Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 46 — Nina


__ADS_3

Kehilangan bukanlah ketiadaan



Seperti yang direncanakan Bu Lisa sebelumnya, di keesokan harinya Bu Liya mulai bekerja dirumahku menjadi pembantu rumah tangga. Menyapu, mengelap, mencuci, dan sebagainya yang berhubungan dengan pekerjaan rumah.



Bu Liya datang ke rumah saat kami hendak berangkat ke sekolah, sedangkan ia pulang setelah jam 12 siang dan boleh lebih cepat jika semuanya sudah beres.



Ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman saat bersama Bu Liya, yaitu beliau selalu menyebutku dengan sebutan ‘Pak’. Aku tahu dia berkata demikian hanya ingin menghormatiku karena telah menolongnya, tetapi jujur saja aku tidak terlalu nyaman disebut demikian.



Setelah seminggu berlalu dia bekerja, disuatu ketika dia ingin meminta upah gajinya terlebih dahulu. Bu Liya mengatakan bahwa dirinya saat ini membutuhkan uang untuk keperluan rumah, termasuk kebutuhan si bayi.



Kalisa dan aku saling tatap saat mendengarnya, sebelum akhirnya tersenyum dan memberikan upah tersebut pada beliau.



Di keesokan harinya Bu Liya menjadi lebih segan terhadap kami, ia cenderung sangat sopan. Walau aku dan istriku sering berkata untuk bersikap biasa saja, namun dia tetap menolak, katanya ini sudah terbiasa.



Kalian tahu, ini seperti aku seorang bos kantoran yang andai ketika bos berjalan di depan pegawainya, mereka akan menunduk dan menghormati, sama seperti itulah yang dilakukan Bu Liya terhadapku.



Menyampingkan tentang Bu Liya itu. Disekolahku sekarang, akhir semester 1 hampir selesai, dalam konteks lain sebentar lagi ujian sekolah akan tiba.



Entah itu pelajaran apapun, di setiap hari gurunya selalu ada kalimat mengingatkan akan datangnya ujian akhir semester (UAS).



Seperti berkata, “Ok anak-anak, sebentar lagi semester ini akan habis, kalian harus lebih giat lagi dalam belajar.”



Lalu guru yang lainya lagi juga pernah berkata, “Akhir semester tinggal di hitung dengan jari, kalian harus lebih belajar lagi!”.



Kadang pernah guru yang berucap sambil setengah marah, “Tidak bisakah kalian lebih serius! ini akhir semester! Jangan memikirkan main game saja!” murid yang mendengarnya menegukkan ludah, takut. Kami tahu guru itu sangat galak.



Besok-besoknya istriku jadi lebih membatasiku untuk bermain game, sehingga aku yang memang suka bermain game harus sembunyi-sembunyi darinya.



Contohnya seperti sekarang, untuk bersembunyi dari istriku, aku yang baru saja pulang sekolah, harus terlebih dulu mampir ke toko swalayan dekat kompleks.



Tentu saja niatku tidak berbelanja kesana, melainkan hanya nongkrong untuk bermain game. Setelah aku masuk untuk membeli minuman dan cemilan aku duduk di salah satu meja.



Beberapa menit berlalu disela asik bermain game, aku sempat melirik seorang gadis yang tengah duduk sendirian di depan sana, gadis itu adalah pegawai di toko swalayan yang beberapa hari lalu sering bercakap denganku.



Mbak kasir itu duduk sendirian di salah satu meja, sepertinya dia sedang berisitirahat, aku bisa memastikan hal itu karena memang ada pegawai lainya yang sedang makan-makan.



Aku yang melihat dia sendirian berpindah tempat untuk semeja dengannya.

__ADS_1



Mbak kasir itu melirikku sekilas, lantas memalingkan muka kearah teman pegawainya yang sedang mengobrol dan bercanda ria.



Di lihat baik-baik, mata Mbak kasir itu terlihat sembab, dia seperti habis menangis. “Halo Mbak, boleh duduk?” aku bertanya basa-basi padahal sudah terduduk dari tadi.



Mbak kasir itu mengangguk, dia menatap baju SMA kusejenak sebelum akhirnya menatap wajahku.



“Lagi istirahat ya, Mbak?” tanyaku lagi.



“iya, Mas.” jawabnya sopan.



