
[Yang belum kasih like pada setiap episode, tolong berilah like dulu... itu membuat author semangat untuk mengupdate!!]
“Nanti sahur, kalau kamu bangun aku juga bangunin ya?” Aku mengikuti gerakan langkah Bu Lisa agar bisa berjalan di sampingnya. Saat ini kami dalam perjalanan pulang setelah habis shalat tarawih.
Bu Lisa mengangguk dan tersenyum. “Dari kemarin kamu semangat terus Mas kalau membicarakan puasa. Kamu pasti senang banget sampai-sampai tidak sabaran begitu.”
Aku menggaruk kepala sembari tertawa. Bu Lisa tidak akan mengerti seberapa bahagianya diriku ketika bertemu bulan puasa. Dari sepuluh level, mungkin kebahagian sekarang berada di tingkat teratas.
“Ah, baru dibicarakan ternyata disini.” Seorang bapak-bapak berjalan mendekat kearah kami, disusul wanita disampingnya yang mungkin adalah istrinya. Bapak-bapak itu menepuk pundakku akrab. “Mas Raka apa kabar?”
“Eh? Mm… Baik Pak.”
“Jangan sekaku itu, biasa aja.” Bapak-bapak itu tertawa.
Aku tersenyum canggung. Aku tahu siapa bapak itu, di kompleks kami dia adalah orang tersohor dan ternama, bapak-bapak itu adalah Pak Samsul, Pak RT kami.
Pak Samsul kemudian mulai mengobrol denganku, berbasa-basi, atau lebih tepatnya lagi dialah yang berbicara sendiri sedangkan aku berdiam mendengarkan.
“Di kompleks ini, jarang sekali ada orang yang membangunkan sahur seperti daerah pada umumnya, sehingga tidak sedikit warga kompleks ada yang kesiangan bahkan tidak sahur sama sekali.” Pak Samsul membenarkan peci di kepala. tersenyum berwibawa. “Karena alasan itulah, dulu kami membuat penjadwalan teruntuk Bapak-bapak, pemuda-pemuda, agar mereka wajib membangunkan orang-orang di kompleks ini.”
Aku mengangguk-ngangguk, mulai mengerti maksud obrolan ini. Singkatnya, Pak Samsul memintaku untuk berpartisipasi mengikuti sahur wajib tersebut. Tidak setiap hari melakukannya, biasanya sekali dalam seminggu, sesuai jadwal dari desa.
“Ah, kalau begitu saya mau bilang ke yang lain dulu. Ada beberapa yang tidak tahu, saya mau kesana dulu Mas Raka.” Setelah mendapati bahwa aku akan ikut, Pak Samsul berlalu pergi kesalah satu Bapak-bapak yang didepan, diikuti oleh istrinya yang baru saja mengobrol dengan Bu Lisa.
“Ngobrol apa sih, Mas?” Bu Lisa mendekat dan berjalan disampingku. Wajahnya terlihat penasaran.
“Kegiatan sahur wajib.” Jawabku singkat.
“Kegiatan sahur apa?”
“Kegiatan sahur di bulan puasa.”
“Iya, maksudnya kegiatan sahur apa?”
“Yaa, kegiatan sahur wajib. Itu saja!”
“Ihh~ Mas Raka…”
Bu Lisa mengembungkan pipinya kesal, ia kemudian berjalan lebih cepat, meninggalkanku yang tertawa kecil menjailinya.
\*\*\*
Aku merebahkan tidur dikasur begitu juga dengan Bu Lisa setelahnya. Bu Lisa langsung memelukku seperti biasa, kepalanya di benamkan didada bidangku.
Setengah jam berlalu, walau mata dalam keadaan terpejam nyatanya kesadaran tidak benar-benar terlelap. Aku tidak bisa tidur! Benar kata Bu Lisa tadi, aku terlalu bersemangat untuk menyambut awalan puasa. Terlalu tidak sabaran.
Aku mengambil ponsel di laci samping, waktu menunjukan jam 10 malam. Dari pada memaksakan mata terpejam, aku memutuskan bermain ponsel saja. Semoga dengan hal tersebut aku bisa ngantuk beneran dan tertidur.
Tetapi setelah beberapa jam memainkan ponselpun aku masih tidak merasakan ngantuk sedikitpun. Bahkan sekarang waktu sudah tengah malam.
