Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 70 — Mamah


__ADS_3

“Sayang, ini gimana sih nyelesain soalnya, aku gak ngerti…” aku bertanya dari meja belajar menggangu Bu Lisa yang tengah bermain laptop.


“Kamu harus ngerjain sendiri, Mas, itukan soal Adek buat kamu masa nanti Adek juga yang nyelesainnya.” Jawab Bu Lisa tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.


Aku menggaruk kepala, menatap rentetan soal di kertas, susah. Sedari tadi aku mencoba berpikir untuk menjawab soal matematika tersebut hingga 30 menit lamannya, namun tetap saja tidak berhasil.


Aku menghela nafas panjang, lantas menutup buku tulisku.


“Nanti sajalah, besok-besok juga bisa. Jika bisa di kerjakan besok kenapa harus sekarang.” Kataku dengan mantap.


Aku merebahkan tubuh di kasur, tepat di samping istriku yang saat ini masih berkutat dengan laptopnya.


“Loh, ngerjain tugasnya selesai?” dia bertanya.


“Besok-besok ajalah… jika bisa di kerjakan besok kenapa harus sekarang.” Aku menyeringai lebar, mengulangi perkataan sebelumnya.


“Mana ada orang yang berpikir seperti itu? Yang ada juga ‘jika bisa dikerjakan sekarang kenapa harus nunggu besok’. Bukan kebalikannya…”


“Ada kok, ini… suami kamu buktinya.” Aku mengecup pipinya, terkekeh jail. “Lagian kamu juga sih, enggak ngabantu suami lagi kesusahan, kan akhirnya aku nyerah.”


“Kan Adek yang buat soal, masa harus Adek juga yang jawab, itu PR harus kamu yang selesaikan, Mas.”


“Hehehe…. Iya-iya, besok saya kerjakan sayang, kalau sekarang udah malam. Nah, ini kamu lagi apa, hm? Tugas di kantor?” Aku menatap layar laptop yang ada di pahanya.


“Bukan, Mas, ini pekerjaan restoran itu.”


“Eh, bukannya kamu udah nyerahin semua pada tangan kananmu itu, siapa ya aku lupa namanya? Jinjin bukan, oh Jingjing kan?”


“Hush, kamu itu loh Mas, kebiasaan gak sopan sama yang lebih tua. Namanya itu Pak Zinjin.”


“Yaa sama aja kan, sama-sama ada ‘JinJin’ nya?” aku tetap keukeuh. Lagian mana ada nama aneh seperti itu.


Bu Lisa memutar matanya malas, ia tidak menjawab lagi dan memilih fokus pada layar laptopnya. Sedangkan aku yang ada di sampingnya menyandarkan kepala pada bahunya.


Jam menunjukan angka sepuluh malam, sudah waktunya orang-orang tertidur lelap. Secara perlahan mataku juga sama, mengendur ke bawah.


Aku merebahkan tubuh di kasur, menguap lebar. “Adek tidur yuk… kerjanya besok lagi.”


“Iya sebentar, ini juga mau selesai.”


Bu Lisa mengetik beberapa detik sebelum akhirnya menutup laptopnya. Ia membaringkan tubuhnya di sampingku, lalu menarik selimut menutupi tubuh kami berdua.


Aku langsung menarik tubuhnya di pelukan, mendekapkan wajahnya di dada. “Selamat tidur, Kalisa.” Aku tersenyum, mengecup pucuk kepalanya.


“Selamat tidur, Mas.”


Kami memejamkan mata bersama, tidur di dalam pelukan malam, tidur di bawah naungan langit, tidur bersama di antara juntaian bintang yang berkelap-keling menghiasi angkasa.

__ADS_1


Angin malam merembas menabrak tirai jendela, meliuk-liuk seperti menari. Suara hewan berlantun merdu, membisikan nada-nada melelapkan mata.


***


Di hari minggu kesejuta kalinya, di seratus juta kalinya, di semilyar kalinya. Cahaya matahari bersinar terang menaiki puncak langit, menyombongkan kebesaran dan keagungan yang telah menciptakannya.


Aku duduk di sopa tengah rumah, gesit memainkan stig PS yang lagi di mainkan. Sesekali aku mendengus kesal karena kalah, sesekali aku tertawa saat menang. Dengan bermain PS aku bisa mengubah emosi sedemikian singkat bak seperti membalikan telapak tangan.


Istriku sekarang berada di dapur untuk memasak, aroma masakanya tercium sampai ke sini. Aku sempat penasaran dengan masakannya, namun segera di urungkan, lebih baik memilih melanjutkan bermain game.


Tiba-tiba saat suasana sudah nyaman di rumah, tentram tidak ada gangguan. Suara pintu mengetuk terdengar dari depan, aku yang tengah seru bermain harus berhenti terlebih dahulu, memilih membuka pintu.


Saat aku membuka pintu alangkah terkejutnya melihat siapa yang bertamu, mataku melebar. “Mamah…”


“Dasar, mentang-mentang udah nikah lupa sama keluarga.” Ibuku tanpa basa-basi apapun langsung menjewer telingaku.


“Ampun, Mah… Ampun… sakit Mah…” aku berteriak kesakitan.


