Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 53 — Bunga Lotus Kembar


__ADS_3

Dua kecantikan yang sama dengan rasa cinta yang berbeda.



“Sini! Mau peluk lagi?” Aku merentangkan kedua tangan tersenyum jahil menatapnya.



“Enggak ah, nanti ada orang yang masuk lagi.” Bu Lisa memalingkan muka cemberut.



Kalau dia sudah jual mahal seperti ini, akulah yang harus beraksi terlebih dahulu. Omong kosong yang dikatakan Bu Lisa barusan, itu hanya pengalihan saja bahwa dia sebenarnya menginginkannya.



Dari pada menunggu Bu Lisa terbujuk, aku terlebih dulu melangkah dan memeluknya dari depan. Bu lisa terdiam sebentar sebelum akhirnya dia membalas pelukanku.



“Terima kasih ya, Mas, telah mempercayakan semuanya pada Adek.” Ucap Bu Lisa pelan.



“Sama-sama, sayang, apa sih yang enggak buat guruku ini.” Aku memundurkan kepala, melihat wajahnya. “Kamu irit-irit ya uangnya.”



“Adek gak bakalan boros kok, tenang aja… Adek ini adalah istri yang hemat.” Ujarnya dengan bangga.



Sebenarnya aku hendak bertanya, kenapa uang Bu Lisa habis di awalan bulan seperti ini, tetapi aku mengurungkan niat tersebut karena takut nanti dia tersinggung.



Sebelum itu, Bu Lisa memang belum pernah meminta uang padaku. Tapi jangan salah paham dulu, bukan aku tidak menafkahinya, itu karena keinginan Bu Lisa sendiri yang mengatakan tidak perlu.



Aku sengaja mengirim seluruh uang tabungan padanya karena tahu bahwa Bu Lisa bukan orang yang boros. Bahkan seperti yang dikatakannya tadi, dia adalah orang yang hemat dan cerdas dalam memilah uang.



Kami masih dalam keadaan saling menatap dengan tubuh berpelukan, entah aku ataupun Bu Lisa tidak mengatakan kata apapun, mungkin hanya hati kita yang saling bicara saat ini.



Suara langkah kaki dari luar mengakhiri kedua tatapan kami, membuat Bu Lisa reflek melepaskan pelukan.



“Kalau begitu Adek duluan, di kantor sedang banyak tugas, Mas.”



Bu Lisa mencium tanganku lalu berjalan ke arah pintu, saat dia sudah beberapa langkah maju tiba-tiba ia membalikan tubuhnya dan berlari kembali untuk mengecup pipiku sekilas.



“Ini hadiah buat suamiku,” katanya tersenyum malu yang segera berlari kabur kemudian.



Aku hanya mematung menyaksikan tindakan dia yang tak terduga. Andai saja saat ini di kamar, mungkin sudah aku terkam sejak tadi.



\*\*\*



Sepulang dari UKS, aku berpapasan dengan Airin di koridor kelas, ia tengah membawa lembaran kertas putih di tangannya yang didekap kan di dada.

__ADS_1



“Yoh, kau kemana?” sapaku berjalan mendekatinya.



“Kelas dua, membagikan kertas ini,” dia menunjukan kertas itu padaku sehingga bisa terlihat.



“Nilai ujian!” alisku mengernyit saat di kertas tersebut terpampang angka hasil ulangan, “kenapa kau membawanya, terus di mana saudaramu sekarang?”



Airin berkata bahwa dia di suruh guru untuk membawa kertas ini ke kelas dua, sedangkan kakaknya, Arin, disuruh membawakan kertas satunya lagi ke kelas tiga.



Karena perbedaan tempat dari kelas tersebut membuat keduanya berpisah, ruangan kelas dua berada di tepi kelas satu, sedangkan kelas tiga berada tengah-tengah sekolah.



Tentu saja, Airin menjawabnya dengan tempo yang singkat, padat, dan jelas. Untuk orang yang pendiam seperti dia, banyak bicara bukanlah tipenya.



Karena aku tadi dikelas tidak ada pekerjaan, akhirnya aku memutuskan untuk ikut bersamanya. Airin tidak keberatan sedikitpun, malah sepertinya dia berharap hal itu.



Kami berjalan menyelusuri lorong sekolah. Banyak sekali murid yang berlalu-lalang, maklum, karena sekarang waktu bebas, tidak aneh kalau ada banyak siswa berkeliaran.



Di perjalanan tidak ada ucapan sedikitpun, Airin hanya terdiam menundukkan kepala, sedangkan aku disisi lain tidak tahu harus berbicara apa padanya.



