Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 87 — Dua Hati yang Sama


__ADS_3

“Kau masih makan rerumputan itu, Rin?” Reza yang merasa canggung dengan Della berdalih ke Arin yang kini tengah asik memakan bekalnya.


“Rumput kepalamu! Ini salad, bukan rumput. Sudah berapa kali aku mengatakannya.” Arin tersinggung, melotot kesal pada Reza.


“Ya kann sama-sama hijau, sama-sama daun.” Reza mengangkat bahu, tidak peduli. “Lagian Rin, ini sudah seminggu lebih dan kau masih dalam program diet itu?”


“Apa pedulimu! Kau tak akan pernah mengerti perasaan gadis saat berat badan kami naik.” Arin mendengus. Ketika ada yang berkomentar tentang program dietnya, Arin cenderung sensitif, menjadi galak.


Reza menggaruk kepala, bingung harus mejawabnya seperti apa. Sedangkan aku tertawa dengan pertengkaran mereka berdua, kalau dipikir lagi, beberapa hari ini Arin dan Reza memang sering bertengkar.


“Aku tidak mengerti. Bukankah berat badan tidak terlihat oleh orang lain.” Zildan yang sedari tadi diam menyaksikan, membuka suara. Sepertinya kasus diet Arin ini membuatnya tertarik. “Dan kau Arin, tubuhmu itu sangat ideal untuk gadis SMA, bahkan mungkin ada yang iri dengan berat tubuhmu, lalu apa yang kau harap lagi. Lebih kurus?”


“Kau sama saja Zildan. Tidak akan mengerti perasaan perempuan... Perempuan itu harus butuh usaha dan pengorbanan untuk merawat tubuhnya, tetap cantik, sempurna, dan itu termasuk berat badan, kami harus menstabilkan pola makan agar tidak naik.”


Aku cekikikan melihat ekpresi Zildan yang tidak dipedulikan oleh Arin. Dia menghela nafas pendek, memutuskan untuk kembali melanjutkan makan bakso.


“Menurutku ya, Rin.” Kini giliran aku berpendapat. “Kau itu sudah sempurna. Kamu mempunyai tubuh yang langsing, wajah yang cantik. Begitu juga dengan Airin yang imut dan anggun. Bukankah gelar ‘Bunga lotus kembar’ disematkan padamu karena kalian berdua memang gadis manis.”


Setelah berkata demikian. Aku menyuapkan sendok terakhir, berdiri, bersiap mengembalikan mangkuk pada si mamang bakso. Reza dan Zildan ikut bersamaku, ia menatapku dengan tatapan tidak percaya.


“Aku tidak percaya kau akan berkata seperti itu pada si kembar. Seperti bukan kau saja?” Reza menyejali langkahku, melangkah disamping


“Memangnya ada yang salah?” Aku balik bertanya.


“Tidak, bukan itu maksud Reza.” Zildan yang menjawab, melangkah disamping sisi lainya. “Biasanya kau itu jarang peduli tentang penampilan seseorang, atau sikap seseorang. Tapi tadi, kau memuji penampilan Arin dan Airin, mengatakan mereka cantik, imut, manis. Itu seperti bukan sifat kau yang biasanya.”


Aku berpikir sebentar mendengar perkataan Zildan. Munkin alasan kenapa perkataanku tadi sedikit terbuka karena adanya keberadaan Bu Lisa saat ini.


Aku selalu jujur mengatakan bahwa Bu Lisa itu cantik, Bu lisa itu manis, dan sebagainya disetiap harinya. Sehingga menjadikan hal tersebut menjadi hal yang biasa diucapkan.


Disisi lain.


Disaat aku, Reza, dan Zildan mengembalikan mangkuk. Della membicarakan sesuatu dengan kedua teman kembarnya di meja kantin.


“Biar kutebak. Jangan bilang bahwa kamu suka sama Ra...”

__ADS_1


“Aku tidak suka sama siapa-siapa Della...” Arin memotong cepat, wajahnya merona seperti kepiting rebus, kontras dengan kulitnya yang putih.


“Aiyo, kau bisa saja bilang tidak, tapi wajahmu berkata lain. Semenjak dia mengatakan kamu wanita manis, mukamu berubah memerah…”


“Siapa yang memerah, wajahku biasa saja tuh..” Arin terus membela, tidak mau ketahuan.


“Hoho... Airin, lihatlah tingkah kakakmu yang malu-malu, kau pasti akan suk~” Perkataan Della terhenti, dia baru menyadari sesuatu ketika melihat wajah Airin yang menunduk. “Hei, jangan bilang kamu juga sama, kamu menyukai...”


“Aku... aku, aku tidak menyukai Raka.” Sergah Airin cepat. Sama dengan kakaknya, pipi Airin juga merona.


Della seketika tertawa, lebih tepatnya tertawa jail. “Aku tidak mengatakan kamu suka sama Raka, Airin. Atau jangan-jangan kamu memang suka sama dia?”


