
Manusia mengorbankan sesuatu yang di butuhkan, dan membutuhkan apa yang di korbankan. Dan itu adalah cinta.
“Mas jangan main Hp mulu, ini sudah malam!” Suara Bu Lisa berseru pelan di tempat tidur, ia nampak kesal melihatku yang tidak menuruti perkataanya.
“Sebentar yang, ini dikit lagi.” Balasku menjawab, yang sekarang duduk di tepi ranjang dengan pandangan fokus menatap layar ponsel.
Di akhir bulan Oktober adalah tepat waktunya ulangan tengah semester (UTS) berlangsung, kesibukan para murid dalam belajar harus meningkat jika mau nilai dalam raportnya bagus. Karena UTS adalah babak baik untuk menoreh nilai yang tinggi
Namun dari banyaknya macam-macam kesibukan UTS, entah itu berupa penghapalan, ujian, dan tes-tes setiap pelajaran. Tidak otomatis semua murid menjadi lebih giat, untuk beberapa hal kami terganggu oleh faktor lain yang membuat kami mengabaikan itu semua.
Siapa yang tahu, entah dimana yang memulainya tiba-tiba, perlahan demi perlahan muncul permainan game baru yang lagi tren. Berbeda dengan game sebelum-sebelumnya, game ini lebih cenderung unik, karena singkatnya kami bisa bermain bersama dengan teman kami sendiri.
Bisikan dari orang-orang dengan cepat menyebar di seluruh sekolah, game ini baru saja seminggu tiba di telinga salah satu murid namun hanya dengan waktu relatip cepat, semua murid sekolah mengetahuinya.
Omong kosong tentang nilai sekolah, sepanjang kami naik kelas, sepanjang kami lulus, sepanjang tidak membuat masalah, itu lebih dari cukup membuat kami puas.
Game online yang serba baru ini, telah meracuni semua murid terutama bagi gender laki-laki. Di setiap sela pelajaran berlangsung, semua murid saling berseru kepada yang lain, mengajak bermain bersama, mengajak bermain tanding.
Mereka tidak peduli bahwa pelajaran selanjutnya adalah tentang hapalan rumus-rumus trigonometri, mereka tidak peduli bahwa pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Bu Lisa.
Kejadian selanjutnya mudah saja di tebak, Bu Lisa merasa kecewa ketika tes penalaran rumus hanya segelintir orang yang hapal. Dia menasehati kami sekelas, memberikan nasehat sebagai guru, bahwa bermain game boleh saja, asalkan harus ingat untuk belajar.
Murid sekelas mengangguk-ngagguk mengerti, walaupun aku tahu besok-besok nasehat itu akan hilang di kepala mereka dan kembali bermain game.
Ngomong-ngomong aku juga sama dengan seperti murid kebanyakan, sama-sama bermain game online. Entah pagi-pagi sebelum berangkat, pas di sekolah, di rumah, dan sampai sekarang hingga larut malam.
Tidak aneh Bu Lisa sangat kesal ketika aku masih bermain game. Di lihat dari jam sekarangpun waktu hampir menunjukan angka sepuluh dan bahkan saya masih berlanjut bermain game.
Bu Lisa yang sejak kapan bangkit dari ranjang tiba-tiba mengambil Hp ku secara paksa, dia merampas di tanganku begitu saja.
“Mas tidur sekarang!” Nada Bu Lisa berubah tegas, pandangannya menusuk tajam menatapku.
“Sini Hp nya dulu dek, itu hampir selesai,” Aku berseru buru-buru, permainan aku dengan Reza hampir menang, jika Bu Lisa mengambilnya begitu saja kami bisa-bisa berbalik kalah.
__ADS_1
Bu Lisa menyembunyikan Hp nya di belakang tubuhnya,“Mas harus tidur, lihat ini sudah jam sepuluh lebih.”
“Sebentar lagi dek, aduhh.. itu game nya juga udahan kok.”
Bu Lisa menggeleng tegas, “Itu jawaban mas sejam lalu, aku tidak percaya.”
Aduh, aku tidak tahu harus menjawab apalagi. Apa yang di katakan Bu Lisa memang benar, aku dari tadi terus mengatakan hal serupa. ‘sebentar’ ‘dikit lagi’ ‘hampir selesai’ dan terus seperti itu berulang-ulang.
