Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 34— Di Bawah Tetesan Hujan


__ADS_3

Bulir air yang jatuh dengan lembut menghantam basahnya tanah




Pernyataan cinta Bu Lisa pada seminggu yang lalu telah mengubah jalan pernikahan kami ke tahap selanjutnya. Tahap di mana hubungan kami menjadi lebih erat yang tak bisa tergoyahkan.



Hari demi hari semenjak dia mengungkapkan perasaanya, Bu Lisa menjadi lebih terbuka kepadaku tentang masalah apa yang biasa dia hadapi, yang sebelum-sebelumnya dia tidak pernah melakukan itu.



Setiap malam sebelum kami tertidur, Bu Lisa akan menceritakan apa yang di alaminya selama seharian penuh. Aku yang mendengarnya selalu senang ketika Bu Lisa seperti itu, seperti aku bisa melihat sisi Bu Lisa yang berbeda.



Sikapku padanya tidak berubah hanya saja menjadi lebih meningkat, jika sebelumnya aku menahan kepribadianku lima puluh persen, kini aku tidak tanggung-tanggung mengeluarkan kepribadian asliku yang sebenarnya.



Bu Lisa pernah mengatakan padaku seminggu yang lalu, “Aku mencintaimu, Mas. Mencintai sikapmu, mencintai kekuranganmu, mencintai apa yang tidak pernah kau cintai di dalam dirimu. Jadi berhentilah meragukan pernikahan kita, kita telah sama-sama mencintai. Aku istrimu dan kamu adalah suamiku.”



Kata-kata yang dia lontarkan saat itu adalah hal yang terindah yang tidak akan aku lupakan. Setiap kalimatnya sangat bertenaga, berkeyakinan, dan kuat. Ketika aku menatap matanya, aku bisa melihat sesosok gadis yang luar biasa di dalamnya.



\*\*\*



“Hai sayang.” Aku melingkarkan tanganku pada perut Bu Lisa ketika dia tengah asik memasak.



“Kamu sudah bangun, Mas.” Bu Lisa menoleh ke belakang dengan senyuman manisnya, “Adek baru saja mau membangunkan.”



“Kamu bangun jam berapa tadi?” tanyaku menaruh dagu di pundaknya.



“Kurang lebih jam satu, Mas. Entahlah, aku tidak terlalu persis jam berapa aku bangun.” Katanya sambil menggerakkan-gerakan sepatula pada masakan. “Kamu sudah lapar?”



Aku mengangguk cepat. “Laper banget yang … “ kataku mengeliat manja.



“Aduhh, kasihan … murid ibu belum di kasih makan.” Candanya.



“Hehehe ... ngomong-ngomong ada yang bisa aku bantu gak?”



“Gak usah, bentar lagi udah kok. Kamu tunggu aja di meja makan nanti adek kesana.”



“Di sopa aja yang makannya, sepiring berdua.” Kataku melepaskan pelukan. “Aku tunggu di sana ya?”



Bu Lisa mengangguk tersenyum, membenarkan poni rambutnya.



Di hari minggu setelah sekolah mengakhiri ujian tengah semester (UTS), kini para murid sudah tidak sibuk lagi dalam belajar, mereka sudah tidak perlu memikirkan nilai-nilai raport yang entah nanti bagaimana.



Di sisi lain, berakhirnya UTS membuat murid yang bermain game lebih menjadi-jadi dalam memainkannya. Jika aku berkumpul dengan teman kelas lainya, maka topik obrolan mereka tidak akan jauh dari membicarakan game online itu.

__ADS_1



Dan ngomong-ngomong, selama seminggu berlalu juga, aku berpuasa untuk tidak bermain game online persis apa yang istriku minta. Namun, jika itu game yang lain, dia masih memperbolehkannya, katanya dia terlihat kesihan melihatku melarat saat tidak bermain game.



Kembali sekarang, karena tepat hari ini libur sekolah. Aku berniat menghabiskan seharian hanya bermain game, setidaknya itu niat awalku yang sekarang berubah total gara-gara suara guntur, yang membuatku urung menyalakan PlayStation.



Kalian tahu, musim hujan di kotaku ini belum di penghujungnya, jadi jangan berharap kalau seminggu akan cerah atau tidak akan turun hujan. Jangankan di hitung perminggu, bahkan di setiap harinya saja, saat tepat melebihi jam 12 siang, entah kenapa langit tiba-tiba selalu menjadi mendung dan hujan.



Benar saja, setelah suara guntur yang keras berbunyi, tak lama butiran tetes hujan turun dari langit dan membasahi tanah-tanah. Hujan tersebut kian menderas di sertai dengan irama petir yang menggelegar.



