Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 74 — Panggilan


__ADS_3

Seminggu berlalu, kabar tentang Kalisa hamil telah di ketahui oleh mertua maupun ayahku. Bukan main-main, mereka bahkan langsung meninggalkan pekerjaannya setelah mendengar bahwa Kalisa tengah mengandung.


Apa lagi Bu Ayu, orang tua istriku yang dulu sangat menginginkan anak dari kami. Dia hampir pingsan saking bahagianya, beruntung sekali ada suaminya yang menahan tubuhnya pas hampir jatuh.


Di rumahku sangat ramai sekarang, tidak seperti biasanya. Keluarga Bu Lisa dan keluargaku kumpul bersama-sama, mereka menginap selama beberapa hari disini, meliburkan dari kerjanya.


Aku yang rencana awalnya menginap tiga hari di rumah Mamah menjadi di undur sampai waktu yang tidak ditentukan. Hal ini karena mereka khawatir kalau-kalau Kalisa terjadi sesuatu, dengan adanya kedua orang tua disini, mereka akan pull menjaganya sekaligus membimbingnya.


Aku sebenarnya sedikit kasihan melihat Kalisa, jika sebelumnya dia yang selalu mengajar orang-orang namun kini dialah yang harus di ajar. Mertuaku dan ibuku kompak memberikan arahan pada Bu Lisa tentang kehamilan.


Seperti saat ini saat kami sedang kumpul di sopa tengah rumah. Bu Lisa yang tengah menonton Tv menjadi terganggu saat ibunya menyinggung kehamilan.


“Lisa, sekarang kamu tidak boleh cape-cape, beristirahatlah Nak, biarkan para pelayan disini yang melakukan aktivitas kamu.” Kata Bu Ayu.


“Sayang, kamu tidak boleh makan pedas ya, nanti kamu sering mual-mual lagi.” Itu kata Mamahku.


“Lisa, mulai saat ini jangan mandi air panas dulu, itu bisa membuatmu lemas dan pusing saat hamil, juga itu tidak baik buat janinmu.” Itu kata Bu Ayu selanjutnya.


“Sayang, apapun itu jenis makanan cepat saji, kamu tidak boleh memakannya. Itu tidak baik buat ibu hamil.” Ibuku berkata kemudian.


Dan terus seperti itu, keduanya saling berceloteh sampai satu jam lamanya, berkata tentang larangan-larangan kehamilan.


Bu Lisa mengangguk sabar, mendengar kedua orang tua yang kini menjadi gurunya itu, ia hanya bisa mendengar dengan patuh. Walaupun aku tahu saat ini Bu Lisa kelelahan mendengar ceramah panjang lebar dari mereka.


Selain tentang Bu Lisa hamil ada juga yang baru yaitu tentang aku bertemu dengan ayahku. Kalian pasti sudah tahu bahwa kami tidak bertemu 9 bulan lamanya.


Di suatu malam aku dan ayahku berada di teras rumah, duduk bersampingan sambil menyeruput kopi luwak.


“Bagaimana pernikahan kalian, punya banyak masalah?” Ayahku berkata lebih dahulu.


“Enggak Pa, semuanya baik-baik saja. Kami malah jarang bertengkar.”


Ayahku tersenyum, “Itu bagus, Raka. Kalian harus seperti itu, tetap rukun. Jika nanti ada pertengkaran di antara kalian, salinglah memaapkan, tidak peduli siapa yang salah, tidak peduli siapa yang benar. Tidak ada kalah dan menang dalam suatu hubungan yang ada adalah saling menyeimbangkan.”


Aku mengangguk setuju, walaupun ada beberapa kalimat yang tidak aku mengerti.


Ayahku memang seperti itu, dialah pemberi pelajaran terbaik selama aku kecil, memberikan nasihat-nasihat kehidupan. Meski kadang kalimat ayahku terlalu tinggi untuk seusiaku, butuh mencerna beberapa hari sebelum mengerti maksudnya.


Di pagi harinya, aku harus berangkat sekolah seperti biasanya. Kalisa sudah menyiapkan baju seragamku setelah aku keluar dari kamar mandi.


“Mas, jangan terlalu bergaya seperti itu, terus rambutnya jangan terlalu rapih, nanti istirahat diam aja di kelas, jangan gatel lihat perempuan-perempuan, apalagi ganjen pada meraka, ingat Mas kamu sudah punya istri, harus tahu diri!” Ucap Kalisa panjang lebar.

__ADS_1


Memang semanjak istriku ini hamil dia menjadi orang yang mudah cemburu, dikit-dikit selalu mengomel dengan penampilanku ketika berangkat sekolah, katanya ia takut seperti ada ibu-ibu yang waktu lalu, ingin menikahkan anaknya denganku, padahal sudah jelas itu hanya gurauan semata.


Meski dia sedikit cerewet sekarang justru aku tambah menyukainya, seperti aku benar-benar di cintai Bu Lisa. Mendengar dia menceramahiku tentang penampilan, membuatku tersenyum bahagia.


