
“Hei, satu putaran lagi!” Suara satpam berseru dari pintu gerbang, berteriak memasang wajah galaknya.
Aku mendengus kesal, aku tahu! tidak harus di ingatkan melulu apalagi berteriak-teriak seperti itu, nafasku tersenggal, Cepek. Baiklah, dari pada mendengar omelan bapak satpam itu lebih baik aku memulai berlari lagi.
Sial memang, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah dompet ketinggalan di rumah, ban motor bocor, terlambat ke sekolah. Terus sekarang di hukum di suruh berlari mengelilingi lapangan basket lima kali putaran, benar-benar hari yang buruk.
Aku mendudukkan pantatku di salah satu kursi depan kelas sambil meluruskan kaki, beberapa bagian seragamku sudah basah terkena keringat. Puhh.. aku menghembuskan nafas kasar, mencoba menetralkan kembali system pernafasan.
Untungnya satpam itu tidak memarahiku ketika aku duduk, ia membiarkan jeda waktu untukku istirahat setelah menyelesaikan hukumannya.
Pandanganku menatap ke samping lorong kelas, sangat sepi yang berarti jam pelajaran telah di mulai sejak tadi. Aku masih terduduk, tidak terlalu buru-buru untuk pergi ke kelas.
“Ini minum”
Aku mendongak ke kiri, melihat siapa yang bersuara, seketika wajahku tersenyum saat mendapati Bu Lisa sedang berdiri dan menyodorkan minuman, kekesalanku di hukum langsung menguap begitu saja melihat wajahnya yang cantik.
“Kenapa dihukum?” dia bertanya.
“Terlambat masuk”.
Bu Lisa menaikan alisnya heran “Bukannya tadi berangkat pagi?”.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, lantas menjelaskannya kenapa aku bisa terlambat, dimana saat aku berangkat ban motorku tiba-tiba bocor sehingga membuatku harus mendorongnya sampai bengkel.
“Gak dijelasin sama satpam kalau ban nya bocor?” tanyanya lagi.
Aku menghembuskan nafas pelan, tadi sebenarnya sudah di jelaskan bahwa ban motorku bocor dan sekarang berada di bengkel. Namun satpam itu minta bukti atau foto, aku yang saat ini lupa membawa HP hanya meringis menerima nasib.
“kenapa kamu terkesan seperti menahan tawa?” Aku menatap menyelidik, aku tahu saat ini dia sedang menertawakan ceritaku tadi.
“Eh, tidak kok” ucapnya seraya reflek menutup mulut.
“Pembohong” gerutu ku dalam hati, bilang saja kalau itu lucu.
“Yaudahh, aku pamit dulu, bisa curiga kalau kita berdua lama- lama” dia melambaikan tangan hendak pergi.
“Tunggu dulu!” Aku reflek menggenggam tangannya yang membuat langkahnya terhenti, dia langsung menatapku, ada apa?.
“Eh, aku cuma.. cuma mau minta uang”kataku tertunduk malu, oh ya ampun! Menatap matanya saja aku tidak bisa. Kalau saja bukan karena motorku yang harus di tebus di bengkel, mungkin gak akan berani seperti ini.
__ADS_1
“Berapa?” dia ramah bertanya.
Aku menggaruk kepala merasa tidak enak, wajahku sudah memerah karena malu “Terserah kamu”.
Dia tersenyum lalu memberikanku dua kertas lima puluh ribuan, sebenarnya itu terlalu besar untuk seorang pelajar sepertiku, tapi tak apalah, toh aku juga nanti berencana mengembalikannya.
“Terimakasih” ucapku tersenyum.
Dia mengangguk lantas berbalik pergi meninggalkanku.
Aku menghembuskan nafas lega, sial memang! Seperti bukan sifat diriku saja tadi. Karena sudah beberapa menit setelah istirahat, aku memutuskan kembali berjalan menuju kelas satu yang berada di lantai dua.
Hei, hari buruk ku belum selesai malah bisa di bilang masih awal. Tidak akan ada yang tahu bahwa ketika aku masuk kelas, guru yang saat itu sedang mengajar menatapku dengan galak melihatku terlambat. Dengan tega nya dia mengusirku bilang bahwa saat ini kamu harus belajar di luar kelas.
Entah harus tertawa atau menangis merasakan kejadian ini, tertawa karena memang bahagia bisa bolos dari pelajarannya dimana aku juga lupa mengerjakan PR, sedih kalau-kalau nanti nilaiku jeblok.
Sejam full aku menunggu di luar kelas, hanya duduk diam menatap langit biru dari bawah. Hari ini hari yang cerah, tidak ada awan hanya terlihat hamparan langit yang luas.
“Kamu kenapa lagi Raka?”