“Mass… kamu bangun?” Bu Lisa mengerjapkan matanya dari samping, suaranya serak khas seperti bangun tidur. Ia pasti terganggu akibat cahaya ponsel yang aku gunakan.
“Masih malam, sayang, tidur ya…” kukecup keningnya dengan lembut.
“Mas enggak tidur?” dia bertanya lagi.
“Mas gak bisa tidur. Kamu lanjut aja tidurnya sayang, ini masih tengah malam.”
Bu Lisa mengangguk kecil. Aku membelai rambutnya halus, membuat ia nyaman dan akhirnya terlelap kembali dengan napas yang kembali teratur.
__ADS_1
Aku dengan hati-hati mengangkat tangan Bu Lisa yang melilit di pingganggku. Aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar dengan hati-hati. Aku memutuskan untuk tiduran di sopa sekaligus menonton TV.
Sekitar pukul 1 pagi, barulah aku menguap tertidur. Bu Lisa membangunkanku sekitar jam setengah 4 pagi untuk sahur.
“Enghhh… Apa sih, Dek?” aku menggeliat dengan kondisi mata yang masih tertutup. Baru saja aku terlelap tidur tapi tiba-tiba sudah ada yang mengguncang tubuhku.
“Kita makan sahur Mas!”
Aku mengerutkan dahi, masih dalam keadaan terpejam. “Nanti aja… kalau sudah jam empat…”
“Sekarang Mas sahurnya...” Bu Lisa menguncang tubuhku kembali. “Kalau jam 4 lebih kamu nanti keburu-buru!”
“Sepuluh menit lagi…” aku masih melenguh, terusik karena Bu Lisa mengganguku.
“Sekarang Mas. Ayooo…!!” Istriku mengguncang kuat hingga akhirnya mataku bisa terangkat walau setengah. “Kamu kenapa bisa tidur disini sih?”
Aku terlalu malas membuka mulut sehingga menjawabnya dengan gumamman pendek.
Bu Lisa yang menjadi geram menarik tanganku sehingga membuat posisiku menjadi terduduk. “Ayo dong Mas... Semalam kamu semangat ingin cepat-cepat sahur, tapi kenapa sekarang jadi malas gini.”
Aku menguap lebar. Bu Lisa tidak tahu bahwa aku baru tidur dua jam yang lalu. Wajar saja kalau aku mengantuk berat.
“Ayo Mas, banguuunnnn!!” dia kembali menarik tanganku agar berdiri.
“Iya, Dek, aku sudah bangun nih. Sudah buka mata.”
“Mana? Dari tadi kamu hanya menyipit gitu.”
Karena merasa jengah sekaligus putus asa. Bu lisa melakukan sesuatu yang tak pernah kupikirkan agar aku terbangun. Dengan perlahan wajahnya mendekatiku ketika mataku sayup-sayup terpejam.
CUP
Mataku yang awalnya terkantuk-kantuk seketika seratus persen terbuka. Kulirik istriku yang tersenyum manis. Aku membelalakan mata terkejut, sungguhkah istriku mencium pipiku?
“Eh? Kamu tadi menciumku kan, Dek?”
Bu Lisa mengangguk pelan. tersenyum.
“Cium lagi dong?” aku meminta. Menunjuk pipi kanan. Pipi yang satunya yang belum di cium
“Enggak ah, Adek gak mau!”
“Sekali dong Dek, kecup bagian ini.” Aku mulai memelas.
“Mas harus makan sahur dulu, ini sudah mau jam 4 lohh. Gak ada waktu lagi, ayo cepetan.”
“Eh? Berarti kalau aku makan sekarang nanti kamu cium lagi ya?”
Bu Lisa tidak menjawab, ia berbalik badan dan langsung pergi ke arah dapur. Aku tersenyum bahagia, itu tanda kalau Bu lisa setuju atau mengiyakan. Aku bergegas menyusul setelahnya.
\*\*\*
Sepeluh menit sebelum azan shubuh berkumandang. Aku dan Bu Lisa tengah duduk bersama di sopa. Aku menagih sesuatu yang sebelumnya aku minta sebelum makan sahur.
“Ciumnya di bagian ini ya, Dek?” aku menunjuk bibir.
“Kann tadi Mas mintanya pipi kenapa sekarang pindah?”
“Kalau dipipi beda sama di bibir, kalau di bibir lebih romantis.” Tuturku sembari memejamkan mata.
