
“Mas bangun, ini udah jam lima!”
Aku mengerjapkan mata perlahan saat ada seseorang yang menggoyang-goyangkan tubuhku, rasanya baru tadi aku menutup mata, membiarkan ke dua mata beristirahat.
“Mas, ayo bangun” Bu Lisa berkata sekali lagi, nadanya terdengar lembut dan penuh kasih sayang.
Aku melenguh membuka mata sambil merentangkan badan, melemaskan setiap otot dan sendi-sendi, membiarkan tubuhku melakukan peregangan. “Selamat pagi dek” aku tersenyum menyapanya.
“Pagi mas. Ayo sudah siang, segera mandi nanti adek siapkan bajunya” katanya pelan.
“Mas pengen ini dulu dong sebelum mandi” aku menyeringai sambil menunjuk bibir, menggenggam tangannya agar tidak pergi dulu.
Bu Lisa tersenyum kikuk "Apaan sih mas, jangan yang aneh-aneh deh"
“Ini gak aneh yang, mencium suami itu dibilang wajar” aku berkata sok polos “Lagian kamu kan udah setiap hari menciumiku pas bangun tidur, mana ada yang aneh coba”.
Wajahnya langsung bersemu merah ketika mendengar kata ciuman, meski ia agak enggan untuk melakukannya, namun tetap saja dia menurut. Pada akhirnya dia mencium bibirku sekilas, menundukkan kepala, lantas cepat-cepat pergi keluar kamar.
Aku tersenyum kecil melihat tingkah laku malunya. Begitulah ia setiap pagi, meski hampir setiap rutin dia mencium bibirku, wajahnya selalu saja malu-malu seperti ia baru melakukan ciuman pertama kali.
Lima belas menit kemudian, Aku duduk di meja makan setelah mandi dan berpakaian, menatap dia yang masih asik berkutat dengan masakannya. Entahlah, saking asiknya bahkan keberadaan ku tidak ia sadari, dia malah bersenandung ria di sana.
Aku memanfaatkan kondisi ini dengan baik, tanpa basa-basi aku melingkarkan tanganku di belakangnya, memeluknya erat. Serta aku menyimpan daguku di pundaknya.
“Selamat pagi Bu Lisa, guru matematika sekaligus istriku” aku mencium pipinya sekilas, memberikan senyuman.
Dia tersipu merah “Apa sih mas, aku kan di sini istri bukan guru mas”
Aku menyeringai tidak terlalu menanggapinya, lebih fokus menikmati tubuhnya yang hangat dan memeluknya lebih erat lagi.
Jujur saja, Bu Lisa terlihat lebih cantik ketika memakai celemek bermotif kotak-kotak itu, ia mengikat rambut panjang kebelakang seperti ekor kuda, serta di baliknya ada baju dinas yang ia siap gunakan untuk nanti mengajar.
“Mas lepasin dulu, adek mau nuangin supnya sebentar”.
__ADS_1
Aku mengangguk patuh, dia terlihat keberatan ketika aku memeluknya, membuat gerakannya menjadi terbatas. Jadi lebih baik aku pindah, duduk kembali di meja makan menunggu makanannya selesai.
Dengan telaten dan rapih ia memasukan sup buntut kedalam wadah, menyajikan lantas membawanya ke meja makan, sungguh aroma masakannya benar-benar membuatku menjadi tambah lapar.
“Dek, menurutmu Airin itu orangnya seperti apa sih?” aku bertanya di sela kami sedang makan. Bohong jika kalimat Airin sudah aku lupakan, malah aku terkesan mengingat-ngingatnya.
“Airin kelas mana?” dia bertanya.
“Kelasku, IPA 3” lanjutku menjelaskan “Murid kembar itu lohh dek”.
Bu Lisa menghentikan suapannya, mengingat-ngingat “Kalau yang kembar itu aku tau, tapi yang mana dari keduanya?”.
“Adiknya, eh maksudku, yang biasa pake pita rambut berwarna cyan”
Bu Lisa terdiam, bola matanya menunjuk ke sudut atas, tanda dia sedang berpikir “Kalau menurut adek sih dari sudut pandang guru, ia kayaknya orang pendiam, mm.. jarang bersosialisasi, juga kalau gak salah dia sedikit pemalu” Ujarnya.
