Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 51 — Mati Lampu


__ADS_3

Gelapnya malam selalu diikuti dengan cahaya rembulan.



“Sayang! Cepet ih kesini, kok lama banget.”



Aku berseru sekaligus menggerutu, kenapa istriku itu lama sekali dari dapur! Ini sudah panggilanku ketiga kalinya namun tetap saja dia belum sampai-sampai. Bilangnya bentarlah, tunggu dululah, lima menit lagilah, tapi buktinya apa? dia tidak kesini-sini.



“Iya Mas, ini Adek kesana!” teriaknya dari dapur.



Aku mendengus dalam hati, tidak percaya. Tidak bisakah Bu Lisa lebih cepat, ini suaminya dalam kondisi darurat, lagi benar-benar membutuhkan keberadaan sang istri.



“Tuh, kan Mas! kalau kamu takut jangan nonton film horor. Film yang lain aja yang lebih seru, atau kalau tidak bermain game dari pada kamu nanti ketakutan seperti ini.” Ucap Bu Lisa mengomel, kedua tangannya di letakkan di pinggang.



“Aku tidak takut Dek, aku hanya butuh teman aja nontonnya. Cepatan sayang, kamu duduk sini! Di depan, Mas.”



Kemudian aku membuka kedua paha, membiarkan Bu Lisa duduk didepanku, sehingga aku dengan mudah melingkarkan tangan di perutnya.



“Bilang aja Mas, takut nonton fim horror sendirian, gak usah alasan pengen di temenin.” Kata Bu Lisa terkekeh pelan.



“Aku kan sudah bilang kalau aku gak takut! Aku hanya berasa gak seru aja kalau nonton sendirian.” Jawabku ngeles, padahal memang benar saat ini aku sedang ketakutan.



Di hari-hari kemarin, teman sekolah kami banyak membicarakan tentang film horor yang baru rilis, walaupun saat itu kami sedang melaksanakan ujian sekolah, topik tentang film itu lebih diminati dari pembahasan jawaban ujian.



Pembicaran itu kian memanas diikuti rasa penasaran yang tinggi di setiap harinya. Aku yang memang menyukai film-film horor akhirnya berinisiatip untuk menontonnya sendiri di rumah.



Awalnya aku memang semangat di awal menonton, namun seiring waktu aku menyadari bahwa aku tidak akan berani menontonnya. Tentu saja, rasa penasaranku jauh lebih tinggi dari rasa takut itu sendiri.



Sehingga akhirnya, aku memanggil istriku untuk menemani nonton di tengah rumah. Seperti sekarang ini, aku sedang memeluk dia agar ada pegangan saat aku ketakutan.



“Kalau kamu sembunyi gitu, kamu tidak disebut menonton, Mas.” Bu Lisa lagi-lagi menggodaku saat aku sembunyi di balik pungungnya.



Aku tidak menjawab godaan dia, perrhatianku saat ini terfokus menatap layar televisi di depan. Film tersebut sangat menyeramkan apalagi suara musiknya yang membuat penonton akan di buat kaget olehnya.



Tanganku masih memeluk tubuh Bu Lisa dari belakang, saat ketika hantu di layar datang tiba-tiba aku akan memeluknya lebih erat, membuat istriku merintih protes.

__ADS_1



“Maap Dek, aku tadi terkejut,” kataku menyeringai merasa tidak bersalah.



“Mending udahin aja nonton filmnya, jangan dipaksa gitu loh, Mas.”



“Udah tanggung sayang, mana bisa aku berhentiin di tengah cerita.”



Bu Lisa menghela nafas panjang, “Yasudah, kalau gitu Adek mau ke dapur dulu, Adek mau minum.”



“Gak boleh!” Aku reflek menjawab, tanganku lebih erat memeluk bagian perutnya.



“Tapi Adek haus Mas, cuma sebentar kok ke sana, nanti Adek akan kesini secepatnya.”



Aku sedikit ragu, namun pada akhirnya aku melepaskan pelukannya dan Bu Lisa pun pergi ke dapur. Tetapi baru saja istriku meninggalkanku sendiri, tiba-tiba lampu di tengah rumah mati, aku berseru kaget dan langsung berlari ke arah dapur.



Tentu saja aku ke dapur sedikit sulit mengingat bahwa aku tidak bisa melihat apa-apa, beberapa kali lututku terbentur dengan sebuah benda, Aku meringis sakit tapi tidak terlalu terasa karena sedang ketakutan.



