Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 52 — Paska Ujian


__ADS_3

Tetesan air itu terjatuh ke dalam kelembutan embun pagi.



Ulangan semester 1 akhirnya berkahir kemarin, setelah seminggu lebih kami di sibukan dengan kertas ujian, kami akhirnya bisa mengistirahatkan pikiran dari pelajaran-pelajaran yang menyebalkan.



Namun, itu hanya berlaku sebentar saja sebelum kami disibukan dengan remedial-remedial atas hasil ulangan tersebut. Kata kakak kelas dua yang kami kenal, kesibukan ulangan tidak seberapa dengan kesibukan remedial di SMA.



Untungnya remedial itu tidak bersifat wajib, atau kata lainnya hanya mereka yang mau memperbaiki nilai saja yang mau mengerjakan remedial, sedangkan jika merasa cukup maka tidak mengapa kalau tidak mengerjakannya.



Untuk murid yang kelak nanti akan kuliah, nilai semester sangatlah penting agar bisa mudah ke universitas yang di inginkan. Tidak jarang dari para murid meminta tugas tambahan kepada gurunya supaya mempunyai nilai yang memuaskan.



Di pagi hari, tidak seperti biasanya istriku mau berangkat terlebih dahulu ke sekolah. Ini bukan karena istriku mau berangkat pagi-pagi lebih tepatnya aku yang akan berangkat siang.



Kata istriku semalam, setelah ujian berakhir, para murid boleh bebas datang ke sekolah selama dua minggu ke depan tanpa belajar apapun.



Di minggu pertama biasanya adalah waktu murid-murid melakukan remedial dari ulangannya, sedangkan untuk minggu ke dua di gunakan untuk pentas siswa (PKS) dari sekolah.



Aku berdiri di lawang pintu menatap Bu Lisa yang tengah memakai sepatu, rambut dia yang panjang terurai lurus dari belakang, sedangkan dari depannya ada poni di sertai pita biru yang menempel.



“Adek berangkat dulu ya, Mas.” Bu Lisa meminta izin mencium punggung tanganku. “Kenapa?”



“Ah, enggak. Entah kenapa kalau kamu pake baju dinas seperti ini, kamu bertambah cantik, sayang.”



“Sudah ya Mas, Adek mau berangkat dulu.” Menyadari bahwa aku mulai merayunya, dia segera ingin bergegas pergi.



“Sebentar sayang... Aku pengen lihat wajah manis istriku ini… Masa gak boleh sih?”



“Bukan gitu, tapi… kalau Mas melihatnya seperti itu Adek bisa malu.”



Aku tertawa kecil, mencium keningnya. "Aku sayang kamu, Kalisa."



“Kalau begitu Adek berangkat dulu.”



“Eh, sebentar…” aku menahan tangannya yang hendak pergi. “Aku belum cium bibir kamu hari ini”



“Nanti aja, Mas." Wajahnya mulai memerah. "A-adek harus per…”



Aku segera mencium bibir kecilnya sebelum dia berkata-kata lagi. Bu Lisa awalnya terbelalak kaget tetapi pada akhirnya ia membalas ciuman itu yang kini sudah mendarat di bibirnya.



“Aku cinta kamu, Bu Lisa.” Aku tersenyum, menyudahi ciuman.



“Kalisa aja panggilnya jangan ada sebutan ‘Ibu'!” Sergahnya.



“Kenapa? itukan nama kamu di sekolah, 'Bu Lisa' masa iya aku nyebut nama langsung. Nanti kalau gitu di kiranya gak sopan lagi.”



“Tau ah, mending Adek berangkat aja sekarang.” Bu Lisa membalikan tubuhnya berjalan ke arah mobil. “Aku berangkat ya, Mas!”

__ADS_1



Aku mengangguk melambaikan tangan sebagai jawabannya.



\*\*\*



“Aih, kupikir aku akan datang siang, sepertinya ini terlalu pagi.”



Sedikit heran saat tiba di kelas, kupikir ketika berangkat jam 8 pagi maka akan sudah banyak murid di sini, tetapi setelah dilihat malah justru kebalikannya, hanya ada beberapa orang saja yang sudah tiba.



Dari bangku baris belakang, aku melihat Reza dan Zildan berdua di sana. Reza sedang menulis sesuatu di atas kertas sedangkan Zildan melihatnya seperti sedang mengawasi.



“Itu kertas apa Za?” Aku bertanya saat sudah di dekatnya.



“Oh, kau sudah datang, kupikir kau akan datang siang.” Kepala Reza mendongak teralihkan dari lembaran kertasnya. “Ini adalah tugas remedial fisika, nilaiku jelek di pelajaran itu.”



Aku menatap sekeliling kelas, ternyata murid lain juga sama seperti Reza, sedang mengerjakan tugas tersebut.



“Kalau kau mau kertas ini ambil aja dari si Della, dia sebagai ketua kelas punya banyak di sana.” Ucap Reza menambahkan.



“Nilai ulangan fisika ku tidak jelek, tetapi tidak tinggi juga. Aku sudah cukup dengan nilaiku.”



