
Nyatanya tidak benar namun itulah yang paling sempurna
Hari-hari berlalu dengan cepat, kegiatan PKS telah selesai 5 hari kemudian, disusul dengan pembagian raport, dan terakhir perpisahan sebelum liburan semester.
Di dalam kelasku, yang menoreh rangking pertama adalah Zildan, kedua Della, ketiga dan keempat adalah Arin dan Airin, lalu yang kelima adalah aku, sedangkan untuk Reza dia lumayan cerdas, dia rangking ke sepuluh.
Saat pembagian raport berlangsung, sekolah menyuruh untuk perwakilan keluarga yang harus menerima raport tersebut. Aku mengernyitkan alis, sedikit kaget, karena aku takut nilai jelek pada saat itu, aku menyuruh Bu Lisa untuk mengambilnya.
Tentu saja istriku bakal menolak saat memintanya, tetapi karena aku merayunya dengan sesuatu yang ia sukai, pada akhirnya ia mau dan mengambil raport tersebut.
Sebenarnya aku tidak berbohong pada sekolah, bukankah mereka mengatakan ‘perwakilan keluarga’ pada kami, jadi aku tidak salah kalau Bu Lisa mewakilkan keluargaku, secara dia sekarang memang keluargaku, tepatnya istriku.
Sesuai aku janjikan pada Bu Lisa setelah ia mengambil raport, aku bakal mengajak dia membeli buku di Mal.
Di hari senin, tepat hari pertama kami libur semester, aku dan Bu Lisa pergi ke sana. Selain membeli buku untuk istriku, kami juga harus membeli keperluan bulanan di rumah.
Aku dan Bu Lisa berjalan bergandengan tangan sepanjang di Mal, seperti orang yang berpacaran. Mungkin karena memang libur panjang, Mal itu terlihat ramai, tidak seperti hari-hari biasanya.
“Toko bukunya di mana, Dek?” Aku menggaruk kepala, dari tadi selama celingak-celinguk kesegala arah aku belum menemukan toko buku tersebut.
“Bentar, Mas. Jangan dulu ke sana, kita jalan-jalan aja di sini sebentar.” Katanya sambil membenarkan poni rambut yang mengenai mata.
Sepanjang aku menikah denganya, baru kali ini bisa melihat bagaimana istriku sangat berantusias. Lihat? Bahkan saat berjalan dialah yang memimpin, bersemengat menarik tanganku kemana ia suka.
Bu Lisa sekarang memiliki tampilan berbeda yaitu tepat di bagian rambutnya, jika biasanya dia selalu meluruskan rambut hingga terurai panjang, tetapi kini dia mengubah dan mengucirnya menjadi dua.
Dengan perubahan gaya rambut tersebut dia menjadi gadis imut seimut-imutnya, bahkan di banding wanita remaja yang seumurannya tidak ada wanita seimut istriku. Ah, melihatnya saja membuatku gemas sendiri.
“Kita minum disini dulu, Mas, Adek haus?” sesudah kami berjalan selama setengah jam, dia berhenti di toko minuman.
“Kamu duduk dulu, biar aku yang pesen minumannya.” Bu Lisa mengangguk patuh, ia kemudian berhenti lalu mencari tempat duduk buat kami.
Sekembalinya aku memberikan salah satu dari dua minuman yang di bawa, Bu Lisa tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
“Kenapa Adek tidak pernah berpenampilan seperti itu di rumah?” Aku menunjuk rambutnya, soal ke imutannya aku masih takjub bagaimana bisa dia berubah menjadi menggemaskan seperti ini.
“Mas terkejut ya kalau rambut Adek bisa di gini’in?” dia mengelus rambutnya yang terulur ke kedepan.
__ADS_1
“He’em, kamu jadi imut tahu. Eh, bagaimana kalau kita pulang yuk?”
“Lah, kan kita baru sampai masa harus pulang lagi.”
“Aku pengen kamu sayang. Hehe, nanti kalau kita pulang ke rumah kamu manjain aku ya?”
“Manjain apa sih, Adek gak ngerti” Bu Lisa menunduk malu, jari-jarinya secara reflek memainkan rambutnya.
“hihihi, janji ya?” aku terkekeh melihat dia yang salah tingkah. “Yuk ah, kita beli bukunya, nanti keburu sore lagi pulangnya.”
Tanpa menunggu jawabannya aku menarik dia berjalan lebih lanjut, kami menaiki tangga eskalator, saling bercengkraman tangan. Di lantai dua dan terus sampai tiga, kami masih belum menemukan toko buku itu.
Kami berdua duduk di salah satu kursi yang tersedia, beristirahat sejenak. Bu Lisa berpamitan sebentar untuk membeli minuman di mesin, setelahnya kembali dia memberikan salah satu minuman kepadaku.
