Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 61 — Percakapan Kecil


__ADS_3

“Mas, teh angetnya mau?” Bu Lisa nongol dari depan pintu membawa secangkir teh.


“Mau Dek. Sini kamu duduk dulu, temenin Mas.” Aku menepuk samping kursi.


Bu Lisa saat ini terlihat cantik sekali, dia memakai rok selutut dengan baju lengan pendek yang sama-sama berwarna biru langit. Wajahnya juga bermake-up apalagi bagian bibirnya yang merah menggoda.


“Kamu kenapa sih mandang-mandang Adek kayak gitu, gak enak tahu di lihatin.” Bu Lisa menggerutu saat sudah duduk di sampingku.


“Kamu cantik, Kalisa.” Aku menghadapkan posisi mengarahnya, lalu mencium pipi dia singkat. “Aku cinta kamu, Adek Kalisa.”


Wajah Bu Lisa memerah, ia membalikan tubuhnya ke arah yang lain, sengaja biar aku tidak melihatnya.


“Adek itu orangnya pemalu ya?” Kataku menggodanya, ”Masa udah nikah 6 bulan juga masih aja malu-malu sama Mas, padahal kalau di sekolah kamu itu orangnya gal~ eh, maksudnya tegas.”


Huh… Hampir saja aku keceplosan menyebut istriku galak, aku hampir lupa kalau dia itu guru killer yang kejam di sekolah.


Bu Lisa masih memalingkan wajahnya, baru setelah wajah kembali putih semula dia menatapku kembali. “Adek itu gak galak, Mas.” Ucapnya mendesis ngambek.


Aku tersenyum tipis, kukira dia tidak akan menyadari ucapan tadi. Salah satu alasan kenapa aku gak mau nyebut istriku guru galak adalah karena dia benci di katakan demikian. Padahalkan faktanya memang seperti itu, istriku saja yang tidak menyadari dirinya guru galak.


Waktu jam tujuh malam, kami bercakap-cakap di teras rumah saling becanda dan mengobrol, tidak lupa sesekali aku menggodanya, membuat pipinya menjadi merah.


“Bukan main! Lagi pacaran ternyata… “bapak-bapak berjumlah tiga orang lewat di depan rumahku, mereka tertawa melihat kami yang saling menggelitiki.


“Mau kemana, Pak?” Aku tersenyum ramah, menyudahi candaan dengan Bu Lisa.


“Ke Pos Ronda Mas Raka, nongkrong. Mas Raka mau ikut?” tanya bapak-bapak yang memakai sarung.


“Enggak Pak, lagi banyak tugas.” Jawabku berbohong.


Tentu saja aku akan menolak, bagaimana mungkin aku mau mengobrol dengan orang yang bukan seusiaku, apalagi yang di atasnya. Kalian harus tahu bahwa obrolan orang tua seperti itu selalu membosankan dan tidak cocok denganku.


“Mau mampir dulu, Pak, ke sini?” Kini Bu Lisa yang berbicara, tersenyum ramah pada mereka.


“Tidak Mbak Lisa, kami lagi buru-buru,” jawabnya. “Mari Mas Raka, Mbak Lisa.”


Bapak-bapak itu berpamitan pergi, melanjutkan langkahnya ke Pos Ronda.

__ADS_1


Pos Ronda di kompleks kami bukanlah berfungsi untuk menjaga keamanan, melainkan hanya tempat tongkrongan saja seperti yang di katakan bapak-bapak tadi.


Karena kami berada di kompleks perumahan tentu saja ada satpam penjaga di gerbang, jadi tidak harus ada kegiatan ronda keliling.


Tetangga-tetangga di sekitar rumahku tahu bahwa aku dan Bu Lisa adalah sepasang murid dan guru yang telah menikah. Walaupun tetap saja terkesan aneh didengar, mereka tidak berani menyinggung tentang hal itu.


Jika aku boleh jujur, sebenarnya orang-orang yang berada di kompleks ini sangat segan kepada keluarga kami, mereka amat menghormati aku dan Bu Lisa.


Alasanya sangat jelas, itu karena status keluargaku yang tidak biasa, sebab aku berasal dari 12 keluarga terpandang. Yang status keluargannya tidak bisa di anggap remeh oleh orang sekitar.


12 keluarga terpandang memang akan di segani di kota ini, jangankan kepala keluarganya, semua keturunan cucu-cucunya juga bakal di hormati.


“Oh, iya sayang, masalah Nina itu gimana ya?” Aku bertanya setelah melihat bapak-bapak itu telah menghilang.


