
“Kalian tidak tahu, pasangan yang kalian gosipkan tadi adalah anak dan menantunya pemilik restoran ini!” Napas sang atasan itu memburu, menahan emosi yang hampir meledak-ledak.
“Maap, Pak, kami tidak tahu…” Salah satu pelayan itu menunduk.
“Apakah sikap kalian harus seperti ini pada setiap pelanggan yang kalian tidak sukai! Menggosipkannya secara terang-terangan didepan orangnya!” suara atasan itu meninggi, matanya memerah.
“Maap, Pak, kami salah.”
“Kalian memang salah!” Bentak atasan terbebut. “Saya tidak mau tahu, jika kalian tidak membawa pasangan tadi kembali, kalian akan saya pecat!”
“Maap, Pak…” Pelayan itu semakin meringkuk ketakutan.
“Bukan maap-maap. Cepat kalian kerjakan sekarang!”
Tanpa disuruh dua kali, kedua pelayan itu langsung pergi keluar ruangan dengan terbirit-birit. Pelayan itu harus bergegas mengejar pelanggan sebelumnya sebelum mereka benar-benar telah pergi.
***
“Mas suka gaya rambut kamu yang sekarang, Mah, kamu tidak bedah jauh dari usia anak SMA.” aku tertawa kecil, menggodanya lebih jauh.
“B-biasa aja kok, Pah.” wajah Bu Lisa terlihat senang dipuji namun malu-malu mengakuinya. Bu Lisa memainkan anak rambutnya dengan wajah tersipu.
“Jadi, kita mau kerestoran mana, hm?”
Aku dan Bu Lisa masih berada didalam mobil tempat parkiran restoran sebelumnya, kami harus menentukan terlebih dahulu kemana lagi kencan ini berlanjut.
Saat Bu Lisa hendak menjawab tiba-tiba ada suara ketukan dikaca mobil. Wajahku berubah cemberut saat menyadari kalau yang mengetuk mobil itu adalah dua pelayan yang membicarakanku tadi didalam.
Bu Lisa menurunkan kaca mobilnya, ekpresi wajahnya berubah yang tadinya tersipu malu-malu menjadi dingin dan datar.
“Maap Bu, Pak, sebelumnya kami salah berbicara tadi. Kami kesini ingin meminta maap atas kelancangan kami saat didalam.” Pelayan itu menangkupkan kedua tangannya.
“Kenapa sikap kalian berubah? Apakah kalian baru meminta maap setelah mengetahui identitas seseorang.”
Bu Lisa menjawab dingin, auranya yang mencekam segera merembas pada pelayan itu, membuat kedua wajahnya berubah pias.
“Kami memang salah Bu, kami meminta maap…”
“Aku dan suamiku hanya makan disini, tidak ada masalah dengan kalian. Tetapi kalian justru membicarakan kami dengan sengaja, apakah begini pelayan direstoran ayahku?!”
Pelayan itu menunduk, terdiam.
Bu Lisa menghela napas pendek. “Sudahlah, kami sudah melupakan kejadian tadi. Sekarang aku akan pergi ke tempat lain.”
“Tolong jangan pergi, Bu!” Pelayan itu menahan. “Setelah ini kami akan melayani Ibu dan Bapak dengan baik.”
Bu Lisa mengerutkan alisnya, tidak suka saat pelayan itu seperti melarangnya.
“Bukan kami bermaksud melarang, Bu, tapi jika Ibu dan Bapak pergi maka kemungkinan kami akan dikeluarkan dari pekerjaan ini.”
Melihat kedua pelayan itu seperti memohon, Bu Lisa menoleh kearahku yang semenjak tadi hanya mendengarkan. Bu Lisa ingin meminta pendapatku.
Aku sebenarnya masih jengkel dengan mereka tetapi ketika berurusan dengan pemecatan kerja, perasaanku langsung luluh.
__ADS_1
Aku mengangguk pada istriku agar menuruti keinginan mereka.
