Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 16 – Airin Yang Pemalu


__ADS_3

Di kelas kami ada dua saudara kembar yang seiras, namanya adalah Arin sang kakak dan Airin sebagai adiknya. Interval waktu mereka lahir hanya sekisar lima menit, itu yang di katakan Arin di ruang klub


Karena wajah yang sama, mereka membuat sesuatu yang unik dimana rambut mereka adalah ciri sebagai perbedaanya. Airin selalu memakai pita berwarna cyan di rambut sebelah kirinya, sedangkan kakaknya Arin dia memakai warna pita ungu di sebelah kanan rambut.


Menyampingkan tentang keunikan dari mereka. Sebenarnya wajah keduanya teramat lah cantik, kulitnya yang putih, rambut panjangnya, hidung mancung, mata yang indah. Tidak heran banyak laki-laki bisa jatuh hati pada ke duanya.


Airin sebagai adik dia memiliki watak yang pemalu dan pendiam, berbicara hanya seperlunya saja itupun harus dengan segenap keberanian.


Jika ada Arin entah itu dimana, maka tak jauh darinya ada Airin di belakangnya, selalu mengikuti kemana kakaknya pergi. Berjalan beriringan.


“Airin, kamu letakan kotak di sana” Aku menunjuk sudut ruangan yang terdapat banyak tumpukan kardus.


Dia mengangguk lantas meletakan kardus kecil, menyusunnya rapih, mengusap-ngusap dengan kemoceng agar kardus tidak terlalu berdebu.


Aku tersenyum melihat punggungnya dari belakang, bahkan ketika berdua seperti ini, di dalam gudang peralatan dan tidak ada siapapun. Airin tidak banyak bicara, hanya mengangguk lantas melakukan yang di perintahkan.


Airin dan Arin memang cantik, tapi jika dibandingkan dengan paras istriku maka itu tidaklah dapat di ukur, tentu istriku lebih cantik, namun ini hanya di padanganku yang sebagai suami Bu Lisa.


Aku meletakan kardus yang aku bawa di rak gudang, agak berat jika di bandingkan yang di bawa Airin, tapi itu masih dalam kekuatan tenagaku.


Bu Lisa menyuruh kami mengangkat buku-buku yang rusak di klub untuk di bawa ke gudang, bersih-bersih katanya, supaya ruangan tersebut bisa lebih luas.


Jadilah hari ini kami bersih-bersih, tidak harus membaca selama dua jam atau mendengarkan cerita-cerita buku yang pernah di baca. Itu sebenarnya tidak terlalu membosankan seperti apa yang di katakan Reza, bahkan bisa di bilang seru, karena kami bisa mengobrol, bercanda ria.


Usai merasa beres meletakan kardus, aku memberi instruksi pada Airin untuk ke luar. Arin mengangguk lantas ia mengikutiku di belakang. Ada kenangan indah di gudang ini sebenarnya, saat aku pernah nekat menyerobot menarik tangan Bu Lisa dan membawanya ke gudang.


Di sela cahaya senja yang indah memasuki celah awan, di saat burung-burung bartender ria di dahan pohon, bersiul seperti menyanyi. Kami berdua tidak bisa menikmati pemandangan tersebut, tidak akan! Karena apa? Karena kami terkunci di gudang.


Aku sudah berusaha keras menggunakan tenaga, menggeser pintu supaya terbuka namun tetap saja nihil. Pintu itu terkunci dari luar.


Airin untungnya tidak cemas meski saat-saat awal ia terkejut ketika aku memberitahu, dia hanya diam meski mungkin pikirannya membantu mencari jalan keluar.


Aku menghela nafas panjang, menyerah untuk membukanya, membuang-buang tenaga. Airin sudah lama terduduk di kardus yang di tumpuk tadi, meski dari matanya ada beberapa kekhawatiran, tapi ketika di tatap olehku dia semaksimal mungkin berusaha tenang.


“Kita tidak akan terkunci seharian disini, cepat atau lambat teman-teman akan menyadari bahwa kita tidak ada ” aku berkata menjelaskan, meredakan kekhawatiran meski sebenarnya Airin tidak menanyakannya.

__ADS_1


Airin hanya menatapku sesaat lantas mengangguk, setelahnya ia hanya diam dan tidak berbicara. Aku menghela nafas panjang, tidak bisakah ia berbicara sepatah dua patah, atau minimal hanya mengatakan ‘Ya’ atau ‘tidak’.


Andai jika bisa memilih, lebih baik aku terkunci di gudang sendirian dari pada berduaan tapi dalam suasana canggung seperti ini. Hei, gudang ini sangat pengap dan apek, jika di tambah suasana canggung maka lengkap sudah seperti orang bisu yang terpenjara.


