
Suasana kantin sekolah seperti biasa akan begitu berisik ketika waktu istirahat telah tiba. Murid-murid kebanyakan mengobrol ketika sedang menyantap baksonya, membicarakan pelajaran sekolah yang susah, membicarakan tentang game yang tiada henti, tertawa-tawa saling becanda, dan masih banyak lagi aneka topiknya.
Memang hal terbaik untuk menghibur diri dari jeratan pelajaran sekolah adalah makan di kantin, seperti sekarang saat aku memakan bakso dengan sambal yang sangat banyak, stres pelajaran akan hilang seketika.
“Oi, tambah lagi lahh sambalnya. Masa cuma 7 sendok…” Reza berseru didepanku dengan kepedesan, napasnya sudah memburu tidak teratur. “Ayo tambah lagi! Mangkuk aku saja sudah 10 sendok.”
Aku meneguk ludah beberapa kali, melihat mangkuk Reza yang sudah kemerah-merahan. Mangkuk aku saja yang baru 6 sendok sudah pedas gila, apalagi yang ada di mangkuk temanku itu.
Zildan yang ada duduk disampingku ikut menyendok sambal pada baksonya, ini sudah ke 8 kalinya, wajah Zildan yang putih berubah menjadi merah saking pedesnya.
Karena aku tidak mau diposisi paling akhir~ takut karena Reza akan mengejekku, aku dengan terpaksa mengambil sambal lagi meski sudah tidak kuat, menyendokkan kedalam mangkukku yang warnanya sudah abstrak. Aku tidak mau kalah bertanding!
Kejadian ini semua gara-gara Reza, entah ide dari mana dia mengajak tanding makan bakso hingga 20 sendok sambal. Siapa yang sudah mencapai targetnya akan menang, dan siapa posisi yang paling bawah dapat jitakan.
Aku yang waktu itu tanpa pikir panjang malah langsung setuju karena yakin akan menang, begitu juga dengan Zildan. Sekarang setelah semuanya, aku malah menyesal menyetujui ikut pertandingan ini.
Aku mengangkat tangan menyerah, tidak kuat dengan pedasnya, ingus hidungku sudah beberapa kali keluar tiada henti, repot tangan mengambil tisu. Kemudian Zildan ikut berhenti, maka setelahnya dengan otomatis Reza lah yang menang.
“Huh, lemah kalian berdua…Belum juga sepuluh sendok sudah menyerah.” Katanya menyeka keringat, mengejek.
“Lemah kepalamu! Aku sudah gak kuat lah, perutku sudah panas, mau meledak. Aku gak mau gara-gara pertandingan ini nanti bisa kerumah sakit, usus buntu.” Ucapku menggerutu, enak saja dipanggil lemah.
“Lagian kau juga berlebihan, Za.” Zildan menambahkan sambil ber’huh-hah. “Jika sampai 20 sendok itu artinya kita menghabiskan kotak sambal ini sepenuhnya. Itu sama saja dengan makan racun, buat orang sakit perut.”
Reza tertawa tidak peduli, yang penting dia sudah menang.
PTAK!
PTAK!
Reza menjitak kepalaku dan Zildan secara bergantian, membuat kami mengaduh kesakitan. Reza tersenyum puas, meniup kepalan tangannya dengan bangga.
__ADS_1
“Oi, kenapa kepalaku dijitak juga?” Zildan berseru protes. “Kan si Raka yang pertama, jadi dia sendiri lah yang dijitak!”
“Oi, sejak kapan aku mengatakan begitu. Aku berkata siapa yang menang dia harus menjitak yang kalah.” Reza nyengir lebar.
Zildan melotot sebal, tidak bisa berkomentar apapun. Apa yang dikatakan Reza memang benar, kami lah yang telah salah mengartikan hukuman permainan tadi. Dia tidak mengatakan yang paling pertama menyerah dapat hukuman, tapi dia berkata yang menang berhak menjitak yang kalah.
Aku tertawa kecil melihat wajah Zildan yang masih tak terima dijitak, jika peraturannya begitu, mungkin dia bisa saja melanjutkan makan baksonya tadi.
Beginilah kehidupanku saat ini, meskipun statusku sudah berubah menjadi ayah yang harus dewasa, tetapi sikap remaja ini masih melekat pada sikapku.
Memang, terkadang saat aku melihat temanku, ada terbesit pikiran bagaimana reaksi mereka saat tahu bahwa aku sudah menikah dan malah punya anak. Reza pasti syok berat, dan Zildan pasti mematung terkejut.
Tetapi biarkanlah rahasiaku seperti ini, tidak diketahui oleh seorangpun. Nanti jika lulus SMA, mungkin aku akan mengatakan rahasia ini pada mereka, tentang hubunganku dan Bu Lisa yang telah menikah.
Saat tabrakan minggu lalu terjadi misalnya, bahkan sekolah dan teman-temanku tidak ada yang mengetahui. Alasannya sederhana, karena hari dimana aku kecelakaan bertepatan dengan hari libur sekolah (Sabtu minggu libur), ditambah dengan tanggal merah dikalender jadi 3 hari, sehingga secara normal aku tidak absen ke sekolah seharipun.