“Baiklah, kami akan makan disini.” Bu Lisa menjawabnya sambil tersenyum.
***
Setelah makan direstoran yang mewah tersebut, kami beranjak pulang. Kencan tadi sungguh sangat menyenangkan, terkesan romantis seperti pacaran-pacaran anak SMA, bedanya yang ini versi suami istri, tidak mengapa jika bertindak lebih dari kewajaran.
Hal pertama saat aku menginjakan kaki dirumah adalah mencari keberadaan anakku, Amelia. Kebetulan sekali Amelia tidak tertidur, aku segera mengambilnya dari Mamah, ingin menggendong anakku.
“Amelia’nya harum gini, Mah?” Aku mencium perut Amelia, bertanya pada ibuku.
“Iya dong, cucu Mamah sudah dimandiin dari tadi. Amelia harus selalu bersih dan wangi.”
“Raka bawa Amelia ke kamar ya, Mah? Bolehkan?”
Mamah mengangguk. “Silahkan, Mamah juga harus mandi dulu, sebentar lagi ayah kamu akan pulang.”
Aku tersenyum, mengecup pipi Amelia yang bulat dengan gemas sebelum membawanya naik ke lantai dua.
Saat dikamar, aku merebahkan tubuhku dikasur. Amelia kududukkan diatas perutku, aku sesekali tertawa kecil melihat aksi gemas anakku ini. Lihatlah, entah kenapa Amelia terlihat begitu riang saat aku bersamanya.
“Kenapa, hm? Kamu terkejut ya, kalau ayahmu ini sangat tampan?” Aku terkekeh saat tangan kecil Amelia menyentuh wajah dan hidungku.
Mata Amelia membesar sebelum kemudian tertawa, ia menggoyangkan kedua tangannya dengan gemas.
Aku mencium hidung dan bibirnya. “Anak Papah gemesin…”
Semakin sering aku menciumnya, Amelia semakin senang. Aku terus menciumnya hingga hampir seluruh wajahnya, termasuk perut dan tangan kecilnya.
“Sebentar, Yang, aku ingin sama Amelia dulu.” aku menjawabnya tanpa menoleh, aku terlanjur asik bersama anakku.
Hampir satu jam lebih aku dan Amelia bersama, jika istriku tidak mengingatkan mungkin aku malah keasikan hingga sore.
“Mas mandi dulu, ih! Nanti kan bisa main sama Amelia-nya.” Bu Lisa berkata dengan sedikit sebal, ini sudah perintahnya keempaat kali. “Kasihan tuh Amelia, mungkin dia sudah tak tahan sama bau kamu Mas.”
“Lagian, Amelia juga lapar, ingin menyusui.” Tambah istriku.
Aku mau tak mau menurut, langsung menyerahkan Amelia pada istriku yang segera ia susui. Aku mengambil handuk di gantungan baju sebelum pergi membersihkan diri.
***
Saat jam tujuh malam, aku menggendong Amelia kembali. Kebersamaanku dengan Amelia saat ini tak bisa dipisahkan walau semenitpun.
Bu Lisa menghela nafas sejenak lalu menyerahkan Amelia padakku.
Seperti posisi tadi, aku tidur diranjang dengan Amelia yang ada diperutku. Pahaku sengaja diangkat untuk Amelia bersandar, sehingga dengan begitu aku bisa melihat jelas tingkah-tingkahnya.
“Mas, besok kita jadi’kan kerumah Adek dulu sebelum ke kompleks?” Bu Lisa bertanya, ia ikut tiduran disampingku.
“Iya, terserah kamu sayang.” jawabku tanpa menoleh.
“Besok juga kita ke supermarket dulu, beli popok sama keperluan Amelia?”
__ADS_1
Aku mengangguk. “Iya, terserah kamu saja…”
“Terus kita juga harus beli keperluan bulanan dulu, Mas, untuk kebutuhan-kebutuhan disana?”
