
Aku memegang perut yang terus merasa mual, ini sudah hampir ke dua kalinya aku bolak-balik ke WC. Sial memang, berdiri lima jam dengan baju basah langsung membuatku ambruk esok paginya.
“Mas, ini air angetnya” Bu Lisa menyodorkan gelas dengan wajahnya cemas.
“Terima kasih.” aku tersenyum lemah sambil meminum gelas tersebut.
Rona wajahku sudah lama menjadi putih pucat, tenagaku juga terasa lemas karena sering muntah-muntah, jadi untuk hari ini aku masih absen tidak ke sekolah dan meminta agar izin sakit.
Bu Lisa juga tidak ke sana, dia memberi pesan kepada gurunya lainya bahwa ada keluarganya yang sakit yang harus di rawat. Dia sengaja berbohong karena ingin merawatku di rumah
“Mas bawa ke dokter yah?” itu adalah bujukan dia kesekian kalinya selama pagi ini, dan selama itu juga aku hanya menggelengkan kepala, tidak mau.
Dari awal aku memang tidak menyukai yang namanya rumah sakit. Tempat itu selalu sesak oleh orang-orang, apalagi bau khas obatnya yang membuatku tidak betah berlama-lama di sana. Jangankan untuk berobat, mampir saja aku tidak mau.
Bu Lisa hanya bisa menghela nafas panjang, pada akhirnya dia tidak memaksaku untuk kesana, dia tahu sifat ku yang keras kepala yang tidak mudah untuk membelokan keputusan.
“Aku akan mengambil air lagi di dapur, air dalam baskom sudah dingin.” katanya yang berlalu pergi.
Sepulangnya kembali, kompresan yang berada di dahiku kembali di ambil olehnya, ia memasukan ke air hangat, memerasnya, lantas setelah itu menempelkan kembali.
Bu Lisa sudah 10 kali melakukan hal tersebut secara berulang, tidak pernah absen, melakukannya secara rutin menjaga agar kain kompresannya tetap hangat.
Walau dalam keadaan setengah sadar, aku selalu menyempatkan untuk berterimakasih padanya. Dia benar-benar sangat peduli merawatku sama layaknya seperti ibuku waktu dulu aku sakit.
“Jam berapa?” aku bertanya serak di kala bangun tidur, setiap kali dia memberikan obat padaku maka setelahnya aku akan jatuh tertidur karena efek samping obat tersebut.
“Hampir jam 2 mas” dia menatapku tersenyum, wajah cantiknya langsung terukir indah saat aku menatapnya.
“Dek?” panggilku di sela keheningan.
__ADS_1
“Iya, Mas?” dia langsung beralih pandangan yang semula melirik hp dipegangnya.
“Terima kasih ya, Dek.” Kataku tulus tersenyum. “Karena kamu telah merawatku.”
Bu Lisa menggeleng, “Tidak perlu berterimakasih, ini adalah kewajibanku untuk merawatmu, aku adalah istrimu, Mas.”
Astaga! apakah aku salah dengar? Itu adalah kata terindah yang dilontarkan dari bibirnya di sepanjang kami menikah. Apakah saat ini dia mencintaiku? Hatiku masih bertanya-tanya.
Aku tersenyum hangat, hatiku berdetak hebat, sedangkan hatiku sudah terebut olehnya. Aku merentangkan kedua tangan, memberikan kode pada Bu Lisa untuk menghampiri.
Dia terlihat ragu-ragu mendekatiku walau pada akhirnya tetap menuruti dan membiarkan tubuhnya aku peluk. Tidak terlalu lama, sekitar tiga menit ia sudah meminta agar melepaskannya, katanya gerah.
Aku hanya terkekeh lalu melepaskannya, jelas dia berbohong, lihatlah! Wajahnya saat ini bersemu merah tertunduk malu. Kadang ada kalanya dia teringat bahwa dia adalah seorang guru, dan itu adalah garis besar dari sifatnya.
***
Kupikir demam itu akan bertahan satu hari saja maka lantas esoknya sembuh. Ternyata dugaanku salah. Hei, besok paginya aku malah masih terbujur kaku di ranjang, kepalaku selalu terasa sakit saat beranjak dari kasur.