“Iya sayang… Mas gak akan ngapain-ngapain di kelas, Mas akan patuh sama larangan kamu.”


“Mas janji?”


Aku memegang dagunya pelan lalu mencium bibirnya, “Mas janji, Adek.”


“Serius?”


Kali ini aku mencium keningnya, “Iya Mas serius.”


Mendengar itu baru Bu Lisa percaya dan tersenyum manis, ia langsung mencium punggung tanganku. “Hati-hati ya Mas di jalan, jangan ngebut-ngebut naik motornya.”


“Iya.” Aku mencium pipinya sekilas, lalu berlutut dan mencium perut Bu Lisa yang masih rata. Oh ya, usia kandungan Kalisa masihlah muda, baru menginjak tiga minggu. “Kamu jaga kesehatan ya, Dek, jangan terlalu cape. Kalau butuh sesuatu panggil aja pelayan, mereka sudah siap melayani dan menjaga kamu.”


Bu Lisa mengangguk tersenyum. “Iya, Mas, Adek menegrti.”


Akupun pergi ke sekolah setelahnya meninggalkan Kalisa di rumah. Istriku memang tidak mengajar beberapa hari ini, dia mengambil cuti selama seminggu, sengaja agar bisa beristirahat di rumah.


Ibuku menyuruh 3 pelayan perempuan, khusus untuk menjaga Bu Lisa, mereka tidak boleh bersih-bersih ataupun pekerjaan lainya, cukup hanya fokus melayani Bu Lisa, apa yang nanti dibutuhkan dan apa yang ia suruh.


“Oi, senyum-senyum aja… Baru pagi hari pikiran udah ngelantur kemana-kemana. Jangan-jangan kau mikir yang jorok-jorok ya... Hayolohh, iyakan-iyakan, ngaku aja.”


Arin yang entah sejak kapan datang ke kelas langsung mengolok-ngolokku, tertawa. Sedangkan Airin yang di sampingnya menahan tawa atas ucapan kakaknya.


Aku hanya mendengus, tidak terima. Enak saja! Pikiranku tidak sejorok itu.


***


Di malam hari, setelah aku baru selesai mengerjakan PR di kamar, aku langsung menghampiri Bu Lisa di kasur, saat ini dia tengah duduk dan berkutat menatap laptopnya.


“Hai, sayang.” Aku mengecup pipinya.


“Kamu udah ngerjain PR nya?”


“Udah baru aja, kamu manjain aku dulu ya… Mas lagi pengen.”


“Iya sebentar,” Bu Lisa menutup laptopnya yang ada di pangkuan lalu meletakannya di atas laci. “Sini Mas, tiduran.”

__ADS_1


Aku merabahkan tubuh dengan paha dia sebagai bantalnya, sedangkan Bu Lisa mengelus rambutku.


“Mas, kalau kita sudah punya anak, kamu maunya berapa?” Tanya Bu Lisa tiba-tiba.


Pertanyan Bu Lisa sedikit mendadak, tidak menyangka bahwa dia akan berkata seperti itu. Aku berpikir terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab.


“Sepuluh!” kataku merentangkan semua jari tangan.


“Mas jangan becanda deh, Adek nanyanya serius tahu.” jawab Bu Lisa cemberut.


“Hehe… Kalau masalah itu sih aku serahin sama yang di atas aja. Sepuluh boleh dua puluh anak juga enggak apa-apa.” Kataku sambil tertawa kecil.


“Gak lucu ah, aku nanya serius kamu jawabnya asal-asalan.” Dia memalingkan muka.


Aku terkekeh, selalu asik memang kalau menggoda Bu Lisa. Pipinya yang menggelembung dan bibirnya mengerucut menambah nilai plus pada kecantikannya.


“Dek?” panggilku.


“Apa lagi? Mau menggoda Adek!” Bu Lisa menjawab galak.


“Bukan sayang, tadi aku cuma becanda.” Aku tertawa kecil. “Aku cuma kepikiran seharusnya panggilan kita harus di ubah. Bukan ‘Adek’ atau ‘Mas’ lagi, tapi ‘Mamah’ dan ‘Papah’. Bagaimana menurutmu, sayang, kamu setuju?”


“Enggak , anak kita aja belum lahir masa sudah di panggil seperti itu.”


“Tapi Mas justru pengennya seperti itu, supaya nanti kamu terbiasa manggil papah mamah saat anak kita lahir. Kamu mau ya, sayang, mau ya, Mah?” aku menatapnya penuh memohon.


Bu Lisa menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. “Yasudah, terserah Mas, aja… kamukan suami Adek, jadi Adek nurut aja.”


Aku tersenyum. “Terima kasih ya, Dek, eh, maksudnya, Mah.”


“Iya-iya udah dulu, Papah, ini sudah malam. Besok aja bahagianya.” Dia menggelengkan kepala.


“Kamu bilang apa tadi?” aku bertanya memastikan.


“Sudah malam?”


“Bukan, sebelum itu.”


“Mm… Papah?”


__ADS_1



...***Like dan Vote***...


__ADS_2