Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 98 — Hubungan


__ADS_3

“Cepat, Raka, buka bajumu!” Rena menyuruhku dengan setengah jengkel.


“Tidak mau, sudah kubilang aku juga bisa!” aku membalasnya yang tak kalah jengkel.


“Dasar keras kepala! Memangnya kau bisa menyentuh punggungmu? Tidak kan. Cepat atau kupukul punggungmu itu! Aku tidak punya waktu lagi, aku harus kembali ke kelas.”


“Dari awal aku tidak pernah meminta bantuanmu, kalau mau pergi ya pergi saja…”


Rena berdecak kesal sebelum memukul punggungku dengan telapak tangan. Aku mengaduh kesakitan.


“Kau gila! Kau ingin membuat tulang punggungku patah!”


“Makannya cepat buka!”


Aku mendengus, dia juga sama keras kepala. Sudah kubilang aku tidak butuh bantuannya kenapa masih keukeuh ingin membantu. Aku menghela napas sejenak. Dari pada ribut terus yang tidak ada ujungnya, aku mengalah dan membuka kaos olahragaku.


Rena sejenak membuka tutup mulutnya ketika melihat tubuhku ter’ekspos didepannya, ia kemudian tersenyum seperti mengerti tentang suatu hal.


“Untuk laki-laki diusia remaja, kau mempunyai tubuh yang gagah.” Ujarnya mengamati lekuk tubuhku, seperti seorang peneliti yang baru menemukan penemuan. “Bagaimana bisa otot-ototmu terbentuk sempurna seperti ini, apakah kau sering berlatih beladiri setiap hari?”


Aku berdecak pelan, terlalu malas membalasnya. “Kau mau membantu atau menilai tubuhku? Kau itu wanita, jangan bertingkah seperti laki-laki yang mesum saat sedang mengintip.”


Rena melotot lalu menepuk punggungku lagi.


“Aw… kau bodoh.”


“Kau yang bodoh! Berani memanggilku seperti itu! Aku ini wanita baik-baik. Aku tadi cuma memuji.” Rena mendengus, kemudian berjalan kebelakangku. “Nah, lihatkan, dipunggungmu ada sedikit lebam. Kau mana bisa mengobatinya sendiri.”


Aku menghela napas sejenak, membiarkan Rena mengobati luka lebam dengan kain yang sudah dicelupkan air es.


Kami berdua saat ini berada di UKS.


Setelah kejadian di atap, aku merasakan punggungku sangat sakit dan nyeri. Badanku tidak bisa berposisi tegak karena tertimban kayu tadi, membuat jalanku seperti kakek-kakek yang membungkuk.


Awalnya aku berniat ke UKS sendirian, tetapi entah kenapa Rena menyusul setelah beberapa menit aku disana. Rena beralaskan ingin menyembuhkan luka pada tangannya yang sedikit lecet, tetapi anehnya, sekarang dia malah begitu keras kepala ingin membantuku.


“Aw~ Bisakah kau sedikit lembut menyentuh lebamnya?”


“Ini sudah pelan. Tahan sedikit…” Rena menggerutu. “Kau ini lemah sekali jadi lelaki.”


Aku mendengus, memang ini terasa sakit. Dianya saja yang tidak merasakan.


“Sudahlah, aku mau bertanya sesuatu padamu.”


“Nanya apa?” balasku ketus.


“Tentang petarungan tadi, bagaimana bisa kau mempelajari teknikku dalam sekali lihat?”


Aku terdiam dengan pertanyaan dia yang tiba-tiba, bingung harus menjawabnya seperti apa. Pada dasarnya aku hanya melihat gerakan dia lalu mempraktekkannya sepersis mungkin. Ibaratnya seperti belajar menulis waktu kecil dulu, tinggal melihat dan menyalinnya.

__ADS_1


Melihatku terdiam dan tidak menjawabnya, Rena melanjutkan ucapannya.


