Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 44 — Istri Baik


__ADS_3

Hei! menurut kalian bosan gak baca novel ini? kalau ya, mungkin aku harus segera tamatin secepatnya. Kalau tidak, yah di perpanjang selama mungkin, sampai Bu Lisa punya cucu wkwkwk... ]



“Hai, sudah bangun?” untuk terakhirnya kalinya mata dia berkedip memandangku begitu lama, ada tatapan kebahagian dari senyumannya yang terukir.



“Sudah, Mas.” Jawabnya lembut yang langsung mendekatkan kepalanya di dadaku.



Aku hanya bisa tersenyum melihat sikapnya menjadi manis seperti ini. Semalam kami memang telah melakukan ritual hubungan suami istri, entah aku atau dia sama-sama melatunkan nada-nada cinta bersama, jadi setelahnya kedekatan kami menjadi sangat dekat.



Jam menunjukan jam 4 subuh, masih sangat lama untuk kami bersiap-siap ke sekolah.



Saat ini kami berdua tertutupi selimut yang tebal, bukan karena kedinginan sebagai alasannya, melainkan karena kami tidak memakai baju apapun di dalamnya.



“Masih pegel-pegel, hm?” Aku mencium keningnya singkat.



Bu Lisa menggelengkan kepalanya yang saat ini ada di dekapanku, dia sudah terlanjur nyaman dan tak mau diganggu.



“Bu Lisa.” Aku menyapanya pelan.



“Iya?”



“Kamu cinta gak sama muridmu ini?”



Bu Lisa menengadahkan kepalanya mendengar ujaranku yang aneh, mulutnya cemberut tidak suka.



“Kenapa Bu Lisa istriku, kok mukanya jadi jelek gitu?” ucapku yang di sertai tawa kecil.



“Aku bukan gurumu sekarang Mas, aku ini istrimu,” jawabnya memanyunkan kedua bibir.



“Hehe… lagian aku benar-benar tidak menyangka loh kalau kamu itu istriku, secara kamu adalah idola di sekolah kita, apalagi di kalangan para murid laki-laki. Siapa yang tahu bahwa ternyata Bu Lisa yang mereka kenal telah menikah, kalau mereka tahu entah apa rupa wajah mereka saat menyaksikannya?”



Sambil aku berkata demikian, isi kepalaku membayangkannya lebih rinci. Bagaimana ekpresi wajah kekecewaan para murid yang pernah jatuh hati padanya.



“Gak lucu ah, becandanya jelek.” Balasnya memukul dadaku pelan.



Aku tidak peduli dan terus melanjutkan ucapan sebelumnya. “Apalagi melihat wajah Si Farhan yang pernah menembakmu, kurasa dia akan guling-guling sambil menangis ketika mendengar pertama kalinya.”



“*Hussh*, mulut kamu itu loh Mas, harus di ajari sopan santun. Walaupun kamu benci sama dia, kamu tetap harus menghormatinya sebagai guru.”



“Hehe… Iya aku minta maap istriku yang manis, aku kelepasan tadi. Ngomong-ngomong mana ciuman paginya, kok aku belum di kasih?” Kataku sambil membusungkan salah satu pipi.


__ADS_1


CUP



Bu Lisa tidak berkomentar apapun dan langsung mencium pipiku. “Terima kasih, sayang.” Jawabku yang langsung di balas dengen ciuman di kening.



“Adek mau mandi dulu, Mas.” Ujarnya melepaskan pelukan.



“Boleh Mas ikut?”



“Kalau Mas ikut nanti mandinya jadi tambah lama.” Jawabnya pelan.



“Hehe, tapi bolehkan sayang? Mas jadi pengen lagi.”



Bu Lisa tidak menjawab pertanyaanku melainkan langsung pergi ke kamar dengan membawakan selimutnya. Aku yang paham tentang perilakunya tidak menunggu lagi dan langsung ikut menyusul dia ke kamar mandi.



Jangan di tanya lagi kejadian selanjutnya, itu mudah ditebak, selain kami mandi disana kami juga melakukan ritual pernikahan.



“Tiap hari kita mandi bareng ya, Dek?” kataku mengelap bagian tubuh dengan handuk.



“Gak mau, kalau bareng terus nanti setiap hari Adek bakal kesiangan ke sekolah.”



Aku terkekeh pelan. Untuk guru serajin dan sebertanggung jawab seperti Bu Lisa, datang tepat waktu adalah priotitas utama. Bagaimanapun dirinya harus menjadi teladan bagi para murid lain.




