Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 68 — Perasaan Rahasia


__ADS_3

Di musim kemarau, suasana pagi terkesan lebih dingin. Kabut-kabut yang tebal menghalangi jarak pandang. Hembusan nafas terlihat dari mulut dan menguap ke atas lalu menghilang.


Aku menguap untuk kesekian kalinya hingga membuat mataku sedikit berair, padahal tadi malam aku tidur secukupnya, tidak terlalu larut, tetapi kenapa masih merasakan ngantuk?


Jaket yang sedari tadi di pakai aku tarik lebih ketat, biar hangat. Suasana sekolah di jam 6.20, ternyata masih lengang, hanya ada beberapa murid saja yang baru datang.


Aku berjalan di koridor kelas sendirian, sesekali menggesekan telapak tangan biar tidak terlalu kebas kedinginan. Setibanya di kelas, aku duduk di bangku belakang pojok seperti biasa.


Di sini, hanya ada tiga murid perempuan yang sepertinya baru saja datang, mereka mengobrol dan tertawa-tawa, membicarakan kegiatan apa yang di lakukan libur semester.


Sudah dua minggu libur berlalu akhirnya semester 2 di mulai, kegiatan sekolah akan kembali hidup. Pelajaran-pelajaran menyebalkan, kegiatan grup, tugas-tugas sekolah, semuanya akan kembali dalam kehidupanku.


Kata Istriku, sebenarnya tidak ada yang beda antara semeseter sebelumnya dengan semester sekarang. Maksudnya, untuk kelas 1 SMA, kamu tidak akan di suruh untuk memikirkan ke universitas mana nanti, tugas itu hanya di haruskan untuk kelas 2 dan 3.


Sambil aku memikirkan itu, lagi-lagi aku menguap, mataku berair seperti menangis, aku segera menyekanya takut ada orang lihat dan salah paham.


Ah, sudah lama sekali aku tidak melihat gadis itu. Wanita yang memiliki rambut sebahu, mata berwarna cokelat, berseragam SMA yang tertutupi jaket putih biru, dan hei… gadis itu sekarang memakai syal, sejak kapan dia pakai itu?


Gadis yang aku maksud adalah Della, ia baru tiba di kelas, dia terlebih dahulu menyapa 3 perempuan yang sedang berkumpul, lalu tak lama ia menoleh ke arahku, ikut menyapa dengan melambaikan tangan yang langsung aku balas dengan anggukkan.


Sesudah Della menunda tasnya di kursi, ia berjalan ke arahku. Rambutnya yang sebahu bergoyang-goyang seiring dengan langkahnya, mata dia menatapku, ternyata benar, dia memang menuju kesini.


“Lama tidak bertemu Raka, bagaimana liburanmu, seru?” Della menarik salah satu kursi di depanku dan mendudukinya dengan pelan. Wajahnya bersinar, memancarkan kebahagian.


Aku mengerutkan kening, heran. Sejak kapan Della jadi sok dekat begini, maksudku, kami memang dekat tapi bukan seperti ini kedekatannya, paling-paling kami hanya saling menyapa, mengobrol sedikit, tidak pernah berbasa-basi seperti ini.


“Lumayan.” Sebagai temannya aku tetap harus menjawab, tidak sopan jika dia bertanya sedangkan aku diam. “Kalau kau?”


“Ah, kau becanda? Kau tau sendiri Raka, mana ada liburan di keluargaku, saat 2 minggu kemarin aku cuma di rumah, membantu pekerjaan orang tua. Paling-paling hanya beberapa hari saja aku jalan-jalan, itupun di taman dekat rumahku.”

__ADS_1


Della menyanggah dagunya dengan tangan, menghela nafas panjang. Kurasa dia memang benar-benar tidak bersantai saat sedang libur kemarin.


Diantara lima temanku, kehidupan keluarga Della memang serba berkecukupan, tidak seperti yang lainnya yang bisa di katakan kaya.


Dulu saat masih SMP, Della sering berjualan di sekolah, berdagang kue ringan di kelasnya. Dia semangat sekali membawa kotak kue itu, berkeliling menjualkannya, ke kelas dan kantin-kantin.


Seiring berjalannya waktu, ada kemajuan di perekonomian keluarga mereka, seperti sekarang, mereka mempunyai toko kue sendiri, tinggal menunggu, tidak usah berkeliling kerumah-rumah untuk menjualnya.


