
Aku menatap lapangan basket di dalam jendela, melihat pertandingan teman sekelas kami yang saling beradu lemparan dan memasukan bola ke dalam jaring. Pertandingan yang tidak serius, cuma untuk senang-senang semata.
Di atas lapangan, Reza berlari gesit merebut bola yang hampir di tembakan ke jaringnya, ia melompat dan menangkapnya dengan cepat, wajahnya berkeringat deras, nafasnya memburu.
“Za lempar” Zildan berteriak dari tengah lapangan,
Tanpa di suruh dua kali, Reza langsung melemparnya dengan tepat ke arah Zildan. Tapi ia tak berhenti di sana setelah bolanya lepas, Reza langsung berlari lagi ke daerah lawan, gerakanya cepat, meliuk-liuk melewati berbagai orang “Zil sini!” ucap Reza berseru.
Walaupun mereka berinteraksi berdua, itu sudah cukup membuat tim lawan kewalahan, kerjasama mereka sangat sempurna dan tidak terduga, membuat tim lawan harus cepat-cepat bergegas mundur.
Reza yang sudah mendapatkan bola kembali tiba-tiba langkahnya harus terhenti, di depannya ada orang yang sedang menghadang, dia seorang wanita cantik berambut sebahu. Wajah Reza seketika mengukir senyum remeh, dia hampir tidak menganggapnya ada di tim lawan.
Satu hal yang belum aku kasih tahu, tim lawan yang di maksud adalah tim wanita dari kelas kami. Itu betul, hanya karena gara-gara pertengkaran Reza dan Della membuat pertandingan ini menjadi ada.
Tim laki-laki versus tim perempuan, ini memang pertandingan konyol dan aneh, tidak ada wasit atau peraturan ketat seperti layaknya basket pada umumnya, kami disini bertanding hanya untuk saling bersaing merebutkan hal-hal sepele, seperti sekarang berebut lapangan.
Awalnya Karena tidak ada guru olahraga yang mengajar, kami_ maksudnya semua laki-laki, berinisiatif untuk bertanding basket di lapangan luar.
Namun tiba-tiba Della dan wanita lainya memiliki niat yang sama, hal ini justru memicu keributan, dimana laki-laki tidak mau berbagi lapangan dengan perempuan, kami menganggap bahwa semua daerah lapangan basket adalah milik laki-laki.
Della melotot tajam mendengarnya, ia sebagai ketua murid tidak terima dengan keputusan konyol tersebut, tidak adil. Bagaimanapun kami wanita punya hak untuk berolahraga, itu kata Della di lapang dengan lantang.
Keributan pun terjadi diantara laki-laki dan perempuan, Della memimpin semua wanita dan Reza memimpin kami laki-laki. Pertengkaran itu tidak bertahan lama, sampai tiba-tiba ada usulan dari salah satu teman kami untuk bertanding basket.
Karena laki-laki di untungkan karena tenaga dan fisiknya, akhirnya kami membuat peraturan baru. Laki-laki bermain 4 orang untuk bermain sedangkan wanita hanya 6 orang. Siapa yang menang dia dapat seluruh daerah lapangan basket.
Aku juga ikut sebelumnya di antara 4 orang itu, tapi sayang sekali karena kecerobohan kakiku jatuh di atas lapangan membuatnya menjadi berdarah dan lecet. Jadilah aku tidak mengikuti bermain, malah sekarang duduk di ruang UKS sendirian menatap keluar jendela.
Kembali ke permainan, Reza menyungging senyum remeh melihat Della yang menghadangnya, bahkan jika difokuskan Reza seperti acuh tak acuh apakah ada lawan atau tidak di depan dia.
Dengan tubuhnya yang gesit, Reza mendorong bola tepat ke samping posisi kanan lawan, sedangkan tubuhnya bergerak ke sisi lain, itu adalah gerakan tipuan hebat, persis seperti seorang pemain basket sungguhan, namun sayangnya tipuan itu tidak berlaku untuk lawan seperti Della.
__ADS_1
Della tetaplah Della yang tidak tahu aturan bola basket, yang ia tahu hanya harus memasukan ke dalam jaring lawan untuk menang. Tanpa ba-bi-bu dia langsung menarik kaos Reza agar tidak melewatinya, tentu tindakan tersebut tidak Reza duga sebelumnya, ia kehilangan keseimbangan dan membuatnya jatuh menimpa tubuh Della.
Kejadian itu terlalu cepat terjadi, membuat permainan terhenti sesaat, mereka semua menatap ke arah dua lawan jenis itu. Lihatlah posisi mereka jatuh, Della berada di bawah sedangkan Reza di atasnya, jika karena Reza tidak menopang dengan kedua tangan, kemungkinan wajah mereka akan saling bersentuhan atau dalam artian lain, berciuman.