Aku termangut-mangut, perkataan Bu Lisa memang sama dengan pikiranku, Airin memang orangnya seperti itu. Tapi aku masih kepikiran kenapa saat di gudang seolah-olah itu bukan Airin, bahkan terkesan orang lain yang seperti Airin.
Baiklah, sepertinya aku tidak harus memikirkannya sampai seperti ini, lebih baik fokus makan lalu pergi ke sekolah, itu lebih baik dari pada memikirkan sesuatu yang tidak harus di pikirkan.
Hari ini jadwal piket kelas, aku harus datang lebih awal dari biasanya, lebih awal di banding semua murid kelas. Di sekolah kami, piket hanya di kerjakan oleh satu orang di setiap harinya, dan di jadwalkan sesuai urutan absen.
“Tumben, ini kan masih pagi” Bu Lisa mencium tanganku yang langsung aku balas dengan kecupan di keningnya.
“Kebagian jadwal piket dek”
“Ohh” Bu Lisa termangut-mangut mengerti “Eh bentar, itu dasinya agak miring” dia menahan tubuhku yang hendak naik motor, meraih dasi di dada dan mengikat ulang kembali.
Aku tersenyum, lantas dengan cepat melingkarkan tangan di pinggang rampingnya, menariknya dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara tubuh kami.
Mata ia terbelalak kaget, menyadari karena telah memberikan celah padaku, “Mas lepasin ihh nanti ada orang lain yang lihat”.
“tidak ada orang juga” aku berkata polos, melirik kanan kiri.
__ADS_1
“Nanti terlambat loh mas” katanya lagi.
“Baru jam enam lebih lima menit, tenang aja masih ada waktu untuk kita berdua “Aku menyungging senyum jahat.
“Mas jangan membuat adek marah, jangan membangunkan kucing yang lagi tidur” katanya dengan galak.
“Oh ya, pengen dong dimarahi istri, kangen lihat wajah marahnya di kelas”
Dia mendengus kesal karena merasa gagal mengancam, “Mas.. Lisa mohon lepasin” ucapnya yang tiba-tiba memelas.
Aku menelan ludah, aku lupa dia punya senjata rahasia. Dia tiba-tiba memandangku dengan mata yang sudah tampak berkaca-kaca seperti menangis. Jujur aku yang melihatnya menjadi tidak tega lalu pada akhirnya melepaskannya.
“Aww..” tiba-tiba dia mencubit perut “Itu hukuman kamu mas karena telah membuat istri marah” katanya tersenyum puas sambil buru-buru masuk ke rumah, takut kena peluk lagi.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya. Syukurlah aku dan dia menjadi lebih dekat di banding pertama kami menikah. Siapa yang tahu bahwa nanti kelak hubungan kami akan semakin lebih erat.
Kabut putih masih terlihat di sepanjang jalanan, menghalangi jarak pandang, membuat mereka yang berkendara harus menyalakan senter depan. Di upuk timur matahari masih malu-malu untuk menyinari, membuat suasana pagi seperti waktu subuh.
Embun perlahan-lahan terbentuk di kaca helm membuatnya menjadi basah, baju jaketku juga tak kalah sama basah ketika bertabrakan dengan kabut di sepanjang jalan.
Lima belas menit berlalu, aku akhirnya sampai di sekolah. Tidak banyak murid yang baru datang, hanya beberapa orang dan itu termasuk pak satpam yang menjaga gerbang.
Masih teringat di kepalaku, tiga hari lalu aku pernah di hukumnya karena terlambat sekolah, membuatku harus berkeliling lima putaran di lapang basket. Padahal saat itu ban motorku bocor, namun karena tidak ada bukti jadi aku tetap di hukum.
“Pagi pak” aku menyapa ramah satpam yang tengah membukakan gerbang pintu.
“Tumben pagi-pagi?” tanyanya heran.
“Jadwal piket pak, kalau bukan jadwal bersih-bersih mah mana mungkin saya sepagi ini”.
Pak satpam itu tertawa lalu ia mempersilahkan ku masuk ke parkiran, aku mengangguk melambaikan tangan meninggalkannya.
***Yang tahu kekurangan novelnya boleh coment.. Biar author bisa lebih memperbaiki lagi. Like dan votenya ya jangan lupa habis membaca!!
__ADS_1
Terimakasih***