Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 78 — Rasa Cemburu


__ADS_3

Aku memeluk kepala Bu Lisa dan menariknya di tengkuk leherku. “Sudah ya, Ma, jangan nangis. Ini sekolah, sayang, nanti ada yang lihat loh...”


Tangisan Bu Lisa memang sudah berhenti tetapi napasnya masih tersendat-sendat. Aku menyeka sudut matanya yang berair sambil mengatakan sesuatu yang lucu.


Bu Lisa menahan tawanya. “Ciee… yang nangis sekarang tertawa.” Dia segera mencubit pinggangku dengan malu-malu, sedangkan aku berpura-pura kesakitan atas cubitannya.


“Kamu ke kelas lagi ya, ini sudah 15 menit kamu di sini.” Bu Lisa segera mengangguk, tanpa aku prediksi dia mencium punggung tanganku lalu kembali masuk ke kelas.


Hujan deras terus mengguyur sekolah, rintik-rintik dari tetesannya menerpa wajahku. Aku menatap ke atas langit mendung. Sekarang hanya tinggal menunggu di sini sampai pelajaran Bu Lisa selesai.


Tentang Bu Lisa menangis, aku berpikir itu karena dia lagi hamil.


***


Di kantin saat waktu istirahat.


“Ada apa, sayang…” Reza terpingkal tertawa, dia meniru gaya bahasaku dikelas tadi. “Oi! Raka, kau ngimpi apa di kelas sampai-sampai Bu Lisa di panggil sayang.”


Dia kembali tertawa memegang perutnya, aku mendengus sebal tetapi tidak membalas apapun. Untuk hari ini aku hanya bisa diam, tidak mengelak. Ketika Reza mengolok-ngolokku, aku hanya melotot tajam padanya, menyuruh dia agar berhenti.


Apa olok-oloknya? Itu jelas sekali karena kejadian tadi di kelas, ketika aku mengatakan pada Bu Lisa dengan sebutan ‘sayang’. Reza bukanlah satu-satunya yang menertawaiku tentang ini, melainkan seluruh murid kelas.


Aku tentu saja malu, setiap kali aku membantah justru membuat mereka lebih menertawaiku. Tidak ada pilihan lain kecuali diam, tidak merespon candaan mereka.


Zildan yang ada di sampingku hanya mengulum senyuman, jelas dia juga terhibur dengan candaan Reza.


“Sudah Za… sampai kapan kau terus menertawai temanmu.” Della menegur, mencubit tangan Reza yang membuat sang empu meringis kesakitan dan berhenti tertawa.


Della kali ini memang kumpul bersama kami, bukan tanpa alasan, itu karena temannya, Arin dan Airin, tidak masuk kesekolah.


“Jadi gimana? Kalian jadikan besok kerumah Arin?” Della membenarkan poni rambutnya, menatapku dan Zildan secara bergantian.


“Sebenarnya aku ingin menolak, tapi kurasa tidak ada pilihan itu di daftarnya.” Zildan meghela napas panjang. Aku tahu, Zildan terlalu malas untuk pergi ke rumah orang lain, apalagi jika itu mengganggu hari liburnya.

__ADS_1


Della tersenyum lebar, “Kau benar, aku tidak suka penolakan, jadi sebaiknya kau ikut. Kalian berdua harus tahu, aku sebagai ketua murid harus memastikan semua murid kelas baik-baik saja, jika ada salah satu yang sakit maka aku akan menjenguknya sebagai formalitas.”


Della memang menyuruh kami sebelumnya untuk menemaninya ke rumah si kembar. Sudah dua hari ini si kembar tidak masuk sekolah di karenakan sakit.


Menurut Della sendiri dia sudah meminta izin pada Arin akan kerumahnya besok. Arin setuju, lalu dia mengirimkan alamat rumahnya pada kami.


“Orang kembar mungkin memang seperti itu.” Reza menanggapi sesuatu hal. “Jika salah satu di antara keduanya sakit, maka kembar yang satunya juga bakalan ikutan sakit.”


Aku dan Della saling pandang, perkataan Reza terdengar masuk akal. Mungkin karena kembar yang lahir bersamaan, boleh jadi segala sesuatunya menjadi bersamaan, bahkan termasuk sakit bersamaaan.


Bel masuk berbunyi beberapa menit kemudian, kami berempat sudah terlebih dahulu ke kelas, jauh sebelum bel itu bersuara.


***


Dengan kesabaran yang amat luar biasa, menunggu hingga dua jam lebih akhirnya jam pulang sekolahpun berdentang. Bukan main! Mataku sudah berair karena menguap beberapa kali, mataku sudah berat, ingin sekali aku pulang ke rumah dan tidur.