“Iya, Dek, terserah kamu.” aku menjawab singkat, aku tengah asik menggoyangkan kedua tangan Amelia, memainkannya seperti boneka.
“Mas... kalau ada orang yang bicara itu ditatap!” Tiba-tiba nada istriku sedikit meninggi. “Dari tadi Adek nanya kamu hanya bilang terserah-terserah mulu. Adek ini butuh pendapat kamu bukan kata terserah dan terserah!”
Gerakan tanganku terhenti, aku menoleh pada Bu Lisa yang sudah membalikan badan ke posisi yang lain. Eh? Kenapa istriku tiba-tiba marah?
Aku merubah posisi menjadi duduk, Amelia kugendong didadaku. “Sayang, kamu marah?”
Bu Lisa memilih diam, ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
“Dek, kamu kenapa sih?”
“Urus aja Amelia, jangan pedulikan Adek!” jawabnya dibalik selimut.
Aku menggaruk kepala, entah kenapa instingku mengatakan kalau Bu Lisa tengah marah karena sedang cemburu.
Aku menoleh pada Amelia, kalau dipikir lagi sepertinya memang demikian, aku beberapa hari terakhir ini lebih sering mengabaikan Bu Lisa ketika bersama Amelia. Atau jangan-jangan Bu Lisa sekarang tengah cemburu karena perhatianku sering pada Amelia?
“Sayang, kamu marah ya karena Mas tidak perhatian sama kamu?” Aku bertanya sekaligus menebak.
Bu Lisa terdiam, tidak menjawab apapun.
“Dek, Mas minta maap…”
Aku menghela napas pendek ketika Bu Lisa tidak mau berbicara kepadaku. Sepertinya istriku benar-benar ngambek kali ini.
Aku lalu menoleh pada Amelia lagi lalu mengangkatnya hingga didekat wajahku.
“Amelia, sepertinya Mamah kamu lagi marah.” aku mengadu. “Papah mungkin juga salah karena mengabaikannya, seharusnya Papah harus berbagi perhatian sama kamu dan ibumu.”
Goyangan tangan dan kaki Amelia terhenti, dia menatap wajahku lamat-lamat.
“Aku sangat menyayangi ibumu, Amel, cintaku padanya adalah spesial. Juga saat aku menyangimu. Itu juga karena bentuk cintaku padanya.”
Amelia memiringkan kepalanya dengan tanda tanya, ia melihat ekpresi wajahku yang berpura-pura sedih. Seolah mengerti dengan perkataanku, tak lama Amelia langsung menangis keras.
Aku terkejut dengan tangisan dia yang mendadak dan buru-buru menenangkannya namun Amelia masih tidak berhenti menangis.
Saat aku tengah kerepotan, Bu Lisa tiba-tiba bangkit dan mengambil Amelia dari gendonganku, tidak butuh waktu lama hingga Amelia berhenti menangis dan tenang digendongan ibunya.
“Dek, Mas minta maap ya?” Aku mendekatinya lalu mencium pipi Bu Lisa.
Kupikir Bu Lisa masih tidak ingin berbicara padaku tetapi sepertinya tidak. Bu Lisa mengecup pipiku. “Adek juga minta maap sama kamu, Mas."
“Kenapa? Kamu tidak salah kok, akulah yang salah disini.”
“Adek seharusnya tidak marah kekanakan seperti ini hanya karena Amelia, Adek minta maap ya, Mas?”
“Iya, kita saling memaapkan saja.” Aku merangkul bahunya agar tubuhnya lebih mendekat. Bu Lisa menyandarkan kepalanya dibahuku.
__ADS_1
Seolah sudah tahu kedua orang tuanya telah balikan, Amelia tersenyum riang kembali. Ia mulai menggoyangkan kedua tangan dan kakinya.
Aku tersenyum. Sepertinya, anakku ini mewarisi kecerdasan dari istriku?