Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 90 — Bersamanya (Takdir)


__ADS_3

***


13 tahun yang tahun lalu…


“Kak Lisa, kenapa kita keluar? Raka mau ke mamah…”


Anak kecil berusia sekitar 4-5 tahunan merengek pada gadis yang sedang menarik tangannya. Dia baru saja tiba dirumah gadis itu, tetapi baru saja masuk kedalam tiba-tiba dia diajak keluar rumah.


Gadis tersebut tersenyum mendengar celoteh anak kecil di depannya. Ia berjongkok agar tinggi badannya sama. “Tante Ratna sedang membicarakan sesuatu didalam dengan Mamah Lisa, kita tidak boleh mengganggunya, Raka.”


“Tapikan Raka bukan penggangu, Raka cuma mau nyerita panjang tadi…” Anak laki-laki itu memanyunkan bibirnya cemberut, ia merajuk ingin kembali.


Sebenarnya Raka itu memang menganggu pertemuan antara Ratna (Ibunya Raka) dan Ayu (Ibunya Kalisa), ia banyak berceloteh sepanjang obrolan hingga kedua ibu tersebut hanya bisa tersenyum mendengarkan.


Karena hal tersebut, Kalisa mengajaknya keluar rumah agar tidak menggangu. Walaupun saat itu gadis tersebut baru berumur sekitar 8 tahunan, ia sudah cukup mengerti bahwa kedua ibunya ingin membicarakan sesuatu yang penting.


Kalisa mengelus pucuk kepalanya. “Dari pada itu, bagaimana kalau Raka temani Kakak ke taman sebentar? Nanti kalau sudah, Kakak akan beri hadiah lohh…”


“Hadiah? Hadiah apa?” Mata Raka membesar, penasaran.


“Itu rahasia…” Kalisa mencolek hidung Raka yang membuat sang empu mengembungkan pipinya sebal. “Sekarang, kamu temani Kakak kesana ya?”


Raka sebenarnya ingin menolak tetapi tidak berani mengutarakannya, karena sejak awal, Raka selalu menuruti keinginan gadis tersebut dan tidak mau gara-gara penolakannya membuat gadis itu jadi kecewa.


Mau tak mau Raka akhirnya mengangguk. Ia hanya pasrah melihat tangannya di tarik oleh gadis tersebut.


Taman yang dituju oleh keduanya adalah taman anak-anak yang berada tidak jauh dari rumah Kalisa, dan juga biasanya Kalisa selalu bermain disini.


Membutuhkan lima menit berjalan hingga mereka akhirnya sampai. Terlihat sekali sore hari ini taman tersebut begitu rame, banyak sekali anak kecil yang bermain, ada yang main ayunan, perosotan, atau petak umpet. Disebelah ujung sisi taman juga ada bangku panjang, disana terdapat banyak orang tua tengah mengawasi anak-anaknya bermain.


“Lihat Raka, lihat! Tamannya ramai bukan?” gadis cantik tersebut bersemangat menunjuk area taman, berharap dengan banyaknya anak seumuran Raka, wajahnya menjadi tidak murung.


Raka meliriknya sekilas, tidak berminat. Tetapi karena melihat Kalisa yang begitu semangat ia meresponnya dengan anggukan kecil.


Kalisa kembali menarik tangan Raka kesebuah ayunan tali, kemudian menyuruhnya agar duduk diayunan tersebut, sedangkan untuk dirinya, ia akan mendorong dari belakang.


“Sini duduk, Raka! Nanti Kakak yang dorong…” Ucap Kalisa lembut.


Raka mengangguk kecil, menurutinya. Awalnya wajah anak laki-laki itu masih murung karena ingin kembali keibunya, tetapi seiring tubuhnya diayunkan, itu terasa seru baginya hingga ia mulai berteriak-teriak.


“Lebih kuat lagi, Kak…” Raka berseru semangat.


Kalisa tertawa kecil menyaksikan Raka yang berantusias, ia kemudian mendorongnya lebih kuat agar ayunannya menjadi lebih tinggi, membuat Raka berseru-seru dengan tawa.


Tidak cukup disana, setelah keduanya bermain ayunan, Raka meminta mencoba bermain dengan anak yang lain di taman, mereka sedang bermain kejar-kejaran dan petak umpet.


Kalisa mengamatinya sambil duduk diayunan, melihat Raka yang kini tengah dikejar anak yang lain sambil tertawa-tawa. Permainan tersebut berakhir sekitar jam 4 sore, semua ibu-ibu yang disana menyuruh anaknya pulang dan dengan otomatis permainan itu selesai.


“Kak Lisa, Raka cape… mau gendong?” sambil memasang wajah memelas.


“Kamu ini, tadi pas datang kesini tidak semangat ingin cepat pulang, kenapa pas tadi Kakak teriak pulang kamu gak mau…”


“Kapan? Raka gak denger tuh.” Raka memalingkan wajahnya dengan polos.


“Uh, dasar pembohong kecil. Bilang saja masih ingin bermain tadi, iyakan?”


