
“Adek berangkat dulu ya, Mas?” Bu Lisa mencium punggung tanganku dengan sopan.
“Iya, hati-hati di jalan!” aku balas mencium keningnya lalu mengelus pucuk kepala dia perlahan. “Jadi istri baik ya, sayang.”
Bu Lisa mengangguk, ia berbalik menuju mobilnya namun aku segera mencekal pergelangan tangan dia, membuat langkah dia terhenti. “Ada apa, Mas?”
“Ah, enggak. Aku hanya mencoba apakah gelangnya berfungsi atau tidak.” Kemudian aku mendempetkan tangan Bu Lisa dengan tanganku, segera gelang yang aku beli kemarin menyala kehijauan.
“Serasi ya, sayang?” tanyaku.
“Iya Mas, sangat serasi.” Jawab Bu Lisa tersenyum.
Setelah itu aku tidak menahan dia lagi, membiarkan Bu Lisa pergi terlebih dahulu ke sekolah.
Hari ini adalah hari senin tepat kegiatan PKS akan di mulai, karena masih dalam keadaan bebas belajar aku memilih untuk datang agak siang, kalau bisa sampai acara pembukaan sudah selesai, baru aku akan ke sana.
Sekitar jam 7.30 aku mulai beranjak pergi dari rumah, tidak terlalu siang dan tidak terlalu pagi untuk berangkat. Sesampainya di sana sekolah yang sering aku lihat benar-benar berbeda, terdapat banyak dekorasi dan hiasan yang menempel.
‘SELAMAT DATANG DI PENTAS SEKOLAH KAMI’
Aku menatap huruf melengkung yang berada di atas gerbang, yang di dihiasi oleh bunga-bunga berwarna pink. Di hari biasanya huruf itu tidak ada, namun sekarang muncul dengan jelas, mungkin itu karena adanya kegiatan PKS.
“Hei, Raka! Kau baru datang?” Suara dari seseorang membuatku harus teralihkan dari huruf gerbang tadi. Saat aku menoleh ternyata dia adalah temanku, Della.
Aku mengangguk, “Kau juga baru datang?”
“Baru saja aku turun dari motor.” Della membenarkan poni rambutnya .”Ayo segara ke kelas! Nanti sebelum PKS di mulai aku akan mengumpulkan semua anggota kelas.”
Aku beranjak berjalan bersamanya menyusuri lorong sekolah. Di perjalanan, Della membicarakan rencananya saat PKS nanti, untuk menjadi seorang ketua kelas aku cukup kagum padanya, dia adalah gadis yang bertanggung jawab.
“Hai, Del?”
“Hai, Del?”
Suara yang di ucapkan serempak adalah sambutan pertama saat aku dan Della tiba di kelas. Yang membuat suara itu adalah si lotus kembar, Arin dan Airin.
Della hendak membalas sapaan keduanya namun tidak jadi, karena tiba-tiba si kembar langsung menarik tubuhnya menjauhiku.
Aku tidak terlalu memperhatikan kelakuan ketiga gadis itu, saat ini yang perhatianku tertuju pada area belakang kelas, tidak seperti biasanya Reza dan Zildan belum datang.
Aku memilih duduk di kursi belakang sendirian, menatap keluar jendela sekolah. Tidak sampai 5 menit, Reza masuk ke dalam kelas dan menyapaku begitu juga dengan Zildan 10 menit kemudian.
Menunggu agar seisi murid kelas datang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Della sebagai ketua kelas beberapa kali mengomel saat ada yang masuk, mengatakan bahwa mereka datang terlambat, mengatakan bahwa tidur mereka kaya kebo, dan masih banyak lagi omelan dia yang cukup pedas.
__ADS_1
Tidak banyak yang di sampaikan Della di depan, dia hanya memberitahukan tentang hal-hal PKS saja, dan juga kata-kata semangat darinya agar kami melakukan yang terbaik saat perlombaan di mulai.
Aku sedikit mendesis kecewa setelah mendengar bahwa perlombaan bagianku akan di undur besok. Mau tak mau hari ini hanya menyaksikan saja, tidak ikut bagian.
Suara bel sekolah berbunyi di sepanjang kelas, menandakan bahwa semua murid harus keluar dan berkumpul di lapangan untuk acara pembukaan PKS.
“Baris belakang saja, Raka.” Ujar Reza mengingatkan.
Aku mengangguk mengerti, yang di maksud Reza adalah kita harus bagian paling nyaman dari barisan nanti.
Sebenarnya acara pembukaan ini tidaklah seburuk kegiatan upacara hari senin yang harus berdiri. Ketika pelaksanaannya di mulai, kita di perbolehkan duduk, kotor memang, tapi mau bagaimana lagi? dari pada harus pegel berdiri.
Para guru sekolah akhirnya datang dan berdiri di depan barisan murid-murid, dari semua guru itu yang kulirik adalah Kalisa, istriku, di banding guru lainya dia yang paling muda dan paling cantik.
