
Ku pikir ikatan takdir itu hilang, nyatanya ia hanya bersembunyi di dekatku.
“Dek, ambilin minum dong!” Aku berteriak dari tengah rumah, memanggil istriku yang berada di dapur.
“Bentar, Mas!” Jawab Bu Lisa balas berteriak.
Di pagi sore yang cerah, selepas pulang dari sekolah. Aku yang sudah mandi dan makan langsung bergegas mengambil ponsel. Sore ini katanya Reza, Reno dan teman kelas lainya mengajak kami untuk bermain game online bersama.
Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati, gesit mandi dan makan, lantas cepat-cepat mengambil ponsel yang sedang dicas, tak sabar menunjukan skill ku pada murid yang lain.
“Ini, Mas.” Tiba-tiba suara Bu Lisa terdengar dari samping, ia meletakan gelasnya di meja.
“Eh, iya makasih dek.” Aku hanya sekilas menatapnya dan kembali menatap layar ponsel.
“Katanya kamu mau mengerjakan tugas tadi,” Bu Lisa yang sudah menyucikan piring sebelumnya duduk di sampingku. Rambut panjangnya di ikat kebelakang seperti ekor kuda, sehingga terlihat bagian lehernya yang putih.
“Mas.” Sahutnya lagi.
“Eh, apa dek?”
“Kamu katanya tadi mau mengerjakan tugas rumah. Mana, kok masih belum?” tanya Bu Lisa, “Mas. Astaga! Kamu denger gak sih.”
“Eh, Apa dek apa? aku tadi gak kedengaran.”
“Tau ah, males.” Bu Lisa menggelembungkan pipinya kesal, ia memalingkan muka lantas mengambil remote TV di meja, “Mending aku nonton TV.” Gumamnya pelan.
Aku tidak terlalu memperhatikan wajah kesalnya yang manis, saat ini perhatianku terfokus bermain game, karena sebentar lagi pertandingan kami akan di mulai.
Beberapa menit kemudian, aku berkali-kali berseru antara kesal dan senang saat kalah menang di game. Bu Lisa yang berada di sampingku menggeleng-gelengkan kepala melihat aksiku yang berteriak-teriak tidak jelas.
“Payah! Sudah aku bilang di jaga! ini malah nyerang.” Aku menggerutu kesal, melemparkan ponsel ke sisi sopa yang lainnya.
“Kalah ya, Mas?” Bu Lisa mengedipkan mata besarnya, membuatku yang tengah kesal menjadi salah tingkah. Aku lupa kalau Bu Lisa dari tadi memperhatikan.
“Kamu nonton apa dek?” aku mencoba bercakap mengambil alih pembicaraan.
“Ini film,” katanya dengan menyunggingkan senyum, “Seru loh, Mas. Coba aja tonton.”
Aku mengangkat alis heran. Tidak biasanya dia tertarik dengan film di TV, biasanya juga kalau nonton suka yang berbau berita. Jadi ketika dia berbicara seperti itu jelas membuatku tertarik, kira-kira film apa yang bisa mencuri perhatian Bu Lisa.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya sambil menatap berlangsungnya film. Ternyata apa yang di tonton Bu Lisa adalah film premier yang lagi terkenal di akhir minggu-minggu ini, film yang bergenre percintaan.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu aku menontonnya dengan seksama. Mataku melebar ketika di layar TV tersebut memperlihatkan adegan ciuman, aku meneguk ludah dan langsung melirik Bu Lisa. Namun siapa yang sangka, ternyata Bu Lisa menjadi salah tingkah, dia dengan reflek langsung memindahkan saluran TV.
“Kok di pindahin, dek?” Aku bertanya polos, tepatnya berpura-pura polos.
“Enggak seru, Mas. Mending cari yang lain aja,” wajah Bu Lisa memerah, dia berkata dengan kikuk dan canggung.
Aku tahu perasaanya, bagaimanapun dia adalah guru di sekolah. Tidak sepantasnya dia melihat adegan seperti itu, apalagi di sampingnya kini ada suami sekaligus muridnya. Tentu saja, wajar kalau dia menjadi malu.
“Gak apa-apa dek, kitakan juga sering melakukan itu.” Ujar ku yang benar-benar tidak tahu malu mengatakannya.
Wajah Bu Lisa memerah, kali ini aku mengatakan tepat ke titik rasa malunya.
“Dek, aku jadi pengen kayak adegan film tadi?” Ucapku tersenyum penuh makna.
“Pengen apa, Mas?” Bu Lisa bertanya kikuk.
Aku berusaha menahan tawa sebaik mungkin melihat wajah Bu Lisa yang merona bagaikan kepiting rebus. Jelas-jelas dia tahu persis apa yang aku maksud.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan langsung meraih dagu dia dengan lembut dan mendaratkan bibirku pada bibir kecil cerinya yang manis.
“Udah balikin aja ke filmnya lagi, aku udah terlanjur nonton dek.” Ujar ku lembut.
