Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 85 – Sembilan Bulan


__ADS_3

Lanjutin cerita yang sebelumnya ya... Bukan bonus lagi!!



Gerimis membasahi kota semenjak pagi tadi, buliran airnya berjatuhan di bawah genting-genting, berirama nyaring dan merdu. Udara kota menjadi lebih segar dan asri.



Disepanjang pemandangan mata, burung-burung yang berada di atas pohon urung untuk terbang, belalang-belalang bersembunyi di bawah rerumputan, menutupi dari hujan. Suara katak bernyanyi syahdu. Di sore hari ini, suasana kota entah kenapa terlihat sangat tenang dan damai.



Aku duduk didekat jendela, dikamarku yang berada dilantai dua. Disini aku bisa lebih menikmati suasana senja dan gerimis, melihat pemandangan sekitar, tidak lupa juga merasakan keheningan, kesendirian, kedamaian.



“Mikirin apa, Pah, sampai segitunya suara pintu tidak kedengeran?” Entah dari mana istriku muncul dengan kekehan kecil, menertawakanku yang seperti orang melamun. Di tangannya ada dua gelas teh hangat, siap menghidangkan untukku sebagai suaminya.



Aku meresponnya dengan senyuman hangat, memberi intruksi agar Bu Lisa duduk di sampingku.



“Kamu mikirin apa sih Mas?” Istriku meletakkan gelasnya di atas laci, kemudian berjalan dan duduk disampingku.



“Mikirin masa depan kita.” Jawabku asal. Mencium pipinya.



“Uh, masa depan. Gayanya suamiku ini…”Istriku tertawa kecil “Seharusnya kamu pikirin tuh ujian semester, Mas, jangan jauh-jauh mikirin yang lain.”



Aku mendengus. “Males tau Dek mikir gituan, lagian ujiannya juga masih lama.”



“Masa udah mau jadi Papah masih suka males.”



Mendengar tutur katanya membuatku sedikit agak malu dan salah tingkah. Kukecup pipinya singkat sedangkan tanganku mengelus perut buncitnya dengan lembut. “Ralisa, nanti kalau kamu sudah lahir, kamu jangan jadi seperti ayah ya? tirulah ibumu ini, dia adalah wanita rajin dan pintar.”



Mendengar itu istriku hanya tersenyum, ia ikut mengelus perutnya. “Tinggal 2 sampai 3 mingguan anak kita lahir, Mas. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan kita.”



Aku mengangguk, mengecup perut Bu Lisa lalu beralih mencium pipi putihnya.



Sekarang usia kehamilan Bu Lisa menginjak kesembilan bulan, itu tanda bahwa sebentar lagi proses kelahiran anak kami akan tiba. Tidak terasa waktu berjalan, kini hanya beberapa minggu lagi hingga kami bisa berjumpa dengan sang buah hati.



Dikehamilan bulan terakhir ini, perut istriku sudah tambah besar. Setiap berjalanpun ia mulai kesusahan, harus di tuntun. Tidur juga menjadi sulit baginya, kadang dalam sehari dia tidak tidur, susah katanya, perutnya yang besar membuat ruang geraknya menjadi terbatas.



Aku yang setiap hari bersamanya juga kasihan, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kata-kata semangat baginya.



Namun jangan salah, Bu Lisa tidak pernah mengeluh tentang kehamilannya ini. Disetiap harinya aku selalu melihatnya tersenyum ketika mengelus perutnya, matanya memancarkan ribuan kerinduan, kerinduan akan kedatangan anaknya.



Mengecualikan itu semua, ada yang lebih-lebih sering aku perhatikan bulan-bulan ini. yaitu tentang bagaimana istriku yang selalu bertambah cantik.



Oi, lihatlah! Walaupun dia tengah hamil istriku tetap saja seksi, malah lebih seksi dari saat dia tidak hamil. Kulitnyapun putih dan halus. Kalau wajahnya jangan di tanya lagi, dia sangat cantik. Mata hitamnya yang bulat, bibir merahnya yang kecil, pipinya yang putih. Pokoknya dia benar-benar seperti bidadari.



