
Perasaan itu akhirnya tersampaikan dengan hangat...
Pagi ini seharusnya adalah hari yang indah ketika aku di sekolah. Bagaimana tidak? Sepanjang 2 pelajaran berlangsung tidak ada guru yang datang ke kelas, dan itu berarti kami memliki waktu bebas 3 jam.
Untuk murid laki-laki sendiri mereka menghabiskan waktu berkumpul di salah satu meja untuk bermain game online. Tentu saja, inilah kesempatan emas agar mereka bersenang-senang.
Di sisi lain, murid perempuan juga melakukan hal yang sama namun yang membedakannya adalah mereka tidak bergerombol untuk bermain game seperti laki-laki melainkan hanya mengobrol dan bercakap-cakap.
Aku menatap keluar jendela di kursi paling belakang dan pojok. Pagi ini langit sangat cerah, awan-awan yang melayang di atas sana menjuntai indah di atas luasnya langit biru, burung-burung saling bernyanyi berirama terbang bersama kawananya.
“Kau tidak ikut bermain, Raka?”
Kepalaku menoleh ketika ada sumber suara yang memanggil namaku. Dia adalah Zildan, teman sekaligus sahabatku.
Aku tersenyum tipis, pertanyaan dari Zildan tepat mengenai titik di mana aku tidak bisa menjawabnya. Kemarin malam saat aku berkata akan berusaha mengabulkan permintaan Bu Lisa, salah satu dari permintaan tersebut bahwa dia ingin agar aku tidak bermain game online itu, katanya Mas harus fokus untuk belajar.
Yah, meski jujur saja itu adalah hal berat bagiku tetapi aku sudah mengatakan akan mengabulkannya, jadi mulai saat ini aku resmi berhenti bermain game online.
Ngomong-ngomong, Zildan adalah satu-satunya laki-laki di kelas yang tidak teracuni oleh game online. Dia dengan santai selalu membawa buku dan menghabiskan waktunya untuk membaca selama jam sekolah berlangsung.
Mungkin itulah salah satu sebab kenapa dia selalu mempunyai nilai tinggi dan tertinggi di kelas. Meskipun dia sangat malas ketika mendengar pelajaran berlangsung, boleh jadi dialah yang paling paham maksud dari pelajaran tersebut.
Tidak terasa waktu terus bergerak melesat begitu cepat, bel jam istirahat berbunyi nyaring mengalahkan suara para murid yang sedang mengobrol.
Jam istirahat pertama hanya menyisakan waktu 20 menit agar pelajaran kembali dimulai, para murid biasanya jarang sekali berkeliaran keluar kelas karena waktu istirahat pertama yang relatip singkat.
Aku merogoh saku dan mengambil ponsel di dalamnya. Secara aku ingin mengirim pesan pada Bu Lisa.
“*Dek kita ke UKS ya? Aku kangen*.”
“*Tidak boleh, kitakan udah sepakat jangan berhubungan di dalam sekolah*.” Bu Lisa menjawab setelah beberapa menit berlalu.
“*Aku kangen sayang, sekali aja. Kitakan lagi pacaran*.”
“*Enggak bisa Mas, nanti ada orang yang lihat*!”
“*Mas mohon … SEKALI AJA*.”
__ADS_1
Aku mengukir senyum menatap layar ponsel, selalu asik ketika saling mengirim pesan dengan Bu Lisa. Kau tahu, ini seperti pacaran sungguhan.
“*Cuma sebentar ya Mas, lima menit tidak lebih tidak kurang*.”
Tanganku mengepal, *yes*. Setidaknya jika aku tidak bermain game, aku bisa berpacaran dengannya.
“Kemana?” Zildan mendongak ketika mendapati aku yang sudah berdiri.
“Ke WC.” Jawabku singkat.
Zildan mengangguk lalu dia kembali melanjutkan membacanya.
Karena tidak ada lagi yang harus dilakukan, aku bergegas menuju ruang UKS. Jika orang lain melihatku dengan baik mereka akan menemukan bahwa wajahku berseri-seri saking bahagianya.
Untungnya takdir kali ini sangat mendukungku untuk bisa menemuinya. Setelah tiba disana, tidak ada seorangpun yang sedang sakit di ruang UKS, aku langsung tersenyum bahagia membayangkan apa yang akan aku lakukan padanya nanti.
Suara langkah kaki terdengar lamat-lamat dari luar menuju ke arah pintu. Tatkala pintu terbuka terlihatlah sesosok wanita cantik seusia remaja, namun jelas ketika melihat penampilanya, orang akan langsung terhianati oleh mata mereka sendiri, karena bagaimanapun dia memakai busana seorang guru.
