Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 111 — Waktu Bersama


__ADS_3

Ulangan akhir semester tiba, selama seminggu ini aku menghabiskan waktu untuk belajar. Menyebalkan memang tapi mau bagaimana lagi, demi nilai yang tidak seberapa kami harus berusaha agar tidak mendapatkan nilai merah.


Aku duduk di bangku pojok paling belakang seperti biasa, tas kuletakan di kolong meja. Melirik ke samping, sudah ada Zildan yang duduk di bangkunya dengan salah satu tangannya membaca buku kecil, bukan pelajaran melainkan novel.


Aku mendengus, anak ini, pasti dia tidak terganggu oleh adanya ulangan. Aku yakin selama ulangan seminggu ini Zildan tidak pernah belajar tetapi nanti dialah yang akan meraih nilai sempurna.


Suara riuh murid-murid seketika terhenti, menandakan guru pengawas akan tiba dalam beberapa detik lagi. Zildan segera menaruh novelnya di tas lalu mengambil pensil untuk ujian nanti, aku melakukan hal yang sama.


Derap langkah kaki terdengar dari luar, memecah keheningan kelas, menandakan guru itu sudah dekat. Tak lama dari pintu, muncul Bu Lisa datang membawa map kertas ujian.


“Selamat pagi anak-anak.”


Bu Lisa berjalan masuk dengan sapaannya yang datar, auranya yang tegas membuat murid-murid ada yang menarik nafas dingin.


“Pagi, Bu.”


Setelah duduk di mejanya, Bu Lisa memberi coretan pada buku absensinya, dia menatap area kelas sebentar sebelum map yang dibawa tadi dibuka dan terlihat lembaran kertas putih.


“Della, tolong bagikan pada teman kelasmu.”


Della mengangguk, sebagai Ketua kelas dan selama ujian ini ia sering disuruh demikian oleh semua guru, membagikan kertas-kertas ulangan.


Della memberikan kertas ujian itu pada murid yang duduk paling depan, setelahnya murid itu akan membagikan ke murid dibangku belakangnya secara estapet dan terus hingga murid yang duduk paling belakang menerima kertasnya.


Ada tiga kertas yang kuterima, yang pertama ada soal ujian itu sendiri, kedua kertas untuk menjawab soalnya dan terakhir adalah untuk kotretan, ya, ini adalah ulangan pelajaran Matematika, harus ada kotretan.


Setelah aba-aba dari Bu Lisa, kami diperbolehkan untuk mengerjakan soalnya. Otak kami terasa mengepul sekali dipelajaran ini, setelah 2 jam berlalu akhirnya kami bisa selesai, otakku terasa sakit.


“Kau tidak apa-apa, Raka?” Bu Lisa tengah berkeliling mengambil kertas ujian dari muridnya, saat dibangkuku, dia melihatku yang tengah memijit kening.


Wajahku sumringah seketika, senyuman lebar menghiasi saat tahu itu istriku.


“Baik, Bu, Eh maksudnya, Sayang...” Aku mengecilkan suaranya pelan, sangat pelan sampai hanya bibirku yang bergerak saja. Aku berkedip genit padanya.


Bu Lisa buru-buru beralih ke bangku Zildan saat aku berniat akan menggodanya, aku terkekeh, selalu seru menggoda istriku ketika di kelas seperti ini.


Hari itu adalah hari akhir ujian, jadi setelah ini kami akan beristirahat sejenak atau sekedar bermalas-malasan.


Aku melemparkan tas kemana saja ketika pulang dan sampai dirumah, tubuhku ambruk diatas sopa, tiduran.


“Mas, ih, jangan jorok gituh… “ Bu Lisa mengomel melihatnya, dia langsung memungut tas yang kulempar tadi.


“Cape tau dek, Mas lelah banget.”


“Lelah apanya, kan Mas dari tadi hanya duduk di bangku saja, berpikir, tidak berlari-lari kan?”


“Itu yang membuat Mas cape tau Dek, Mas cape berpikir.”


