Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 107 — Emosi Signifikan


__ADS_3

Sebenarnya jika boleh memilih aku tidak mengijinkan Bu Lisa untuk pergi sekolah, meski tubuhnya terlihat sehat tetapi dia baru saja sembuh dari demam. Aku akhirnya membolehkan dia dengan syarat pas nanti upacara dia tidak boleh hadir.


“Iya, Mas, siap. Tapi benerkan mas ijinin Adek?” Bu Lisa tengah membetulkan dasiku yang miring ketika hendak berangkat ke sekolah.


“Iyah asal kamu jangan kecapean disana.” Aku mencolek hidungnya.


“Baik, bos…”


“Uh, istri Mas ini gemesin, enggak anaknya enggak ibunya sama aja.”


Bu Lisa mengulum senyum, dia tidak menanggapiku melain fokus membenarkan dasi yang belum kunjung selesai. “Sudah, Mas.”


Aku melihat sebentar dasiku yang sudah tidak miring lagi. “Kalau begitu Mas berangkat terlebih dahulu…”


“Tumben Mas berangkat jam segini, memang ada apa?”


“Ada PR yang masih belum, Mas nanti mau mengerjakannya disekolah…”


“Hah, gimana, Mas!”


“Eh-eh, maksudku Mas harus piket hari ini, jadi berangkatnya harus pagi-pagi…” Aku buru-buru menganulir.


Bu Lisa paling tidak suka yang namanya murid mengerjakan PR disekolah, apalagi seperti diriku yang harus berangkat lebih pagi untuk mengerjakannya.


Mata Bu Lisa menyipit curiga membuatku hampir berkeringat dingin, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya dengan lembut, mengecup pipi putihnya. “Kamu cantik, Ma, hari ini…”


“Mas Raka mau mengerjakan PR, ya?” Bu Lisa masih tetap curiga.


Aku menyeringai lebar sebagai jawabanya, menggaruk kepala. “Maap ya, aku tidak punya waktu saat libur kemarin, sibuk, jadi lupa mengerjakannya.”


Bukannya aku tidak bisa mengerjakan PR itu tepatnya aku tidak ada waktu untuk menyentuhnya. Istriku kemarin sakit, aku harus mengurus banyak hal di rumah.


Bu Lisa sepertinya tersadar alasanku tidak bisa mengerjakannya, ia kemudian memintaku untuk melihat PR nya.


“Ini PR fisika, ada 5 soal yang belum aku kerjakan…” Aku menyerahkan buku tulis itu padanya.


Bu Lisa menatap soal itu sebentar sebelum pindah dan duduk ditempat meja belajarku. “Sini Mas pena nya. Biar Adek yang mengerjakan.”


“Eh, memang boleh?” Aku sulit percaya mendengarnya.


“Untuk kali ini saja karena ini juga gara-gara Adek kamu tidak bisa mengerjakannya.” Bu Lisa tersenyum menanggapinya.


“Terimakasih, Ma…” Aku langsung mencium pipinya sekaligus juga menyerahkan pena. Bu Lisa tanpa kesulitan berarti dia mengerjakannya cuma 10 menit dan kuyakin semua jawabannya benar.


Aku tertegun melihatnya, aku hampir lupa kalau aku telah menikah dengan sosok guru yang cerdas.


Karena aku akan lebih dulu pergi ke sekolah, Bu Lisa menuntunku hingga pintu rumah dengan membawa tasku.


“Papah pergi dulu, Mah.”

__ADS_1


“Iyah…” Bu Lisa mencium tanganku sekaligus memberikan tas. Aku membalasnya dengan kecupan dikening.


“Kalau nanti ada sesuatu di sekolah jangan lupa chat Mas, ya? Kamu baru sakit jangan terlalu banyak aktivitas.” Aku mengelus pipinya.


“Iyah.”


“Terus jangan lupa bawa obat dan bekal, juga kalau cape istirahat dulu.”


Bu Lisa mengangguk sambil menahan senyum, dia tidak kesal atau jengkel melihatku cerewet seperti ini, justru Bu Lisa sangat senang karena aku lebih perhatian padanya.


“Mm… apa lagi, ya?” Aku mengelus dagu, berpikir apa yang harus diperhatikan lagi untuk menjaga kesehatannya.


“Sudah Mas, Adek kan ngerti…” potongnya.


Aku tersenyum. “Yasudah, aku pergi dulu. Cantik.”


Wajahnya memerah dengan sebutan itu, aku yang melihatnya hanya terkekeh dan mengacak rambutnya dengan perasaan gemas. Dasar, sampai kapan sifat malu-malu istriku ini bisa hilang.


***


Aku sungguh lupa dengan satu PR lagi selain pelajaran fisika, yaitu pelajaran istriku sendiri! Rasa-rasanya aku hanya bisa mengumpat kali ini, tidak tahu harus sekesal apa pada Bu Lisa.


Istriku itu, begitu teganya mengusirku dari kelas karena aku tidak mengerjakan PR matematika nya. Padahalkan dia tahu sendiri apa penyebabnya.


Aku duduk dikursi lorong kelas dengan perasaan jengkel, apapun yang nanti Bu Lisa katakan kepadaku, aku tidak akan membalasnya. Aku benar-benar marah kali ini.


Bu Lisa tak lama datang dari dalam setelah memberikan tugas pada murid yang dikelas, dia duduk disampingku tanpa berbicara sedikitpun padaku.