“Ohh, Mamah pikir kamu lupa orang tuamu. Ini sudah 9 bulan lebih kamu tidak pernah kerumah, hah!” Ibuku menjewer telingaku lebih keras.


“Ampun Mah, Raka lupa…”


“Lupa!? Bagus bagus, anak lupa sama orang tuanya gitu.”


Aku meneguk ludah, belum siap merangkai alasan untuk ibuku. Beruntung, sebelum telingaku hampir terlepas, Kalisa datang dari dapur, ia masih memakai celemek dengan tangan kanannya memegang spatula.


“Aduhh, ini menantu Mamah ya? Lama tidak ketemu sayang.”


“Begitulah, Bu, Lisa kangen sama ibu.” Bu Lisa tersenyum.


“Hush, jangan panggil ibu, panggil aja Mamah. Kamu inikan anak Mama.”


Mendengar itu, Bu Lisa menjadi salah tingkah, tidak tahu berkata apa. Ia memalingkan topik lain mempersilahkan ibuku masuk ke dalam.


Aku berdiri di lawang pintu, mematap mereka berdua pergi. Kalian tahu, rasanya aku tadi benar-benar di hiraukan, seperti angin lalu.


Sebelum itu perkenalkan, dia adalah ibuku, mamahku, orang tuaku. Namanya adalah Bu Ratna, atau aku biasa manggilnya dengan sebutan ‘Mamah’.


Mamahku berusia 37 tahunan, cantik, baik, lemah lembut (Note; sedikit galak pada anaknya), dan mungkin sikapnya akan sedikit kekanakan. Mamahku mempunyai aura karismatik yang luar biasa, mereka yang hanya melihat penampilanya saja akan reflek bertindak sopan, tidak mau menyinggungnya, menjaga perasaannya.


“Astaga Raka! Kamu udah nikah aja suka bermain game!” Ibuku melotot tajam saat ia melihat PS yang aku tadi mainkan ada di tengah rumah. “Seharusnya kamu itu lebih dewasa, jangan main game terus.”


“Eh, enggak, Mah, itu hari ini doang kok, cuma buat hiburan.” Aku menggaruk kepala, salah tingkah.


“Hahh… kamu ini, yasudahlah terserah kamu. Sekarang kamu beresin gamenya lalu ambilin minum buat ibu.”


“Eh, aku Mah?” Aku menunjuk diriku sendiri, tidak percaya.

__ADS_1


“Iya. Siapa lagi? Ibu sama Kalisa mau mengobrol di sini.”


Aku menghembuskan nafas kasar, segera membereskan PS dan mengambilkan minuman untuk Mamahku. Setelah semua itu, aku duduk bersama mereke berdua.


“Mamah kok kesini sendirian, Bapa gak ikut?” aku langsung bertanya, memotong obrolan Kalisa dan mamahku.


“Enggak, ayah kamu ada kerjaan di luar kota selama 3 hari, Mamah sendirian di rumah. Alasan Mamah ke sini juga karena hal itu, Mamah ingin kalian tinggal dirumah Mamah selama 3 hari tersebut, itung-itung menemani. Bagaimana, bisa kan?” Ibuku menoleh ke arah Bu Lisa, bermaksud bertanya padanya.


“Kalau Kalisa ikuti keputusan Mas Raka aja, Mah.” Bu Lisa menjawabnya sopan.


“Mas Raka? Sayang, kamu panggil anakku dengan sebutan ‘Mas’?”


Bu Lisa mengangguk, tersenyum.


“Aiya, romantis sekali ternyata kalian. Jadi kangen sama Papa gini, eh…” Ibuku segera menutup mulut dengan tangannya, keliru salah bicara.


Aku dan Bu Lisa menahan tawa melihat ibuku yang salah tingkah. Pada akhirnya aku setuju untuk menginap di sana, karena memang sudah lama sekali aku tidak pulang kerumah semenjak sudah menikah.


Setelah itu Ibuku langsung pergi berpamitan, tidak bisa disini lebih lama, katanya ada urusan lain yang lebih penting. Kami hanya mengantarkannya sampai pintu, mencium tangannya, berpamitan.


“Mas, Ibu kamu cantik banget, anggun lagi, Adek tadi sampai-sampai gugup di depannya.” Bu Lisa bercerita setelah mobil yang dikendarakan ibuku telah pergi.


Aku mengerutkan alis, lantas tersenyum. “Kamu juga cantik sayang, Ibuku dan kamu sama-sama bidadari Mas.”


“Hm? Dasar gombal…”


Aku terkekeh dan langsung mencium pipinya, “Tapi menurutku, kamulah yang paling cantik istriku.”


Istriku tiba-tiba merona, “Apasihh, Mas, gak jelas.”


“Jelas, kok, artinya kamu itu bidadari Mas yang paling cantik.”


Blush! Wajah Bu Lisa kian memerah.


“Sini, sayang, Mas peluk dulu.” Aku merentangkan kedua tangan, tersenyum.


Bu Lisa dengan malu-malu mendekatiku. Aku hanya tersenyum kemudian mengulurkan tangan memeluk tubuh kecilnya.




**Aiyo, udah lama gak update**, **Maaf ya**...



...**Like & Vote**...

__ADS_1


__ADS_2