Lima belas menit berlalu tidak ada percakapan di antara kami, hening. Aku sesekali mengetuk pintu dengan keras berharap ada orang dari luar, namun tetap saja nihil. Ini hampir jam setengah lima sore, seharusnya separuh lebih murid dan guru sudah pulang.


“Tinggal lima belas menit lagi klub kita akan bubar, setelahnya mereka akan menyadari bahwa kita tidak ada di sana” cicit Airin bersuara pelan, kalimatnya samar-samar terdengar dari gudang.


Aku menatap ke belakang, apakah tidak salah dengar ia berbicara, bukan kalimat pernyataanya yang membuatku melongo. Tapi Hei, maksudku, dia bisa bersuara?


“jam setengah lima, aku dan kakakku akan di jemput pulang, dia tidak akan pergi sebelum aku pulang bersamanya” tuturnya pelan, wajahnya tertunduk tidak berani menatap.


Aku yang tersadar terlalu lama memandangnya membuat ia merasa malu lagi, dengan tersenyum paksa aku berkata “Iya, semoga mereka cepat ke sini dan tidak membuat kita terlalu menunggu lama”.


“Iya semoga aja seperti itu” ucapnya tersenyum.


Tiga bulan aku berteman dengannya, baru pertama kali bisa melihat ia tersenyum langsung. Meski dia cantik tapi jika tersenyum seperti ini maka wajahnya terlihat sangat begitu manis.


“Apakah kau menyukai senja Raka?” Kini Airin membuka suara lagi.


“Kau menyukai senja Raka?” tanyanya sekali lagi.


Aku mengangguk ragu-ragu “Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak pernah berpikir seperti itu”.


“Menurutmu Raka, apakah matahari itu pergi meninggalkan kita dan membiarkan kita hidup dalam kegelapan, atau justru kitalah yang membuatnya menjadi pergi?” dia memalingkan wajahnya menatap jendela kaca gudang, membiarkan ia tersinari cahaya senja.


Saat itu, aku seperti melihat seseorang yang bukan Airin, tapi jelas dia adalah Airin temanku. Wajahnya tidak dapat aku mengerti, namun ada secercah kesedihan dari matanya ketika menanyakan demikian.


Pertanyaannya membuatku berpikir keras, bahkan setelah kami di temukan terkunci di gudang oleh Bu Lisa dan teman lainnya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Airin, kejadian ini terngiang-ngiang di kepalaku.


Di malam harinya. Aku sedang duduk bersender di kasur dengan Bu Lisa yang berada di dada bidangku sambil memainkan tabletnya. Ia sesekali tertawa melihat apa yang di tampilkan tablet besarnya itu, namun saat ini aku tidak terlalu memperhatikannya, wajahku terlipat, masih memikirkan kejadian tadi di gudang.


“Mas ada apa?” dia bertanya karena dari tadi aku hanya terdiam.


“Eh, tidak apa-apa dek” Aku terkejut saat dia tiba-tiba menatapku.

__ADS_1


“Memikirkan apa sih?”


“Eh enggak mikirin apa-apa kok”


“Bohong!”.


Aku menggaruk kepala “bener yang, aku gak mikirin apa-apa”.


“Bohong!? Mas dari tadi diam gitu, biasanya kan mas suka banyak nanya pada adek. Yasudahh kalau gak mau cerita gak apa-apa” dia memalingkan muka, pipinya menggelembung marah.


Ya ampun! Aku yang melihatnya justru merasa gemas, tanpa basa-basi aku menarik dagunya dan membiarkan bibir kami saling bersentuhan.


“Mas kok nyium sih” dia mendorong dada bidangku agar menjauh darinya.


“Gak kuat dek, tadi kelepasan” Aku menyeringai, memasang wajah tidak berdosa.


“Alasan! Bilang aja pengen cium”.


Bu Lisa memonyongkan bibirnya serta tangannya asik memukul-mukul dadaku, aku tahu, itu adalah cara ia menyembunyikan pipinya yang sudah memerah.


“Ternyata Bu Guru matematika ku ini selain galak juga pemukul pada muridnya” aku tersenyum menggoda.


“Siapa yang galak? Ibu cuma tegas bukan galak!” dia melotot, tidak terima di bilang galak.


“Eh, iya deh Bu Guru yang tegas” ucapku terus menggodanya.


“Mas ihh, awas aja nanti di sekolah, adek bikin soal yang pedas biar nanti mas yang mengerjakan di depan” Ancam Bu Lisa.


“Yasudahh, toh nanti juga aku bisa mengerjakannya”.


Walaupun aku tidak termasuk rangking sepuluh besar, namun Bu Lisa menyadari bahwa aku adalah orang yang pintar. Karena merasa kalah debat, diapun akhirnya mencubit pinggangku.


“Aww..”


**Like dan Votenya, bila perlu coment kekurangan novelnya, biar author bisa memperbaiki.

__ADS_1


Terimakasih**


__ADS_2