
Wanita itu gudangnya pertanyaan ya?
Dihari kesekian kalinya saat libur semester, aku terduduk di kursi teras rumah, menatap bagaimana jatuhnya buliran air dari atas langit. Berbeda dengan hujan yang selalu mendung, kali ini hujan itu di sertai dengan cahaya matahari.
‘12 keluarga terpandang’ adalah sebutan masyarakat di kota ini pada 12 keluarga terkaya. Selain di sebut ’12 keluarga terpandang’ ada juga sebutan lain yang sangat indah, yaitu ’12 keluarga rasi bintang’.
Sesuai namanya, ’12 keluarga rasi bintang’ terinpirasi dari rasi-rasi bintang di langit. Diantaranya, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces.
Keluargaku di beri gelar wali kota sebagai ‘Rasi Libra’, keluarga Arin dan Airin disebut ‘Rasi Gemini’, dan keluara Kalisa adalah ‘Rasi Cancer’.
Kalian baru tahu kalau Kalisa berasal 12 keluarga terpandang? Tentu saja, karena dari awal aku memang menyembunyikannya hal ini dari siapapun, termasuk itu tetangga dan teman-temanku.
Bu Lisa mengatakan bahwa dia ingin merahasiakan identitasnya pada siapapun. Bahkan sampai saat ini yang tahu identitas aslinya hanya keluargaku dan keluarganya.
Aku sebenarnya tidak mengerti kenapa dia berkata demikian, hanya saja pasti ada alasan penting baginya bertindak seperti itu.
“Ayo Mas, berangkat.”
Ucapan Bu Lisa sukses menghancurkan lamunanku di teras rumah. Saat aku melihatnya, ia sudah bergaya, bersiap pergi kesuatu tempat.
“Kita mau berangkat di saat hujan seperti ini. Dek?” tanyaku yang mengernyitkan kedua alis.
Bu Lisa mengangguk, ia seperti tidak peduli kalau hujan sekarang tengah turun.
“Yasudah, kamu jalankan mobilnya pelan-pelan sayang. Jangan terlalu cepet saking semangat gitu.” Aku terkekeh melihat bagaimana istriku tidak sabar ingin pergi. Aku mencium pipinya, “Kamu sudah kangen ya sama mereka, hm?”
Bu Lisa mengangguk, wajahnya sedikit memerah akibat aku cium tadi. selepas itu kami masuk mobil, melaju menuju kediaman mertuaku.
\*\*\*
Aih, aku hampir lupa rumah ini, sampai-sampai harus di tunjuki istriku tentang keberadaanya. Setahuku, rumah yang berlantai dua ini memiliki warna cat abu-abu namun saat teliti ternyata salah, itu berwarna putih.
Tepat di depan pagar garasi, Bu Lisa memberhentikan mobilnya, ia mengeluarkan sesuatu di tasnya seperti remot kecil. Ketika Bu Lisa menekan salah satu tombol itu, gerbang pagarnya secara otomatis bergeser terbuka, membiarkan mobil Bu Lisa masuk.
Saat aku hendak bertanya perihal remot itu, Bu Lisa menjelaskannya terlebih dahulu. “Ini remot untuk gerbang pagar itu Mas, keamanan.”
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti, menjadi orang terkaya di kota tidak serta merta menjadikan kita nyaman dan aman. Terkadang kita harus bersikap lebih waspada dari orang lain.
Bu Lisa kemudian membuka pintu mobilnya di susul aku setelahnya yang harus mengelilingi mobil ia terlebih dahulu.
Saat aku mendongak ke beranda rumah, aku melihat Ibu Ayu dan Bapak Harun, orang tua Bu Lisa telah menunggu di sana.
Mereka berdua tahu karena memang sebelumnya Bu Lisa telah memberikan pesan akan datang ke rumahnya selama beberapa hari.
Segera kami langsung bersalaman kepada beliau, memberikan hormat sedalam-dalamnya.
“Kupikir kalian akan lupa dengan rumah ini?” Pak Harun, ayahnya Lisa membuka suara pertama kali. Dia berkata dengan intonasi becanda.
“Maap Pah, Kalisa kan banyak perkejaan di sana.” Ucap Bu Lisa membalas.
“Tapikan kalian bisa datang ke sini hari minggu, tidak harus menunggu akhir semeseter tiba.” Jelas Pak Harun. Sepertinya dia tidak terima kalau anaknya itu mengunjungi 6 bulan sekali.
