Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 99 — Hukuman


__ADS_3

Aku terbangun oleh tangisan Amelia sekitar jam 3 dini hari. Seperti rutinitas malam biasanya, dia akan selalu minta disusui. Aku mengucek mata dan melihat Bu Lisa tengah menggendong Amelia didekat keranjang bayinya.


“Kamu kebangun, Mas?” Ujar istriku pelan.


Aku menguap lebar sambil mengangguk. Kulihat istriku sudah berpakaian lagi, sebelumnya setelah kami berhubungan intim, kami tertidur dalam keadaan telanjang.


“Kamu sudah dari tadi bangunnya, Dek?”


“Sekitar setengah jam yang lalu.” Bu Lisa tersenyum. Walau dia hanya mencuci muka saja, wajahnya tetap cantik.


“Kamu kok sudah berpakaian sih?”


Sebenarnya aku masih dalam keadaan telanjang. Awalnya aku berniat meminta hak lagi pada Bu Lisa ketika bangun, namun setelah melihat dia telah memakai busana membuat rencanaku gagal.


“Udara dini hari sangat dingin, Mas, kamu juga harus segera berpakaian.”Bu Lisa memalingkan wajahnya saat selimut didadaku sedikit merosot.


“Kenapa memalingkan wajah begitu, hm? Kamu kan sudah melihat semua badan Mas, semalam malah kamu mainnya lebih agresif.” Aku tertawa kecil sambil membayangkan hal itu, “Sini duduk diranjang, Dek, Mas mau lihat Amelia.”


“Mas Raka jangan ngebahas gituan…”


Aku terkekeh melihat wajah dia yang cemberut. Kenapa istriku masih saja malu, padahalkan dikamar ini hanya tinggal kami berdua.


Bu Lisa duduk ditepi ranjang supaya aku bisa melihat Amelia lebih dekat. Kueratkan selimut di pinggangku agar tidak terlalu melorot lalu bergeser sedikit untuk mendekatinya.


“Lagi lapar, sayang?” aku bertanya lembut pada Amelia.


Amelia hanya melirikku dengan tatapan mata, menggoyang tangannya dengan mulut yang masih asik menyusui.


“Ih~Kok masang wajah cantik gitu sih anak papah? Siapa sih Ibunya, dia pasti ikutan cantik.” aku menoleh pada Bu Lisa yang segera bersemu merah dan salah tingkah.


“Mas Raka juga ganteng, kok…” ujarnya bercicit pelan.


“Bisa aja kamu…”Kukecup pipinya.


Amelia memang hampir mewarisi semua gen dalam istriku, seperti rambutnya, hidungnya, lesung pipinya, semua persis dari istriku. Cuma satu yang tidak sama dengannya, yaitu mata Amelia yang berwarna cokelat terang, ini adalah genentik dari diriku.


Setelah dirasa kenyang, aku menyuruh Bu Lisa untuk menaruh Amelia ditengah ranjang kita, namun Bu Lisa menolak hal itu beralaskan takut ketika nanti tidur, kami tidak sengaja akan menindih Amelia, apalagi tidurku yang terbilang selalu bergerak-gerak.


Bu Lisa meletakan kembali Amelia dikeranjang bayi lalu ikut tidur lagi disampingku. Aku segera memeluk tubuh kecilnya, udara dini hari memang dingin, memang paling bagus memeluk seseorang.


***


“Mas, Adek mau bangun, ih, lepasin tangannya…”


“Sebentar dong Dek, Mas pengen meluk kamu dulu.” Aku membalasnya dengan mata yang masih tertutup. Istriku masih menggurutu ingin bebas dalam pelukanku.


“Bukannya begitu, Adek cuma belum mandi, Mas, lagian kita harus bangun sekarang, ini sudah jam 7 pagi.”


“Kamu belum mandi juga masih wangi, kok. Kita berpelukan gini dulu aja, kalau bisa sampai siang. Selagi hari ini hari minggu kita gunakan buat bersama.”


