilangan cahayanya. Aku menatap langit di atas sana, menghela nafas pendek, membayangkan segera kalau Bu Lisa datang, maka akan ada pertengkaran di antara kami.



Lampu-lampu mulai di nyalakan, rumah, jalan, kendaraan dan lainya. Sudah menginjak waktu malam, aku melihat jam tangan yang kini jarum pendeknya mengarah angka 7, sampai sekarang dia masih belum datang.



Hujan masih menguyur 4 jam lalu itu tandanya aku sudah menunggu di teras rumah selama 4 jam. Berdiri sendiri memakai baju yang basah dengan angin dingin yang terus menerpa.



Aku sebenarnya ingin sekali masuk ke rumah, mandi, berganti baju, makan lalu selepas itu tidur. Tapi masalahnya ego pada diriku lebih unggul dari pada itu semua, bagaimanapun aku tak bersikap biasa dengan kejadian ini.



Tepat jam 9 pas. Telak sudah aku menunggu 5 jam penuh. Emosi marahku sudah sejak tadi padam, pandanganku sudah mulai menguning dan buram, berdiri lima jam membuatku hampir di ambang ketidaksadaran.



Suara deru mobil lamat-lamat mulai terdengar, aku persis tahu suara mobil tersebut, itu adalah mobil miliknya, Bu Lisa. Dia baru saja pulang saat tepat hujan mulai reda.



Saat itu aku tidak terlalu persis melihat ekspresi wajahnya ketika melihatku yang sedang berdiri di teras rumah, yang aku ingat hanya suara samar-samar ia menangis dan langsung memelukku.



Pelukan itu sangat hangat dan nyaman, maka tepat saat berada di pelukannya kesadaranku sudah hilang sepenuhnya, saat itu juga aku pingsan, benar-benar tidak bisa bertahan lagi.


__ADS_1


\*\*\*



Aku membuka mata perlahan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Hal pertama yang aku rasakan adalah aku sekarang berada di kamar, berbaring di kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuh.



Aku merasakan panas di sekujur tubuh, rasa tidak enak badan. Baru beberapa detik kemudian aku menyadari bahwa ada benda yang menempel di dahiku, itu adalah kain basah, ternyata sekarang aku sedang demam.



Pukul 3 dini hari, itulah yang di tunjukan jarum jam di kamar. Aku menatap sekeliling dan melihat seseorang yang terduduk di sampingku. Ia terlelap, matanya tertutup rapat-rapat dengan nafasnya yang sudah teratur.



Masih merasakan meriang, aku beranjak bangkit mencoba untuk duduk di kasur, tanganku sudah menjulur mengusap lembut pucuk kepala Bu Lisa, senyuman tulus terbentuk dari bibirku.



Karena merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya, Bu Lisa terbangun dari tidurnya, mata hitam dia yang besar dan bulat langsung terkunci menatap mataku.



“Mas, sudah bangun?” Dia terperanjat bahagia dan langsung memeluk.



Aku hanya diam tidak menimpali, masih teringat segar bahwa selama lima jam penuh aku menunggunya, menunggu dia yang tengah asik bersama orang lain, sedangkan disini aku sendirian berdiri dengan angin dingin yang terus menerpa.



“Maap...” Lirihnya pelan “ Maapkan aku Raka...” ucapnya sekali lagi, nada suaranya bergetar lemah lalu tak lama isak tangis terdengar. “Sungguh maapkan aku, Raka”.




Dia terus memelukku dengan erat dan mengatakan minta maaf berulang-ulang, terus menangis sendu penuh penyesalan di setiap katanya. Aku menghela nafas panjang, membuang semua egoku, Melihat dia seperti ini, jujur saja membuatku ikut merasakan sedih.



“Iya, aku maapkan. Asalkan jangan di ulangi lagi. Aku menunggumu di teras rumah selama 5 jam, hendak memarahimu karena kau tetap pergi bersama Pak Farhan walau aku tidak mengijinkannya. Tapi semua itu aku urungkan dengan cepat ketika malam bertambah larut.” aku berkata pelan, mengusap punggungnya dengan lembut.



