Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 108 — Surat Cinta


__ADS_3

“Masih cape?” Tanyaku pada Bu Lisa yang masih meringkuk didadaku.


Bu Lisa hanya menggeleng, sepertinya dia sudah nyaman diposisi ini. Kami tidak langsung tidur setelah berhubungan tadi, seperti biasa, Bu Lisa akan bersikap manja kalau sudah melakukan itu, manjanya dia hampir sama dengan anak kecil.


Aku terkekeh, guru matematika yang terkenal galak ini siapa sangka mempunyai sikap yang manis dan manja. Entah perasaan seperti apa murid-murid jika mengetahui hal ini.


“Mas, terimakasih ya telah merawat Adek saat sakit kemarin.” katanya mendongak padaku


“Sama-sama.” Aku mengelus pucuk kepalanya. “Tapi tidak gratis loh…”


“Mas gak ikhlas?”


“Ikhlas lah tapi harus dibayar sama sesuatu.”


“Kalau begitu sih namanya tidak iklhas, Mas!” Bu Lisa mengembung pipinya sebal.


Aku tertawa kecil, mengecup keningnya dengan lama sedangkan Bu Lisa memejamkan matanya saat bibirku menyentuh.


“Memang Mas mau dibayar apa sama Adek?” Lanjutnya dengan pelan.


Saat aku hendak menjawab, suara tangisan Amelia terdengar lebih dahulu, Bu Lisa hendak bangkit tetapi aku menyuruhnya untuk tetap berbaring. Wajah Bu Lisa memerah saat aku keluar dari selimut, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Aku yang menyadari itu cuma bisa menggelengkan kepala, kenapa harus malu? Padahal tadi kami saling melihat semuanya satu sama lain.


Amelia kugendong pelan dan membawanya ke ranjang. Bu Lisa mengambil alih segera dan menyusuinya seolah tahu apa yang puteri kami butuhkan. Aku duduk disampingnya, merangkul bahu istriku sambil menatap Amelia.


“Rakus banget sih puteri ayah ini…” Aku tertawa kecil, mengomentari Amelia yang menyusui.


“Biarkan saja, Pah, Amelia kan belum dikasih ASI sore tadi. Pasti dia kehausan.”


Aku mengangguk, mengecup pipi Bu Lisa. “Nanti kita buat adik bagi Amelia, ya?”


Wajahnya seketika tersipu, tidak siap dengan perkataan seperti itu. Ia langsung mencubit pinggangku dengan malu-malu.


“Kok nyubit sih…”


“Biarin, siapa suruh Papah mesum.”


“Amel, Mamah jahat ih. Dia nyubit ayah terus tahu…” Aku melapor pada Amelia. Bu Lisa menyunggingkan senyum mendengarnya.


Sebenarnya cubitan Bu Lisa tidak sakit sama sekali, bahkan terkesan pura-pura mencubit tetapi walaupun begitu, aku selalu pura-pura kesakitan sebagai reaksi manja padanya.


Amelia hampir membutuhkan beberapa jam untuk menyusui dan tertidur kembali. Aku sebenarnya mau bermain dulu dengan Amelia setelah menyusui tetapi melihatnya menguap manis jadi tidak tega.


“Besok lagi aja, Mas, mainnya, ini sudah larut malam.” Jelas Bu Lisa.


“Yaudah, kan malam ini juga aku bisa main sama kamu.” Aku tersenyum lebar, mengedipkan mata penuh makna.


“Ini sudah jam 11 tahu Mas.” Pipi Bu Lisa yang sudah putih kini memerah kembali. “Nanti kamu kesiangan besok lagi...”


“Hm? Baiklah kalau begitu…” Aku membalikan tubuh memunggungi Bu Lisa, memejamkan mata.


“Mas kok mau tidur?” tanyanya sedikit kaget.

__ADS_1


“Kan kata kamu sudah larut malam, gimana sih, Dek.” Aku pura-pura malas menanggapinya padahal tertawa dalam hati.


“Eh, memang Mas sudah ngantuk?” Tanyanya lagi.


“Tadinya sih mau melakukan itu lagi, tapi kalau dipikir lagi, sepertinya perkataanmu benar.” Aku menahan tawa sebaik mungkin.


“Tapi Adek belum ngantuk…”


Aku membalikan badan lagi, menghadapnya. “Kenapa sih susah amat bilang kamu juga masih mau?”


“Si-siapa yang mau?” Jawabnya membela walau kegugupannya menjelaskan semuanya.


Aku terkekeh lalu menatap matanya dengan dalam, tatapan itu segera membuatnya tersipu. Aku mengecup keningnya dengan lembut sebelum memulainya lagi.


***


Entah keberapa kalinya aku menguap saat sudah disekolah, air mata muncul disudut mataku akibat seringnya aku menguap. Tadi malam aku terlalu akhir untuk tidur, sekitar jam 1 malam.


Aku masuk ke dalam kelas yang ternyata hanya baru sebagian murid yang datang. Zildan sudah datang di bangkunya tertidur di meja.


Aku sedikit tertawa dengan temanku ini, apa yang membuat dia selalu mengantuk saat datang ke sekolah? Zildan memang murid paling pintar tetapi dia jugalah yang paling malas. Kupikir dia juga bergadang hingga larut malam.