Raka menyeringai lebar, merasa ketahuan. Menurutnya dia tidak bisa berbohong didepan gadis tersebut, karena Kalisa selalu tahu apa yang ia sembunyikan dan rasakan.

__ADS_1


Sesuai yang diinginkan, Kalisa menggendong Raka dipunggungnya. Gadis tersebut sudah cukup tahu bagaimana sifat manja dari Raka, jika ia menolak, biasanya Raka akan merengek bahkan bila perlu sambil menangis agar dituruti.


“Kamu mau es krim, Raka?” Kalisa menoleh ke belakang, mengarah pada Raka yang tengah nyaman di punggungnya.


“Es krim, Kak?” Tanya Raka memastikan.


Kalisa mengangguk, dia sudah berjanji pada Raka akan memberikan hadiah selepas bermain di taman, karena saat ini ada tukang dagang es krim, ia berpikir memberikan hal itu sebagai hadiah.


Tanpa ditawari dua kali, Raka segera meng-iyakannya cepat. Kebetulan ia sedang kegerahan karena habis bermain tadi, memakan es krim adalah pilihan yang memang tepat.


Usai membeli es krim tersebut keduanya segera pulang. Raka meminta digendong lagi oleh Kalisa, ia benar-benar telah memandang gadis tersebut sebagai kakaknya. Lalu hal yang tidak disangka selanjutnya, Raka malah tertidur dipunggung gadis tersebut.


Kalisa tersenyum saat menyadarinya, mungkin Raka benar-benar kelelahan usai bermain ditaman. Kalisa terus menggendongnya hingga sampai rumah.


Disisi lain, ketika Ratna dan Ayu hendak mencari kedua anaknya diluar, itu bertepatan dengan Kalisa yang baru sampai. Ratna begitu terkejut mengetahui kalau Raka sedang tertidur dalam gendongan.


“Aduhhh… pasti Raka merepotkanmu, Lisa?” Ratna segera mengambil alih Raka dari Kalisa, menggendong anaknya dari depan.


“Tidak kok, Tante, Raka tidak merepotkan.” jawab Kalisa sopan.


“Lisa, kamu tadi bermain dimana, Sayang?” Kini Ayu yang bertanya.


“Di taman, Mah, tempat biasa Lisa main. Tadi Lisa membawa Raka kesana.” kedua anak ibu itu mulai berbincang. Kalisa menceritakan keseruan Raka saat bermain tadi, Raka sering ketahuan saat bersembunyi dan ia juga payah dalam berlari, membuatnya harus bagian jaga selama beberapa kali.


“Tadi saat pulang, Lisa dan Raka makan es krim sebentar sebelum akhirnya kesini.” jelasnya mengakhiri cerita.


Ratna tersenyum mendengarnya, ia benar-benar tertarik dengan anak gadis sahabatnya itu. Kalisa boleh jadi saat ini berumur 8 tahun, tetapi Ratna menyadari bahwa tatapan gadis tersebut menunjukkan sikap kedewasaan.


“Lisa?” Ratna ingin mengatakan sesuatu, berbicara dengan intonasi sedikit serius.


“Kamu mau gak, kalau sudah besar nanti Kalisa dijodohkan sama Raka?”


“Dijodohkan sama Lisa, Tante?”


“Iya. Kamu dan Raka, sayang. Kamu akan menikah dengan Raka. Mau kan?”


“Eh? Itu… Lisa…” Kalisa tergugup salah tingkah, ia tidak menyangka kalau akan ditanya demikian, bahkan berpikir kesanapun tidak.


“Kamu ini, Ratna. Bukankah kita akan membicarakan hal ini saat mereka beranjak besar. Kalisa baru berumur 8 tahun sekarang, ia akan sulit menjawab pertanyaan tadi.” Ayu tertawa kecil, melihat bagaimana sahabatnnya itu tidak sabaran untuk membicarakan topik ini. Benar sekali, Ratna dan Ayu sebelumnya memang berbincang penting mengenai topik perjodohan.


“Sungguh Ayu, aku menyukai sipat anakmu ini. Semoga besar nanti dia mau mendampingi Raka. Nahh, Lisa gimana, kamu mau?”


“Lisa gak tahu tante…” Jawab Kalisa pelan, bingung antara mau menolak dan tidak bisa menjawab.


“Tidak apa, Tante gak maksa kamu jawab sekarang, kok.” Ratna tersenyum, mengelus pucuk kepala gadis cantik tersebut.


“Sudah-sudah, jangan membicarakan ini lagi, Ratna, bukan waktu yang tepat. Sekarang kita masuk kedalam. Lihat, Raka butuh tempat yang empuk untuk tidur.”


Melihat Raka yang tertidur begitu pulas dalam gendongan ibunya. Akhirnya semuanya kembali kedalam rumah.


Dan tentang perjodohan tersebut adalah cikal bakal cerita mereka dimulai. Siapa yang tahu, bahwa perjodohan ini akan berhasil. Raka dan Kalisa menikah, bahkan keduanya dikarunia TIGA ANAK.


***


Kembali sekarang…


Saat aku terbangun, ibuku langsung bahagia dan segera memeluk tubuhku dengan erat. Tangannya sedikit bergetar, aku bisa merasakan betapa khawatirnya Mamahku saat ini.