“Yeahh, seandainya aku di posisi kau, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.” Reza menjawab ketus.




“Kau becanda! Tentu saja tidak... mana mungkin dia seperti kita... bahkan kata remedialpun dia tidak akan tahu.” Itu bukan jawaban Zildan melainkan Reza yang berbicara ketus.



“Tidak Ka, nilaiku lumayan bagus. Jadi aku tidak tertarik memperbaiki nilai.” Zildan menggeleng, mengabaikan omongan Reza sebelumnya.



Aku mengangguk-ngangguk. Yeah, tentu saja aku sudah menebaknya tadi, mana mungkin laki-laki secerdas dia mempunyai nilai rendah.



Selanjutnya aku hanya menonton Reza yang mengerjakan tugas tersebut, sesekali Zildan membantu membenarkan jika ada yang salah.



Disisi lain aku hanya diam, jika Reza menanyakan pelajaran pada Zildan dia pasti tidak akan membutuhkan orang lain untuk membantunya.



Suara notifikasi ponsel membuyarkan perhatianku dari ujian kertas, aku segera membuka dan melihat ada pesan yang masuk.



‘Tidak seperti biasanya dia ngajak duluan’ Aku bergumam dalam hati saat tahu bahwa Bu Lisa lah yang mengirimkan pesan tersebut.



Bu Lisa mengirimkan pesan bahwa ia ingin bertemu denganku, akupun tentu tidak akan menolaknya, segera setelahnya aku pergi keluar dari kelas.



Reza dan Zildan tidak bertanya seperti biasanya, mungkin saat ini perhatian mereka fokus pada menyelasaikan tugas itu.



Istriku ingin menemuiku di tempat biasa, UKS. Setelah sampai di sana aku bisa melihat Bu Lisa sudah tiba duluan, dia saat ini tengah berdiri di depan jendela, melihat keluar sana.



Aku menutup pintu UKS secara perlahan, melangkah pelan hingga tiba-tiba memeluknya dari belakang.

__ADS_1



“Mas!” Bu Lisa terkejut saat tiba-tiba ada dua tangan yang memeluk.



“Hai, Adek.” aku mencium pipinya sekilas.



“Kamu jangan cium-cium aku, bagaimana kalau ada orang yang lihat?”



Aku hanya menyeringai, tidak tahu harus menjawabnya seperti apa.



“Mas, kamu harus hati-hati kalau bertindak di sekolah! Jika ada orang lain yang lihat, urusannya nanti bisa panjang, aku gak mau kamu nanti dihukum gara-gara bertindak seperti itu.” Ucap Bu Lisa mengomel.



Aku menggaruk bagian belakang kepala, kalau Bu Lisa mengomel seperti ini membutuhkan waktu yang panjang agar ia bisa berhenti kembali.



“Jadi… ada keperluan apa hingga kamu minta Mas kesini?” ucapku memotong omelan dia. “Kamu gak mungkin kan kangen sama suamimu ini? Padahal kita baru aja pisahnya tadi pagi.”



Pertanyaanku sukses membuat ucapan Bu Lisa terhenti, malah tiba-tiba dia menundukan kepalanya tidak berani melihat tatapan mataku.



“Mas… aku sebenarnya mau ngomong sesuatu. Gimana ya, Mm… boleh gak Adek minta uang?” Bu Lisa berkata dengan pelan.



“Uang?”



“Eh, mm… aku minta uang sama Mas, boleh gak? kalau enggak boleh gak papa...” Bu Lisa tergugup salah tingkah.



“Iya boleh Dek, kenapa enggak! Kita kan sudah suami istri masa iya gak boleh. Emang kamu butuh berapa, sayang?”



“Sebulan, Mas,” Jawabnya.



Wajahku tak kuasa berlipat kaget, sebulan! Berarti Bu Lisa membutuhkan uang banyak buat keperluan sehari-hari. “Yasudah, nanti uang aku semuanya dikirim ke ATM kamu.”



“Eh, tapi Mas… gak harus semuanya. Kamu kan butuh uang nanti.”



“Tidak apa-apa, besok-besok kamu yang pegang uangku.”



“Maaf ya, Mas. Adek jadi nyusahin…”



“Hei, tidak apa-apa, bukankah sudah kewajiban suami bertindak demikian.” Aku mengelus pucuk kepalanya lembut.



Bu Lisa tiba-tiba memelukku erat, kepalanya di sembunyikan di bagian dadaku. “Aku sayang kamu, Mas Raka,” cicitnya imut.



Aku tersenyum. “Bukankah tadi ada yang mengatakan tidak boleh bertindak sembarangan disekolah.”



Bu Lisa tiba-tiba tersadar, segera ia menjauhkan badannya dariku. Aku disisi lain hanya menggelengkan kepala, terkekeh pelan.



JANGAN LUPA YA LIKE DULU SEBAGAI APRESIASI DAN DUKUNGAN DARI KALIAN, DAN SANGAT BERTERIMA KASIH JIKA ANDA MEMBERIKAN VOTE PADA KARYA INI...


Terimakasih kasih

__ADS_1


__ADS_2