
Eps. 72
Sejak kejadian tadi saat kami mau melakukan hubungan suami istri namun ketahuan oleh Mamahku, Kalisa enggan untuk menemui ibuku, alasannya sangat sederhana karena dia malu.
Aku sudah beberapa kali mengatakan bahwa ibuku pasti akan mengerti tentang kejadian ini, tetapi tetap saja Bu Lisa menolak. Katanya dia sudah tidak ada muka bertemu mertuanya.
Waktu menunjukan jam 6 malam tepat, ini sudah waktunya untuk makan malam. Salah satu pelayan sudah mengetuk pintu untuk memberitahukan bahwa masakannya telah matang dan aku harus kesana.
“Ayo, Dek, kita kebawah. Tidak apa-apa ibuku jugakan sudah menikah, pasti dia akan mengerti tentang hal ini.”
Bu Lisa menggeleng. “Nanti aja, Mas. Adek gak laper sekarang, Adek ngantuk.”
Aku menghela napas panjang, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kutinggalkan Kalisa di kamar sedangkan aku pergi ke bawah untuk makan.
Sebelumnya, aku belum menceritakan semua tentang rumah ini bukan? Di dalam rumahku yang mungkin terbilang besar dan luas, ada beberapa pelayan yang bekerja di sini.
Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, jika aku menjumlahkan semua pelayannya disini mungkin sekitar 25 orang. Yang setiap dari mereka mempunyai tugas masing-masing.
Jadi apakah aku orang kaya? Sudah aku katakan sebelumnya aku adalah orang yang sangat kaya. Julukan 12 keluarga terpandang bukanlah hanya sebatas nama saja. Harta, kekuasaan, popularitas, semua itu telah dicakupi oleh keluargaku.
“Eh, Mamah ada dimana?” aku bertanya pada salah seorang pelayan yang tengah bersih-bersih menggunakan kamoceng. Setelah ia membalikan badan dan mengetahui bahwa majikannya yang bertanya ia langsung menunduk sopan.
“Nyonya ada di meja makan, tuan.” Katanya penuh hormat.
Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih lalu pergi kesana.
Tibanya di dapur, didapati ibuku tengah menunggu di meja makan persis seperti yang tadi pelayan itu katakan.
“Eh, Kalisa mana Raka? Dia enggak kesini?”
“Dia lagi tidur, Mah.” Jawabku pendek. Aku menarik kursi meja makan, mengambil piring, nasi, dan lauk pauk.
“Oh cape ya, abis olahraga.” Ibuku cekikikan. Sekilas dari wajahnya ia seperti membayangkan kejadian tadi.
“Udah dong Mah, jangan nyeritain itu.”
“Hihi… Iya-iya mamah minta maap.” Katanya yang masih cekikikan.
Wajahku berlipat sebal, perkataan ibuku tidak sesuai dengan tindakannya. Ia malah ketawa-ketawa sendiri. Beruntung, ketika nafsu makanku semakin berkurang, aku melirik masakan yang sudah lama tidak kurasakan, Udang saus tiram.
__ADS_1
“Mamah masak ini buat Raka?”aku bertanya sambil menyendokan udang kedalam piring.
“Iya, Mamah sengaja masak spesial buat kamu.”
“Hehe… Raka hampir lupa sama masakan mamah yang ini.”
Ibuku tersenyum, tidak menjawab, lebih memilih langsung makan.
***
“Aduhh, dimana sih remot TV, kebiasaan. Walau ada pelayan masih aja hilang.” Aku bersungut-sungut di sopa tengah rumah. Dari tadi aku sudah mencari remot disana-sini, entah itu di kolong sopa, di bawah bantal, ataupun di atas TV, tapi tetap saja tidak ada.
Aku hendak berteriak pada ibuku namun urung, dia sudah kedalam kamarnya untuk beristirahat. Sehingga mau tak mau aku menonton televisi di rumah sendirian.
“Eh tunggu dulu sebentar, bisa cari remot TV dulu gak?” aku bertanya pada salah satu pelayan yang lewat.
“Mm… Remot TV, tuan?” tanya si pelayan itu memastikan.
Aku mengangguk.
Si pelayan itu akhirnya ikut mencari remot bersamaku, setelah sepuluh menit berlalu remot TV masih belum ketemu.
“Maap tuan, masih belum ketemu.”
