Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 106 — Demam


__ADS_3

Sepertinya kesibukan istriku berakhir panjang. Setelah beberapa hari ia masuk ke sekolah, Bu Lisa tidak lepas dari pekerjaaanya baik di rumah maupun di kantor.


Ini memang sewajarnya sebenarnya, karena tinggal 2 minggu lagi aku sebagai murid akan melakukan ulangan akhir semester. Artinya sebentar lagi aku akan naik ke kelas tiga SMA.


Aku beberapa kali mengingatkan pada Bu Lisa agar beristirahat kalau cape, apalagi dia selalu mengerjakannya hingga larut malam.


Seandainya bisa kulakukan, mungkin aku akan membantu pekerjaan Bu Lisa untuk meringankannya.


Sering aku melihat apa yang dikerjakannya tetapi tidak dapat dipahami olehku, sehingga aku hanya bisa membantunya setidaknya memberikan pijatan atau membawakan air minum.


Kesibukan Bu Lisa terhenti sampai libur tiba. Saat itu aku terbangun di jam 7 pagi dan menemukan dia masih tertidur. Ini aneh, karena Bu Lisa tidak biasanya belum bangun jam segini.


Aku memanggilnya pelan untuk membangunkan, tetapi Bu Lisa masih terpejam dengan damai.


Dahiku berkerut saat menyentuh tangannya yang agak hangat, ketika tanganku berpindah pada keningnya, ternyata terasa panas.


Sentuhanku itu juga akhirnya membuat mata istriku terbuka walau terkesan agak berat. Nafas Bu Lisa juga agak terengah-engah.


“Kamu sakit, Yang?” aku bertanya cemas, menempelkan punggung tanganku pada pipi dan lehernya.


“Mmhh… Iya kali, Mas. Adek rasanya lemas banget hari ini.”


“Kita ke dokter ya, Dek?”


Bu Lisa menggeleng pelan. “Ini hanya demam biasa Mas, nanti siang juga turun.”


Walaupun Bu Lisa berkata demikian itu tidak membuatku lega. Aku kemudian menyuruhnya agar jangan dulu mengurusi pekerjaan apapun hari ini kalau tidak mau kedokter, juga jangan melakukan aktivitas bersih-bersih di rumah.


“Tapi Mas, pekerjaan Adek tinggal sedikit lagi...” Bu Lisa memohon agar ia bisa memegang laptopnya.


“Tidak! Kali ini kamu harus istirahat total.” Jawabku sedikit tegas.


Bu Lisa terlihat sedikit enggan tetapi aku tidak mau penolakan apapun darinya.


“Ini perintah Mas, Kalisa. Aku tidak mau kamu sakit seperti ini. Kesehatanmu adalah yang utama.” Aku mengecup keningnya begitu lama.


Bu Lisa akhirnya menurut dan mengangguk pelan.


Hari itu, aku merawat istriku sebaik mungkin. Dimulai dari membuat bubur untuknya, memberikan suapan hingga memberikannya obat. Setelah itu aku menyuruhnya untuk tidur kembali.

__ADS_1


Kadang ketika dia terbangun, Bu Lisa juga menyusui Amelia yang sempat menangis. Untuk hal ini aku tidak mempermasalahkan, hanya saja sedikit kasihan karena istirahat Bu Lisa jadi terganggu.


Di waktu sore, aku kembali memasakkan bubur untuknya. Kalau soal membuat bubur aku masih bisa membuatnya, setidaknya cukup enak dimakan oleh Bu Lisa.


“Maap ya Mas, jadi ngerepotin kamu…” ucapnya disela aku menyuapi.


“Enggak ngerepotin, Yang.” Aku tersenyum sambil mengaduk bubur di mangkuk dan menyendokannya pada mulut Bu Lisa. “Buku mulutnya, Mah. Aaa…”


Bu Lisa memakannya dengan begitu lahap. Meski sakit, untungnya nafsu makan istriku masih ada meski harus dipaksakan untuk menelannya.


“Uh, istri pintar…” Aku mengelus pucuk rambutnya saat bubur telah habis. Kuminta dia juga minum obat dan istirahat kembali.


Baru beberapa menit Bu Lisa memejamkan mata, Amelia dari keranjang bayi menangis. Aku buru-buru mendekati dan menggendongnya.


“Jangan nangis dulu ya, Amel. Cup... Cup… Mamah lagi sakit sekarang.” aku menepuk-nepuknya pelan agar Amelia bisa tenang kembali.


Amelia menatapku sesaat sebelum tangisannya mereda. Aku tersenyum, puteri kami ini seolah mengerti apa yang aku ucapakan.


“Anak papah ini memang pintar...” Aku mencium bibir Amelia dengan gemas.