Hukuman yang tidak mengerjakan PR dari pelajaran Bu Lisa memang sudah diketahui semua murid yaitu dia harus tinggal diluar kelas saat jam pelajaran berlangsung. Jika bukan karena keadilan bagi murid yang lainnya juga mungkin Bu Lisa tidak akan mengusirku.


Meski aku tahu dan faham hal itu tetap saja ini menyebalkan, Bu Lisa dengan dingin tanpa perasaan mengusirku begitu saja.


Bu Lisa menghela nafas saat aku tidak menjawabnya, jangankan menjawab menoleh saja tidak.


“Kalau begitu Lisa pamit dulu, Mas…” Bu Lisa pergi meninggalkanku dengan perasaan bersalah, aku mendengus, biarkan saja, hatiku tengah kesal hari ini.


Marahku tidak hanya disekolah saja bahkan ketika dirumah. Aku mogok berbicara padanya, bersitatap, bahkan ketika tidur aku tak memeluknya seperti hari biasanya.


Bu Lisa beberapa kali berbicara padaku tetapi beberapa kali juga aku tidak menanggapinya. Hatiku terlalu kesal untuk membalasnya makanya aku hanya berdiam.


“Perasaan manusia itu bisa berubah-rubah, ya, Mas?” Bu Lisa berbicara saat kami tiduran dikasur, dia memandang ke langit-langit, mungkin bosan karena aku tidak menanggapi obrolannya. “Tadi pagi kita mesra-mesraan diteras rumah, akrab, saling senyum tetapi suasana itu berubah hanya hitungan waktu...”


Aku dalam posisi memungunginya tetap mendengarkan apa yang dikatakan. Dia benar, padahal tadi pagi aku begitu perhatian padanya dan sekarang aku menganggap dia tidak ada di rumah ini.


“Adek juga salah sebenarnya tadi, seharusnya aku tidak perlu mengusirmu dengan nada seperti itu, bagaimanapun keadaannya aku tetap seorang istri dari kamu.”


Suara Bu Lisa sebenarnya pelan, tetapi karena suasana sedang sunyi aku bisa jelas mendengarnya.


“Adek sudah bingung lagi harus bagaimana, tetapi kali ini memang Lisa yang salah dan aku minta maap karena itu, Mas.”

__ADS_1


Suara Bu Lisa kini bergetar, aku berbalik badan dan menemukan ada air mata di pipinya.


“Sayang, kamu nangis. Aduh, Mas minta maap…” Aku tidak menyangka marahku yang hanya 5 jam membuat Bu Lisa bisa sedih seperti ini. Aku hanya sedang kesal, itu saja.


Aku tahu, emosi yang negatif membuat masalah menjadi lebih rumit apalagi dipadukan dengan lisan. Karena itulah semenjak tadi aku diam membisu, supaya tidak bisa mengatakan sesuatu yang membuat hubungan kami renggang atau malah jadi pertengkaran.


“Adek minta maap Mas…” Bu Lisa mulai menangis.


“Iya-iya, Dek, sudah jangan nangis...” Aku mulai panik.


Bu Lisa menyeka matanya dengan kedua tangan, untungnya tangisan dia segera berhenti. Aku bernafas lega sejenak.


“Maap ya, Mas kesel soalnya… Jadi males deh bicara sama kamu…” Aku tersenyum hangat.


“Tapi Mas jangan diemin Adek seperti itu, Lisa gak suka.” Dia memanyunkan bibirnya dengan imut.


Cup!


Aku mencium bibirnya.


“Ih, kok dicium…” gerutunya.


“Terus kenapa dimaju-maju bibirnya, kirain minta dicium.” Aku terkekeh.


“Mas nyebelin…” Bu Lisa mencubit pinggangku pelan.


“Aw! Aw! Kok nyubit sih, oh sudah berani ya sekarang sama Papah.” Aku pura-pura kesal kali ini.


“Memang Mamah takut, gituh. Wleee..” Bu Lisa melemparkan bantal sambil menjulurkan lidah.


Aku tak bisa menahanya, kutindih tubuh Bu Lisa lalu tanganku menggelitik pinggangnya dengan gemas hingga ia tertawa lepas.


Aku menghentikan gelitikan ketika dia sudah menyerah. Posisiku masih berada diatas tubuhnya.


Anehnya pandangan mata kami saling mengunci satu sama lain dan tak mau lepas. Aku meneguk ludah, begitu cantiknya aku mendapatkan seorang istri, bagaimana bisa aku berpaling dengan paras manisnya itu? Senyumnya, tawanya, mata indahnya, dia adalah gadisku.


Bu Lisa juga demikian, pandanganya seolah menangkap rasa syukur karena telah memiliku.


“Kamu cantik…” Ucapku lembut.


Ia hanya tersenyum, tatapan matanya terasa lebih berat.


“Mas bolehkan minta malam ini?” kukecup keningnya.


Ia mengangguk pelan, wajahnya merona.


Malam itu kami melakukan hubungan suami istri, diamadu oleh asmara hati yang menggebu dengan kuat. Bu Lisa bersandar didadaku disaat kami telah selesai melakukannya, aku tersenyum, mencium pucuk kepalanya dengan hangat.


..........

__ADS_1


Begitulah suasana hati, berubah-ubah!!


__ADS_2