Aku menggaruk kepala, sepertinya setiap pegawai toko swalayan selalu berkata sopan seperti itu, bahkan jika dengan seorang yang lebih muda darinya.



“Baru pulang sekolah ya?” tanyanya tersenyum.



“Eh, iya Mbak, baru saja aku pulang dan kebetulan ingin mampir dulu ke sini.”



Mbak kasir itu mengangguk-nganggukan kepala. “Enggak kumpul bareng sama yang lain, Mbak?” tanyaku kesekian kalinya.



Mbak kasir itu tersenyum tipis. “Lagi pengen sendirian.”




“Oh iya Mbak, kalau boleh tau siapa namanya? Kalau aku Raka.”



“Aku Nina." jawabnya tersenyum.



Selanjutkan kami bercakap-cakap di meja, pertemuan ini sebenarnya bukan pertemuan kedua kita, lebih tepatnya ke beberapa kali, sehingga tidak ada kecanggungan dalam mengobrol.



Setelah beberapa waktu berbincang, Nina menceritakan bahwa dia disini bekerja sambil berkuliah, Nina baru semester tiga sekarang di universitas, dia mengambil jurusan di bidang ilmu psikolog.



Awalnya, munkin dia hanya ingin menceritakan tentang dirinya, namun kesini demi kesini dia malah menceritakan masalah pribadinya sendiri.



Pergeseran topik pembicaraan ini membuatku bingung, pasalnya baru saja kami saling kenal dan mengobrol dia malah langsung curhat.



Walaupun agak kebingungan dengan sikap dia, aku tetap mendengar seluruh ceritanya. Nina menceritakan bahwa dia selalu di jauhi oleh pegawai lainnya, itu juga alasan kenapa sekarang dia sendiri dan tak ikut dengan teman sepegawainya.



Aku sebenarnya sedikit kasihan tapi perhatianku tidak kesana melainkan ke Nina itu sendiri, yang aku herankan adalah kenapa dia menceritakan hal ini padaku.

__ADS_1



Setelah akhirnya Nina berhenti bercerita, disisi lain aku yang mendengarnya tidak bisa memberi solusi apapun dari masalah dia, tetapi bila dilihat baik-baik sepertinya aku tidak perlu demikian, karena dia terlihat tidak membutuhkan hal itu.



Aku menghela nafas sejenak, mengalihkan pandangan ke arah parkiran, Tiba-tiba mataku melotot tajam saat menyadari bahwa ada sebuah mobil istriku disana.



Aku takut bahwa dia memergoki ku yang sedang bermain game, segera cepat-cepat aku mengambil ponsel dan menyimpannya di saku.



Bu Lisa yang entah sejak kapan ada di parkiran tersebut kini membuka pintu mobilnya perlahan. Lalu ia keluar berjalan ke arah mejaku dan Nina, tanpa aba-aba apapun, ia menarik kursi disampingku dan menempelkan tubuhnya.



Aku menatap istriku heran, kupikir dia akan mengomeliku tetapi sepertinya tidak.



Bu Lisa tanpa berbicara sedikitpun langsung menggenggam tanganku di depan Nina, dia menyadarkan kepalanya dipundakku, mencoba lebih melekat.



Nina disisi lain tidak terlalu peduli dengan aksi istriku ini, malah dia dengan entengnya tersenyum ke arah Bu Lisa.



“Jam istirahatku sudah selesai, kalau begitu aku pamit dulu Raka, Mbak.” Ujarnya membungkuk padaku dan Bu Lisa bergantian.



“Sampai jumpa lagi.” Balasku tersenyum.



Nina mengangguk, dia berbalik arah dan pergi memasuki toko. Sedangkan Bu Lisa yang melihat kepergian Nina menatapnya dengan tajam.



“Siapa sih dia, Mas?” tanya istriku cemberut.



“Dia namanya Nina, pegawai kasir disini.” Jawabku ringan.



“Dia lumayan cantik.” gumamnya pelan.



“Kenapa, Dek?”



"Pokoknya Mas, jangan sering main kesini!"



“Loh, emang kenapa?”



“Aku tidak suka!” Bu Lisa memanyunkan bibirnya kesal.



Aku menggaruk kepala, kenapa Bu Lisa jadi seperti ini, dia tidak bertingkah seperti biasanya.


__ADS_1


[Maaf ya jadi selang-seling updatenya, author sedang tidak terlalu sehat, jadi agak susah buat nulisnya.]


__ADS_2