Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 37 — Perasaan Pak Farhan


__ADS_3

Laki-laki dan wanita tidak bisa menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan.




Usia Pak Farhan sekitar 25 sampai 26 tahun persisnya. Aku tidak terlalu yakin dengan hal ini jika hanya memandang postur tubuh dan wajahnya.



Di usianya yang terbilang muda dan dewasa, dia belum menikah ataupun mempunyai pasangan. Semua murid ataupun guru-guru juga tahu kalau Pak Farhan masih lajang.



Kenapa aku sekarang lebih banyak menceritakan tentang Pak Farhan? Itu karena sudah seminggu berlalu, dia dan istriku menjadi bahan pembicaraan di sekolah tentang hubungan dari keduanya.



Entah itu di kelas, di kantin, ataupun bahkan di WC, tidak luput mendengarkan cerita mereka berdua dari para murid-murid sekolah. Dan ngomong-ngomong selama seminggu berlalu juga, wajahku berlipat masam gara-gara hal tersebut.



Bagaimana tidak? Istriku itu dituduh-tuduh berpasangan dengan orang lain sedangkan suaminya ada di sana mendengarkan begitu saja. Oi, jika kalian di posisiku mungkin kalian akan lebih marah saat mengalaminya.



Aku setiap malam mencurahkan kekesalan atas apa yang mereka katakan di sekolah. Istriku hanya tersenyum dan mebelai rambutku dengan halus.



“Tidak apa-apa Mas. Kamu juga tahu kan siapa yang aku cintai.” Lantas setelah mengucapkan hal tersebut, aku kembali menjadi lebih tenang.



Tentu saja, ketenangan itu tidak berdampak selamanya. Keesokan harinya, ketika aku baru datang dan memasuki kelas, ada segorombolan wanita yang tengah asik berkumpul menceritakan Bu Lisa dan Pak Farhan lagi.



Wajahku berlipat kesal namun tidak membantah dan memberhentikannya. Bagaimanapun aku tidak cukup bodoh mengatakan kalau Bu Lisa sudah menikah dan akulah suaminya.



“Kau sepertinya tidak menyukai tentang gosip itu, Raka?” Zildan yang entah dari mana tiba-tiba sudah muncul di kursinya, dia kini memposisikan tubuhnya menghadapku. “Yah… aku juga sama sih. Kenapa mereka selalu menyibukan dengan sesuatu yang tidak berguna.”



Aku menghela nafas panjang. “Mereka benar-benar tidak tahu tentang apa yang mereka bicarakan. Asal bersuara, asal ada percakapan, asal bahagia, mereka melakukannya hanya untuk menyenangkan hati mereka sendiri dengan membicarakan orang lain.”



Entah yang aku ucapkan itu nyambung atau tidak dengan perkataan temanku, aku hanya mengatakan dengan emosi dan perasaan.



Zildan tidak menjawab, dia hanya termenung sebentar sebelum mengeluarkan buku yang ada di dalam tasnya untuk di baca.



Di siang harinya tepat jam istirahat, aku berkeluh kesah pada Bu Lisa di UKS. Aku tidak mengatakan kekesalan melainkan ketidak berdayaan.


__ADS_1


“Adek tidak butuh di bela, Mas. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, kamu tidak bersalah sebagai suami.”



Aku hanya menenggelamkan wajahku di pelukannya. Apa yang di katakan Bu Lisa memang hampir benar, di banding rasa kesal sebenarnya aku hanya berasa bersalah. Bersalah karena hanya bisa berdiam diri ketika sang istri di gosip kan seperti itu.



Beberapa jam berlalu dan bel pulang berbunyi, aku langsung bergegas ke parkiran bersama Zildan dan Reza, namun saat disana Pak Farhan dengan Bu Lisa terlihat mengobrol berdua. Di lihat dari situasi sepertinya Pak Farhan sedang membicarakan sesuatu yang serius.



Aku mengernyitkan alis saat melihat sekuntung bunga sedang di berikan pada istriku. Bu Lisa dengan terpaksa menerimanya, untuk orang yang sebaik dia, dia tidak mungkin membuat orang lain merasa sakit hati.



“Mas.” Bu Lisa membuka suara ketika kami duduk di sopa tengah rumah. Suasana keluarga kami menjadi canggung gara-gara kejadian di parkiran tadi.



Kalian tahu, saat Bu Lisa menerima sekuntum bunga tersebut, dia tanpa sengaja menemukan diriku menatapnya. Bu Lisa yang hendak mengatakan sesuatu padaku membatalkan aksi tersebut, karena bagaimanapun hubungan kami benar-benar harus di utamakan kerahasiaannya.



