Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
[Bonus Eps. Ramadhan – Persiapan Puasa]


__ADS_3

MOHON BACA SEBENTAR!!


Ini hanyalah bonus episode saja, bukan kelanjutan episode sebelumnya. Episode ini selingan cerita dalam pernikahan mereka... bahkan disini Bu Lisa belum hamil!


Ingat!!



“… Hari bulan Ramadhan jatuh pada esok lusa!”



Pandanganku mengedip bahagia ketika suara dari layar televisi itu memberi tahu sesuatu yang telah ditunggu. Apa tadi dia cakap? Lusa puasa!.



“Yee puasa… ye-ye puasa… ye-ye puasa…” Aku bersorak girang sambil melompat-lompat bahagia, tidak peduli tatapan Bu Lisa yang duduk di sampingku.



“Biasa aja kali Mas, kaya baru pertama puasa aja.”



Aku berhenti bergerak lalu menoleh ke arah istriku. “Kamu tidak mengerti Dek, bulan puasa itu bulan yang spesial. Tidak ada yang tidak bahagia saat menjumpainya. Hampir seluruh umat islam pasti akan senang...”



“Adek juga bahagia, tapi gak harus sampai melompat-lompat kali, Mas.” Bu Lisa memotong.



“Ini adalah puasa pertama kita berumah tangga, sayang,” aku berjalan mendekati Bu Lisa lalu mengecup pipi halusnya. “Jadi, puasa ini harus benar-benar spesial, Dek. Karena sekarang aku berpuasa sudah punya istri, begitu juga denganmu yang sudah punya suami sehebat Mas.”



Pipi istriku bersemu malu-malu, entah karena ciumanku atau karena bisikanku yang sedikit merayu.



“Yuk kedapur, katanya tadi mau nyiapin bumbu buat masak.”



“Eh, i-iya, Mas. Ayo!” Bu Lisa tergagap, ia masih sibuk menyembunyikan pipinya yang masih merona.



Jam 7 malam kami mulai membuat bumbu masakan, tepatnya Bu Lisa lah yang membuat bumbu itu, sedangkan aku hanya membantunya saja.



Aku disuruh istriku untuk memotong rempah-rempah, seperti kunyit, laja, cabe merah, bawang bombai, dan lainnya. Sesudah semuanya telah selesai aku memasukannya kedalam blander dan dituangkan kewadah. Bumbu itu berwarna merah menyala karena cabe merah tadi, juga baunya agak menyengat di hidung.



“Ada lagi, Dek!?” Aku bertanya pada Bu Lisa yang sedang mengaduk bumbu diwajan, berbeda dengan bumbuku, aroma bumbu yang diaduk Bu Lisa terlihat harum dan khas.



“Kamu semangat sekali, Mas. Tidak seperti biasanya?”



Aku mengangguk. “Iya dong, Dek. Kann lusa kita puasa masa kamu tidak bahagia sih. Mana dek, ada lagi yang aku bantu?”



“Untuk sekarang tidak ada, Mas.”



Wajahku langsung cemberut. Ah, padahal aku semangat sekali ingin membantu dia menyiapkan bumbu-bumbu, tapi mau gimana lagi? Semuanya memang telah selesai. Aku terlalu bersemangat hingga semuanya selesai begitu cepat. Mau tak mau aku hanya diam menonton menyaksikan Bu Lisa yang masih mengaduk bumbu di kompor.



Bu Lisa memakai celemek biru langit, rambutnya diikat kebelakang seperti ekor kuda yang menyisakan poni rambut didepan.



Karena telalu bosan menunggu akhirnya aku dengan iseng memeluk tubuh Bu Lisa dari belakang. Bu Lisa nyatanya tidak terlihat keberatan atau protes sesuatu. Malah ia membiarkanku memeluknya lebih lama.



“Kamu kok gak marah Dek, biasanya kalau aku ngeganggu kamu kerja, kamu selalu ngomel?”



Bu Lisa tersenyum manis dari depan, “Adek gak akan marah, Mas. Adek gak mau merusak kebahagian kamu saat ini. Dari tadi Mas Raka senyum terus loh, gak pudar-pudar.”

__ADS_1



“Jadi gak apa-apa nih aku meluk gini?” aku mempererat pelukannya.



“Akukan istri kamu, Mas. Tidak ada yang melarang untuk meluk istri sendiri.”



Aku nyengir lebar. Benar-benar kebahagiaan yang sempurna, sudah bahagia karena puasa akan datang, di tambah punya istri yang pengertian dan dewasa.



Satu jam berlalu, aku tetap memeluk Bu Lisa hingga akhirnya bumbu dalam wajan itu telah selesai. Ketika dia berjalan untuk mengambil mangkuk aku tetap menempel memeluknya hingga membuat ia keberatan dalam melangkah.



Jam 9 malam, semua bumbu itu akhirnya total selesai. Bu Lisa mengusap keringatnya dengan tangan akibat terlalu lama didepan kompor. Aku mengambil tisu dan memberikan padanya.



Aku dan Bu Lisa tidur dengan cepat saat menempel di kasur. Selain karena kelelahan, malam juga kian berlarut.



Esok harinya tepat disore hari, paket daging Rhamadan yang dipesan oleh Bu Lisa akhirnya telah tiba, tidak terlalu banyak kami memesan, cuma 2 kg. Aku dengan semangat berapi-api langsung meminta istriku untuk memasaknya.



“Bagaimana Mas, enak gak?” Bu Lisa meminta pendapatku setelah ia menghidangkan masakan dagingnya dimeja makan..



Aku memberikan dua jempol sebagai jawabannya karena mulutku masih mengunyah paha ayam. Masakan daging itu sebenarnya tidak berbeda dengan masakan enak Bu Lisa yang biasanya. Namun, mungkin karena faktor puasa, paha ayam tersebut jadi mempunyai rasa enak tersendiri.



