
Aku tidak tahu persisnya sudah berapa jam kami berhubungan badan, yang pasti ketika aku terbangun kembali matahari sudah meninggi di atas sana.
Bu Lisa sudah tidak ada dikasur ketika aku membuka mata, sebagai jawabannya aroma masakan tercium harum dari dapur. Aku terlebih dahulu mandi sebelum menuju kesana.
“Selamat pagi, Mah…” Aku langsung memeluk perutnya manja disaat dia masih sibuk memasak.
“Mas sudah bangun, Adek baru aja mau ke kamar tadi.” Bu Lisa tersenyum manis, mengelus wajahku yang kini ada dipundaknya.
“Kamu lagi masak apa, hm?”
“Seperti biasa, Mas, kesukaan kamu, udang saus tiram…”
“Wihh, enak nih…” Aku tersenyum lebar, mengecup pipi putihnya. “Terimakasih, Dek, kalau gini sih Mas jadi semangat lagi kalau dilanjut~”
“Mas Raka jangan ngebahas gituan!” Bu Lisa dengan cepat memotong.
Aku terkekeh, dasar, padahal disini hanya kami berdua, tidak ada siapa-siapa, tapi tetap saja bagi Bu Lisa hal itu memalukan untuk diceritakan.
Sambil tersenyum aku membisikkan sesuatu pada telinganya. “Semalam kamu mainnya bagus banget lohh, Yang...”
Bisikan itu seperti mantra sihir yang membuat wajah Bu Lisa seketika memerah seperti kepiting rebus.
“Mas, ih…”
Bu Lisa membalikan tubuhnya dan hendak mencubit perutku, sayangnya sebelum itu terjadi aku segera mengambil jarak lalu menjulurkan lidah padanya.
“Wee…Gak kena…”
“Mas Raka! Awas aja kalau ketangkep Lisa cubit beneran!” Geramnya.
“Emang Papah takut gituh? Sini kalau bisa. Wee…”
“Mas ih... Kamu pasti akan menyesal.”
Bu Lisa mematikan kompor terlebih dahalu sebelum mengejarku. Aksi lari-larian tak dapat dihindari, alhasil, kami malah kejar-kejaran dirumah.
Aku memutari meja makan atau sopa untuk menghindari Bu Lisa. Meski istriku seperti sedang marah kenyataanya itu hanya pura-pura saja sebagai respon dari cintanya.
Hampir sekitar 3 menit kami berlari tetapi dia masih tak dapat menyentuhku. Aku kembali mengitari sopa tengah rumah, aku berada disisi lain sedangkan Bu Lisa berada diseberangnya.
“Mas sini!” Kesalnya.
“Gak mau, nanti kamu cubit aku lagi…” Aku tertawa kecil.
Ketika Bu Lisa hendak bergerak lagi, tiba-tiba ia mendesis kesakitan. Lutut istriku ternyata mengenai sudut meja yang tajam hingga membuatnya tergores dan sedikit berdarah.
Aku segera menghampiri, melihatnya lebih jelas. “Kamu gak apa-apa, Yang?”
“Cuma luka kecil aja, Mas.” Bu Lisa duduk disopa untuk melihat lukanya.
“Tunggu dulu, Dek…” Aku terlebih dahulu mengambil kotak P3K didapur, setelah kembali kutempelkan plaster luka pada lututnya seraya meniup-niup pelan. “Maap, ya, gara-gara Mas kamu jadi terluka.”
__ADS_1
“Eh, enggak kok Mas, inikan gara-gara Adek yang ceroboh.” Bu Lisa menggelengkan kepala cepat, tidak mau aku merasa bersalah.
“Sakit gak?”
“Enggak, cuma goresan kecil…”
Aku tersenyum, tanpa aba-aba langsung mengecup bibir merahnya yang cukup membuat pipinya hangat sekaligus memerah.
“Hati-hati, ya, Mas khawatir…” Aku mengelus pucuk kepalanya.
“I-iya.”
Suara Amelia menangis terdengar dari kamar.
“Biar aku aja, Mah.” Aku tersenyum hangat, menahan Bu Lisa yang refleks akan berdiri. Kubawa puteri kami dari keranjang bayi lalu diserahkan pada istriku.
Amelia langsung tenang digendong ibunya ketika disusui, sepertinya puteriku ini sedang kehausan, terlihat jelas ia sangat bersemangat. Hampir setengah jam berlalu barulah Amelia kekenyangan.
“Eh? Udah kenyang, Sayang?” Tanyaku pada Amelia.
“Sepertinya sudah, Mas.” Bu Lisa kembali membetulkan pakaiannya, ia menatap Amelia dengan pandangan keibuan serta penuh kasih sayang. “Makin besar aja, ya, Amelia ini…”
Pandangan Amelia bertemu dengan ibunya, sejekap ia tertawa dengan menggoyangkan tangan dan kakinya.
“Aiyo, gemesnya puteri mamah ini.” Bu Lisa mencium bibir Amelia sambil menepuk-nepuk badannya pelan.