Setibanya, kami mematung di lawang pintu kelas yang di tuju, dilihat bagaimanapun ruangan ini tengah ricuh dan berantakan. Aku dan Airin yang hendak memberikan kertas ujian tersebut menjadi kebingungan.




“Apakah itu kertas ujian?” tanyanya.



Airin mengangguk, ia menyerahkan kertas tersebut padanya.



“Hei! Sepertinya aku kenal kau. Bukankah kau adalah gadis lotus kembar itu?” siswi itu menatap wajah Airin dengan teliti.



Airin tersenyum canggung, dia bingung harus mengangguk ataupun menggeleng. Sedangkan aku yang mendengarnya sedikit heran, ternyata gelar ‘bunga lotus kembar’ bakal terkenal di kelas dua.



“Ah, sudahlah lupakan. Terimakasih untuk hal ini ya.” Siswa itu menunjukan kertas ujian lalu pergi membagikan kertasnya pada murid yang lain.



“Hahaha … aku tidak menyangka kau bakal setenar itu.” Setelah beberapa langkah kami jauh dari kelas tadi, aku tertawa gelak.



Airin hanya diam menunduk, membuat tawaku terhenti sekaligus canggung. “Becanda Rin, jangan di masukin ke jantung, eh, ke hati maksudnya.”



Airin mengangguk, sedangkan aku tersenyum kikuk. Aih, rasanya becanda dengan orang yang pemalu bukanlah ide bagus.

__ADS_1



Ngomong-ngomong kalau dipikir kembali, tidak terlalu aneh kalau si kembar ini bakal terkenal. Ya iyalah, di seribu lebih murid sekolah yang belajar di sini, tidak ada orang yang kembar selain mereka berdua.



Wajah yang seiras dan saling berdampingan mana mungkin membuat orang lain abai melihatnya. Selain itu juga, Arin dan Airin adalah gadis cantik, wajar jika di kalangan murid laki-laki mereka akan lebih terkenal.



“Wah, ada yang berpacaran toh disini?”



Aku melotot pada Reza. Enak saja berbicara seenak jidat. Kami baru saja sampai di kelas, sudah ada penyambut yang menyebalkan menyapa.



“Hei, kalau mau naksir saudaraku, harus ijin dulu!” Arin muncul dari belakang, menyerobot masuk dan memisahkan aku dan Airin.



“Enak saja! Siapa pula yang berpacaran!” Aku mendengus tidak terima. Hanya karena seseorang berjalan berdampingan bukan berarti mereka punya hubungan.



Arin juga salah, sudah tahu Reza cuma becanda kenapa pula malah ia ikut-ikutan.



Aku melirik Airin agar ia membantuku, tetapi itu percuma, jangankan berbicara malah ia menunduk malu tidak berani menatap yang lain.



Untung, sebelum mereka menggodaku lagi, ada Della yang datang “Lotus kembar! Cepatlah… aku butuh kalian berdua!”



Della menarik tangan Arin dan Airin ke arah bangkunya. Disisi lain aku dan Reza saling pandang, sama-sama terkejut kalau Della akan menyebut mereka dengan gelarnya, ‘lotus kembar’.



“Sepertinya Arin menyukai kau, Raka.” Tutur Reza berbisik.



Aku mengerutkan kening, ada apalagi coba yang dikatakan temanku ini. Tadi menuduh berpacaran dengan Airin, sekarang apa? Mengatakan kalau Arin menyukaiku. Omong kosong!



“Tenang Ka, jangan marah dulu…” Reza mengulurkan tangan, meminta agar aku mendengar perkataanya, “Ini hanya persepsi ku saja tetapi boleh jadi pernyataannya memang benar.”



“Iya, terus apa?” jawabku dengan malas.



“Tapi sebelumnya kau tidak boleh marah?”



“Iya iya, gak akan. Cepet! Aku mau pulang oi.”



“Ok tenang cuma sebentar. Kau sadar gak kalau tadi Arin itu cemburu saat kau di dekat Airin, dia menatapmu dengan tatapan tidak suka. Eh, tidak-tidak, aku melihat lebih dari itu. Sepertinya Airin juga menyukai kau, dari yang aku lihat, dia tadi bersemu merah saat aku bilang kalian berpaca—Hei, kau mau kemana?”



“Pulang!” Aku berjalan pergi meninggalkan Reza, enak saja menyimpulkan seenaknya.


__ADS_1


Sulit ternyata buat nulis kalau sedang sibuk... ini juga kalau gak di paksa mungkin gak akan upadate lagi.


Terimakasih buat @Sujaandy atas dukungannya, author jadi merasa terdukung.


__ADS_2