“Iya Pah, besok-besok gak kayak gituh.”
“Hmph! Paling-paling kamu juga lupa nanti.” Pak Harun memalingkan muka, seperti orang yang ngambek.
Meski ucapan Bu Ayu terdengar ramah dan menyenangkan namun tidak bagi auranya, kalian masih ingat, aura Bu Ayu itu lebih mencekam dari aura Bu Lisa dulu.
Siapapun orang baru yang ada didekatnya pasti akan merasakan kegugupan ekstrem, bahkan aku saja seperti harus berhati-hati dalam bernafas.
Ketika sudah masuk dan duduk di sopa, istriku dan ibunya pergi ke dapur untuk membuat sarapan malam bersama, sedangkan aku dan Pak Harun berdua duduk di tengah rumah.
Mataku masih berkeliling melihat detail bangunan rumahnya, foto-foto, pot bunga, meja, kursi, semuanya. Tidak ada yang berubah sedikitpun.
“Masih asing, Raka?” suara Pak Harun memberhentikan gerakan lirikan mataku dan aku langsung menoleh ke arahnya.
“Iya, sudah lama tidak kesini.”
Itu benar, 6 bulan berlalu aku hampir lupa tata letak rumahnya. Dulu, saat sedang menikah aku sempat menginap di rumah ini menjadikannya seperti pribadi.
“Yeah, kau harus sering-sering kesini. Ini juga rumahmu sekarang.” Pak Harun menyeruput kopi yang sebelumnya telah di sediakan. “Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Kalisa?”
__ADS_1
“Tidak ada masalah, hubungan kami baik, seperti biasa."
“Kau tahu Raka, anakku meski sekarang berumur 21 tahun tapi pemahaman kehidupannya hampir sama dengan orang berusia 40-50 tahunan. Dia adalah gadis yang pintar dan dewasa.”
Aku mengangguk setuju, apa yang dikatakan Pak Harun memang demikian adanya. Selalu asik berbicara dengan Pak Harun, berbeda dengan istrinya yang membuatku canggung, Pak Harun adalah orang yang bersahabat.
Percakapan kami terhenti disana saat Kalisa memanggil untuk makan malam. Seperti yang sudah aku duga, aku tidak berbicara apapun ketika bersama Bu Ayu di sana.
“Nak Raka, bagaimana di rumah, Kalisa suka membantah gak?” Bu ayu membuka suara saat kami tengah makan, dia bertanya dengan nada ramah.
“Tidak Bun, Kalisa istri baik.” Jawabku pendek, suasanaku masih canggung saat ini.
“Kalau dia ngelawan hukum aja Raka, jangan merasa tidak sopan. Kalau dia masih ngelawan juga bilangin Bunda, biar nanti bunda ajarin sesuatu padanya.”
Aku tersenyum kikuk, entah apa yang harus aku jawab.
“Apasih, Mah. Aku dan Mas Raka itu baik-baik saja, aku juga tidak membantah.” Ucap Bu Lisa tidak terima dengan perkataan ibunya.
“Apa tadi… kamu nyebut suamimu ‘Mas’. Wah... sepertinya itu sama persis dengan kita ya, Pah?” Ucap Bu Ayu yang langsung di angguki oleh Pak Harun.
“Tapi itu bagus, berarti dengan sebutan itu kalian memang sudah sangat dekat.” Tambahnya sekali lagi. “Oh iya, kalian sudah melakukan hubungan suami istri?”
Aku dan Kalisa serempak terbatuk-batuk dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Bagaimana bisa mertuaku itu berbicara secara langsung.
“Ah, melihat respon kalian sepertinya sudah ya?” Bu Ayu tersenyum, ada sorot kebahagian dari wajahnya.
Sial! Aku jadi gak nafsu makan gini. Kenapa pula mertuaku bicara demikian.
“Mamah apaan sih. Malu tahu… itukan rahasia pribadi.”
Aku tertawa dalam hati melihat bagaimana wajah istriku memerah.
Nyatanya Bu Ayu menghiraukannya, ia melanjutkan pertanyaan yang lain. “Kalian sudah berencana mau punya anak belum?”
Aku dan Bu Lisa kembali terbatuk-batuk. Oi! Apa-apaan pertanyaan ibu mertuaku itu?
__ADS_1
Like & Vote