“Aku menamai teknik itu dengan ‘Tendangan Tarian Rembulan’. Salah satu teknik yang aku ciptakan sendiri. Butuh hampir 2 bulan untuk latihan gerakannya, dan 1 bulan untuk menyempurnakannya.”


Rena memasukan kainnya lagi ke wadah air es, lalu kembali mengompres punggungku.


“Aku sebenarnya cukup terkejut saat kau bisa menangkis dan menghindarinya, tetapi aku jauh lebih terkejut ketika kau bisa melakukan teknikku dalam sekali lihat. Asal kau tau, kebanyakan lawan-lawanku saat berlomba selalu kalah dengan teknik itu. Tapi kau? Anak sekolahan biasa membuatku bertekuk lutut?” Rena berdecak berulang kali sambil menggelengkan kepala.


“Kupikir disekolah ini tidak ada lawan yang sebanding denganku, semua murid-murid kuanggap sebagai orang lemah. Aku juga belum pernah kalah dalam pertandiangan kejuaran, sampai-sampai aku berpikir bakatku adalah yang paling langka dan tertinggi.


“Namun pikiran itu terbantahkan ketika bertarung denganmu, rasa-rasanya dibandingkan dengan diriku, bakatmu jauh diatasku.”


Aku menggaruk pipi mendengarkannya. Sejak kapan wanita ini banyak bicara? Bukankah dia selalu bersikap dingin padaku ketika bertemu? Kenapa dia jadi bersikap sok akrab?


“Jadi, bagaimana kau meniru gerakan teknikku?” Rena mengakhiri ceritanya dengan bertanya.


“Aku tidak tahu.” Kujawab seadanya.


“Kenapa tidak tahu? Bukankah kau yang menirunya?”


“Ya, dan hanya sebatas itu yang kutahu.”


Mulut Rena berkomat-kamit menahan kekesalannya. Ia sesekali menekan bagian lebamku agar aku mengaduh, tetapi diriku justru tertawa, merasa menang telah membuatnya kesal.


“Lupakan saja…Lalu bagaimana dengan teknik menghilangmu tadi?” Rena bertanya ke hal yang lain.


“Menghilang? Aku tidak bisa menghilang.”


“Cuma cara simpel, aku hanya bergerak cepat saja.”


“Tidak mungkin! “Rena membantah. “Jika itu gerakan biasa yang cepat, mungkin aku bisa melihatnya!”


Sepertinya dia sangat penasaran dengan hal ini. Aku bisa merasakan nada suaranya yang mulai serius dan meninggi.


Aku menghela napas sejenak. “Itu adalah sebuah teknik beladiri.”


“Teknik beladiri?”


“Ya, sama sepertimu, aku juga punya teknik khusus yang aku ciptakan. Gerakan saat aku berpindah tempat mempunyai polanya sendiri, tidak bisa dijelaskan sederhana dengan berlari cepat begitu saja.”


“Jadi begitu, ya?” Rena mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Meski aku tidak terlalu mengerti penjelasannya tetapi jika itu sebuah teknik beladiri, maka itu tidak mustahil.”


Aku tidak menanggapinya lebih lanjut, karena tidak mau lebih akrab lagi dari ini. Bagaimanapun aku sudah tahu sifat Rena yang kadang berubah-rubah, sikap dia yang akrab membuatku sedikit waspada.


“Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan?”


“Lagi?” Aku menoleh kebelakang dengan kerutan alis. Bukankah ini seperti diwawancara.


“Iya, aku hanya ingin bertanya, kenapa wajahmu dari tadi memerah?”

__ADS_1


Aku memalingkan wajah segera. Sial! Kenapa dia bisa menyadarinya.


***


Rena akhirnya selesai mengompres lebam dipunggungku setelah 10 menit lamanya. Dia meletakan wadah dan kainnya dilaci UKS, sedangkan diriku kembali memakai baju olahraga.


“Seperti yang kau katakan sebelumnya, aku telah menang dipertarungan tadi, setelah ini hubungan kita selesai, tidak ada lagi masalah diantara kita.” Aku mengingatkan dia tentang janji di atap.


