
Perasaan itu begitu hangat saat aku menyadarinya.
Sepulangnya dari toko, aku pulang kerumah dengan membawa kresek yang berisi cemilan ringan. Ketika di sana Bu Lisa tengah memasak di dapur sambil bergumam menyanyi.
Aku meletakan kresek di meja makan sedangkan tubuhku berlari memeluk Bu Lisa dari belakang, “Sore istriku tercinta.”
“Sore, Mas.” Bu Lisa tersenyum, ia membalikan tubuhnya untuk mencium tanganku yang segera aku balas dengan kecupan di kening.
“Lagi masak apa, sayang?” aku balas tersenyum dengan kedua tangan yang sudah melingkar di pinggangnya.
“Masak kesukaan, Mas. Itu kresek apa?” Ucapnya menoleh kebelakang.
“Oh, itu hanya cemilan sisa tadi di toko,”
“Kamu kesana lagi? Bermain game?”
Aku mengangguk menyeringai, “Tidak apa kan sayang?”
Bu Lisa mengembuskan nafas panjang, “Tidak apa tapi kamu jangan lupa belajar nanti malam.”
“Ok,” jawabku mantap.
Sebenarnya sudah beberapa hari kemarin aku ketahuan suka sembunyi-sembunyi main di toko. Tetapi saat aku takut dia marah justru malah dia terdiam dan menghembuskan nafas.
Bu Lisa pada akhirnya tidak memarahiku, dia menyadari bahwa mungkin hal ini karena gejolak remaja yang hanya ingin bersenang-senang. Sebagai gantinya dia membuat kesepakatan.
kesepakatan itu adalah aku bebas bermain game dengan syarat di malam harinya harus belajar. Tentu saja aku langsung setuju tanpa berpikir sedikitpun, karena intinya aku masih bisa bermain game.
“Oh iya Mas, tadi ketemu sama Mbak kasir itu enggak?”
“Nina maksudnya?” Bu lisa mengangguk sebagai jawabannya, “ketemu, tadi sebelum sempat kesini aku mengobrol dengannya terlebih dulu.”
Bu Lisa terdiam sebentar, “Kamu cemburu ya, sayang?”
“Intinya kamu jangan terlalu deket sama dia,” jawab Bu Lisa singkat.
“Bilang aja cemburu, gak usah malu-malu toh di hadapanmu ini juga suami kamu.” Aku terkekeh pelan.
Setelah itu dia tidak berbicara lagi karena aku yang tanpa aba-aba apapun langsung mencium bibirnya. “Kamu tahukan siapa di hatiku sekarang?” tanyaku sesudahnya.
“Iya, Adek percaya kok. Tapi kamu gak boleh deket-deket sama dia apalagi sering ketemu.”
“Iya, iya, siap sayang, ngomong-ngomong sepertinya masakanmu sudah matang.” Aku menunjuk dengan tatapan mata.
Bu Lisa menoleh ke belakang, “Sepertinya memang begitu. Mas, kamu tunggu aja di meja makan, nanti aku bawa masakannya kesana.”
“Sebentar,” aku mencium bibirnya sekali lagi sebelum melepaskan pelukan dan berjalan ke arah meja makan.
__ADS_1
Bu Lisa terdiam sesaat, wajahnya yang perlahan memerah berbalik membelakangi ku, sedangkan aku yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala. Dia masih saja pemalu terhadap suaminya.
\*\*\*
Di malam harinya aku belajar dengan malas, walau waktu masih jam sepuluh kurang aku tetap memaksakan menatap buku pelajaranku.
“Dek, udah ya… aku ngantuk nih.”
Ini bukan keluhanku yang pertama melainkan ke beberapa kali. Selain karena memang aku malas belajar, mataku juga tak kuasa menahan kantuk karena kekenyangan tadi.
“Sebentar lagi, Mas… setengah jam.”
Itu juga adalah jawaban Bu Lisa yang sudah ke beberapa kali, aku sudah bosan mendengar kalimat itu kesekian kalinya.
“Besok lagi ya, sayang. Aku ngantuk nih.” Ucapku memelas.
“Kamu baru belajar setengah jam, masa sudah ngantuk sih.”
Aku terdiam sejenak, perasaan tadi sangat lama, kenapa jam baru berjalan sebentar.
“Intinya besok aja! Aku benar-benar ngantuk loh, Dek. Masa kamu tega sih maksa aku belajar seperti ini. Lagian ya Dek, kalau ngantuk seperti ini mana bisa masuk ke dalam otak.”
Bu Lisa berpikir sebentar di atas ranjang, layar ponsel yang ia sentuh-sentuh menjadi terhenti. “Besok kamu harus janji ya, Mas. Belajar full.”
Wajahku menjadi sumringah saat mendengarnya, bahkan rasa kantuk yang tadi terasa berat kini telah menguap begitu saja.