__ADS_1


Ayahku juga ada disana, tersenyum menatapku. “Syukurlah kamu sudah siuman, Raka.”


Aku mengangguk. Saat kulihat wajah ayahku, aku bisa menyaksikan beliau kelelahan dan kurang tidur. Sepertinya kedua orang tuaku menjagaku setiap waktu saat aku tidak sadarkan diri. Wajah keduanya juga terlihat khawatir tetapi segera hilang ketika aku terbangun.


“Sebenarnya Raka sudah terbangun beberapa jam yang lalu, Pah. Tetapi tidur lagi hingga akhirnya terbangun sekarang.” Ujarku pelan.


Ayah dan Ibuku saling pandang sesaat, tidak mengerti. “Jadi, kamu tadi itu tertidur bukan pingsan?” tanya Mamah.


“Eh, iya, Mah.” Aku menggaruk kepala, merasa bersalah. Memang aku sudah tersadar sekitar 6 jam yang lalu, tetapi saat siuman, aku tidak mendapati diruangan ini seseorangpun hingga 30 menit lamanya. Karena terlalu lama menunggu, aku malah tidak sengaja tertidur kembali.


Aku juga langsung mengetahui saat ini berada dirumah sakit rawat inap. Kepalaku diperban akibat kecelakaan sebelumnya, walaupun begitu, aku merasa sudah baik-baik saja, mungkin hanya kepalaku yang sedikit sakit, agak berdenyut nyeri disesekali waktu.


Saat ini pukul jam 3 dini hari, menyaksikan orang tuaku masih dalam keadaan terjaga, sudah menunjukan mereka sangat khawatir dan menungguku siuman.


Kupikir ibuku akan mengomel karena tingkahku yang tertidur tadi, tetapi ternyata dugaanku salah, Mamah langsung mencium keningku begitu lama.


“Kami benar-benar khawatir kamu kenapa-napa, sayang,” Mamah berkata lemah lembut. Memandangku dengan penuh cinta. “Tolong berhati-hatilah, Raka, kamu adalah satu-satunya putra mamah. Jagalah dirimu, itu sudah cukup membuat kami bahagia.”


“Raka minta maap, Mah.” Aku sadar, disini ibuku lah yang paling terpukul ketika mendengar bahwa aku kecelakaan.


“Tidak apa-apa, asal jangan diulangi lagi, yah?”


Aku mengangguk, aku tidak akan membuat orang tuaku khawatir seperti ini lagi.


“Jadi, alasan apa Raka terbangun dijam seperti ini, seperti bukan anak mamah saja?” Mamah mengecup keningku terakhir kalinya.


Aku menggaruk kepala, terasa berat dikatakan. “Raka lapar, Mah.”


Lontaran tersebut sukses membuat orang tuaku tertawa. Ah, pada akhirnya, dihadapan keduanya aku tetap anak kecil mereka.


“Abang, Ratna mau masak sesuatu dulu buat Raka?” Mamah meminta izin pada ayahku. “Abang, mau dimasakin sesuatu juga?”


“Boleh, masakannya yang kuah-kuah ya. Kita makan disini bersama.” Ayahku mencium kening Mamah yang membuatnya bersemu merah. Sesuatu yang langka aku lihat dari ibuku.


Kemudian Mamah pergi keluar ruangan, sedangkan ayahku disini menjagaku.


Aku merubah posisi menjadi duduk, alangkah terkejutnya ada seseorang disini selain orang tuaku. Dia seorang wanita, sedang tertidur lelap disamping ranjangku dengan kepalanya dikasur sedangkan ia tertidur sambil duduk. Wanita itu siapa lagi kalau bukan istriku, Kalisa.


“Kalisa sangat menyayangimu, Raka. Kamu hampir tidak sadarkan diri sehari lebih, selama itu juga dia menemanimu disini tanpa tidur sedikitpun.” Seolah tahu isi kepalaku, ayahku berucap terlebih dahulu.


Sehari lebih? Selama itukah aku pingsan!


Aku mengelus pipi putihnya lembut. Benar kata ayahku, aku bisa melihat wajah Kalisa kelelahan, kurang tidur.


Kejadian ini sungguh membuat orang disekitarku menjadi khawatir. Setelah ini, aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan membuat mereka seperti ini. Aku janji!


Kulirik wajah istriku beberapa kali, terasa ada yang berbeda darinya, terasa lebih… Sebentar! Bukankah alasan kenapa aku kecelakaan karena Bu Lisa saat itu akan melahirkan? Dan sekarang lihatlah, perut istriku sudah seperti semula dan dia juga kini tengah terduduk dikursi roda.


Seolah mengerti dengan kemana jalan pikiranku, ayahku berkata lagi. “Syukurlah Raka, Kalisa telah melahirkan anakmu dengan selamat.”


Aku menatap ayahku sebentar lalu pindah pada Kalisa, mulutku terbuka, sulit mengatakan apapun. Apa yang tadi ayahku bilang, Kalisa telah melahirkan?




***Like dan comment nya***...

__ADS_1


__ADS_2