Kuletakan Amelia kembali di keranjang bayi setelah ia sudah tertidur. Bu Lisa untungnya tidak terganggu dengan tangisan Amelia sebelumnya, ia masih tertidur dengan damai.


Aku kemudian pergi ke dapur untuk mengambil kain dan air hangat. Aku mencepulkan kain itu, memerasnya sebentar lantas melatakan di kening Bu Lisa. Semoga dengan mengompres ini, demam istriku segera turun.


Sstt, ini tidak boleh dilakukan jika belum menikah.


Mungkin karena terlalu sibuk juga, aku jadi lupa untuk mengisi perut. Aku merapatkan pintu kamar dengan pelan takut Bu Lisa terbangun sebelum akhirnya pergi ke dapur.


Di dapur sendiri, walau di kulkas banyak makanan seperti daging, udang, atau sayuran. Aku tidak minat memilih mereka, tepatnya aku tak bisa memasaknya.


Aku mengambil mie instan yang ada di laci, salah satu makanan yang cepat dimasak dan simpel dibuat. Mungkin makan ini tidak membuatku kenyang tapi setidaknya mengganjal perutku dari lapar.


Setelah makan, aku kembali ke kamar. Kompresan yang sebelumnya di letakan dikening Bu Lisa sudah mengering. Aku menggantinya yang baru dan melatakannya kembali.


Sekitar jam 8 malam, Bu Lisa terbangun kembali. Aku baru saja mandi dan memakai pakaian, terkejut melihatnya yang sudah terbangun dan menatapku.


“Jam berapa sekarang, Mas?” Bu Lisa merubah posisinya jadi duduk dan menyandar di kepala ranjang. Kompresan yang sebelumnya diletakan dikeningnya terjatuh.


Aku tersenyum sebaik mungkin, berusaha tidak memperlihatkan wajah lelahku. “Baru jam 8 malam, Dek. Kamu butuh sesuatu?”

__ADS_1


“Adek pengen ke toilet, Mas.”


“Yaudah, Mas antar tapi kamu…”


Belum ucapanku selesai, Bu Lisa buru-buru bangkit dan berlari ke kamar mandi. Aku menyusulnya segera dan mendapati Bu Lisa tengah muntah-muntah di wastafel. Bubur yang sebelumnya dimakan semuanya keluar.


“Mas jangan kesini, Adek lagi mun.…” Bu Lisa tidak habis berkata-kata dia sudah muntah lagi.


“Kamu tidak apa-apa, Yang. Kita ke dokter, ya?” aku bertanya cemas, mengelus-ngelus punggunya. Melihat Bu Lisa menjadi tak berdayaseperti ini membuatku khawatir. Wajahnya yang putih menjadi pucat.


Bu Lisa menggeleng pelan, “Enggak apa-apa, Adek cuma mual sedikit.”


Aku mulai membujuk agar Bu Lisa mau diantar ke dokter tetapi Bu Lisa tetap menolak. Aku menghela nafas panjang, tidak bisa memaksanya. Aku kemudian menuntunnya kembali ke kamar dan membaringkannya.


Setelah dia membaik dengan meminum air hangat dan suapan bubur, aku duduk disamping Bu Lisa berbaring.


“Mas Raka pasti repot hari ini mengurus semuanya. Lisa minta maap…”


“Huss, siapa bilang repot, ini mah kecil bagi Mas tahu.” Aku tersenyum mencoba lebih ceria. Lagian kalau istri sakit, sebagai suami aku harus bertindak seperti ini.


“Maap ya, Mas…”


“Kok maap lagi, hm? Memang kamu punya dosa apa sama Mas, enggak ada kan? Kamu sekarang istirahat lagi ya, biar cepat sembuh.” aku menyentuh keningnya sekali lagi. Syukurlah, demamnya jadi agak menurun.


“Peluk…” katanya secara tiba-tiba.


Aku tertawa kecil, ini tidaklah aneh. Dulu pun seingatku saat Bu Lisa sakit, sikap manjanya akan muncul ke permukaan.


“Kamu sudah mendingan sekarang?” Aku sudah tidur disampingnya, mengelus pucuk kepalanya.


“Iyah, mungkin agak sedikit pusing.”


Kukecup keningnya. “Nah, masih pusing gak?”


“Belum, cium lagi…” katanya merengek.


Aku terkekeh, mencium keningnya kembali. “Masih pusing?”


Bu Lisa menggeleng sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


“Ini pipi merah karena sakit atau hal lain?” Aku tersenyum lebar, mencubit pipinya dengan gemas.


Bu Lisa menenggelamkan wajahnya didadaku, meringkuk dengan malu-malu. Dasar, disaat masih sakit juga, dia masih bisa bertingkah menggemaskan.


__ADS_2