Ada sebuah pucuk surat dikolong bangkuku saat aku menaruh tas dimeja. Dahiku berkerut melihat ada tempelan gambar hati dipermukaan amplopnya.


Suara tawa kecil terdengar dan ketika menoleh Zildan disampingku sudah terkekeh.


“Itu adalah surat cinta, Kawan.” Zildan tersenyum penuh makna.


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sedikit tidak mengerti perkataan Reza, memilih untuk langsung membukanya.


Jantungku berdebar dan seolah hal ini tidak bisa dipercaya. Zildan disampingku masih menatapku. “Bagaimana, aku benarkan.”


“Zil, ini surat dari kau, kan?” Aku menatapnya curiga, pasti ini surat dari Zildan yang usil.


Zildan mengangkat bahu, mengatakan bukan dirinya. Kalau dipikir-pikir memang aneh menuduhnya, Zildan adalah orang baik, dia jarang berbohong padaku, berbicara saja dia jarang kecuali yang perlu.


Lagian, tidak ada alasan untuk Zildan berbohong.


Aku kembali menatap pucuk surat itu lagi, semoga suratnya salah alamat tetapi hal itu sulit terbukti apalagi ada tulisan namaku.


Karena malu untuk menyeritakan hal ini pada Zildan jadi aku melaporkan hal ini pada Bu Lisa.


Bu Lisa membaca surat itu dan tertawa kecil sesudahnya. Kami sedang ketemuan di UKS.


“Ternyata Mas terkenal juga, ada yang menyukai Mas Raka secara diam-diam seperti ini...” Bu Lisa masih terkekeh menertawaiku.


“Mamah gak cemburu gitu, kan itu jelas-jelas Mas ditaksir sama cewek lain.” Aku melipat tangan didada.


“Tidak ada yang melarang untuk menyukai seseorang walaupun sudah mempunyai hubungan, Mas.” Bu Lisa menghela nafas pendek. “Semoga saja, Suami Adek ini tidak terlalu ditaksir banyak wanita lain.” Jelasnya diikuti senyuman manis.


Aku tersenyum lebar, senang dengan kalimat terakhirnya.


“Terus aku harus bagaimana, Yang. Apakah aku tidak kesana saja?”

__ADS_1


Isi surat itu mengatakan bahwa wanita yang menyukaiku itu akan menunggu di belakang gedung sekolah untuk mengungkapkan hatinya.


“Jangan begitu, Mas, lebih baik memang terus terang saja.” Bu Lisa memberikan arahan. “Walaupun bakalan sakit hati, setidaknya ada kepastian...”


Aku mendengus. “Kamu enak bilang gituh tapi aku yang melakukannya susah. Aku tak mau menyakiti hati wanita!”


Bu Lisa tersenyum mendengar alasanku, seolah ia sudah tahu jawabannya.


“Kalau dipikir lagi, daripada jujur bagaimana kalau aku bilang padanya bahwa aku sudah punya pacar.” Aku mempunyai ide.


“Mas mau berbohong padanya?” Tanyanya.


“Berbohong? Mm…Enggak juga sih, kan aku memang sudah pacar, namanya Kalisa. Masa kamu lupa sih, cantik. ”


Bu Lisa sedikit salah tingkah, ia menahan diri untuk tidak tersipu.


“Manis banget sih Mamah kalau malu-malu seperti ini, pingin Mas karungin aja kali ya.” Aku mengacak rambutnya dengan gemas.


“M-Mas gombal…” cicitnya pelan dengan malu-malu.


Aku tertawa kecil, mengecup keningnya. Dasar…


** -- * -- **


*B**onus**...


Raka : Sayang, coba lihat sini deh.


Kalisa : *Baru tiba beberapa detik kemudian* Ada apa, Mas?”


Raka : Lihat, kok mereka senyam-senyum gitu sih saat baca cerita kita?


Kalisa : Mm…Engga apa-apa kali, Mas, mungkin mereka terhibur dengan cerita pernikahan kita. *Tersenyum, mengelus perutnya yang sudah besar*


Amelia : Cerita pelnikahan mamah sama papah? Memang mereka tahu…


Raka : *Terkekeh sambil mengelus pucuk kepala Amelia* Kok kamu belum tidur siang, sayang?


Amelia : Bentar, Yah, Amel mau sama adik dulu, kata Mamah tadi dia nendang didalam perut.”


Raka : *Menoleh pada istrinya* Bener, Yang?


Kalisa : *Mengangguk, tersenyum*


Raka : *Menempelkan telinga pada perut istrinya lalu mengecup pelan.* Yang sehat yah, anak papah disana…


Amelia : Ayah! Ayah! Mau digendong…*Bernada manja*


Raka : *Tertawa kecil, menaikan tubuh putrinya didada.* Uh, udah segede gini juga masih aja manja.


Amelia memanyunkan bibirnya imut saat ayahnya mencolek hidungnya. Sedangkan Kalisa tersenyum hangat melihatnya.


Kalisa : Ayo Mas, kita makan.

__ADS_1


Raka : *Mengecup pipi Kalisa* Yuk, Mah…


__ADS_2