Pelajaran terakhir tadi adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Kalian bayangkan saja, sudah mah pelajaran ujung yang selalu ngantuk, di tambah guru di depan bercerita panjang lebar. Maka lengkap sudah kami di dongengi cerita tidur.


“Oaah~ Gila… rasanya ingin sekali tidur di kelas tadi.” Reza berjalan lemas saat kami tengah menuju parkiran, menguap lebar menahan rasa kantuk.


Aku terlalu malas membalasnya begitu juga dengan Zildan dan Della yang berjalan di sampingnya. Perkataan Reza sudah cukup mewakili perasaan kami bertiga.


Beberapa langkah berlalu kamipun tiba di parkiran, di sana sekarang sudah banyak sekali murid-murid yang bersiap-siap pulang, mereka mulai menstater kendaraannya masing-masing. Tetapi ada yang aneh ketika itu, yaitu sebagian mata murid laki-laki yang ada di parkiran tertuju pada satu arah.


Mataku melebar dan rasa kantukku menghilang ketika di depan pos parkiran ada Bu Lisa yang sedang tertawa lepas. Hatiku menjadi sebal menyaksikan yang membuat Bu Lisa tertawa itu adalah Pak Farhan.


Pak Farhan, entah sejak kapan mulai berdekatan lagi dengan Bu Lisa. Dia mulai merencanakan PDKT nya.


Aku menyempatkan bersalaman pada Pak Farhan dan Bu Lisa saat melewatinya, begitu juga Reza, Zildan, dan Della— Sebenarnya semua murid yang lewat juga bersalaman.


Saat ketika aku mau mencium tangan Bu Lisa, kueratkan genggaman tangannya hingga membuat Bu Lisa menatapku. Aku menatapnya balik, Bu Lisa baru menyadari bahwa murid di depannya adalah suaminya.


Setelahnya aku berjalan pergi ke arah motor. Bu Lisa mengerti dengan kode cengkramanku, dia langsung menyudahi percakapan dengan Pak Parhan di detik itu juga, membuat Pak Parhan terdiam heran, tidak mengerti kenapa Bu Lisa langsung bergegas ingin pulang.

__ADS_1


Di perjalanan, aku dengan sengaja berjalan lambat agar bersamaan dengan mobil Bu Lisa hingga sampai ke rumah.


Satu hal, saat ini kami pulang ke rumah yang ada di kompleks, tempat tinggal kami sebenarnya. Orang tuaku sebelumnya mengizinkannya setelah aku meminta, dengan syarat hanya tiga hari.


Aku segera memeluk tubuh Bu Lisa dari belakang ketika dia baru merapatkan pintu rumah. Kepalaku dengan sengaja di taruh di pundaknya.


“Aku cemburu…” Rengekku manja.


“Maap ya, Mas... tadi Pak Farhan yang memulai duluan.”


“Kamu jangan deket-deket sama dia, Mas gak suka!”


Bu Lisa tersenyum. “Iya, nanti Adek jaga jarak.”


“Kamu harus manjain aku dulu…” Rengekku lagi.


“Iya, tapi nanti dulu, Kalau Adek sudah mandi dan ganti baju.”


Aku menggeleng cepat. “Enggak mau! Aku maunya sekarang!”


Sebelum Bu Lisa berkata lebih lanjut aku segera membopong tubuhnya dan membawanya ke kamar. Istriku menjengit kaget, ia memintaku agar menurunkan tubuhnya tetapi percuma, aku tetap membawanya ke kamar.


Aku menidurkan tubuh Bu Lisa di kasur lantas segera berbaring di sampingnya dan memeluk tubuh Bu Lisa erat. Kepalaku di letakan di ceruk lehernya, sedangkan Bu Lisa mengelus punggungku lembut.


“Mas, kalau sedang cemburu seperti anak kecil ya?” Bu Lisa terkekeh pelan.


“Aku cemburu, Ma… akukan suami kamu!” Aku mengecup pipi putihnya singkat sambil memasang wajah merengek. “Kamu itu milikku, Kalisa. Milik aku!”


“Iya, Pah. Kamu juga milik Adek, suaminya Lisa.”


Aku tersenyum senang dengan kalimat barusan, pernyataan kasih sayang Bu Lisa memang selalu berkesan berbeda.


Aku segera lebih mempererat memeluknya, tidak mengizinkan Bu Lisa lepas dari pelukan ini.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan votenya ya….


__ADS_2