“Apa sebaiknya kita beli keperluan bulanan dulu, Mas?” Bu Lisa bertanya setelah dia menghabiskan minuman kalengnya.
“Yasudah, dari pada kita nyari gak ketemu-ketemu, mending ya deket aja dulu, itung-itung nanti sambil nyari.”
Bu Lisa mengangguk setuju, kamipun akhirnya pergi ke toko market, memilih belanja kebutuhan dapur dulu.
“Kamu mau beli cemilan, Mas?” ucapnya bertanya.
Aku mengangguk, “Itu wajib hukumnya, sayang.”
Bu Lisa tertawa, ia mengambil cemilan beberapa picis dan memasukannya ke dalam troli yang aku dorong.
“Mas, mau beli mie instan?” dia bertanya lagi.
“Beli aja, Dek, buat nanti kalau kamu males masak.”
Bu Lisa mengangguk, ia mengambilnya lalu memasukan ke troli. Sambil berjalan dan mengambil bahan-bahan dia terus bertanya padaku, hingga merasa semuanya sudah tercukupi baru kami pergi ke kasir untuk membayar.
“Totalnya 350 ribu, Mbak.” Ujar si kasir itu.
Bu Lisa yang hendak mengambil dompetnya segera aku cegah, “Biar Mas, aja yang bayar.” Kataku yang langsung memberikan uang pada kasir itu.
“Terima kasih, Mas.”
__ADS_1
Aku tersenyum, tidak masalah. Aku melepaskan tangan gengamannya lantas membawa kresek belanjaan.
Ternyata sesudah kami berkeliling mencari toko buku di sekitar Mal, kami mendapatkannya saat ketika hendak pulang. Toko buku tersebut terletak di dekat pintu masuk Mal, salah satu tempat yang tidak pernah aku pikirkan untuk mencarinya.
Karena aku tidak terlalu berminat dengan buku-buku itu, juga karena malas berjalan membawa kresek besar. Akhirnya Bu Lisa yang berbelanja di sana sendirian sedangkan aku menunggu di luar toko.
Tidak tanggung-tanggung, Bu Lisa membeli 10 buku sekaligus, aku yang tengah di luar langsung melotot tidak percaya. Ketika aku hendak mengomel dia kemudian berbicara cepat.
“Ini buat 3 bulan ke depan. Mas.”
Aku hanya menghela nafas panjang, sedikit kesal tapi pasrah. Yasudahlah mau gimana lagi, istriku juga jarang meminta sesuatu padaku.
\*\*\*
“Adek manjain aku dulu ih!” Aku menggerutu kesal, bagaimana mungkin istriku itu melantarkan suaminya.
Sesampainya kami pulang, Bu Lisa dengan semangat yang berapi-api sibuk pada koleksi bukunya yang baru. Dia membongkar semua buku yang ada di rak kamar untuk di susun kembali.
Katanya, dia harus menyusun buku sesuai huruf abjad, biar nanti gampang nyarinya. Jadilah dengan waktu yang tidak sedikit Bu Lisa mengoprek buku-buku tersebut sedemikian rupa.
Awalnya aku sabar menunggu dia hingga selesai menyusun, namun karena sudah satu jam berlalu. Aku jadi kesal sendiri, dan akhirnya seperti sekarang, menggurutu dan bersungut-sungut.
“Iya, Mas. Ini sudah selesai.” Akhirnya ia berjalan kearahku yang berada di kasur. Bu Lisa duduk di tepi kasur lalu dengan manisnya ia menepuk paha, memberikan intruksi. “Sini Mas, tidurnya di sini.”
Meski kesal pada akhirnya aku menurut, aku mengubah posisi tidur dan berbaring dengan menunda kepala di pahanya. “Kamu lama banget sih?”
“Maaf Mas, hehe… Adek terlalu bersemangat. Buku yang tadi kita beli itu adalah buku ke 100. Jadi agak spesial buat Adek.”
Aku melirik rak yang sebelumnya di susun oleh Bu Lisa, melihat begitu banyaknya buku di sana. Aku tersenyum, istriku itu memang penggemar buku-buku, mungkin alasan dia menjadi guru di usia muda karena punya kebiasaan membaca.
“Yasudah, sekarang kamu manjain aku dulu, Dek, aku udah ngantuk.”
Tanpa ba-bi-bu lagi aku menenggelamkan wajah kearah perutnya, sengaja biar lebih cepat tidur. Sedangkan Bu Lisa mengelus rambutku dengan lembut.
Aku tersenyum, pasti selalu nyaman tidur di pangkuannya.
Jangan Lupa Like dan Votenya ya..., itu adalah apresiasi kalian buat penulis. Terima kasih!
__ADS_1