“Aku khawatir, Kalisa.” Ucapku melanjutkan, “Takut kamu akan kenapa-napa, malam sudah larut dengan hujan kian deras. Istriku pergi keluar tanpa aku dampingi, itu benar-benar membuatku takut.” Aku beralih memeluknya dengan erat, seakan takut dia akan pergi.



Tangisan dia bertambah pecah mendengar tutur kalimatku. “Maafkan aku Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi... Hiks... Hiks... Aku tidak akan melakukannya lagi...,” dia berseru kencang, membenamkan wajahnya di dadaku.



“Iya, iya.. sudah cukup Lisa jangan menangis lagi!” aku menepuk punggungnya pelan.



Sebenarnya, Aku saat ini justru malah ingin ketawa melihat Bu Lisa seperti ini, entah dari mana datangnya pikiran tersebut. Aku berpikir bahwa, Hei, lihatlah, Bu guru killer yang di segani para murid kini meringkuk di pelukanku seperti anak kecil.



“Maap Mas” cicitnya kesekian kali.


__ADS_1


“Iya, tidak apa-apa, sayang...” Akhirnya lepas sudah aku menahan tawa mendengar suaranya yang imut, dia benar-benar lucu.



“Kenapa Mas ketawa?” dia langsung mendongak dalam pelukan, menatapku dengan heran.



Aku menghabiskan tawa sebelum menjawab pertanyaannya. “Enggak, Dek. Mas cuma inget ke jadian lucu, itu saja.”



Untungnya dia tidak bertanya lagi, bisa aneh kalau aku menjawab karena mendengar suaranya seperti anak kecil, menggangu suasana sedih saja.



Perlahan akhirnya Bu Lisa melepaskan pelukan selama setengah jam berlalu, tangisannya juga berhenti. Dia menatapku dalam-dalam, mendekatkan wajanya dan mencium bibirku sekilas lantas tertunduk dengan wajah yang bersemu merah.



Hening sejenak, aku menatap lurus dengan pandangan kosong. Hei, apa yang dia lakukan tadi, menciumku! Aku menengok melihat wajahnya, sedangkan yang di tengok malah menunduk malu.



“Kamu tadi menci-“ aku berkata gagap tidak percaya atas yang ia lakukan.



Sebelum kalimat itu selesai, Bu Lisa sudah memberikan serangan cubitan padaku, sehingga aku mengaduh kesakitan. Namun rasa sakit itu bukanlah yang aku rasakan, tepat setelahnya tiba-tiba perutku bergejolak mual.



Itu benar, aku hampir lupa bahwa sebenarnya aku demam. Dengan gesit aku menyibakan selimut di kasur, beranjak pergi menuju kamar mandi.



Aku segera memuntahkan cairan bening pada wastafel, tidak ada isinya, karena memang aku belum makan sejak tadi siang.



“Mas kenapa?” Dia berseru panik, menganggap bahwa karena cubitannya lah yang membuatku muntah.



“Aku tidak apa-apa,” aku mengelap sudut bibir dengan tangan. “Hanya sedikit pusing."



Bu Lisa langsung menempelkan tangannya di dahi “Astaga Mas... Demam kamu semakin panas." dia terkejut sekaligus cemas.



Segera setalah itu dia menuntunku kembali ke tempat tidur. “Besok Mas jangan dulu sekolah.” Itu yang dia ucapkan sebelum ia bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur.



Aku menghela nafas, tersenyum. Masalahku dengannya terselesaikan di malam ini. Dan Ngomong-ngomong sehabis kejadian ini aku dan Bu Lisa menjadi sangat dekat.



\*\****Jangan Lupa Like dan Vote nya!! Kalau boleh, silahkan coment kekurangan novel ini***..



***Terimakasih***\*\*..!!

__ADS_1


__ADS_2