Bu Lisa tertawa kecil melihatku yang bertindak seolah memang kelelahan, terkulai lemas. “Yaudah, kalau begitu Adek mau mandi dulu... Tubuh Adek sudah lengket gerah.”


“Eh…” Aku terperanjat. “Mas ikutan, Dek!”


“Katanya cape, nanti kalau di kamar mandi berdua, Mas biasanya minta jatah lagi…”


“Hehe…”Aku menggaruk kepala. “Boleh, ya?”


“Memang Adek bisa menolak?” ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Aku tersenum senang dan langsung mengangkat tubuhnya ke kamar mandi, istriku sedikit terkejut atas aksi tersebuh bahkan ia sampai mengomel ketika di turunkan.


“Maap Dek…” Aku mengecup bibirnya singkat, membuat omelan Bu Lisa berhenti diikuti pipinya yang memerah. Setelah itu, selain mandi kami juga melakukan ritual pernikahan.


***


Malam hari, hujan deras mengguyur di luar rumah dengan angin dingin yang menusuk melalui celah jendela.


“Hujan deras banget, Dek?” Ujarku pelan menoleh ke arah jendela.


Kami sekarang sedang berada di tengah rumah, duduk di sopa sambil menonton televisi. Amelia berada di perutku, duduk, saat ini dia sedang bermain bersamaku sedangkan Bu Lisa tengah sibuk dengan laptopnya.


“Musim hujan kan sudah dimulai, Mas...” Jawab Bu Lisa tanpa menoleh kepadaku, masih berkutat dengan laptopnya.


“Kalau begitu besok-besok ke sekolah, aku ikut mobil kamu aja Dek.” Lanjutku, “Mas gak mau kebanjiran kayak waktu lalu, mogok, harus dorong-dorong motor deh.”


Bu Lisa tidak menjawab, masih fokus dengan laptopnya. Aku menyipitkan mata, mendengus kesal. Dasar istriku itu, kalau sudah berkutat dengan laptop seolah dunia hanya miliknya seorang.


Aku memalingkan wajah ke Amelia yang sedari tadi duduk di perutku, memilih melanjutkan bermain bersamanya. Amelia menatap wajahku dengan ekpresi manisnya, aku tertawa kecil dan mulai memainkan tangan kecilnya dengan gemas.


“Kenapa hm? Ayah memang tampan sayang…” Aku tersenyum lembut ketika tatapan puteriku itu terus memandang wajahku.


Amelia tertawa lucu, tangan dan kaki mungilnya bergerak-gerak kegirangan.


“Kenapa sih anak Ayah ini gemesin…” aku membenamkan wajah pada perut Amelia dengan gemas.


Amelia tambah kegirangan senang, aku terus melakukan yang sama hingga tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang basah dari bagian yang diduduki Amelia. Saat kulihat ternyata bajuku sudah basah.


“Sayang, kamu kencing…” Aku langsung mengangkat tubuhnya, Bu Lisa dari samping tersadar, ia menutup laptopnya lalu segera mengambil alih Amelia.


“Tidak apa, kamu ganti baju dulu Amelia, aku mau ganti kaos…”


Aku pergi sebentar ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju, setelahnya aku kembali dan melihat istriku yang sedang mengganti popok Amelia.


“Sini, biar aku aja ganti popoknya. Kamu lanjutin aja kerjanya Dek…”


“Eh, gak usah deh Mas, ini kan tugas Adek.”


Aku tersenyum. “Amelia juga adalah tugasku, Sayang, kamu istirahat aja, ini biar mas yang urus.”


Bu Lisa terlihat ragu, tapi aku juga tidak harus menunggunya, aku mengambil alih popok yang di pegang Bu Lisa dan memakaikan pada Amelia. Bu Lisa terlihat kebingungan sesaat.


“Eh, kok Mas bisa pakain popok?” tanyanya heran.


Aku tersenyum lembut, memang selama ini istriku lah yang bisanya melakukan hal tersebut tetapi seiring aku melihatnya aku juga bisa, lagian itu bukanlah hal yang sulit untuk ditiru.