“Mas! Masakanya udah siap!” Teriak Bu Lisa dari dapur.



“Iya, Mas kesana.” Aku memasukan buku yang terakhir dan pergi beranjak ke dapur.



“Mau yang mana, Mas?” Bu Lisa menawarkan makanan yang hendak aku pilih.



“Semuanya aja, kecuali sayuran.” Jawabku tersenyum. “Kamu suapin aku ya?”



Bu Lisa mengangguk, ia mendekatkan kursinya di dekatku lantas mulai menyuapi.



“Enak, seperti biasa. Istriku ini memang hebat kalau soal memasak.”



Ia tersenyum tidak berkomentar apapun, tangannya yang putih menjulur menyuapiku secara bergantian dengan dirinya.



“Kamu gak keberatan kan tentang permintaanku pada Bu Liya?”



“Iya, nanti aku sampaikan padanya. Mm… makasih ya Mas karena telah mengabulkan permintaan Adek.”

__ADS_1



“Tidak apa-apa sayang, bagaimanapun kita memang harus menolongnya.”



Tentang permintaanku tadi adalah aku ingin Bu Liya bekerja hanya di jam 7 sampai jam 12 siang, dan libur di hari minggu. Aku meminta hal ini yang tak lain karena aku tidak mau ada orang yang mengganggu kami berduaan di rumah.



Kalisa yang tadi malam mendengar permintaanku langsung menyetujuinya, menurutnya tidak masalah permintaanku seperti apa asalkan dia harus menolong Bu Liya.



Beberapa menit berlalu, setelah kami sarapan pagi, aku hendak bergegas ke teras rumah untuk memakaikan sepatu, namun baru saja mau melangkahkan keluar Bu Lisa memanggilku dari belakang.



“Apa sayang, aku mau pakai sepatu.”



“Iya bentar dulu, dasi kamu miring tuh,” aku melirik bagian dada tepatnya ke sebelah dasi, dia benar dasiku terlihat miring. “Sini, biar Adek aja yang benerin.”



Bu Lisa mendekatkan dirinya yang hanya menyisakan satu jengkal jarak dari tubuhku, kedua tangannya terlulur membenarkan dasi.



Disisi lain, aku tidak mau kesempatan ini di biarkan sia-sia. Segera kedua tanganku melingkarkan dipingganya.



“Kalau kamu dekat seperti ini wajah kamu sangat cantik loh, Dek.” Aku berujar lembut menatap matanya begitu dalam.



“Biasa aja Mas, seperti hari-hari biasa.”



“Beneran sayang, kamu tuh jadi terlihat anggun dan manis.” Aku menarik tubuhnya sehingga badan kami saling menempel. “Apalagi kalau pake setelan guru seperti ini, bikin tambah sayang.”



“Udah Mas ah, ini masih pagi tahu.” Bu Lisa menunduk malu.



Aku terkekeh, “jangan nunduk gitu, aku mau lihat wajah istriku yang memerah seperti ini.”



Kalian tahu, semenjak Bu Lisa menyatakan cinta dan menyerahkan mahkotanya padaku, aku jadi lebih, lebih, dan lebih ingin selalu dimanjakan olehnya.



Istriku itu adalah wanita yang baik dan penurut pada suaminya, walau terkadang aku bersifat kekanak-kanakan dan sering meminta hal aneh-aneh padanya, dia tidak pernah membantah sedikitpun.



Kalaupun ia hendak menolak, dia pasti akan menolaknya secara halus agar tidak menyinggung perasaan suaminya.



“Sudah ya Mas, ini sudah mulai siang loh, kamu memang gak takut kesiangan piket?” tanyanya mengelak.



Aku tidak terlalu mendengar perkataanya, saat ini perhatianku terfokus menatap wajah dia lekat-lekat. Sesenti demi sesenti wajahku mulai bergerak mendekati Bu Lisa.



Bu Lisa yang sudah tahu niat maksudku menutup matanya, dia mengerti bahwa aku akan hendak menciumnya. Setelah beberapa detik berlalu akhirnya bibir kami berdua bersentuhan, kami berciuman begitu hangat dan dalam.



__ADS_1


[Hei! menurut kalian bosan gak baca novel ini? kalau ya, mungkin aku harus segera tamatin secepatnya. Kalau tidak, yah di perpanjang selama mungkin sampai Bu Lisa punya cucu... ]


Terima kasih


__ADS_2