Hm… sepertinya aku harus memanggil pelayan yang lain agar ikut mencari. “Kamu panggil yang lain ya, suruh ke sini. kita akan cari ramai-ramai?” titahku padanya.
Si pelayan mengangguk, ia langsung berbalik arah dan pergi. Sekembalinya dia telah membawakan 10 pelayan bantuan yang semuanya adalah wanita. Aku berdeham sebentar sebelum berkata pada mereka.
“Maap sebelumnya, bisakah kalian bantu aku mencari remot TV?”
Para pelayan saling pandang, keheranan. Mungkin pikiran mereka menganggap bahwa ini adalah hal darurat mengingat semua di kumpulkan.
“Eh, tidak apa-apa kalau kalian keberatan?” setelah mereka diam cukup lama, mungkin mereka tidak mau pikirku.
“Tidak tuan, tentu saja kami mau. Kami akan mencari remot TV nya sekarang.” Jawab salah satu pelayang dengan tanggap.
Saat itu di sopa tengah rumah ramai sekali oleh para pelayan. kursi-kursi mulai di geser, karpet yang di lantai diangkat, pokoknya semuanya diubrak-abrik hanya untuk mencari remot. Tidak berhenti disana, para pelayan berpencar berkeliling rumah, mereka mencari di atas pot, di dapur, di luar rumah, bahkan ada yang lebih tidak masuk akal, di WC.
Setengah jam berlalu remot TV itu masih saja belum ketemu. Aku langsung mengumpulkan pelayan lagi, memerintah untuk mereka beristirahat sebentar.
__ADS_1
“Astaga, Raka!! Apa yang kamu lakukan pada mereka?!” Ibuku muncul dari kamar, tatapanya galak menunjuk semua pelayan.
“Eh, itu Mah, Raka nyari remot TV.” Aku menggaruk kepala, cengengesan.
“Hanya karena nyari remot kamu ngeberantakin rumah ini!” Ibuku menggelengkan kepala, memijit keningnya yang pusing. “Sekarang semua beresin sopa-sopa itu! Dan untuk remot TV, Raka, Astaga! itu ada di kamar Mamah, kenapa kamu gak bilang sama Mamah tadi.”
Aku menggaruk kepala, mana saya tahu remot itu ada di ibuku, lagian aku gak akan tega ngeganggu Mamah yang lagi istrihat.
Semua pelayan kembali bekerja merapihkan sopa-sopa. Mereka memang tidak akan berani menolak, tetapi wajah mereka semua sangat kesal dengan kejadian ini.
Aku tentu saja merasa bersalah karena telah menyusahkan mereka. Walaupun sebenarnya itu semua adalah pekerjaanya. Setelah semuanya kembali beres aku mengumpukan mereka kembali.
“Maap telah menyusahkan kalian, aku minta maap.” Kataku membungkuk.
“Eh, tidak apa-apa tuan, jangan seperti ini… itu memang pekerjaan kami. Tuan tidak salah, mungkin karena kami tidak menyadari remot itu ada di kamar nyonya.”
Para pelayan itu menjawabnya panik, walaupun mungkin mereka sedang kesal, namun ketika mendapati majikannya meminta maap dan membungkuk jelas mereka terkejut.
“Sebagai gantinya, aku akan menambahkan gajih kalian 10 persen bulan sekarang. Itung-itung sebagai permintaan maapku.”
Para pelayan langsung bereaksi cepat, “Tidak tuan, tuan tidak harus seperti itu. Kami semua sudah memaafkannya.”
Aku menggeleng tegas, “Untuk hal ini kalian tidak boleh menolak.”
Semua pelayan tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka saling pandang dengan wajah bahagia. Mungkin tidak menyangka akan dapat gajih tambahan hanya karena mencari remot.
“Kalau begitu tuan, izinkan kami untuk di suruh apa aja yang tuan inginkan. Ini sebagai bayaran atas kebaikan tuan.” Jelas salah satu pelayan.
“Mm… baiklah, kalau begitu bisakah kalian panggil istriku kesini. Ketuk pintunya dengan pelan, jika dia menyahut maka ucapkan padanya bahwa suaminya nunggu di bawah.”
Tanpa disuruh dua kali semua pelayan langsung berlari ke atas sebelum kalimatku selesai.
Aku menepuk jidat, bukankah satu orang saja sudah cukup.
***Like dan Votenya, itu sebagai apresiasi kalian terhadap Raka\+Kalisa sebagai tokoh utama. hehehe***
__ADS_1