Amelia sudah kembali menggoyangkan kakinya, aku tersenyum dan menggendongnya didadaku. “Amel jangan gitu lagi, ya…” kucolek hidungnya gemas.


Bu Lisa sepertinya sudah tidak tertarik menyelesaikan tugas, ia langsung duduk disampingku.


“Melihat Amel seperti itu Adek jadi ingat pas kamu kecil dulu Pah, kamu juga melakukan yang sama ketika di pangkuan Adek…”


Aku mendengus, “Jangan bahas gituan, Dek!”


Bu Lisa terkekeh, tak melanjutkannya lagi. Ia kemudian meminta Amelia yang sepertinya mau menyusui ketika melihat ibunya.


“Hm, sudah semakin besar ternyata?” gumamku pelan melihat Amelia menyusui.

__ADS_1


“Iya, umur Amel kan sekarang sudah menginjak 6 bulan.”


“Bukan Amel yang kumaksud, Ma, itu kamu kayaknya semakin besar.” Aku menunjuk bagian dadanya, menyeringai lebar. “Bener kan?”


Bu Lisa kemudian menyadari tunjukkan tersebut, wajahnya memerah seketika, refleks menutupnya. “Mas ih, jangan mesum..”


“Mesum juga sama kamu, Mah…” Aku terkekeh.


Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Bu Lisa yang sudah mengetahui kode tersebut menutup mata, membiarkan bibir kami bersentuhan sambil menyusui.


Awalnya ciuman itu hanya sekedar kena saja tetapi lama kelamaan kami menginginkan yang lebih, tubuh kami menuntut untuk melanjutkan ke hal yang lebih intim.


“Mas kita ke kamar, yuk.” ucap Bu Lisa pelan, tatapannya menjadi sayu.


“Kamu mau lagi malam ini?”


Bu Lisa mencengkram lengan bajuku, mengangguk.


Aku tersenyum “Yaudah, yuk, Amel juga sepertinya udah ngantuk tuh…”


***


“Mas cape?” tanya Bu Lisa usai kami berhubungan, kami sedang tiduran di kasur tanpa menggunakan busana. Hanya selimut yang menutupi.


“Lumayan, kamu mainnya aktif banget Dek malam ini?”


Bu Lisa tersipu, mencubit perutku pelan. “Mas ih…”


“Hihihi…Gak usah malu, masa udah jadi ibu masih malu sama suami.”


Wajah Bu Lisa tambah memerah, ia menyandarkan kepalanya di dada bidangku sementara aku mengelus pucuk kepalanya.


“Aduh, Bu guru ini memang sangat pemalu…” aku tertawa kecil.


“Adek disini bukan guru kamu, tapi istri kamu Mas.” ucapnya kesal dengan kalimat barusan.


“Iya deh, Bu Kalisa.”


Bu Lisa melepaskan pelukan, menatapku dengan setengah jengkel. “Mas kayaknya suka deh bikin Adek kesal, awas aja nanti nilai matematika Mas Raka aku turunin sampai nol.”


“Uh, memang kamu berani?”


“Berani lah, Mas Raka kan murid Adek di sekolah.” katanya dengan sedikit bangga


“Oh, jadi gitu ya…” Aku tersenyum lebar, “Kalau begitu aku harus hukum kamu disini biar gak berani macam-macam di sekolah.”


“Adek gak takut…”


Aku sebenarnya ingin menggelitiknya tetapi karena terlampau lelah jadi hanya mencium bibirnya, kecupan yang mendadak itu membuat Bu Lisa terdiam beberapa saat, ia langsung buru-buru bersandar didadaku kembali, menutupi wajah merahnya.


“Gitu aja sudah kalah…” Aku tertawa kecil.


“Mas sih, kok langsung nyium Adek.”


Aku tersenyum. “Yuk, tidur Mah, sudah malam…”


Bu Lisa mengangguk, mengecup pipiku sekilas sebelum buru-buru tidur dalam pelukanku. Aku hanya tersenyum melihat gelagatnya, Dasar kalisa ini…

__ADS_1


__ADS_2