“Sayang kamu dimana sih!” aku berseru buru-buru saat sudah di sana.




Aku tidak menjawab gumamman dia, lebih terfokus ingin segera mendekatinya. Bu Lisa disisi lain masih mengarahkan senternya ke arah sekeliling karena dia masih belum menemukan keberadaanku.



“Astaga! Mas, kamu bikin kaget aja!” istriku terkejut saat tiba-tiba ada tangan yang menyentuhnya, aku disisi lain juga bereaksi sama saat dia terkejut tiba-tiba.



Sesudah itu kami berjalan ke kamar setelah aku mengusulkan padanya, aku juga berkata agar dia tidakusah menyalakan lilin, dan lebih baik segera berbaring di kamar.



Bu Lisa mengangguk tetapi ia menyempatkan untuk menyalakan lampu tidur, lampu tidur tersebut tidak menggunakan colokan listrik sehingga ketika mati lampu akan sangat berguna.



Meski cahayanya tidak seterang lampu rumah, itu tetap lebih baik dari pada gelap gulita. Istriku membaringkan tubuhnya di ranjang diikuti olehku yang langsung memeluk tubuhnya.



“Kamu takut ya, Mas?”



Kali ini aku mengangguk jujur, dari dulu aku sangat takut yang namanya kegelapan bahkan terkesan trauma. Setiap kali ada kegelapan seperti ini pasti tubuhku tak kuasa bergetar, aku tahu aku benar-benar ketakutan saat ini.

__ADS_1



Bu Lisa yang entah sejak kapan merubah posisinya memeluk kepalaku, dia menenggelamkan wajahku di dadanya seperti biasa aku dulu.



Perlahan-lahan rasa takut yang aku alami semakin menghilang di ganti dengan kenyamanan. Kalian tahu, tubuhku terasa hangat di peluk olehnya.



Hei! Ternyata mati lampu juga ada keuntungannya, lihatlah sekarang, meski aku dalam keadaan ketakutan ada sempat-sempatnya pikiranku ingin jail padanya.



Dengan secara perlahan wajahku bergerak maju ke arah dadanya yang menggelembung, dan mengeleng-gelengkan kepala. Bu Lisa yang terlambat menyadarinya terkejut atas apa yang aku lakukan.



“Mas, jangan mesum ih!” dia berseru pelan melepaskan pelukannya.



“Bagian ini kamu empuk ya Dek, besar.” Aku berkata tidak tahu malu. Rasa takut yang sebelum terasa menguap ketika melihat wajah dia yang memerah.



Bu Lisa hendak menghalangi bagian dadanya namun dengan cepat aku menahan. “Sebentar ya sayang, aku sudah terlanjur nyaman di posisi ini.”



Istriku terdiam melihat wajah suaminya yang memohon, dia tidak berkata apa-apa lagi yang menandakan bahwa ia mengizinkannya.



“Aku cinta kamu, Bu Lisa.” Kataku seraya ada di dekapannya.



Wajah Bu Lisa tak kuasa memerah, selain dia tersipu karena ucapan sebelumnya, dia juga menahan malu akibat posisi kepalaku yang berada di dadanya. Aku yang melihatnya hanya terkekeh pelan, Bu Lisa kalau wajahnya merah seperti itu selalu bertambah manis.



Sayangnya momen romantis ini tidak bertahan lama, karena sepuluh menit kemudian lampu rumah kembali menyala, yang membuat Bu Lisa bereaksi cepat menjauhiku.



“Kamu mesum banget, Mas.” Bu Lisa memanyunkan bibirnya dengan kedua tangan yang menyilang di dada, mencoba menutupinya.



“Aku tidak mesum, aku hanya berkata pernyataan saja, bagian Itu kamu memang menggelembung besar.”



“Mas!”



“Becanda sayang becanda…” aku tertawa kecil. Padahal kalau di ingat-ingat aku sudah melihatnya secara terbuka, tetapi tetap saja pembicaraan itu memalukan bagi istriku.



Lihatlah sekarang, aku benar-benar telah sukses membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


__ADS_1


JANGAN LUPA YA LIKE DULU SEBAGAI APRESIASI DAN DUKUNGAN DARI KALIAN, DAN SANGAT BERTERIMA KASIH JIKA ANDA MEMBERIKAN VOTE PADA KARYA INI...


Terimakasih kasih


__ADS_2