Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 71 — Pulang


__ADS_3

Kami berangkat ke rumah orang tuaku saat sore hari tepatnya di jam tiga petang. Setelah semua pakaian ganti telah di masukan ke dalam koper, kami mulai pergi.


Setibanya disana, di dapati ibuku ternyata tidak ada, ia masih dalam keperluannya di luar. Salah seorang pelayan wanita sekitar usia paruh baya menyambut kedatangan kami, saat ia melihat orang yang bertamu, matanya melebar.


“Nak Raka, pulang…!” dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, ada jejak kerinduan dari suaranya.


“Halo, Bi.” Aku tersenyum, langsung mencium punggung tangannya. Bu Lisa yang ada di sampingku ikutan reflek menuruti.


Pelayan itu adalah pelayan paling senior di keluargaku. Namanya Bi Inah, saat aku kecil, saat ibuku dan ayahku sedang sibuk, pelayan itulah yang mengasuhku untuk menjadi teman main.


“Nak Raka, Aduhh, udah besar sekarang. Tingginya nambah. Eh, ada Mbak Kalisa, istrinya Nak Raka cantik benget, cocok deh kalian berdua.” Bi Inah berseru kegirangan, matanya bercahaya antusias.


“Ah, Bibi bisa aja…” Bu Lisa tersenyum, senang di puji oleh Bi Inah.


“Nona sama Bapa lagi tidak ada. Nak Raka tinggal masuk aja, rumahnya tidak di kunci kok.”


Bi Inah hanya berbicara sebentar selepas itu dia pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku dan Bu Lisa berjalan masuk kedalam rumah, menarik koper di tangan.


Rumahku bertingkat dua, mempunyai halaman rumah yang cukup luas, ada juga taman kecil di dalamnya. Di belakang rumah, ada kebun buatan yang di buat oleh orang tuaku.


Bu Lisa melirik-lirik ke atas melihat setiap sudut rumahku, matanya terpaku terpesona. Aku menggelengkan kepala lalu berdehem sebentar membuat ia langsung menoleh ke arahku. “Ayo ke kamar.”


Dia mengangguk, lalu mengekoriku dari belakang. Sama seperti dirinya, kamarku berada di lantai dua, sedangkan kamar orang tuaku ada di bawah. Bu Lisa meletakan koper di sembarang tempat setelah tiba di kamarku, ia duduk di pinggiran ranjang.


“Jadi ini kamarnya, Mas.” Aku mendengar dia bergumam pelan. Aku tersenyum tidak menjawabnya.


Sudah lama sekali memang aku tidak keruangan ini, ruangan yang telah aku tempati selama 16 tahun terakhir. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama semenjak aku pergi.


Ruangan kamarku terbilang polos dan simpel. Tidak ada figura foto di dinding yang menempel, tidak ada warna yang mencolok, di kamarku ini warna catnya hanya hitam dan putih, itu saja tidak lebih.


Meja belajar terletak di sudut kamar, lengkap dengan lampu belajarnya. Lemariku ada di samping kasur. Sedangkan di sudut kamar yang lain ada pintu kamar mandi.


Bu Lisa tidak telalu lama merenung menatap kamar, ia segera membuka koper dan mengambil baju untuk di masukan ke dalam lemari.


Aku disisi lain sudah keluar kamar, menuruni tangga, lantas berjalan-jalan mengelilingi rumah. Suasana dari banyaknya tanaman di sini membuat udara lebih bersih dan segar. Aku menghirup udara lalu menghembuskannya dengan pelan, adem.


Aku pergi menuju taman kecil yang ada di depan rumah, banyak tanaman hias disana, warnanya beragam dan bunga-bunganya sudah mekar. Selepasnya, aku pergi ke daerah belakang rumah untuk melihat kebun, kebun itu sudah hampir berbuah, tumbuh segar-segar.


“DOR!”

__ADS_1


Bu Lisa terkekeh saat ia berhasil mengagetkanku, aku tersenyum jahat dan membalasnya dengan sentilan di kening.


“Aww… sakit, Mas.” Dia mengelus keningnnya, pipinya menggelembung pura-pura marah.


Aku tertawa kecil. “Makanya jangan ngagetin orang.”


“Yahh lagian, Adek cari-cari kemana ternyata kamu ada disini.”


“Iya maaf, tadi aku hanya mau lihat-lihat aja, sudah lama banget tidak kesini. Lihat sayang kebun itu, kamu lihat pohon yang disana. Nahh itu adalah pohon hasil yang aku tanam waktu kecil.” Kataku sambil menunjuk pohon mangga.


Bu Lisa memangut-mangutkan kepalanya, ia ikut melihat area kebun itu.