Aku langsung berlari cepat menaiki motor dan bergegas pulang. Aku tidak tahu kenapa tadi melarikan diri, tapi yang pasti aku ingin cepat-cepat keluar dari sana.



“Pak Farhan mengajak Adek jalan-jalan besok di taman.” Ujarnya menambahkan, “Menurut kamu gimana, Mas?”




“Kok bicara kamu gitu sih Mas, kamu marah sama Adek?”



Aku menghela nafas panjang, akupun tidak mengerti kenapa tiba-tiba nada bicaraku menjadi berbeda. Rasanya perasaanku sekarang bercampur aduk antara kesal dan khawatir.



Bu Lisa entah kenapa mendudukkan pantatnya di pangkuanku dan menyandarkan tubuhnya. Matanya yang hitam mengunci dengan dalam seraya berkata dengan intonasi lembut. “Sabar ya Mas… Adek tahu kamu sedang banyak pikiran.”



Saat ini bukan perkataan dia yang menjadi fokus perhatian, melainkan aroma wangi tubuhnya, lalu apa yang akan di lakukan olehku justru lebih didahului olehnya.



Untuk kali ini, Bu Lisa lah yang mencium bibirku terlebih dahulu. Mataku terbelalak melongo tetapi dengan cepat-cepat aku membalas ciuman dia.



Awalnya aku berciuman seperti biasa hanya bersentuhan bibir. Tapi lama-lama aku bergerak ke bawah, ke daerah bagian leher putihnya yang halus.



Bu Lisa mengerang, dia juga tidak menyangka bahwa aku akan mencium di titik leher. Sebelum adegan lebih lanjut suara telpon tiba-tiba berdering, kami terpaksa harus menghentikan aksi tadi.


__ADS_1


Suara telpon itu berasal dari ponsel Bu Lisa, dia langsung mengangkatnya dengan posisi masih duduk di pangkuanku.



“Ini telpon Pak Farhan, katanya bagaimana jawabanku tentang ikut jalan-jalan ke taman besok.” Dia berbicara pelan takut suaranya terdengar oleh ponsel Pak Farhan .



Aku tersenyum, “Terserah kamu, Dek. Mau kamu ikut kesana atau enggak itu keputusanmu. Sekarang Mas sudah percaya kalau cinta kamu hanya untukku seorang.”



Bu Lisa pun menyutujui ajakan Pak Farhan, setelah telponan mereka selesai. Aku di kecup di bagian sebelah pipi, “Terima kasih Mas, karena percaya pada adek.”



Aku mengangguk lalu memeluk tubuh kecilnya dengan lembut.



\*\*\*



Kalian tahu kenapa aku tidak melarang Bu Lisa berdekatan dengan Pak Farhan, jawabannya simpel, itu karena mereka berdua bersahabat sejak dulu, tepatnya ketika masa-masa masuk universitas.



Walaupun umur mereka berkisar beberapa tahun, itu tidak menjadikan alasan untuk keduanya tidak bersahabat. Malahan, justru dengan perbedaan umur seperti itu membuat mereka menjadi tambah akrab.



Namun sayangnya, laki-laki dan wanita tidak bisa menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan. Entah sejak kapan, secara perlahan perasaan cinta tumbuh di hati Pak Farhan tanpa ia sadari.



Keesokan harinya di jam 6 sore, Bu Lisa menceritakan itu semua kepadaku setelah mereka berdua berjalan-jalan.



Saat keduanya di taman tadi, tanpa di duga Pak Farhan menyatakan cintanya pada istriku. Dia sudah membeli cincin sebagai tanda keseriusan atas tindakan yang dia lakukan.



Sial bagi Pak Farhan, dia sangat terlalu percaya diri dengan kedekatan dirinya dengan Bu Kalisa, sehingga dia bakal yakin akan di terima. Namun setelah mendengar jawaban dari orang yang di sukai nya, dia seperti terjatuh dalam kenyataan yang pahit.



Orang yang di sangka bakal menerima cintanya ternyata tidak memiliki perasaan yang sama. Bu Lisa langsung pergi meninggalkan Pak Farhan di taman sendirian, ia beberapa kali meminta maaf bahwa dirinya sudah menyukai orang lain.



Bu Lisa pun menangis di pelukanku ketika ia tiba di rumah. Dia sadar bahwa persahabatan mereka akan berakhir hari ini.



“Tidak apa-apa, Dek. Menangislah… jangan di tahan.” Aku mengelus punggung secara perlahan dan lembut, membiarkan ia terisak semakin keras.



\[**Tolong Like ya kak... mungkin bagi pembaca sangat simple dan sederhana tapi untuk penulis itu adalah penghargaan bagi kami, Terima kasih**... \]

__ADS_1


__ADS_2