Wajahku tersenyum hangat. Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah guru, pacar, sekaligus istriku. Dia adalah Bu Lisa.
“Itu makanan, Dek?” Aku berkata semangat dan bergerak duduk di sampingnya.
“Iya, kamu mau, Mas?” Bu Lisa membuka kotak bekal makanannya yang berisikan aneka sayuran.
“Suapin ya?”
“Udah gede juga,” Bu Lisa tersenyum. “Mas, mau sayur yang mana?”
“Yang mana saja, asalkan jangan tomat sama brokoli.”
Ada beberapa hal yang harus aku beritahu, Bu Lisa ketika berbekal seperti ini ia selalu menggunakan sumpit di bandingkan menggunakan sendok. Katanya lebih higienis dan sehat.
“Enak, Dek.” Aku berseru riang ketika makanan itu tiba di mulut.
Bu Lisa hanya tersenyum melihat tingkahku seperti anak kecil. Dia menyuapiku secara bergilir, pindah dari mulutku kemulutnya dan terus seperti itu hingga akhirnya isi dalam bekal itu habis.
__ADS_1
“Ini minumnya, Mas?” Dia menjulurkan tangan menawarkan botol minumannya.
“Kamu aja dulu, itukan punyamu.” Balasku mendorong tangannya yang terjulur.
“Mas dulu nanti adek belakangan,”
Aku menghela nafas sejenak, pasti akan seperti itu. Bu Lisa adalah wanita yang baik, selama kami menikah dia selalu mengutamakan suaminya terlebih dahulu, contohnya seperti makan tadi, dia sengaja memakan bagian sayuran yang kecil agar aku mendapatkan bagian besarnya.
Bagaimana aku tidak merasa gak enak jika dia sebaik itu. Lihatlah aku yang sebagai suaminya, tingkahku kadang kekanak-kanakan, tidak bisa di andalkan, selalu menyusahkannya. Berbanding terbalik dengan kepribadian istriku.
“Mas, kenapa menatap adek seperti itu?” Wajah Bu Lisa memerah ketika aku memandang wajahnya begitu lama.
Ah, kalau di pikir lagi wajah yang memerah seperti ini dalah hal yang bisa membuatku mengukir senyum. Bu Lisa memilki paras yang cantik, wajahnya yang memerah akan memberikan nilai plus pada kecantikannya.
Sebenarnya ada beberapa kali terlintas dipiranku tentang bagaimana dia bisa menikahi seorang berondong sepertiku. Kalian tahu, dia terlalu sempurna, seharusnya dia bisa menikahi orang yang lebih baik daripada diriku.
“Mas?” dia memanggil namaku lagi, wajahnya tidak lagi memerah namun digantikan dengan keheranan. “Kamu kenapa?”
Aku mendekatkan wajahku, mencium keningnnya dengan lembut “Dek, kamu nyesel gak nikah sama aku?”
Wajah Bu Lisa sektika berubah, dia terlihat tidak menyukai pertanyaan yang aku lontarkan. “Kamu kenapa berbicara seperti itu?”
“Entahlah, aku hanya berpikir, di saat kamu bisa menolak perjodohan keluarga kita dulu, mungkin saja kamu mendapatkan suami yang kamu inginkan.”
Bukankah perkataanku saat ini benar, Bu Lisa bisa saja mendapatkan suami yang dia idamkan, dia bisa saja lebih bahagia jika dibandingkan dengan suaminya yang sekarang.
“Kamu bicara apa sih, Mas!” Bu Lisa memegang wajahku dengan kedua tangannya, matanya yang hitam dengan dalam menatap mataku, “Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Adek tidak suka mendengarnya.”
Aku terdiam bisu, aku tidak bisa menjawab apapun padanya.
“Mas. Dengarkan kata-kata adek untuk terakhir kalinya agar Mas, tidak pernah ragu dengan pernikahan kita.” Bu Lisa kini memegang salah satu tanganku dengan kedua tangannya. ”Mas Raka bukan orang yang terpilih, tapi orang yang dipilih oleh Lisa sendiri, saat perjodohan terjadi aku secara resmi memilih Mas untuk menjadi suami Adek.
“Pernikahan kita memang dijodohkan dan tidak di landasi oleh cinta, tetapi itu adalah waktu dulu yang tidak bisa dibandingkan dengan sekarang.” Di detik ini Bu Lisa mengentikan ucapannya.
“Aku tidak mengerti, maksud kamu apa, Dek?”
__ADS_1
“A-Adek sudah jatuh cinta sama kamu, Mas...”