Jika di lihat lagi ketika aku menontonnya begitu lama, film tersebut mempunyai alur cerita yang bagus. Singkatnya, pada akhir film, menceritakan bahwa orang yang dia cintai si tokoh utama adalah teman masa kecilnya yang telah hilang. Dan setelah itu kedua tokoh tersebut saling jatuh cinta dan menikah, tamat.
“Jadi teringat pas pertama kita bertemu ya, Mas?” tuturnya memecah hening.
“Iya, ketika pas awal aku masuk SMA.”
“Bukan yang itu,”sahutnya.
“Bukan? Oh, kalau gak salah tepat pas ujian masuk SMA kan?”
“Salah, kalau itu mah, Mas udah gede.”
“Lah, emang yang mana yang. Bukannya itu awal kita bertemu?” Kedua alisku berkerut heran.
“Jangan bilang bahwa mas tidak ingat pertemuan kita saat kecil dulu?” Tanyanya menyelidik.
Aku menggelengkan kepala. Saat kecil? Kapan?.
“Mas beneran tidak ingat?” Dia bertanya lagi tidak percaya.
__ADS_1
Aku langsung tegas menggelengkan kepala. Jika aku pernah bertemu dengannya lalu sejak kapan, bukankah seharusnya ketika melihat wajahnya aku langsung teringat kan.
Bu Lisa tertawa kecil, “Bentar mas, adek bakal tunjukin sesuatu.” Dia bangkit dari sopanya melangkah menuju pintu kamar, entah apa yang akan di tunjukannya padaku.
Langit sore di upuk barat perlahan-lahan berubah berwarna jingga, desir angin meliuk melewati pohon membuatnya menjadi bergoyang. Jam 5 sore, sebentar lagi matahari akan hilang terbenam.
Kupikir dia akan menunjukan sesuatu seperti sebuah benda, barang, atau yang lainya. Namun setelah dia kembali justru dia tidak membawa apapun dan terlihat hanya rambutnya yang sudah terarai lurus.
“Perhatikan ya, Mas.” Tangan Bu Lisa meraih salah satu bagian rambutnya ke belakang, dia mengutak-atik rambut panjang itu seperti anyaman. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya aku tahu niat sebenarnya, ia ternyata hendak melakukan kepang rambut.
Butuh beberapa menit berlalu hingga akhirnya dia sudah menyelesaikan kepang 2 rambut.
Jantungku berdetak kencang melihatnya, ini bukan karena penampilan Bu Lisa yang wajahnya menjadi lebih manis dan imut. Melainkan karena sosok wajah itu adalah orang yang aku kenal pada waktu kecil dulu.
“Dek … kamu … kamu …?” Mulutku terbuka lebar sempurna melihat perubahan wajah Bu Lisa yang berubah drastis. Jelas sekali bahwa gadis di depanku adalah orang yang aku cari bertahun-tahun lalu.
“Mas, ingat sekarang.” Bu Lisa tersenyum begitu manis.
“Kamu … adalah dewi kecilku.” Wajahku masih syok, tidak percaya apa yang aku lihat.
“Dewi ke—”
Sebelum dia menyudahi kalimatnya, aku langsung cepat-cepat memeluk Bu Lisa dengan erat. Bertahun-tahun lalu aku selalu mencari keberadaan sosok gadis yang telah menyelamatkanku dari tabrakan maut.
Gadis yang pernah nekat mempertaruhkan nyawanya agar aku selamat. Rekaman itu masih jelas di ingatanku, apalagi saat dia berlari dari jauh dengan kencang, dan melemparkan tubuhnya hingga membuatku terdorong ke trotoar jalan agar aku tidak tertabrak oleh mobil.
Walau saat itu pandanganku menjadi kabur akibat berbenturan dengan bata trotoar, namun aku masih ingat jelas ciri-ciri orang yang menyelamatkanku, dia adalah wanita berambut kepang dua.
Aku tidak akan melupakan kejadian itu, hanya saja tepat ketika aku ingin mengenali gadis penyelamat tersebut. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, aku pingsan.
Saat aku terbangun kembali, aku tahu-tahu sudah berada di rumah, dan sampai saat itulah aku tidak menemukan gadis itu, tidak ada yang mengetahui bahkan orang tuaku sendiri.
Bu Lisa yang masih tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba memeluknya hanya terdiam kebingungan.
“Kalisa” Aku menatap matanya dengan dalam dan penuh perasaan, “apapun yang akan terjadi di masa depan, aku akan tetap mencintaimu, aku akan menjadi pelindungmu, aku akan ada di sisimu, selalu.”
Lantas setelah berucap kata-kata itu aku mencium bibirnya sekali lagi, lebih lama dan dalam. Membiarkan wajah Bu Lisa yang kebingungan heran.
**Udah lama gak up, maaf ya... biasa akhir tahun, liburan**.
\*\***Jangan lupa like dan votenya, juga yang tak kalah penting berikan coment kekurangan novel ini. Biar saya jadi lebih baik kedepannya**.
**Terimakasih**\*\*.
__ADS_1