Tentang berita Bu Lisa melahirkan pun sebenarnya hanya diketahui oleh segelintir orang saja disekolah yaitu Pak Bima, kepala sekolahku saat ini. Pak Bima mengucapkan selamat pada Bu Lisa lewat telepon, karena saat itu beliau sedang sibuk jadi tidak bisa bertamu secara langsung.
Intinya, identitas dan statusku sekarang masih sama dengan sebelumnya tidak ada yang bocor. Tentang aku menikah, tentang aku menjadi seorang ayah, tentang aku kecelakaan, tidak ada yang tahu. Aku menyembunyikan semuanya.
Selama 10 menit kedepan kami bertiga berisitirahat sejenak sambil meminum air botol dingin untuk menghilangkan pedas yang sebelumnya.
Tepat ketika kami mau angkat kaki dari sana, sejenak suasana kantin tiba-tiba menjadi hening, murid-murid terdiam tidak ada suara, suasana menjadi sunyi. Aku menghentikan gerakan langkahku mencerna apa yang terjadi? Oi, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.
Tidak butuh waktu lama hingga aku bisa mengerti keadaanya. Lihatlah, seisi murid-murid di kantin ini semua pandangannya tertuju pada satu titik. Aku ikut menoleh melihat apa yang mereka lihat, mataku terbelalak terkejut.
Didepan kantin sana, ada seorang murid SMA wanita yang begitu cantik sedang mengantri memesan makanan. Wajahnya manis, bibirnya tipis dan merah, rambut dia terurai panjang dengan indah, kulitnya putih bagai mutiara. Astaga, bagaimana bisa ada perempuan begitu cantik seperti itu.
Bukan kecantikannya saja yang menjadi perhatian gadis itu, melainkan orang yang ada disampingnya. Entah kenapa gadis itu kekantin bersama kepala sekolah kami, ini jelas mengejutkan.
Reza tiba-tiba menyikut perutku, membuat perhatianku teralihkan padanya.
__ADS_1
“Hihi, kau sama saja seperti mereka. Jangan bilang kau tertarik dengan kecantikannya?” Reza tertawa kecil, menggodaku. “Nama gadis itu adalah Rena, dia adalah murid pindahan hari ini. Sama sepertimu, dia berasal dari 12 keluarga terpandang, salah satu keluarga yang berpengaruh dari kota besar ini.”
Aku mengernyitkan alis, sedikit tidak percaya. “Bagaimana kau bisa tahu dengan identitas gadis itu?”
Reza tertawa, menunjuk kepalanya, seolah mengatakan akukan orang yang serba tahu.
“Lagian, Raka. Yang dilirik gadis itu bukan kecantikan dan statusnya saja, tetapi tentang prestasinya.” Reza menambahkan.
“Prestasinya? Ada apa dengan prestasinya?”
“Oi? Kau beneran tidak tahu?” Reza memandangku terkejut. “Kupikir kau dari tadi hanya pura-pura saja.”
Aku mengangkat bahu. Aku memang tidak tahu gadis tersebut.
“Rena hari-hari ini sering ada dilayar televisi berita, Raka, diundang diacara talkshow terkemuka atas dasar prestasinya membanggakan negara. Bisa dibilang Rena hampir sama dengan artis, semua orang pasti tahu. Prestasi yang ia torehkan adalah pencak bela diri, Rena menjuarai lomba bela diri tingkat nasional beberapa kali, juga menjuarai perlombaan tingat asia, selanjutnya sekarang dia akan mengikuti tingkat internasional beberapa bulan lagi.” Zildan yang ada disampingku berbaik hati menjelaskan.
Ternyata seperti itu, pantas saja seisi kantin langsung syok saat dia kesini. Prestasinya bukan kaleng-keleng belaka, dia adalah gadis kebanggaan negara.
Setelah murid baru itu memesan makanan, dia berjalan ke salah satu meja membawa napan makanannya. Aku mundur selangkah untuk memberikan ia jalan, namun saat tepat didepanku, gadis yang bernama Rena itu berhenti sesaat dan memandangku.
Rena tersenyum sangat manis. “Selamat pagi, Raka.”
“Eh? Mm… Selamat pagi.” jawabku gugup. Tidak menyangka dia akan menyapa. Eh? Sebentar, kenapa dia tahu namaku.
Rena mendekatkan bibir merahnya kearah telingaku. Dia berbisik. “Jangan terkejut! Aku tahu semua rahasiamu, Raka. Aku tahu kau sudah menikah, aku tahu kau telah punya anak, aku juga tahu hubunganmu dengan Bu Lisa seperti apa. Dan aku tahu kau sama sepertiku, berasal dari keluarga terpandang.”
Aku mematung mendengar bisikan singkatnya. Rena tidak menunggu reaksiku, ia berlalu melangkah.
Reza yang ada disampingku berbisik. “Kau mengenal Rena?”
Aku menggeleng, bahkan aku baru bertemu dengannya saat ini.
__ADS_1
Aku menatap punggung Rena dari belakang. Bagaimana dia bisa tahu semua tentangku padahal aku pun tidak dekat dengannya, dia bahkan bisa mengetahui hubunganku dengan Bu Lisa.
Namun entah kenapa saat berhadapan dengan Rena tadi, ada sesuatu yang tidak asing dengan dirinya. Sesuatu yang cukup pamiliar yang aku tahu, namun entah apa itu, aku tidak bisa persis mengingatnya.