“Tenang saja Mas, Nina itu bisa mengerti dan paham apa yang terjadi dengan kita.”


Aku menghela nafas panjang, semoga ucapan Bu Lisa benar bahwa Nina bakal seperti itu.


“Kok bisa ya, Dek, Nina menyukaiku. Padahal aku pernah memperkenalkan diri bahwa aku tuh baru masuk SMA dan berumur 16 tahun. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh hati sama usia di bawahnya?”


“Itu mungkin Mas, dan kenapa harus tidak mungkin… Pada dasarnya yang pertama kali dilihat wanita itu bukan umur si laki-laki tersebut tetapi cenderung kepribadiannya.


“Berbeda dengan laki-laki yang bisa memutuskan suka atau tidaknya dengan melihat fisik perempuan, wanita tidak demikian.


“Wanita akan mulai menyukai seseorang lewat kepribadiannya, apakah laki-laki itu orangnya baik, sopan, ramah, cerdas, atau apakah laki-laki itu orangnya galak, pemarah, pendiam. Baru setelah mereka mengonfirmasi semua data itu mereka akan memutuskan suka atau tidak pada laki-laki tersebut.”


“Maksudnya?” tanyaku yang masih tidak mengerti.


“Nina menyukai Mas Raka, karena mungkin ada kepribadian yang Nina sukai dari dalam diri Mas.” Jelas Bu Lisa sambil meminum teh yang tadi dia bawa.


“Kepribadian disukai? Kepribadian apa?”


“Adek tidak tahu, mungkin Mas orangnya baik sehingga Nina bisa jatuh hati, atau Mas itu orangnya cerdas jadi dia menyukai Mas. Intinya, setiap wanita mempunyai kriteria masing-masing pada diri mereka tentang orang yang dia sukai.”


Aku memangut-mangutkan kepala, sok mengerti. “Hebat juga kamu, sayang, aku gak nyangka kalau kamu itu bisa ‘bucin’.”


“Bucin?” Bu Lisa mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


“Ah, tidak-tidak, itu hanya istilah anak remaja saja.” Aku tersenyum kikuk, kenapa pula aku mengatakan kata-kata aneh seperti itu. “Terus terus, bagaimana pendapatmu dengan laki-laki? Bagaimana cara dia menyukai perempuan?”


Tidak seperti biasanya, aku menjadi lebih antusias dengan topik ini.


“Mm… Adek tidak terlalu mengerti Mas, tapi kata orang lain bilang laki-laki itu orangnya pemakai logika. Mereka bisa menyukai perempuan hanya dengan tatapan saja, misalnya, dengan ketertarikan lewat paras wajah.” Bu Lisa terdiam, ia kembali meminum tehnya lagi.


“Terus, sayang.” Aku bertanya lagi.


“Kok terus sih… kenapa pembicaraannya jadi psikologi gini, bukannya tadi kamu nanya tentang Nina?”


Aku nyengir lebar, aku hampir lupa topik itu saking antusiasnnya. “Ya gapapa, itung-itung pembelajaran.”


Bu Lisa menghela nafas panjang. “Kesimpulannya, laki-laki itu cenderung memakai logika di banding perasaanya. Sebaliknya, perempuan tidak demikian, mereka cenderung menggunakan perasaan di banding logikanya.”


“Jadi berkebalikan gitu ya, Dek?”


“Yah… kurang lebih seperti itu.” jawab Bu Lisa tersenyum hangat.


Tak terasa beberapa menit berlalu, kami yang awalnya di teras harus pindah kedalam rumah saat merasakan angin dingin yang menabrak tubuh. Aku mengajak Bu Lisa kedalam kamar, walau malam masih belum larut, mataku sudah tak kuasa mengantuk.


“Sini Dek, Mas peluk…” aku menepuk-nepuk kasur.


Bu Lisa yang sebelumnya telah berganti baju kemudian tiduran di sampingku, ia memposisikan tubuhnya saling berhadapan.


Aku mencium pipinya sekilas dan terakhir bibir merahnya, dia lagi-lagi tersipu malu sedangkan aku yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.


“Ternyata benar, guru cantikku ini memang pemalu.” Aku mengelus punggungnya lembut, membiarkan ia bersembunyi di dadaku.




***Maaf ya updatenya agak lama, InsyaAllah besok-besok tidak sibuk lagi dengan urusan saya. InsyaAllah***...



***Like dan Votenya***

__ADS_1


__ADS_2