Lapangan sekolah lengang, mulut mereka terkunci, pandangan di depannya jauh dari apa yang mereka harapkan, ini seperti mereka melihat drama dalam film-film.
Aku yang berada di lantai dua memperhatikan mereka bermain langsung terpana. Oi! Selepas mereka sadar dan bangkit, wajah keduanya samar-samar memerah, entah karena malu atau hal lain yang pasti kejadian ini adalah momen yang tak terlupakan bagi keduanya.
Tapi sayangnya aku tidak tahu kejadian setelah itu, karena tiba-tiba dari luar aku mendengar suara derap langkah kaki yang mengarah ke sini, tepat ke ruangan UKS.
Pintu yang berada di depan pun terbuka, dan terlihatlah sesosok wanita cantik berusia dua puluhan memakai baju dinas, rambutnya terurai panjang sampai pinggang dengan hiasan pita biru yang tertempel, matanya hitam sempurna, kulitnya putih seperti putihnya mutiara.
Aku tersenyum bahagia tidak menyangka dia akan ke sini, kebetulan sekali mengingat sekarang aku sendiri, benar-benar nasib dari surga aku bisa bertemu dengan istriku.
“Halo Bu Lisa, I s t r I k u” aku terlebih dahulu menyapa dia dengan ramah sekaligus mencoba menggodanya.
“Kamu gak apa-apa.. eh, maksudku halo mas.. eh, halo Raka,”
“Eh, siapa? Enggak kok. Aku kesini cuma.. cuma.. cuma patroli aja, siapa tahu ada murid yang bolos pelajaran masuk ke UKS.”
Aku terkekeh geli melihat wajahnya yang salah tingkah, dia tidak pandai dalam berbohong. Sudah aku duga sebelumnya, dia kesini karena aku, karena khawatir padaku yang terjatuh tadi.
“Serius Raka aku tidak berbohong.” Cicitnya meyakinkan.
Aku menggelengkan kepala “Aku tidak mengatakan kamu berbohong dek.”
Dia reflek menutup mulut, menyadari telah melakukan kesalahan, “Kamu kesini ngapain?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Aku menunjuk ke bawah tepat ke arah lutut yang sudah di perban, lukanya terlihat serius, tapi sebenarnya ini terbilang luka yang ringan.
Bu Lisa berjalan maju ingin melihatnya lebih dekat “Sakit gak?”
__ADS_1
Aku menggeleng “cuma sedikit, lukannya tidak terlalu dalam.”
“Lain kali hati-hati mas kalau olahraga, jangan sampai terluka seperti ini.”
Aku tersenyum bahagia melihat dia begitu perhatian “Sini dek, duduk di sini.” aku menepuk paha, menyuruhnya duduk di pangkuanku.
Dia langsung tegas menggeleng “Enggak mau, sekarang masih di sekolah Raka, jangan melakukan sesuatu yang tidak senonoh”
“Gak pa pa, sini sayang duduk. Anggap ini perintah suami,”
Melihat wajahnya yang masih ragu, aku terpaksa menarik tangannya dengan lembut dan membiarkan ia duduk menyamping di pahaku.
Wajahnya memerah menahan malu, dia tidak berani menatap mataku sedikitpun. Mau bagaimana lagi, posisi ini memang sangat intim, lebih intim dari tindakanku sebelum-sebelumnya.
“Masih malu-malu aja sama suami sendiri,” celetukku menggodanya.
Wajah ia tambah memerah dan menunduk, segera aku menggenggam dagunya agar ia menatap mataku kembali.
“Mau itu dong dek,” aku menunjuk bibir merahnya.
Aku tahu dia akan menggeleng, maka dengan cepat aku mencium bibirnya sebelum dia berkata apapun. Wajahnya terkejut saat bibirku menyentuhnya, namun ia tidak memberontak dan membiarkannya.
Saat itu langitnya sangat cerah, di musim hujan seperti ini cahaya matahari terlihat lebih menawan dari musim panas biasanya. Burung-burung di dekat sekolah juga bersiul lebih nyaring, membiarkan suaranya melantun ke atas langit.
Beberapa menit berlalu, akhirnya aku melepaskan ciuman tersebut, nafas kami sama-sama tidak teratur. Pandangan kami bertemu dan saling mengungkapkan isi hati masing-masing.
“Mm.. aku harus pergi mas.”
Suasananya jelas berubah menjadi canggung, aku langsung mengangguk membiarkan ia pergi begitu saja. Entahlah, aku juga tidak bisa berkata apapun, jantungku saat ini berdebar kencang, perasaanku tidak karuan.
**Ada kendala selama tiga hari sebelumnya jadi tidak bisa update... Jangan lupa vote dan likenya!
__ADS_1
Terimakasih**..