
Sepulangnya dari toko tersebut, kami tiba dirumah tepat jam 5 sore. Di rumah itu sendiri tidak ada siapapun kecuali para pelayan yang sedang bekerja, menurut mereka setelah aku bertanya, katanya kedua orang tuaku lagi pergi dan pulang esok hari.
Aku meletakan kantong belanjaan di meja, sedangkan tubuhku ambruk di sopa kelelahan.
“Mas, mau ambilin minum?” tanya Bu Lisa yang baru saja masuk rumah.
“Yang di kulkas, sayang.”
Bu Lisa mengangguk, tidak lama dia membawakan air jeruk dingin yang segera aku habiskan dalam sekali tenggak. Istriku tersenyum menyaksikannya, mungkin karena dia melihat gelagatku yang seperti orang kehausan.
Berbeda dengan Bu Lisa yang langsung ke kamar atas, aku hanya tiduran di sopa sambil menonton televisi. Entah berapa kali aku pindah-pindah salurannya, tidak ada yang seru.
Mungkin karena sedikit lelah, perlahan mataku memberat di sertai menguap yang lebar. Para pelayan yang tengah bersih-bersih di sekitarku tersenyum melihat bagaiamana majikannya mengantuk.
Karena tidak kuat akupun tertidur di sopa dengan baju seragam SMA yang masih melekat.
***
Jam 8 malam, aku terbangun dari tempatku tidur. Dengan langkah yang sedikit terhuyung-huyung aku berjalan ke atas tangga menuju kamar.
Ketika membuka pintu, itu bertepatan dengan keluarnya Bu Lisa dari kamar mandi. Dia hanya memakai handuk sampai paha, rambutnya yang panjang masih meneteskan air ke lantai.
Mataku yang awalnya setengah melek langsung terbuka lebar melihat penampilan istriku yang seksi. Aku meneguk ludah, memandang tubuh Bu Lisa dari bawah ke atas.
“Mas, jangan lihat!” secara reflek Bu Lisa menyilangkan tangan untuk menutupi bagian dada.
“Kamu seksi banget, Dek.” aku tersenyum jail, mulai melangkah ke arahnya.
“Mas, kamu jangan macam-macam!” Bu Lisa mengancamku galak, dia jelas sekali ketakutan.
“Macam-macam juga gak apa-apa.” Aku berjalan semakin mendekat.
“Aku baru mandi, Mas…”
“Ya aku tahu, tubuh kamu aja masih basah.”
Aku melingkarkan tangan pada pinggang Bu Lisa setelah jarak kami sudah dekat. Bu Lisa dengan sigap memegang handuknya agar tidak terlepas ataupun terjatuh.
“Kamu harum, Dek?” Aku tersenyum, mengambil anak rambutnya dan mengaitkan di telinganya.
“Jangan deket-deket, aku masih basah,” dia mengelak.
“Tidak apa, kebetulan aku juga belum mandi.”
“Aku mau berpakaian dulu!”
“Sebentar saja sayang,” kataku yang lansung mencium bibirnya sekilas.
“Adek baru mandi, Mas, memangnya kamu mau itu?”
Aku tertewa kecil, ternyata Bu Lisa sudah berpikir kesana. “Memangnya boleh?” godaku.
__ADS_1
“Kurasa Adek juga tidak bisa nolak.” Cicitnya.
Aku kembali tertawa lalu segera mencium keningnya lama. “Tidak usah, aku sekarang lapar, kamu bawakan handuk aja sama sediain makanannya.”
Bu Lisa mengangguk cepat, takut aku akan berubah pikiran dia langsung melepaskan tubuhnya dari pelukanku dan segera ke lemari untuk berganti pakaian.
Aku tersenyum atas gelagatnya, aku juga tidak menunggu lama dan segera pergi ke kamar mandi. Bu Lisa memang wanita yang sigap, sesudah aku mandi dan turun ia baru saja telah memasak, semua masakannya telah di sajikan di meja makan.
“Suapi ya, Dek?” kataku menyeringai.
“Gak malu apa di lihat sama pelayan, hm?” Bu Lisa menunjuk para pelayan yang berdiri mengitari meja makan kami.
Aku menggeleng, “Mereka juga pasti mengerti, malah mungkin mau di suapi sama kamu.”
Istriku tidak menjawabnya lagi, dia mulai memainkan sendoknya di piring lalu perlahan menyuapiku. Ah, masakan Kalisa memang paling luar biasa, aku hampir lupa kalau dia adalah seorang chef di restorannya.
Para pelayan tidak berani menyaksikan keromantisan kami, mereka juga menyadari saat ini majikannya butuh waktu berduaan.
Sesudahnya, kami kembali ke kamar. Jujur saja meski ada para pelayan di sini, tetapi saat ibu atau ayahku tidak ada di rumah. Kesan rumah ini menjadi sepi.
“Kamu jangan tidur malam-malam, Dek, sekarang harus jaga kesehatan. jangan main laptop dulu!”
Kalisa menghela nafas panjang, dia yang baru duduk di kasur dan mau membuka laptop langsung urung ketika aku menyadari niatnya. Bu Lisa mau tidak mau menurut.
“Dek?” aku ikut tiduran di sampingnya.
“Iya, Mas.”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sebelum membisikan sesuatu di telinganya. Wajah Bu Lisa segera merona.