Bu Lisa awalnya ingin protes lagi namun setelah mataku terbuka dan mengecup bibirnya singkat, ia langsung terdiam dan tersipu. Aku tersenyum dengan reaski wajahnya, kenapa dia harus berbohong jika masih ingin bersama suaminya.

__ADS_1


Aku memeluk Bu Lisa hampir satu jam lebih, tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidur. Istriku nyatanya nyaman dalam pelukan ini, malah ia kembali tertidur lagi hingga jam 9 siang.


Hari ini orang tuaku tidak ada dirumah, kemarin malam mereka memberitahukan akan pergi ke kota sebelah dan menginap beberapa hari. Untuk kedua mertuaku, Bu Ayu dan Pak Harun, mereka sudah kembali kerumah sejak seminggu yang lalu. Jadi hari ini dirumah tidak ada siapa-siapa bila mengecualikan para pelayan.


Bu Lisa segera mandi ketika terbangun dari tidur diikuti olehku setelahnya. Pas aku selesai mandi dan turun kelantai satu, istriku tengah memasak di dapur, aku tersenyum lalu segera mendekat dan memeluknya dari belakang.


“Masak apasih istriku ini?” Aku memeluk perutnya dengan manja.


“Udang saus tiram, Mas, kesukaan kamu.” Bu Lisa tersenyum menanggapi, membalikan badannya menghadapku.


“Boleh dong bumbunya ditambahin lagi?”


“Memang bumbu apa?”


“Bumbu cinta.”


“Ih, pagi-pagi Mas sudah gombal.” Bu Lisa memasang wajah cemberut walaupun bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.


“Tapi Adek suka, kan?”


“Enggak kok.”


“Kalau ini kamu pasti suka…” Aku mengecup keningnya lembut, menyeringai.


Bu Lisa tersenyum salah tingkah. Segera berbalik badan untuk menyembunyikan wajahnya.


Masakanpun selesai, kami makan bersama dengan piring satu untuk berdua. Bu Lisa menyuapiku dengan tangannya, silih berganti hingga makanan di meja habis.


Sudah lama sekali aku tidak bermain game PS, terakhir kali sebelum Bu Lisa hamil. Itu berarti hampir 10 bulan lamanya aku tidak memainkannya.


Disaat aku baru memulai Bu Lisa duduk disampingku bersama Amelia yang ada digendongannya.


Aku mengerutkan alis dengan sedikit heran, tidak seperti biasanya Bu Lisa akan menontonku bermain game.


“Itu gimana mainnya sih, Mas?” Tanya istriku disela aku memainkannya.


“Cuma balapan motor, sayang, siapa yang kegaris finish duluan dia yang menang. Kita harus menakan tombol ini untuk maju dan tombol ini untuk nge’rem agar tidak kebablasan saat berbelok. Juga jangan terlalu cepat memainkannya karena nanti bisa jatuh.”


Bu Lisa memangut-mangutkan kepalanya, dan terus menontonku bermain. Saat kulihat dia telah menyusui Amelia dan meletakannya ke kamar, aku tersenyum lalu menawarkan padanya.


“Kita bermain game, yuk, Dek?” Ajakku sambil menyodorkan stig PS.


“Adek tidak bisa bermain, Mas.”


“Tidak apa, aku ajarin dulu. Kalau nanti sudah bisa, kita bermain tanding. Siapa yang kalah dapat hukuman dari yang menang.”


Istriku menyipitkan matanya curiga. “Sepertinya Mas sedang merencanakan sesuatu yang jahat, ya, sama Adek?”


Aku tertawa kecil, dia bisa menebaknya dengan tepat. Memang aku sedang merencanakan sesuatu untuknya.


“Kamu mau ya, Dek, ya? Sesekali buat refreshing juga, itung-itung hiburan.” Aku sedikit memaksanya yang akhirnya Bu Lisa mengangguk setuju.

__ADS_1


“Tapi ajarin dulu sampai Adek bisa Mas.”


Aku mengangguk dengan mantap. Tidak butuh lama agar Bu Lisa paham dan menguasainya, selain karena istriku memang cerdas juga game itu mudah dimainkan.