Pada akhirnya ketika melihat layar Hp sekilas, permainanku sudah berakhir dan kalah. Aku merajuk marah padanya, kalian tahu, padahal itu sedikit lagi.. bahkan aku berniat untuk tidur ketika babak game nya telah selesai.
“Mas, adek tidak masalah kalau kamu mau bermain game, adek tidak keberatan kalau mas memang hobi bermain game. Tapi ini berlebihan, kamu harus tidur dan besok ada ujian pelajaran lain.” Bu Lisa berseru jengkel.
“Tapi itu sedikit lagi Lisa, kalau kamu tadi membiarkan mas bermain sebentar lagi, mas juga akan langsung tidur.” Aku berseru protes, nadaku meninggi.
“Terserah.”Bu Lisa menghempas Hp ku di atas kasur, “Adek sudah capek, kalau mas mau bermain game lagi silahkan, adek gak akan larang lagi.”
Aku menggaruk kepala, kelakuanku kali ini benar-benar keterlaluan padanya. lihatlah dia jadi benar-benar marah padaku hanya karena gara-gara sebuah game, dia langsung berbaring di kasur memunggungiku.
“…”
“Kamu marah? Kalau gitu maapin aku yang, aku tidak akan melakukanya lagi, aku janji..” kataku memelas “Rasanya melihatmu marah seperti ini membuatku berasa tidak becus menjadi pemimpin keluarga, rasanya aku merasa gagal mematuhi perkataan ayahmu, rasanya aku..”
“Berhenti mas jangan di lanjutkan, jangan dilanjutkan lagi! mas tidak seperti itu, mas sudah baik menjadi pemimpin adek. Adek juga salah karena telah memarahi mas.”
Bu Lisa berbalik menghadapku, matanya lurus dan dalam, dia mencegahku untuk tidak melakukan ucapan itu lagi.
“Tapi kamu kali ini memang benar, kamu sudah menegur mas ketika aku sedang salah. Aku minta maap.”
Bu Lisa langsung melengkungkan bibirnya “Kita saling memaafkan aja ya mas, kita harus saling mengerti.”
Aku mengangguk pelan, tersenyum “Boleh minta cium dek?” tanyaku tiba-tiba.
Bu Lisa terdiam, dia mengedipkan mata besarnya, mencerna perkataan ku.
__ADS_1
“Boleh kan dek?” tanyaku lagi.
Bu Lisa yang sudah mengerti maksudku, dengan ragu-ragu mengangguk pelan, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Aku meraih dagunya tanpa ragu-ragu dan menempelkan bibirku padanya.
“Aku cinta kamu, sayang.” Kataku pelan di sela berciuman.
Dia hanya merespon anggukan kecil, nafas kami memburu dengan jantung yang berdetak kencang, aku berciuman lama dengannya, tidak.. maksudku sangat lama.
“Sini peluk!”
Aku merentangkan kedua tangan setelah nafas kami mulai stabil, dia bergerak dan langsung menempelkan kepalanya di dada bidangku.
“Kalau mas mau main lagi, adek gak larang kok,” cicitnya menengadahkan kepala.
“Apa itu yang harus di acapkan seorang guru pada muridnya?” Ucapku menggoda.
“Apa sih. Terserah mas aja lah, aku capek.”
“Ih kok marah lagi sih.”
“Siapa yang marah,” Bu lisa menggelembungkan pipinya.
Aku terkekeh dan mengecup pipinya sekilas membuat ia terdiam menatapku.
“Sudah dulu sayang, udah malam, lagian Reza juga pasti tidur kalau mau main lagi.” Aku tak kuasa tersenyum melihat wajahnya yang imut.
Bu Lisa mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada, ia ikut tertidur bersamaku di dalam pelukan.
Benar-benar Indah, di bawah rasi dewa-dewa bintang kami berdua bersama, di bawah cahaya bulan yang sendu kami jatuh cinta, di bawah kegelapan langit tanpa ujung kami berpelukan tanpa rindu.
\[\*\***Yang belum like episode sebelum-sebelumnya like dulu ya.. itu adalah apresiasi bagi kami para author untuk lebih bersemangat menulis**.\]
**Btw, kenapa Raka kesal, sebenarnya karena author juga lagi dalam keadaan kesal saat menulisnya, wkwkwk.
Eh, Tapi ini serius lohh**. .
__ADS_1