“Kalau kamu mau ke sekolah, ke sekolah saja, Dek... Aku sudah baikan kok disini."
Aku tidak berbohong dengan ucapanku, walau memang sebenarnya aku masih sakit, tapi jika di bandingkan kemarin aku sudah lebih mendingan sekarang.
Dia menggeleng tegas “Tidak Mas, mana bisa aku mengajar kalau nanti enggak bisa konsentrasi.” Itu yang ia tuturkan agar meyakiniku untuk tidak lagi bertanya hal yang sama.
Baiklah, jika itu keputusannya aku tidak akan bertanya lagi, Toh sebenarnya aku juga menginginkan dia disini, menikmati waktu untuk berdua.
Setidaknya itu yang aku pikirkan, tapi apalah daya, dunia ini mempunyai kenyataan, sedangkan aku manusia hanya mempunyai rencana, Baru 10 menit setelah minum obat aku sudah tertidur lelap, omong kosong! apanya yang menikmati waktu berdua.
Syukurnya obat itu bekerja dengan baik di tubuhku, saat aku bangun kembali. Demam panas yang aku alami sudah turun di banding sebelumnya, rasa pusing juga tidak separah tadi pagi.
__ADS_1
Aku menatap sekeliling, mencari keberadaan Bu Lisa. Tidak biasanya dia tidak ada. Aku bangkit dari kasur setelah lamanya berbaring, juga keluar kamar dengan langkah yang masih terhuyung-huyung.
Ternyata Bu Lisa memang tidak ada di rumah saat ini setelah aku mencarinya dengan berteriak-teriak. Aku mendudukkan tubuh di sopa, menghela nafas panjang, kemana Bu Lisa ya?
Baru saja aku hendak ke kamar untuk tiduran kembali, namun lamat-lamat ada suara mobil dari luar, saat melihatnya, ternyata mobil tersebut adalah mobilnya Bu Lisa.
“Kamu dari mana?” aku menatapnya sesaat sampai tidak menyadari ada kresek besar yang ia bawa “Kamu habis berbelanja?”
Dia mengangguk. “Iya Mas, bahan-bahan di dapur sudah hampir habis. Jadi aku berangkat untuk berbelanja tadi. Niat awalnya sihh mau minta izin terlebih dahulu saat berangkat, tapi karena Mas tertidur jadi aku enggak tega membangunkannya.”
Aku tersenyum tipis “Maap ya Dek, kamu pasti keberatan harus berbelanja sendiri, membawa kresek besar seperti itu.”
“Enggak apa-apa.” dia menunda plastik besarnya di meja, lantas menghampiriku dan menyentuh kening “Panasnya sudah turun?”
Aku mengangguk, lantas menggenggam tangannya yang tadi terjulur lalu ditarik hingga ia jatuh duduk dipahaku. Posisi ini sangat dekat dan intim, membuat pipinya menjadi merah.
“Bentar ya, Dek” Aku berbisik pada telinganya, mencegah ia yang ingin lepas.
Untungnya rok panjang dia lebar, jadi ketika diposisi seperti ini ia tidak kesusahan. Selepas itu aku menggenggam ke dua tangannya dengan lembut, menciumnya dengan penuh cinta.
“Terimakasih ya Dek, karena kamu telah merawat Mas. Jujur saja Mas sangat senang mempunyai istri sebaik dirimu.”
Bu Lisa tidak berkata apapun setelah mendengarnya, justru malah dia langsung menenggelamkan wajah di dadaku, tepatnya tidak ingin agar aku melihat rona pada pipinya.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah imutnya, mengelus punggungnya dengan lembut lantas berbisik “Aku cinta kamu Kalisa” tuturku halus.
Dia lagi-lagi tidak menjawab apapun, namun responnya sudah cukup sebagai jawabannya, dia memelukku lebih erat lagi.
Silahkan Like dan Votenya, bila perlu tolong katakan kekurangan ceritanya ya...
__ADS_1
Terima kasih..!!