Aku tersenyum lebar, persis tahu suara siapa ini. Bu Lisa berdiri menatapku dengan buku yang ada di dekapannya, dia baru mau mengajar kelas sebelah.
Ngomong-ngomong kenapa dia tidak jutek lagi? kenapa Bu Lisa tidak melotot atau marah lagi? Itu karena kejadian seminggu lalu yang mana membuatku menunggu 5 jam karena dia, hingga akhirnya aku menjadi sakit.
Aku tidak tahu apakah dia sudah jatuh cinta kepadaku atau belum, yang pasti setelah kejadian itu sifatnya padaku berubah, dia menjadi lebih lembut dan penyayang menghadapi ku.
Bahkan seperti saat ini, dulu dia selalu melotot galak kepadaku ketika menyentuh tangannya. Namun jelas berbeda sekarang, walau dia sedikit terpaksa aku sentuh karena takut ketahuan orang lain, tapi dia tidak membantah sedikitpun.
Tangan kami saling berpegangan di saat duduk, bercengkrama dengan erat. Wajah dia terlihat memerah dan sedikit cemas, mungkin karena bahagia aku pegang tangannya, dan cemas takut ada orang yang tiba-tiba keluar dari kelas.
Tidak terasa sepuluh menit berlalu, akhirnya dia melonggarkan genggaman “Sudah dulu” katanya membisikan di telingaku.
Aku tersenyum, sebelum melepaskan cengkraman aku mencium punggung tangannya terlebih dahulu “Jangan lupa tersenyum istriku” kataku lembut.
Wajah dia bersemu merah dan tersenyum malu, dengan cepat-cepat dia pergi meninggalkan berusaha agar tidak terlihat oleh mataku.
Sedangkan aku yang melihatnya terkekeh, imut sekali wajahnya saat seperti itu. Jika saja tempat dan waktunya memungkinkan sudah aku cium dari tadi.
Kriing..
__ADS_1
Tanda jam pelajaran berganti sudah terdengar, aku melupakan kejadian sesaat, menunggu guru keluar terlebih dahulu lantas setelahnya masuk ke dalam kelas. Setidaknya meski sudah di hukum dua kali, aku masih bisa tersenyum bahagia.
***
“hahaha..” Reza tertawa gelak ketika dia mendengarkan cerita kenapa aku bisa di hukum, tawanya mengeras dengan tangan yang memegangi perut, tidak kuasa menahan tawa.
Wajahku berlipat sebal, terlanjur menyesal menceritakannya pada Reza, membuat moodku bertambah buruk saja.
Zildan yang berada di samping Reza beberapa kali menyikut untuk berhenti tertawa. Sedangkan Reza hanya mengangkat bahu, ‘ini memang lucu’ begitu pikirnya.
“Tapi setidaknya itu pengalaman dan pelajaran kawan” Zildan menepuk pundak, mencoba menilai sisi positifnya.
Aku yang saat ini sangat sebal tidak terlalu mendengarkan perkataanya. Lihatlah! Reza semakin mengeras tertawa.
“Hei” Tiba-tiba Della mengetuk papan tulis.
Semua murid yang tengah asik dengan dunianya masing-masing langsung menatap ke depan, termasuk juga Reza yang tawanya kini sudah berhenti.
“Pelajaran Bahasa Indonesia saat ini tidak ada guru, tadi bapa menyuruh kita untuk mengerjakan LKS” ucapnya mengumumkan.
Semua murid mengangguk bahagia, tapi bukan karena bahagia di beri tugas, lebih tepatnya karena gurunya tidak ada.
“Hei.. Hei..” Della mengetuk papan tulis lagi yang membuat semua murid mengalihkan pandangan menatapnya.
“Harus di kerjakan, jangan sampai tidak! Nanti di ujung pelajaran akan di kumpulkan” dia menatap sekelas tajam, awas saja kalau tidak.
“Iya” jawab semua murid serempak lantas mereka kembali ke kegiatan masing-masing.
“Hei.. Hei..” Della mengetuk papan tulis ketiga kalinya, namun kali ini semua murid menatapnya jengkel, merasa terganggu dengan teriakan Della.
“Eh, cuma mau cek doang, papan tulisnya masih bagus atau tidak” Della menyeringai, dia sengaja melakukan itu supaya mengerjai kami sekelas.
Murid sekelas mendengus sebal, merasa terganggu juga tertipu oleh KM nya sendiri.
“Dasar pengganggu suasana” Reza melotot, dia mengomel karena sudah menghentikan tawanya tadi.
Della yang melihat wajah sebal Reza menjulurkan lidahnya. Rasain!.
**Like dan votenya.. Kalau bisa coment kekurangannya!
__ADS_1
Terimakasih**..!!