Ciuman itu justru membuat Amelia tambah senang dan tertawa. Aku menyaksikan itu hanya terkekeh kecil sebelum ikut mencium bibirnya juga. “Sayang sama kamu, Amelia...”
“Kita bawa Amelia keluar, yuk, Ma?”
“Yaudah, Ayuk…”
***
“Itu kupu-kupu, Sayang, indahkan?”
Aku mengambil alih Amelia setelah beberapa saat, menggendongnya dari depan. Ketika ada kupu-kupu hinggap di salah satu tanaman pot, Amelia begitu antusias melihatnya sehingga aku memperkenalkan serangga itu.
Kami keluar tidak jauh-jauh pergi, hanya dihalaman rumah saja.
Amelia memiringkan kepalanya dengan manis, ia memakai bondu kecil dikepalanya, berpakaian serba pink sehingga terlihat begitu cantik.
Saat aku hendak mendekatinya, kupu-kupu itu terbang ke arahku, tanpa sengaja, kupu-kupunya hinggap dihidung Amelia beberapa detik sebelum ia terbang ke arah yang lain.
Hinggapnya kupu-kupu itu justru membuat Amelia ketakutan lalu tak lama ia menangis.
“Cup… Cup… Sayang jangan takut, Papa ada disini…” Aku berusaha menenangkannya, mengendongnya lebih pelan. “Kupu-kupu itu jahat, ya? Nanti Papa usir biar tidak menggangu Amel.”
“Loh, kok nangis, Pah?”
Bu Lisa baru saja ke dapur untuk mengambil air minum, baru beberapa menit dia pergi Amelia sudah menangis padahal sebelumnya Amelia terlihat begitu ceria.
__ADS_1
Aku menceritakan peristiwa kupu-kupu yang hinggap dihidung Amelia, Bu Lisa seketika tertawa kecil mendengar semuanya.
“Tenang, Sayang, Mamah kan ada… Nanti Mamah usir kupu-kupu jahat itu.” Bu Lisa memasang wajah tegas tetapi tetap tersenyum agar Amelia tidak takut.
Aku tersenyum ketika istriku menghibur Amelia, silih berganti agar puteri kami tidak menangis lagi. Syukurlah, tidak membutuhkan waktu lama hingga Amelia ceria kembali.
“Nah gitu dong, anak Papah kan memang pemberani.” Aku mengecup pipinya.
“Hihi, sikap Amelia sepertinya mirip sepertimu, Pah.” Celetuk Bu Lisa, tertawa kecil.
“Seperti aku?”
“Iyah, waktu Papah kecil suka seperti itu sama Mamah, nangisnya akan berhenti kalau dihibur…”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, lupa kalau dulu aku juga pernah diasuh Bu Lisa ketika usia 4 tahunan.
“Ah, manisnya keluarga Pak Raka sama Mbak Lisa…”
Tiga orang ibu-ibu sekompleks, sedang membawa kresek berisi sayuran menyapa kami. Aku dan Bu Lisa tersenyum sebagai tanggapan pada mereka.
“Lagi main sama anak ya, Pak?” Tanya salah satu ibu-ibu padaku.
“Begitulah, Bu. Jalan-jalan.”
“Owalah gitu, ya. Duhh, udah cantik dedek bayinya, siapa sih namanya?”
“Amelia...”
“Oh, Amelia, ya, nama yang cantik persis seperti ibunya…”
Sebenarnya ibu-ibu itu tulus memuji tetapi Bu Lisa yang ada disampingku tersipu senang dengan pujian itu. Aku terkekeh kecil melihat gelagat istriku.
Ibu-ibu itu tidak berbasa-basi lama denganku ataupun Bu Lisa, mereka harus pergi memasak dirumahnya. Aku melambaikan tangan ketika mereka pergi.
Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, keluargaku di area kompleks ini sangat dihormati bahkan Pak Rt sekalipun. Kalian mungkin sudah tahu alasanya karena status keluargaku yang tak biasa.
Aku kembali menatap Amelia yang masih kugendong, teringat bahwa dia juga kini adalah keturunan 12 Keluarga Terpandang. Malah, ia mewarisi dua keluarga sekaligus, keluargaku dan
keluarga Pak Harun.
“Kenapa, Mas?” Bu Lisa bertanya heran.
“Enggak apa-apa, cuma heran aja kok bisa ya, Amelia sangat cantik seperti kamu.” Aku tertawa kecil, mulai menggodanya.
Wajah Bu Lisa tersipu lagi, menahan senyum. “Papah juga ganteng, kok.” Cicitnya pelan.
Aku tertawa kecil, mencium pipi putihnya. “Semakin cinta aja Mas sama kamu, Lisa.”
“A-adek juga.” Balasnya malu-malu.
Aku tersenyum, mengajak Bu Lisa kembali ke rumah. Aku hampir lupa kalau tadi belum makan.
__ADS_1