“Yoh, kawan.” Reza baru saja tiba, dia menyapaku dari lawang pintu dan segera melangkah kesini. Tas yang ia bawa dikaitkan di pundak, sedangkan salah satu tangannya di simpan di saku celana.


Aku mengangkat kedua alis, cukup sebagai jawaban dari sapaannya.


“Hai…” sambil berjalan kearahku, dia menyapa kembali, namun yang beda tatapanya menuju Della.


“Oh, eh, mm… h-hai.” Della menjawabnya dengan gugup.


“Baru sampai?” tanya Reza yang kini duduk di samping bangkuku, tempat bangku Zildan.


“Seharusnya tadi sih sampainya, tapi ada beberapa masalah di jalan jadi agak telat.” Reza mengayunkan tangan, menjelaskan.


Hei! Hei! Hei! Ada yang salah di sini. Sejak kapan mereka menjadi bertegur sapa, dan lihatlah, keduanya justru mengobrol, tidak memperdulikanku yang sedang duduk di antaranya.


Aku memicingkan mata, memandang Reza dan Della secara bergantian. ‘Hm… sepertinya ada adegan yang tidak aku ketahui sehingga keduanya bisa sedekat ini, perasaan sebelum libur semester mereka tidak seperti ini, malah masih bertengkar’.


“Hei, tidak sopan menatap orang lain seperti itu.” Reza melotot, kesal karena dari tadi aku memandangnya.


Aku memegang dagu dengan wajah menyelidik, “Sejak kapan kalian berdua akrab?”


Pertanyaanku jelas-jelas membuat mereka kaget, keduanya serentak saling memandang, bingung harus menjawab seperti apa.

__ADS_1


Disisi lain aku justru telah mendapatkan jawaban yang lain. Di lihat dari situasinya, sepertinya keduanya telah saling mengetahui perasaan masing-masing, perasaan suka yang beratasnamakan pertengkaran dan benci.


Aku akan menjelaskan tentang keduanya sedikit.


Kalian terlalu naif kalau mengatakan hubungan Reza dan Della adalah hubungan benci jadi cinta, mereka berdua tidak seperti itu.


Dari awal saat SMP dulu, pas ketika Reza dan Della bertemu, keduanya sudah saling suka pada pandangan pertama. Aku tidak tahu persisnya kenapa keduanya jadi saling bertengkar sampai saat ini, namun yang pasti itu hanyalah alibi mereka, kebohongan agar menutupi perasaan sukanya.


Della dan Reza adalah kisah cinta yang aneh namun terkesan romantis, aku bisa mengatakan itu karena mengetahui betul kisah keduanya.


Misalnya, pernah suatu waktu, Reza lupa membawa pulpen di saat ujian pelajaran, dia sudah kebingungan karena tidak mendapatkan pinjaman pulpen dari siapapun.


Della yang kala itu sudah mengetahuinya dan kebetulan juga punya dua, dia berpura-pura menjatuhkan pulpen itu di kolong kursi Reza, sengaja agar Reza menggunakannya. Tentu saja Reza menyadari perbuatan Della, yang secara tidak langsung ingin memberikan pulpen itu, Reza hanya bergumam pelan, mengatakan terima kasih.


Lalu juga, pernah kondisinya terbalik. Pada suatu pagi Della tidak seperti biasanya kesiangan membuatnya harus buru-buru ke sekolah dan melupakan sarapan paginya. Di sepanjang pelajaran berlangsung ia hanya memegang perut, merasakan kelaparan.


Reza berbaik hati membelikan roti di kantin lalu menyelundupkan roti itu di tas Della secara sembunyi-sembunyi.


Saat Della membuka tasnya dan mendapati ada roti, pandangan pertama yang ia lirik adalah Reza, itu benar, Della tahu bahwa Reza lah yang meletakan roti itu di tasnya.


Itu hanya sebagian kisahnya yang sebenarnya masih banyak lagi. Walaupun keduanya terlihat seperti bermusuhan dari luar, realita dan faktanya jauh terbalik, mereka saling menyukai dan saling tolong menolong.


Sayangnya meski begitu, keduanya tidak pandai dalam berkomunikasi sehingga mau tak mau mereka bertengkar sebagai jalan agar ikatan mereka saling terhubung.


Mungkin saat ini hanya aku dan Zildan yang mengetahui hal ini, kisah cinta mereka. Cinta yang menurutku unik dan aneh tersebut.



__ADS_1


**Like Dan Vote**


__ADS_2