__ADS_1
Kesan mencium seseorang dan di cium seseorang jelas sangat berbeda. Mungkin aku memang sering menciumnya, tetapi ketika Bu Lisa berinisiatip menciumku balik itu benar-benar membuatku ketagihan.
Aku masih dalam keadaan memejamkan mata. Menunggu dia menciumku. Tidak sampai menunggu 5 detik, ada sesuatu yang menyentuh bibirku singkat. Aku perlahan membuka mata, Bu Lisa sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Jantungku berdetak kencang, pipiku terasa memanas. Entah kenapa ketika aku akan menggodanya, ada perasaan malu dan gugup.
“Mas, kamu kenapa?” Bu Lisa yang sudah menurunkan tangannya memandangku lamat-lamat.
“Eh? Kenapa apanya?”
“Kamu, Mas. Tuhh lihat pipi kamu memerah.”
“Eh? Masa sih. Mm… mungkin ini kenapanasan.”
Bu Lisa tersenyum aneh. “Jangan bilang kalau ini gara-gara Adek ya? iyakan Mas? Kamu merona tuhh.”
“Si… siapa yang merona. Ini kepanasan Dek!” aku berkata tidak terima. Sungguhkah pipiku memerah? Dan kenapa perkataanku menjadi gugup?
“Hihi… Mas malu ya? hayoloh ngaku?” Bu Lisa menahan tawa. Menggodaku.
“Ini kepanasan Dek! Cuma panas!” sial! Apakah ini yang dirasakan Bu Lisa setiap hari ketika pipinya memerah.
Bu Lisa terus menggodaku supaya mengaku, membuatku tergagap dan salah tingkah. Kali ini aku benar-benar di permainkan istriku. Karena terlanjur malu, aku segera membalas perbuatannya.
“Hahaha… Ampun Mas. Ampun… hahaha.”
“Jadi sekarang istriku berani menggoda ya, hm? Mas tak kasih ampun.” Aku terus menggelitik pinggangnya membuat dia tertawa sampai terkulai tiduran.
“Ampun Mas… Adek salah, hahaha… Maapin Adek.”
“Ini hukuman karena menggoda, Mas.” Aku menjadi gemas sendiri. Dan terus menggelitiknya.
“Iya Lisa salah… Lisa tak akan berbuat lagi…” Bu lisa berkata pelan, nadanya lemas akibat kubuat dia terpingkal-pingkal di sopa.
Aku meraih salah satu tangannya lalu menaruh di dadaku, tepatnya di area jantung. “Kamu bisa merasakan, Dek, debaran jantung Mas sekarang?”
Bu Lisa tidak menjawab, ia terlebih dulu merasakan detakan jantungku sebelum akhirnya mengguk pelan.
“Itu tanda kalau aku benar-benar cinta kamu, Kalisa.”
“Mas jatuh cinta sama Adek?” Aku mengangguk. apasalahnya menyatakan cinta sama istri.
“Tapi sayangnya Adek gak cinta. Adek nolak cinta Mas.” Bu Lisa berkata demikian sambil menahan tawa. Dia menjulurkan lidah. Dia menggodaku kembali!
“Ohh, jadi kamu gak cinta sama, Mas. Oke, kalau begitu aku gelitikin sampai kamu menerima cintanya Mas.” Aku kembali mengulang hal yang tadi, menggelitik Bu Lisa habis-habisan.
“Iya, iya, Mas… kamu menang! Jangan gelitikin lagi. Adek lemas… Adek sudah terima cinta Mas…” Bu Lisa berkata lemah, matanya berair akibat terlalu lama tertawa.
Aku berhenti menggelitik. Menatap matanya cukup lama. tersenyum menang. “Nahh, itu berarti kita sama-sama mencintai.”
“Hmph! Itukann cinta paksa!”
“Ohh mau digelitikin lagi?”
“Eh, tidak-tidak. Adek juga cinta sama, Mas. Adek suka sama ka…”
Sebelum ucapannya selesai. Aku mengecup bibirnya, membuat Bu Lisa langsung terdiam. Tak lama pipi dia merona. Bu Lisa bangkit dan memelukku segera, tidak lupa dengan pukulan kecil.
“Mas jahat…” cicitnya malu-malu. Aku tertawa.
__ADS_1
...Like dan Vote...