“Lihat apa, Mas?”



Sebuah suara tiba-tiba membuatku menoleh dari jendela, di depan sana Bu Lisa tengah membawa napan makanan yang telah di masaknya tadi.



“Melihat kenangan.” Balasku setengah becanda.



“Gayanya …” Bu Lisa tersenyum, “bukannya ingat jemuran kalau hujan, ini malah kenangan.”



Aku tertawa pelan.



Melihat Bu Lisa bisa becanda seperti ini adalah momen yang masih langka untuk di lihat, apalagi ketika di sekolah. Kalian harus ingat bahwa Bu Lisa adalah guru yang termasuk kategori killer, jadi mana ada bercandanya saat ia mengajar.




“Ayo … Aa …” Bu Lisa membulatkan mulut menyodorkan sendoknya mengarahku.



“Aku bukan anak kecil, Dek. Jangan bilang gitu.” Ucapku ketus.



“Kan yang suka di suapi biasanya anak kecil.”



“Aku bukan anak kecil sayang, aku sudah dewasa. Buktinya aku sudah nikah.”



Bu Lisa tersenyum hangat. “Iya deh, Mas Raka yang sudah dewasa.” Katanya sambil memasukan makanan ke mulutku.



Bicara tentang menyuapi tadi, sebenarnya setiap kami berdua makan, aku selalu memintanya untuk menyuapiku. Yah, walau mungkin ini membuatnya sedikit repot, tapi toh dia juga tidak keberatan.



Setelah aku makan. Aku keluar dari rumah dan berdiri tepat di tetesan air yang jatuh dari genting, tanganku menengadah membiarkan air hujan membasahinya dengan dingin.



Awalnya memang sebelah tangan yang sengaja aku basahi, namun lambat laun aku berjalan maju, membuat baju dan seluruh badanku sempurna basah. Itu benar, aku memang berniat bermain hujan dari awal.



Mataku terpejam mengangkat ke atas, merasakan setiap hantaman bulir air menabrak wajah dengan keras. Jauh di lubuk hatiku, ini sangat nyaman dan membuatku tenang.


__ADS_1


“Mas!” Suara Bu Lisa berteriak lamat-lamat dari teras rumah, “Kamu ngapain di sana?!”



Mataku terbuka dan menatap Bu Lisa, ada tatapan jahat ketika memandangnya. Saat Bu Lisa masih dalam keheranan kenapa tiba-tiba aku berdiri kehujanan, aku melangkahkan kaki mendekati dia.



“Kamu kenapa bisa kehujanan?” tanyanya sekali lagi.



Aku tidak menjawab, melainkan menarik tangan Bu Lisa ke arah luar teras.



“Mas ... basah! Basah!” Dia berjengit kaget saat tiba-tiba tubuhnya kehujanan. Dia hendak berlari balik namun dengan kuat aku menahannya. “Mas lepasin! Nanti aku kehujanan.”



Aku tersenyum tetap mencengkram tangannya dengan kuat.



“Mas!” Bu Lisa berteriak histeris.



Namun setelah beberapa saat dia merasakan bahwa baju yang di pakainya telah sempurna basah, Bu Lisa tidak berteriak lagi, ia sudah pasrah.



Aku langsung memeluk pinggangnya, membuat kami saling berhadapan dan berdekatan. “Nah, kalau diem ginikan enak.”



Bu Lisa menggelembungkan pipinya kesal. “Apaan sih, Mas. Jahat banget.”



Aku terkekeh sebentar lalu mencium bibir merahnya sekilas.



“Jangan cium-cium,” ketusnya memalingkan muka.



CUP



Aku mencium kembali di sebelah pipinya.



“Mas!” dia berseru jengkel dan mendorong tubuhku beberapa langkah.



Namun gara-gara dia mendorongku sontak membuat pandanganku menoleh ke arah yang lain. Tepat ketika hujan membasahi pakaiannya, aku bisa melihat jelas pakaian dalam yang di kenakan Bu Lisa.



Aku meneguk saliva, menoleh tepat kebagian dadanya yang menggelembung.



“Mas, ka … mu lihat apa?” Bu Lisa reflek menyilangkan tangannya. Wajahnya sudah memerah malu.



Kepalaku terangkat kaget menyadari telah lama memandang bagian itu, segera aku memalingkan muka. Sial! Kenapa aku benar-benar bertingkah memalukan.



**Maap agak sore terbitnya... hehehe**


__ADS_1


**Jangan Lupa Vote dan Likenya** \*\*\*\*ya\*\*\*\*! **Terimakasih**..


__ADS_2