“Boleh ya, Dek?” aku memasang wajah memelas.
Bu Lisa patah-patah mengangguk, wajahnya masih memerah dengan bisikanku tadi. Aku tahu, Bu Lisa juga saat ini malu-malu menginginkan hal itu.
***
“Raka!”
Suara teriakan mengema keseluruh ruang kelas. Suaranya terdengar bertenaga, kuat, dan penuh dengan emosi marah. Aku dengan malas membuka mata, siapa sih yang menganggu tidur siangku di kelas.
“Kamu sekarang keluar dari pelajaran ibu!” ucap guru itu dengan galak.
Aku yang masih mengumpulkan nyawa langsung tersenyum saat teriakan itu adalah Bu Lisa. “Ada apa, sayang.”
Seisi kelas pecah oleh tawa. Saat itulah aku baru menyadari bahwa aku membuat kesalahan, tadi sekali aku tidak sengaja tertidur di pelajaran Bu Lisa.
Bu Lisa melotot tajam dan mengusirku dari kelasnya, aku beberapa kali bernegosiasi agar tidak di keluarkan tetapi naas. Istriku itu dia adalah guru yang kejam, tidak peduli aku berkata seperti apa, dia tetap mengusir suaminya dari kelas.
Aku mendudukan pantat di kursi lorong kelas. Apes! Apes! Kenapa tadi aku berani tidur di jam Bu Lisa mengajar, pasti akhirnya jadi begini.
Hembusan angin kencang menerpa tubuhku dari lantai dua sekolah, tidak lama awan yang mendung di atas mulai menjatuhkan tetesan air, dalam kurung waktu yang singkat hujan deraspun terjadi.
__ADS_1
Aku hanya menatap langit sambil beberapa kali menghela nafas panjang. Ingatanku melayang pada beberapa bulan lalu saat ketika aku dihukum oleh Bu Lisa, saat itu aku dikeluarkan dari kelas gara-gara tidak mengajarkan tugas.
Bu Lisa masih jaim, waktu itu dia juga belum menyatakan cintanya padaku. Saat-saat aku bernostalgia, dari dalam kelas Bu Lisa muncul keluar.
“Hai, sayang…” aku menyapa dia terlebih dahulu, tersenyum. Tetapi Bu Lisa membalasnya dengan tatapan galak. Aku meneguk ludah, sepertinya kali ini istriku beneran marah.
Bu Lisa berjalan dan duduk di sampingku, rambutnya yang panjang tertiup oleh angin luar. Aku memasang senyum sebaik mungkin, saat ini istriku sedang hamil, emosinya benar-benar tidak stabil.
“Kamu marah, Ma?”
Bu Lisa tidak menjawabnya yang membuatku bingung dan tidak tahu bertindak seperti apa.
“Maap ya, Ma, aku tadi keceplosan bicara…” aku menggaruk kepala, benar-benar tidak mengerti harus mengatakan apa.
Bu Lisa masih tidak menjawabnya, dia terdiam tanpa menolehku, tatapannya masih tertuju pada hujan-hujan di depannya.
Ketika istriku menjadi sosok guru, auranya memang berubah menjadi ketegasan dan kewibawaan. Walaupun bagi orang lain bisa membuatnya canggung tetapi bagiku itu tidak berpengaruh.
Namun kali ini, karena alasan dia hamil, jujur saja aku menjadi canggung di dekatnya.
Saat kupikir dia beneran marah, saat kupikir kelakuanku telah menyinggung perasaanya, saat kupikir aku telah melakukan kesalahan yang fatal, tiba-tiba istriku menyandarkan kepalanya di pundakku.
“Maapkan aku, Mas…” lirihnya pelan.
Aku membulatkan mata. Apa yang tadi dia katakan, Bu Lisa meminta maap. Bukankah saat ini aku yang sedang salah.
Belum selesai dengan permintaan maapnya, mataku semakin melebar ketika menoleh ke arah wajah Bu Lisa. Kedua matanya berkaca-kaca, dia mengatakan minta maap lagi, Bu Lisa hampir menangis.
“Iya, Dek sudah,sudah, kamu jangan nangis gitu.” Apa yang terjadi pada Bu Lisa, bukankah tadi dia memasang wajah galak.
“Adek minta maap, Mas, hiks… hiks… Adek ngebentak Mas tadi.”
Aku menjadi gelapan. Oi! Bagaimana ini? Kenapa Bu Lisa menjadi menangis betulan.
“Iya sayang, cup, cup, kamu tidak salah kok. Udah yaa kamu jangan nangis.” Aku melirik area lorong kelas takut ada yang melihat kami. Suara tangisan Bu Lisa aku tidak terlalu memikirkannya karena suara hujan terdengar lebih keras.
Kelas kamipun terlihat damai, murid-murid di dalam sana pasti tengah mengerjakan soal matematika dari Bu Lisa sebelum dia kesini.
“Kamu jangan marah, Mas, jangan tinggalin Adek…” tangisnya mulai mengeras. Aku mengigit bibir cemas.
Tanpa berpikir panjang apapun, aku menggenggam dagunya ke atas hingga menghadap wajahku. Kukecup bibir tipisnya, Bu Lisa memejamkan mata, akhirnya tangisannya perlahan mereda.
~Tamat~
Ups...Becanda!!
__ADS_1