Setelah dirasa dia bisa, kami mulai bertanding. Aku sedikit keliru ketika mengajarkan game padanya. Lihatlah, jika seharusnya game balapan itu harus bergerak cepat tetapi istriku menyetirnya dengan pelan dan amat lambat.


“Dek, kok, jalanin motornya lambat gitu, sih?” Aku bertanya heran. Jarak game motorku dengan Bu Lisa sangat jauh, jadi tidak masalah aku berhenti sebentar.


“Kan harus hati-hati, Mas. Nanti bisa-bisa kalau Adek melajukannya cepat, yang naikin motornya bisa jatuh.”


Aku menepuk jidat dengan perkataan Bu Lisa, entah kenapa kepeduliannya itu berlebihan. Inikan cuma permainan, tidak harus sehati-hati itu.


Perlombaan ini tentu saja dimenangkan olehku dengan begitu mudah. Karena aku telah menang maka Bu Lisa dapat hukuman olehku, ia harus menuruti apa yang aku minta.


Aku menyuruh dia untuk menutup mata lalu menarik tangannya dan menuntunnya ke kamar. Aku mengingatkan dia jangan mengintip atau pura-pura terpejam, karena sebentar lagi ada sesuatu yang akan dia dapatkan dengan hukumannya.


“Mas Raka jangan macam-macam ya, sama Adek.” Bu Lisa sedikit mengancam disela matanya tertutup.


“Macam-macam juga boleh, kok, siap-siap saja dengan hukumannya, kamu akan terkejut.” Aku terkekeh kecil, menjailinya.


“Ih~Mas Raka…”


Setelah sampai ditujuan, aku menyuruh Bu Lisa untuk diam sebentar. Aku mengambil sesuatu terlebih dahulu dilemari berupa kotak berwarna merah. Setelah mendaparkannya aku menyuruh dia untuk membuka mata kembali.


“Sayang, sekarang kamu boleh buka matanya…”


Bu Lisa perlahan membuka matanya, yang pertama ia temukan adalah kotak kecil berwarna merah sudah tersodorkan di depannya. Bu Lisa melihatku dan kotak itu secara bergantian, sebelum akhirnya membuka mulutnya dengan tatapan tidak percaya.


“Mas Raka ini…”


Aku membuka kotak merah itu yang berisikan kalung emas. Aku tersenyum padanya. “Ini adalah hukuman buat kamu, istriku. Aku berikan ini padamu.”


Kalung emas yang ada digenggamanku adalah hadiah yang aku ingin berikan padanya. Butuh waktu beberapa bulan untuk menabung hingga akhirnya bisa terbeli.


Awalnya aku berniat memberi itu pas Amelia lahir, namun batal gara-gara aku kecelakaan.


“Kalisa, terimakasih, ya, telah mendampingiku selama ini, telah menjadi istriku dengan baik dan sabar, telah menerima kekurangan Mas yang kadang kekanak-kanakan, juga aku berterimakasih karena kamu telah menjadi ibu dari anakku Amelia.


“Mungkin perhiasan ini tidak terlalu mahal, tapi Mas harap Adek bisa suka…”


Sebelum ucapanku selesai, Bu Lisa langsung memelukku dengan erat. Kurasakan tangannya sedikit bergetar lalu tak lama ada isakan tangis yang terdengar.


“Adek tidak peduli seberapa mahal dan murahnya hadiahmu, Mas, selama itu pemberian dari suami Lisa, Adek akan menerimanya”


Aku tersenyum, ikut mengelus pucuk kepalanya. “Terimakasih, sayang.”


Bu Lisa mengangguk perlahan dan menyeka sudut matanya yang berair. Ia melepaskan pelukannya.


“Sini, Dek, Mas pakaikan kalungnya dilehermu…”


Istriku tersenyum lalu berbalik dan menyibakkan rambutnya ke atas. Aku mengambil kalung itu dikotak dan memakaikan dilehernya.

__ADS_1


Setelah dirasa selesai, Bu Lisa bergerak mencium bibirku dengan tiba-tiba. Aku mematung sejenak sebelum melirik istriku yang kini sudah tertunduk malu.


__ADS_2