Kulirik istriku dengan baik, aku terlalu fokus pada pemandangan rumah sampai tidak melihat betul penampilan Kalisa. Lihat, sekarang dia bernampilan cantik dan bermake-up, apalagi bibir tipisnya yang berwarna merah menggoda.


Pakaianya seperti anak remaja, dia memakai kaos putih bergambar kartun, tepat di bagian dadanya terlihat ketat dan menggelembung. Sedangkan bawahannya memakai rok selutut berwarna hitam, Nampak kulit kakinya yang putih dan halus.


Aku meneguk ludah, Kalisa mungkin berdandan seperti karena ia akan bertemu Mamahku.


“Adek, kita ke kamar, yuk?” tanyaku tiba-tiba.


“Loh, bukannya Mas mau lihat-lihat rumah dulu, inikan baru sebentar kamu berkeliling.” Bu Lisa tersenyum kemudian memandang sekeliling.


“Hajat sama Adek? Hajat apaan, Mas?”


Aku terkekeh jail, “Masa kamu gak ngerti, ituloh hubungan suami istri.”


Bu Lisa seketika itu juga wajahnya langsung memerah.” Tapikan, Mas, ini dirumah Mamah, nanti kalau dia datang bagaimana?”


“Mamah gak akan datang sekarang sayang, mungkin nanti agak kemalaman.” Jawabku berbohong, padahal aku tidak tahu ibuku kapannya datang.


“Terus pelayan kamu?”


“Mereka sudah cukup dewasa untuk memaklumi hal ini, lagian tidak sembarang pelayan yang boleh naik ke lantai dua.” Jawabku berbohong lagi.


Bu Lisa terdiam, wajahnya ragu-ragu.


“Ayolah, Dek. Mas lagi pengen… kamu sih dandanya cantik banget jadikan hasratku bangkit.”


Menyaksikan Bu Lisa masih terdiam saja aku langsung membopong tubuh kecilnya. Bu Lisa menjerit kaget, ia reflek mengalungkan tangan di leherku.

__ADS_1


Di perjalanan ke lantai dua, ada beberapa pelayan yang menatap aksi kami. Mereka tidak berani berkomentar, hanya menyunggingkan senyum penuh makna.


Wajah Bu Lisa semakin memerah, mungkin karena gara-gara pelayan itu yang melihat pada dirinya.


Aku menggelengkan kepala, terus lanjut ke lantai dua.


Tibanya di kamar, kuletakan tubuh Bu Lisa dengan lembut di kasur. Rok yang di pakai Bu Lisa secara tidak sengaja tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya yang putih.


“Bu Lisa guruku, boleh muridmu meminta haknya, sayang?” aku tertawa jail, meminjam nama ‘murid’ sebagai pembuka aksi.


“Mas, aku ini istrimu, jangan panggil dengan sebutan ‘Bu’. Itu kedengaran seperti aku guru rendahan.”


Aku menyeringai lebar. “Terus bagaimana? Bolehkan, Dek?”


Bu Lisa mengangguk malu-malu, mengiyakan. Sebenarnya Bu Lisa tidak akan menolak hal ini, bukan karena dia terpaksa mematuhiku melainkan karena Bu Lisa juga menginginkan hubungan suami istri ini.


Di saat aku dan Bu Lisa sempurna memulai, di saat aku hampir melakukan biasanya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.


“Raka, Nak Kalisa, kamu di dalam!?”


Aku meneguk ludah, itu adalah suara ibuku. Sejak kapan mamahku pulang? suara mobilnya benar-benar tidak terdengar.


Sebelum ibuku membuka pintunya, aku langsung reflek menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.


“Eh, maaf sepertinya Mamah salah waktu ya?” Ibuku tersenyum lebar memandang aku dan Bu Lisa secara bergantian.


“Mamah! Kalau orang yang di dalam belum nyahut jangan dulu di buka!” Aku menggerutu kesal.


Ibuku tertawa kecil. “Makanya kalau mau ngelakuin itu… pintunya di kunci.”


Dengan wajah yang tidak berdosa, ibuku melambaikan tangan pada kami lalu menutup pintu kamar.


Aah, bikin malu aja… Namun ada yang lebih malu dariku saat ini. Lihatlah istriku, ia sudah bergelung dengan selimutnya, seakan ingin bersembunyi dan berharap menghilang begitu saja .


Aku menggaruk kepala, bingung harus bagaimana? Sekarang nafsuku sudah menguap dan menghilang, kalau ginikan jadi batal.



__ADS_1


...**Maaf udah beberapa hari gak update... Author gak semangat nulis nih. hmph! kenapa ya**?...


__ADS_2