
Kuharap rasa hangat mentari membiarkanku menikmatinya.
Aku menatap hujan kesekian menit lamanya, menatapnya dengan penuh banyak makna. Di teras rumah, saat ini aku terduduk di kursi luar, menyisakan keheningan yang menemaniku.
Aku menghela nafas panjang, masih terbayang dengan kejadian tadi di sekolah, aku benar-benar tidak menyangka semua kejadian itu bisa terjadi.
Beberapa jam lalu saat masih di sekolah, awalnya semuanya berjalan biasa-biasa saja di sana, dan bahkan terkesan menyenangkan dengan adanya kegiatan PKS. Aku jauh lebih bersemangat ketika mengingat bahwa hari ini adalah perlombaanku.
Soal lomba lari, aku tidak pernah meragukannya, aku mempunyai kepercayaan diri yang amat tinggi. Perlombaan estapet lari tinggal bebera menit lagi sebelum siap akan di mulai.
Susunan kelas kami berlari di awali oleh Reza, kemudian Zildan, dan terakhir aku di bagian ujung.
Aku sempat melirik jendela lantai tiga, tepat di ruangan UKS. Disana sekarang ada wanita cantik berdiri melambaikan tangan, tidak berseru tapi aku tahu dia mendukungku.
Istriku, dialah yang di sana. Dia tidak bisa mendukukungku di bawah atau berseru-seru seperti murid kebanyakan, itu bisa menimbulkan resiko panjang. Dia memutuskan untuk menonton semuanya di atas.
‘DOR’
Suara letupan pistol mainan terdengar keras, mengisntruksikan pertandingan di mulai. Riuhan para penonton yang mengengelilingi perlombaan ikut bersorak saat peserta perlombaan mulai berlari.
Aku bisa menyaksikannya di belakang, Reza mulai berlari gesit, dengan tubuhnya yang sedikit atletis dia dengan mudah mendahului perseta lainnya.
Reza memberikan tongkat estapet itu ke Zildan, walau saat ketika lari Zildan tidak secepat Reza namun itu masih bisa di kategorikan cepat. Zildan tersusul oleh peserta yang lain, tapi beberapa detik berlalu akhirnya ia menyusulnya kembali dan memberikan tongkat estapetnya padaku.
Lalu bagaimana dengan lari diriku, aku yakin di antara peserta yang lain akulah yang paling cepat. Dan apa yang aku simpulkan itu benar, aku dengan mudah berlari kencang, menyisakan jarak cukup jauh dengan lainnya.
Di pertengahan berlari, kupikir kemenangan akan mudah setelah mendapati peserta lainya berbeda jarak jauh denganku. Namun itu hanya anggapanku saja sebelum ada suara seseorang yang kukenal memanggil namaku dengan lantang.
“AYO RAKAAAA!!”
Aku secara reflek menoleh, ternyata itu adalah Nina yang bersorak kepadaku, memberikan dukungan. Sayangnya, gara-gara menoleh itulah aku terjatuh, menghantam legokan kecil yang ada di lapangan.
Aku meringis menahan sakit di bagian lutut, lalu segera cepat berdiri berusaha berlari kembali. Untungnya, meski kecepatanku berkurang drastis aku sudah ada di ujung finish, kemenangan pun di raih oleh kelasku, hampir berbeda tipis dengan juara yang kedua.
Kelasku bersorak paling keras, ikut senang atas kemenangannya. Della sebagai ketua kelas memberikan jempol pada kami bertiga.
“Tidak salah kalian bersahabat sejak kecil.” Ujarnya meninju bahuku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis, kaki ku masih terasa sakit akibat terjatuh tadi. Aku meminta pada Della untuk pergi UKS, sebagai jawabannya Della mengangguk mengizinknnya.
Sontak rasa senang terpancar dari wajahku, ini bukan karena lukaku sudah sembuh, melainkan karena hal lain. Aku ingin bertemu Kalisa di sana.
“Kamu tidak apa-apa, Mas?” semburan kekhawatiran terlihat jelas dari istriku saat tiba di sana.
“Sakit, Dek.” Aku merengek, menaikan celana olahraga, memperlihatkan luka lecet di lutut.
Sebenarnya, lukaku tidak separah dan sesakit itu, aku sebagai laki-laki bahkan tidak terlalu memikirkannya. Tetapi saat melihat istriku yang khawatir, aku langsung merengek sakit ingin di manjakan olehnya.
Aku terduduk di salah satu kursi membiarkan Bu Lisa mengobati lututku dengan pelan dan penuh kehati-hatian. “Sudah, Mas.” Katanya sambil menempelkan plaster luka.
“Belum, Dek. Kamu belum selesai ngobatinya,” jelasku.
Bu Lisa menaikan alisnya tidak mengerti, aku tersenyum dan melanjutkan kalimat tadi. “Kamu belum ngucapin mantranya sayang, jadi aku masih sakit.”