“Giliran ke kasur aja, Mas semangat…”
Aku terkekeh, “Sini sayang, aku pengen peluk tubuh kamu dulu!”
Bu Lisa langsung menurut patuh mendengar perintahku, ia berbaring di sampingku dengan posisi membelakangi, sehingga aku dengan mudah bisa memeluk tubuh kecilnya.
“Kamu sedang lihat apa sih, perasaan dari tadi melihat gadget mulu?” kataku bertanya, pasalnya dari awal aku belajar, tatapannya tidak lepas menatap layar gadget.
“Ini, Mas. Informasi dari kepala sekolah.” Jawabnya tanpa menoleh.
Aku tidak bertanya lagi, aku tidak terlalu tertarik dengan apa yang di informasikan dilayar gadget sana. mataku perlahan tertutup hingga akhirnya tertidur lelap.
\*\*\*
“Woy bangun! Tidur mulu!”
Baru saja mataku tertutup sesaat, sudah ada suara keras yang terdengar. “Berisik Za, kau tidak lihat aku mau tidur.” Aku mendesis marah.
“Ini sekolah, bukan rumah!” jawab Reza setengah berteriak, sengaja supaya suaranya benar-benar membuat mataku melek.
Aku mendengus kesal, berdiri bersiap meninggalkan kelas, “Kau mau kemana, Ka?” teriak Reza samar-samar.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, terus melangkahkan kaki keluar kelas.
Sebelumnya, tadi kami di sekolah tidak melakukan kegiatan belajar apapun sampai jam sekarang.
Menurut desas-desus murid kelas katanya saat ini semua guru sedang melakukan rapat perihal tentang ujian akhir semester yang akan di adakan tinggal beberapa hari lagi.
Karena semua guru sedang rapat maka otomatis jam pelajaran menjadi kosong, semua murid yang sedang di kelaspun menjadi bebas dan bisa berpergian kesana-kemari.
Tadi ketika aku dikelas, sebenarnya hanya ada beberapa orang saja yang menetap di sana, sisanya mereka keluar kelas berkeliaran.
Aku yang awalnya berencana untuk tidur di meja mengingat bahwa semalam tidur agak kurang, diganggu oleh Reza, sehingga mau tak mau aku harus pindah tempat.
Tujuanku sekarang adalah tempat kesukaanku, dimana selain di sana sunyi dan sepi ada kasur empuk juga yang tersedia, tempat itu yang tak lain adalah UKS, tempat dimana aku senangi.
“Dek, eh maksudku Bu, kenapa kamu ada di sini?”
Sesudah aku sampai di UKS dan hendak tiduran di kasur, aku menyibakkan hordeng yang menghalangi, namun tau-tau di sana ada orang dan orang itu adalah istriku sendiri.
“Kamu sakit sayang?” setelah aku memastikan tidak ada orang di UKS, gaya bicaraku pada Bu Lisa berubah semula. Aku meletakan tanganku di kening tetapi dia tidak panas sedikitpun.
“Adek tidak apa-apa Mas, cuma tadi hanya butuh istirahat sejenak.” Ucap Bu Lisa mendudukkan posisinya.
Aku menghembuskan nafas lega, kupikir dia sedang sakit atau apa, makanya aku panik.
“Kamu ngapain disini?” tanyanya balik.
“Eh, aku hanya tidur. Semalam aku kurang nyenyak.” Jawabku gelagapan.
“UKS bukan tempat tidur loh Mas, tapi tempat orang yang sakit.” Ucap Bu Lisa mengomel.
Aku hanya memalingkan muka, berpura-pura bersiul, menganggap Bu Lisa tidak mengatakan kata-kata apapun. Tetapi siapa sangka, saat aku siap mendengar omelan dia selanjutnya, Bu Lisa tiba-tiba berkata dengan lembut padaku.
“Sini Mas, Kalau mau tidur!” Bu Lisa berkata seraya menepuk pahanya.
Aku terdiam sebentar, takut salah dengar.
“Mas, katanya kamu mau tidur, sini tiduran di paha Adek.” Ujarnya sekali lagi.
“Eh, ini aku gak salah dengerkan.”
“Enggaklah, Mas. Adek juga ngerti kok kemarin kamu kurang tidur.”
Aku tersenyum bahagia, segera aku membaringkan tidur di kasur dengan kepala yang berada di pahanya. “Aku cinta kamu sayang,” kataku sebelum memejamkan kedua mata.
Sedangkan Bu Lisa tersenyum, dia dengan lembut mengelus kepalaku pelan.
Jangan Lupa ya Like dan Vote nya, mungkin bagi yang membaca nge'like itu sangat sederhana tetapi bagi penulis itu adalah seperti dukungan luar biasa.
__ADS_1
Terima kasih