“Baru pertama kali ini ada seseorang yang tidak mau dekat denganku, apakah karena aku telah mengetahui rahasiamu?” Rena mendengus, mengibaskan rambut panjangnya.


“Aku tidak munafik, alasanku tidak mau ada hubungan denganmu karena takut kau akan menyebarkan pernikahanku.”


“Dari padanganmu, sepertinya aku ini orang jahat, ya?”


“Kurang lebih jika dalam sebuah novel, kau itu kuanggap seperti pelakor yang menghancurkan rumah tangga seseorang.”


“Kau…” Rena menunjukku dengan geram. “Lupakan saja, masalah diantara kita telah selesai tetapi jika itu hubungan, kurasa tidak.”


“Apa maksudmu?”


“Intinya hubunganku denganmu sudah terikat. Itu berarti kita tak akan saling menjauh.”


Sebelum aku bertanya lebih jauh Rena sudah pergi tanpa pamit sedikitpun, ia melambaikan tangan dan hilang dari belokan pintu. Aku mengumpat dalam hati, gadis itu selalu saja membuatku penasaran.


Setelah itu aku pergi kelapangan untuk memberikan penjelasan kepada guru olahraga kenapa lama disana. Aku memberikan alasan palsu, mengatakan jatuh ditangga sehingga harus ke UKS terlebih dahulu, dengan menunjukan luka lebam dipunggungku, Pak guru langsung percayainya.


***


“Mas, kamu sudah memberitahukan kita akan pindah, kan?”


Aku yang saat ini bersandar di kepala ranjang, sedang memainkan game online di HP langsung mengangguk. “Dari kemarin, Dek, Ayah sama Mamah sudah setuju kalau kita akan kembali kerumah kompleks lagi. Katanya harus hati-hati saja merawat Amelia, juga nanti Mamah akan sering kerumah kita.”


“Sebelum ke kompleks, kita ke rumah Adek dulu ya, Mas. Adek mau mengambil baju seragam, ini sudah kekecilan.”


Yang dimaksud seragam oleh Bu Lisa adalah pakaian gurunya, sebentar lagi istriku akan selesai cuti hamil, artinya ia akan kembali mengajar disekolah.


Aku mengalihkan pandangan dari HP lalu melihat istriku, alangkah terkejutnya saat ini Bu Lisa sudah memakai seragam dinasnya, lengkap dengan kameja hitam dan rok selututnya yang membuat dia terlihat anggun.


Aku meletakan Hp begitu saja dan langsung mendekati dia. Bu Lisa yang tengah bercermin dilemari merasakan ada tangan yang melingkar diperutnya.


“Kamu cantik, Kalisa.” Aku melatakan dagu dipundaknya.


“Bajunya sudah kekecilan, Mas, Adek harus ngambil lagi di rumah.” Bu Lisa menjawab dengan melihatku dipantulan cermin.


“Tidak apa, kamu tetap cantik sayang, malah jadi seksi. Karena kebetulan malam ini kamu memakai pakaian yang Mas suka. Mas jadi ingin mencicipnya.”


“Memang Mas suka? Adek tadi hanya kebetulan ingin memakainya...” wajah Bu Lisa sudah memerah seperti kepiting rebus.


“Kamu ini, sayang… Alasan kamu memakai seragam dinas seperti ini supaya Mas tergodakan, sengaja bermake-up agar telihat lebih cantik? Hayoloh ngaku… Kita sudah setahun lebih menikah, Adek, kalau kamu mau melakukan ‘itu’ biasanya kamu selalu berdandan terlebih dahulu.”

__ADS_1


“M-Mas fitnah.” katanya yang menjadi gugup.


Aku terkekeh kecil, segera menarik tubuhnya dan menidurkan dia diatas ranjang. Sebelum memulai aku memandang wajah dia sebentar yang kini tambah memerah, ah, momen seperti inilah yang membuat Bu Lisa jadi gadis yang begitu manis.


__ADS_2