Airin ingin menyela ucapan Della, namun sayangnya tidak ada suara yang keluar, ia telah keliru. Della sebelumnya tidak mengatakan kalau ini membicarakan tentangku.


“Tenang saja Arin, Airin, jangan khawatir... Aku akan menjaga rahasia ini kepada siapapun.” Della menenangkan si kembar melihat wajah mereka yang tiba-tiba berubah lesu. “Bukankah kita sahabat? Rahasiamu adalah rahasiaku juga.”


Della tersenyum bahagia. Hari ini dia mendapatkan berita yang tak diduga. Siapa yang tahu, kalau wanita kembar cantik ini akan menyukai lelaki yang sama.


Namun sayangnya, percakapan gadis-gadis itu tidak akan aku ketahui. Sekembali ke meja, ketiga teman perempuanku itu bersikap biasa saja, seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi.


Langit yang cerah dan berwarna biru indah mulai perlahan berubah menjadi jingga yang tak kalah lebih indah. Matahari turun sedikit demi sedikit kearah bagian timur, cahayanya menyinari genting-genting rumah, jendela-jendela gedung, pohon-pohon dan lain sebagainya.


Aku pulang dari sekolah sedikit lebih sore dari biasanya, sekitar jam setengah lima. Istriku menunggu di teras rumah saat aku tiba, segera buru-buru meghampiri, mencium punggung tanganku.


“Tumben Mas pulang jam segini?” Tanya Bu Lisa setelah aku mencium keningnya.


“Aku beli sesuatu tadi,” aku menunjukan kresek putih padanya. “Ini onde-onde, sudah lama Mas gak makan ini.”


Bu Lisa hanya ber’ohh ria, selanjutnya dia mengambil tas ditanganku begitu juga dengan jaketku, melipatnya rapih.


“Ibu mau onde-onde?”


Saat aku berjalan masuk rumah, kebetulan ibu mertuaku muncul dari balik pintu. Bu Ayu memasang wajah ramah namun aku tetap canggung didekatnya.


Bersamaan dengan Bu Ayu muncul, mamahku ternyata ada didekatnya.

__ADS_1


“Mamah mau onde-onde?” Tawarku sekali lagi, karena sepertinya perkataanku sebelumnya tidak tersengar.


“Onde-onde?” Bu Ayu menghampiri, takut salah dengar. Aku memberikan kresek itu pada Bu Ayu, membiarkan ia melihatnya. “Wahh kebetulan, ibu lagi ngidam nihh... Ibu boleh ambil semuanya kan, Raka?”


Aku mengangguk, silahkan.


“Ihh, mamah itukan miliknya Mas Raka. Dia tadi beli karena pengen nyoba.” Istriku merasa tidak terima, ia membelaku.


“Tidak apa-apa, aku sudah memakannya tadi disana, cukup kenyang malah. Sengaja membawanya kesini buat ibu dan mamah.” Aku tersenyum, senang sekali memberi sesuatu pada ibu mertuaku.


“Tuhh bolehkan?” Ibu Ayu tersenyum menang. “Maklumi ya sayang, Kalisa ini memang agak sensitif.” Bu Ayu berbisik pelan padaku lantas tertawa.


Aku ikut tertawa, begitu juga dengan mamahku yang sedari tadi menyaksikan. Kami bertiga serempak menggoda Bu Lisa yang kini wajahnya memerah.


“Ih mamah kok bicara gitu...” Bu Lisa meringkuk dibelakangku, merasa malu.


“Sudah-sudah, kesihan tuhh wajah Kalisa nya sudah memerah gitu.” Mamahku berbaik hati menyelematkan Bu Lisa yang kini menunduk malu. “Kamu ini, Ayu. Anak sendiri masih saja digoda. Kau memang tidak pernah berubah, masih saja kaya waktu dulu.”


Mamahku tertawa kecil, sesuatu yang jarang sekali aku lihat.


Mamahku dan Bu Ayu memang sahabat dekat, jadi tidak aneh kalau mereka sangat akrab. Begitu juga dengan Pak Harun dan ayahku. Bisa dibilang mereka berempat dulu adalah sahabat dekat, yang entah kenapa menjadi keluarga sekarang.


Dan ngomong-ngomong, alasan yang mendasari aku dan Bu Lisa dijodohkan karena persahabatan mereka. Bu Ayu melahirkan seorang anak wanita yang tak lain adalah Kalisa, sedangkan ibuku melahirkan anak laki-laki yaitu aku sendiri.


Maka, kamipun di jodohkan, sehingga dengan begitu Bu Ayu dan mamahku bisa berbesanan.


Kalau diingat lagi, persahabatan Mamahku dan Bu Ayu adalah sesuatu yang aku syukuri, jika bukan karena itu, maka aku tidak akan menikah dengan Bu Lisa saat ini.




\*\*\*Nikmati aja ya alur ceritanya, oke?


__ADS_1


Terimakasih yang masih sabar menunggu Update\*\*....


__ADS_2