Respon dariku sukses membuat Bu Lisa tersenyum senang, apalagi menyaksikan bagaimana aku makan dengan lahap. Istriku bahkan harus memasak lebih ketika masakannya habis.



“Oh iya, Dek. Berarti sekarang kita tarawih ya? kann besok kita mulai puasa?” Bu Lisa mengangguk lalu menyodorkan air minum padaku. “Berarti nanti pagi kita sahur? terus siangnya gak makan?”




“Berarti aku gak boleh minta hak dong sama kamu?”



“Eh, itu…” Selain terkejut dengan pertanyaanku, wajahnya tiba-tiba langsung memerah.



“Itu, kenapa?” aku bertanya.



“Itu… Mas masih bisa minta hak ke Adek tapi harus di malam hari.” Volume suara Bu Lisa mengecil sampai akhirnya terdengar seperti cicitan.



Aku menyeringai lebar yang membuat Bu Lisa menunduk malu. Jadi seperti itu…



\*\*\*



“Hm… sudah tampan ternyata!” aku menatap diriku dari pantulan cermin, saat ini aku tengah memakai setelan koko muslim, khas dengan sarung dan pecinya.



Aku memiringkan badan kekiri dan kekanan di cermin. Tersenyum lebar. Sempurna.



“Mas gimana? Ayo cepat buruan, nanti keburu azan isya lagi.”



Bu Lisa nongol dari pintu kamar, wajahnya sedikit kesal karena dari tadi menungguku berdandan. Bu Lisa memakai kerudung biru langit dengan berbaju gamis.



Sebelumnya aku menyuruh Bu Lisa untuk tidak bermake-up atau memakai wewangian karena takut ada yang melirik nanti diluar. Tetapi walaupun begitu dia tetap cantik, bahkan kerudung yang dipakainya memberikan hal lebih dari kecantikan itu sendiri.

__ADS_1



Di perjalanan menuju masjid yang berada di pusat komplek, aku dan Bu Lisa berjalan beriringan. Bu Lisa membawa mukenanya didalam tas kecil, sedangkan aku membawa sajadah yang bergantung di pundak.



Bukan kami saja, tetapi banyak orang didepan kami yang menuju kesana, bahkan ada orang diluar kompleks ikut shalat tarawih di sini.



Aku sempat melihat dengan teliti. Diantara banyaknya yang berjalan bersama, kebanyakan dari mereka adalah perempuan asing yang berada di luar kompleks. Aku menatap para perempuan itu satu-satu sambil menghitungnya, jika jama’ahnya sebanyak ini. Aku takut masjidnya tidak akan muat.



“Aww~” Aku menoleh kesamping, tepatnnya ke arah Bu Lisa yang tiba-tiba mencubit pinggangku diam-diam. “Kenapa sih, Dek?”



“Selain menjaga dari lapar dan haus, puasa juga harus menjaga pandangan dari yang haram.”



Aku mengerutkan kening, tidak mengerti. Apa maksudnya ucapan Bu Lisa.



“Mata kamu jangan jelalatan, Mas! Lihat perempuan lain yang lebih cantik, langsung fokus tak berkedip. Kamu sudah punya istri! ingat!” Bu Lisa membuang muka dan langsung melangkah lebih cepat di depanku.



Aku tercenung beberapa detik sebelum akhirnya paham maksudnya. Aku melangkah lebih cepat dan kembali berjalan di sampingnya.



“Ternyata istri Mas lagi cemburu…” aku tersenyum menggoda.



“Hmph! Siapa yang cemburu! Urus saja sana gadis-gadis itu, Adek bisa kok berjalan sendiri ke masjid!”



Aku terkekeh. Padahal aku melirik perempuan di sekeliling hanya untuk menghitung saja, tidak lebih. “Aku senang loh, Dek, kamu cemburu ginih. Jadi tambah cinta.”



“Gombal!” Bu Lisa menjawab jutek.



Aku kembali terkekeh dan langsung mencubit pipinya yang menggelembung sekaligus menggemaskan. Bu Lisa yang tengah dilanda cemburu hendak membalas cubitan itu tetapi segera aku menghindar dan menjauh.



Bu Lisa langsung mengejar, begitu juga denganku yang berlari sambil menjulurkan lidah padanya. Karena posisi kami berjalan paling belakang sehingga tidak ada yang melihat aksi kejar-kejaran suami istri ini.



Sura Azan menggema dari toa masjid membuat aksi kejar-kejaran kami terhenti. Aku mencium pipi Bu Lisa ketika dia masih menoleh ke arah masjid itu.



“Ihh~ Mas kok nyium. Wudhu Adek jadi batalkan…”



“Hehe… maap Dek, Mas gak kuat. Melihat kamu berkerudung gitu bawaannya pengen nyium terus.”



“Mas nyebelin! Kalau ginikan Adek harus wudhu lagi.” Istriku menggerutu sambil mulai melangkah maju.



Aku tersenyum menahan tawa, istriku menggelembungkan pipinya kembali yang segera aku menciumnya lagi.



“Ihh~ Mas Raka…”



Selamat menunaikan ibadah puasa! Yang bekerja tetap kuat ya, yang lagi semangat tambahkan semangatnya, yang tersenyum ayo bahagia. Di bulan Rhamadan ini kita sambut dengan hati yang bersih dan ceria.


Sekali lagi… selamat menunaikan ibadah puasa! Ingat! bulan ini pahalanya di kali liapat!


***


Besok-besok juga demikian, author akan melanjutkan episode bonus ini terlebih dulu, itung-itung sebagai hiburan saja!!

__ADS_1


__ADS_2