“Apaan sih Mas, masa harus di bual kayak anak-anak.”
“Enggak pake mantra, Dek, tapi ciuman, ciuman di pipi.” Aku nyengir lebar, tidak terasa malu sedikitpun saat berucap demikian.
Istriku membelalakan mata, ia mungkin belum siap dengan seranganku yang tiba-tiba. Ia hendak membuka mulut tapi aku tidak membiarkan hal itu, aku kembali mencium bibirnya. Kegiatan itu terulang dua kali sampai akhirnya Bu Lisa memilih diam.
“Maap Dek, bibir kamu terlalu menggoda.” Aku tertawa kecil menyaksikan wajah Bu Lisa memerah.
“Mas ih, cari-cari kesempatan,” cicitnya menunduk malu.
Aku kemudian berdiri lalu merengkuh tubuhnya di pelakukanku.
Bu Lisa membiarkan pelukan itu malah sekarang ia membalas pelukanku dan melingkarkan tangannya di pinggang.
Saat sedang nyaman-nyamannya kami berpelukan, suara benda jatuh terdengar dari arah pintu. Aku dan Bu Lisa reflek melepaskan pelukan, ada seseorang di sana yang sempat menyaksikan kami.
“A-pa… apa yang kalian lakukan?” suara orang itu terdengar berat dan penuh ketidak percayaan.
“Nin, aku, aku bisa jelasin…” suaraku tertahan saat melihat ekpresi Nina. Aku hendak mengatakan bahwa Bu Lisa adalah istriku namun rasanya itu terlalu berlebihan jika di dengar.
__ADS_1
Bu Lisa di sisi lain juga sama terkejutnya saat kedatangan seseorang memergoki kami. Namun berbanding dengan diriku dia menstabilkan ketenangannya kembali.
“Bukankah kamu Nina, teman Raka di toko itu?” Bu Lisa berdiri di depanku, aura istrinya berubah menjadi aura keanggunan dan kedewasaan. “Kuharap kamu tidak salah paham dengan hal ini, aku bisa menjelaskannya.”
Nina terdiam, dia memilih untuk mendengar kelanjutan kalimat istriku.
“Aku dan Raka sudah menikah, Nina. Tepatnya semenjak beberapa bulan yang lalu.” Suara Bu Lisa sangat tenang dan pelan, namun penuh dengan keseriusan juga ketegasan. “Aku harap kamu mengerti dan paham dengan keadaan ini.”
Ruangan UKS lengang sejenak, menyisakan suara burung-burung bersiul dari luar, bernyanyi seolah menikmati kejadian kami.
“Aku mengerti, maap telah mengganggu kalian.” Nina kemudian berlalu pergi dari pandangan kami. Aku hendak mau menyusulnya namun tanganku di tahan oleh Bu Lisa.
“Jangan menyusulnya, Mas.” Sergah Bu Lisa menggeleng pelan.
“Bukan gitu Dek, aku hanya mau mengatakan kalau pernikahan kita harus di rahasiakan.”
Bu Lisa menghela nafas panjang. “Aku yakin Nina akan mengerti tentang rahasia kita. Namun kamu mas, sepertinya masih tidak mengerti dengan kejadian ini?”
Aku terdiam, tidak tahu maksud ucapan istriku.
“Nina pergi bukan hanya karena dia syok atau terkejut atas hubungan kita. Tetapi juga karena hal lain,” Bu Lisa melepaskan tangannya dari tanganku, ia duduk di kursi ranjang. “Nina pergi karena sepertinya dia sudah mempunyai perasaan sama kamu, Mas, dia sepertinya menyukai kamu.”
Aku masih terdiam, mencerna ucapan Bu Lisa. Nina menyukaiku? Sejak kapan? dan kenapa bisa menyukai laki-laki SMA sepertiku?
Aku terduduk di samping Bu Lisa, membatalkan niat menyusul Nina.
“Terus aku harus gimana, Dek. Kok aku jadi merasa bersalah gini sih? Terus sejak kapan kamu tahu Nina menyukaiku, kenapa gak langsung bilang?”
“Pada saat aku bertemu dengan Nina, Mas. Sebagai wanita, awalnya aku merasakan bahwa dia mempunyai perasaan pada kamu, namun itu hanya dugaan saja, takut Adek salah sangka.Tapi saat kejadian ini, sepertinya dugaan Adek benar kalau Nina punya rasa sama kamu.”
“Terus aku harus gimana, sayang, meminta maaf?” Aku menggaruk kepala, benar-benar tidak mengerti perasaan wanita.
“Sebaiknya kita diamkan dulu Mas, jangan menemuinya. Nanti masalah ini biar Adek yang bicarakan.”
Aku mengangguk setuju, tidak ada pilihan lain, aku harus mengandalkan istriku agar hubunganku dengan Nina tidak menjadi buruk.
__ADS_1
Like dan Vote