Setelah beberapa detik memandang wajahnya, kucium pipinya sekali lagi membuat yang diciumpun merespon kesal.



“Kenapa sih, Mas? Nyium pipi mulu dari tadi?” Ujarnya dengan jengkel namun pipinya sedikit memerah.



“Tidak tahu, Dek. Dari tadi rasanya Mas pengen nyium pipi kamu terus.”



“Alasan ih… Kalau sekali dua kali sih gak apa-apa Mas, tapi ini baru Adek duduk disini sebentar, kamu udah nyium aku empat kali.”



Aku menyeringai lebar, merasa tidak bersalah sedikitpun saat membuatnya kesal. Kukecup bagian pipinya sekali lagi ketika dia masih menggerutu.



“Kamu ini… walaupun bibirmu berkata lain tapi wajahmu tidak bisa berbohong! Kamu sukakan saat aku mencium pipimu, sayang.”



Layaknya panah yang tepat sasaran, Bu Lisa segera salah tingkah dengan wajahnya yang kian memerah. “Si-siapa yang suka?”

__ADS_1



“Aiyo, istriku ini. kita sudah setahun lebih loh menikah masa kamu masih malu-malu sama suamimu ini.”



“A-aku tidak malu kok.” Jawabnya dengan gugup.



Aku hanya menggelengkan kepala meyaksikan gelagatnya. Sambil tersenyum hangat, kurentangkan kedua tangan secara lebar-lebar. “Sini mau Mas peluk, sayang?”



Mungkin karena terlanjur gugup sekaligus malu, Bu Lisa langsung menyambar pelukanku. Wajahnya terlihat sangat manis dan imut.



Kami berpelukan cukup lama sambil memandang keluar jendela, hingga tidak terasa mentari di ujung sana sudah tenggelam sempurna.



“Mas, Lisa boleh nanya sesuatu gak?”



Kualihkan tatapan pada Bu Lisa yang tengah nyaman dalam pelukanku, setelah satu jam berlalu akhirnya istriku bersuara lagi. “Tanya apa, sayang.”



“Kann anak kita belum lahir nih Mas.” Jelasnya sambil memainkan jari-jariku. “Bagaimana kalau malam ini kita rundingkan nama buat Ralisa, anak kita?”



“Aku sudah menyiapkan namanya sayang.”



“Begini Mas, kalau anak kita perempuan, kita kasih nama… Eh? Apa mas, kamu sudah menyiapkannya?”



Aku terkekeh. Mengangguk.



“Kenapa Mas gak bilang sama Adek?”



“Sekarangkan sudah.” Aku mengusap pucuk kepalanya.



“Terus siapa namanya, kok gak berunding dulu sama Adek?”




Istriku terdiam sebentar. “Terus namanya siapa? Kalau laki-laki siapa kalau perempuan siapa?”



Aku tertawa mendengar pertanyaan beruntunnya, kudekatkan bibirku pada telinganya. “R A H A S I A.”



“Ih, Kok rahasia?" Bu Lisa mengembungkan pipinya dengan imut. "Akukan ibunya, Mas, masa tidak dikasih tahu. Terus kalau namanya jelek gimana?”



Aku kembali tertawa, “Namanya bakal indah sayang, seindah nama ibunya.”



Istriku memanyunkan bibirnya cemberut, ia kemudian membujukku agar aku memberitahukanya tetapi percuma, aku tetap keukeuh tidak akan mengasih tahu padanya.



“Mas nyebeliin banget sih.” Ujarnya membuang muka.



“Sayang, untuk kali ini, Mas ingin merahasiakannya.” ucapku lemah lembut “Nanti kamu akan tahu jika anak kita lahir.”



Setelah berkata demikian, istriku menurunkan rasa cemberutnya. Ia menatap mataku sesaat. “Yasudah kalau itu maunya kamu, Adek gak maksa.”



“Terima kasih. Maap kalau sedikit egois.”