Syukurlah, acara pembukaan itu tidak terlalu lama, membutuhkan waktu setengah jam. Setelah kepala sekolah mengatakan ‘acara PKS di mulai’ dengan otomatis semua murid bertepuk tangan dan barisanpun bubar.
Aku duduk di kursi depan koridor kelas, menatap ke arah lapang, di sana sekarang sudah memulai kegiatan aneka perlombaan.
Reza dan Zildan duduk di sebelahku, ikut memandang menyaksikan. Di lapangan, semua murid sekolah tengah berkumpul membuat daerah itu seperti stadion yang melingkar.
Aku menggurutu kesal saat sedang menonton, murid yang ada di depan mulai berdiri membuat pandanganku menjadi terhalang. Reza dan Zildan disampingku ikut berdiri karena mereka juga merasakan yang sama.
Aku menyerah, tidak jadi menonton pertandingan di lapangan, buat apa nonton kalau nanti akan pegel berdiri. Padahal jika suasana kondusip aku mau melihat aksi Reno yang mengikuti lomba balap karung.
Karena semua murid berada di lantai bawah dengan otomatis lantai selanjutnya tidak ada orang di sepanjang koridor. Wajahku tersenyum bahagia, karena sekarang aku bisa berkesempatan berduaan bersama Bu Lisa.
Aku jalan mengendap-ngendap mengikuti dia tanpa di ketahui olehnya, baru ketika jarak kami sudah dekat, aku menarik tangannya dan membawa Bu Lisa ke salah satu kelas yang kosong.
“Mas! Astaga, Adek hampir saja mukul kamu.” Bu Lisa memang tadi sudah mengepalkan tangannya namun tangan dia terhenti saat tahu bahwa aku yang menculiknya ke kelas.
Aku langsung memeluk Bu Lisa dari depan tanpa harus bertegur sapa terlebih dahulu, Bu Lisa hanya diam, dia tidak membalas pelukanku tapi hanya membiarkan saja.
“Aku kangen sayang…” kataku dalam memeluknya, lalu setelah beberapa menita aku melepaska pelukan itu. “Mm… kita ke UKS yuk, berpacaran.”
Bu Lisa hanya diam dan mengangguk, aku tersenyum lalu menarik tangannya berjalan menuju UKS. Kata Bu Lisa dia memang berniat kesana tadi, hendak beristirahat sebentar, agak pusing saat berdiri lama di lapangan tadi.
Sebelum merapatkan pintu di UKS, aku melirik kiri-kanan, memastikan tidak ada orang yang akan kesini, setelah memastikan aman, aku segera menutup pintu rapat-rapat.
“Kamu masih pusing sayang?” Aku mengelus pipinya.
“He'em. Adek memang bakal pusing kalau terlalu lama berdiri, Mas. ”
“Kamu tiduran aja, sayang. Jangan banyak pikiran.”
__ADS_1
Bu Lisa mengangguk patuh dan membaringkan tubuhnya di kasur. Aku kemudian mengambil kursi lalu duduk di sampingnya, mengelus pucuk rambut Bu Lisa dengan lembut.
“Kamu gak ngikutin lomba, Mas?” Tanya Bu Lisa mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Tau tuh panitianya, gak bener, padahalkan sekarang jadwalnya lomba aku, Dek.” Aku mengadu pada Bu Lisa, tadi saat mendengarnya di kelas, aku agak kesal dengan kenyataan itu.
“Jadi dipindahin kapan?”
“Kata Della sih besok.”
Bu Lisa mengangguk-ngangguk kepalanya. Setelah itu tidak ada percakapan dari kami berdua, membuat suasana menjadi hening.
“Kok kita dieman gini sih, Dek.” Aku menggaruk kepala, merasa aneh saat tiba-tiba keadaan menjadi sunyi.
“Gak ada percakapan lagi mungkin, Mas. Kan biasanya kamu yang suka mulai pembicaraan.”
Aku menyeringai, perkataan Bu Lisa seolah mengatakan aku ini adalah orang yang banyak bicara.
“Geseran dong, Dek, aku pengen tiduran…” setelah berduaan di sana 10 menit membuatku ingin memeluk tubuh Bu Lisa yang tengah berbaring.
“Enggak, Mas. Ini bukan rumah atau kamar kita yang bisa satu ranjang, ini sekolah.” Tolak Bu Lisa.
“Sebentar ya Dek, sebentar aja… aku pengen meluk kamu.” Aku mulai mencoba memohon.
“Enggak boleh, Mas. Bukannya Adek gak mau nurut, tapi ini sekolah, bukan tempat mesra-mesraan.”
“Lima menit aja, sayang…”
“Enggak bisa.”
“Satu menit.”
“Enggak.”
“Setengah menit, Dek, ayolah.”
“Maap Mas, Adek gak bisa…”
Aku menghela nafas panjang, yasudahlah mau gimana lagi? Aku tidak bisa memaksanya terlalu dalam dan membuatnya tertekan.
__ADS_1
**Maap sudah gak update beberapa hari, ada beberapa hal yang harus author kerjakan. Mungkin esok lusa juga demikian, tidak memastikan update setiap hari**.