Bu Lisa menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mas tidak egois. Mungkin ini adalah hal spesial bagimu Mas sebagai seorang ayah.”



Aku mengecup keningnya lama sambil mengelus rambutnya. Istriku menyandarkan kepalanya dipundakku, salah satu tangannya mengelus perut buncitnya.



“Oh iya, Dek, aku boleh gak meminta sesuatu pada kamu, sayang?” Aku teringat sesuatu.

__ADS_1



“Minta apa, Mas?”



“Eh itu Dek, mm… kamu mau gak jadi guru les aku. Soalnya kan sebentar lagi aku akan ujian.”



Istriku mengangkat kepalanya, ia menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Adek gak salah dengerkan Mas?”



“Tidak Dek, itu benar.”



“Kamu kenapa tiba-tiba minta Adek jadi guru les. Jangan-jangan nilai kamu jeblog ya?” tanya istriku menyelidik.



“Tidaklah Dek, kok kamu jadi curigaan gitu sama aku. Aku ini cuma mau berubah, mau serius belajar.”



Sepertinya walaupun aku berkata demikian istriku tetap tidak percaya. Yeahh, tapi itu cukup wajar mengingat aku ini paling anti yang namanya belajar kecuali jika disuruh.



Alasan sebenarnya aku ingin Kalisa menjadi guru lesku yang tak lain karena teman-temanku mulai mengikuti kegiatan-kegiatan les di luar sekolah. Zildan, si kembar, Della dan Reza juga sudah mengikuti kegiatan les minggu lalu, kini tinggal aku seorang yang belum.



“Kamu maukan Dek?” tanyaku lagi.



“Iya mas, tentu saja. Adek malah seneng kalau kamu mau mulai belajar.”



“Tapi gratis ya Dek, gak bayar.”



Bu Lisa serentak tertawa dengan guyonanku. “Iyalah Mas, memang kamu mau bayar berapa kalau aku dibayar.”



“Ya... paling-paling nanti aku bayar dengan ciuman di pipi, kening, dan bibir.”



“Itu sih maunya kamu.” Istriku memukulku pelan. “Tapi mulai besok ya, Mas, lesnya. Sekarang sudah terlanjur malam.”



“Siap Bu guru cantik.”



“Apa sih Mas, gak jelas.”



“Gini ya, enaknya kalau punya istri seorang guru.” Ceracauku pada Bu Lisa. “Kalau mau Les sekolah, tidak usah pusing mikirin biaya, tanpa ba-bi-bu langsung dapat yang gratis *plus* cantik.”



Istriku hanya menggelengkan kepala, tersenyum.



“Bu Lisa, aku dingin, mau dipeluk?” kataku yang mulai ingin dimanjakan olehnya.



Bu Lisa terkekeh, tidak seperti biasanya dia langsung memelukku duluan. Aku memejamkan mata, terasa nyaman dan hangat.



“Guruku, istriku, dan ibunya anakku. Sekali lagi, aku cinta kamu.”



“Apaan sih Mas, jangan berkata yang aneh-aneh deh...” Entah karena pelukan atau perkataanku, wajah Bu Lisa mulai memerah.



Aku terkekeh. “Padahal dikamar ini hanya kita berdua sayang, kamu masih saja pemalu. Istriku ini memang guru yang imut dan manis.”



Ah lihatlah, sekarang dia malah meringkuk pada dadaku. Tersenyum malu-malu.



“Kamu tahu, Mas.” Istriku berucap. “Entah kenapa, setiap bersama kamu jantung Adek selalu deg-degan, mungkin karena itulah Adek kadang gugup kadang malu. Mungkin lagi, itu karena Adek sedang jatuh cinta sama kamu, Mas.”



Itu perkataan terpanjang sekaligus terindah yang terakhir aku dengar dari bibirnya. Aku dan Bu Lisa saling tatap beberapa saat, memandang dengan perasaan cinta, hingga akhirnya kami saling berciuman lama.


__ADS_1


...Halo, ada yang masih ingat, atau tidak? hehehe, udah lama gak up... salam semua!...


__ADS_2