Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 81 — Uang dan Kebahagiaan


__ADS_3

Aku berpapasan dengan Della saat hendak mau keluar lorong. Della kebetulan baru melihat bunga-bunga, dia duduk di kursi kayu taman, bernapas tenang dengan pemandangannya. Untuk seorang wanita, mungkin Della memang menyukai warna bunga-bunga itu.


“Dari mana? Kau berkeliling juga?” Della baru saja menemukan sosok keberadaan ku. Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Kupikir kau akan bermain game bersama Si Reza, tidak seperti biasanya.”


“Aku sudah bosan bermain game itu, aku juga punya PS 5 di rumah.” Aku menjawabnya singkat lalu ikut duduk di sampingnya.


“Hm… sama-sama orang kaya, tidak aneh kalau punya barang mahal itu.”


Aku terdiam sebentar, lalu mengangguk lagi. Bingung harus menjawabnya seperti apa.


“Menjadi orang kaya itu enak ya, Ka? Kalian punya banyak uang, apa yang kalian inginkan mungkin tinggal asal beli, tidak sulit, tidak harus bersusah payah. Semuanya pasti terkabul.” Della menoleh ke arahku sebentar lalu memalingkannya ke atas langit. Dia menghela napas pendek.


“Mungkin akan bahagia jika aku punya uang banyak. Bisa membuatku tersenyum setiap saat. Tidak harus memikirkan uang akan kehabisan. Tinggal beli beli beli, dapat dehh. Pasti akan bahagia selalu.”


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, apakah saat ini Della berbicara padaku, kalau iya, itu adalah percakapan yang sulit, percakapan yang tidak harus disinggung oleh kaum remaja. Aku terdiam sesaat, berpikir mengelus-ngelus dagu, lantas berkata.


“Kau tahu Del? Ayahku dulu pernah berkata sesuatu… Kira-kira seperti ini.” Aku berdeham sebentar sebelum melanjutkan. “Uang memang selalu membuat kita tersenyum, uang selalu membuat kita senang saat melihatnya, uang selalu mendatangkan kebahagiaan. Apapun yang kita inginkan, bisa menjadi kenyataan dengan uang. Uang seperti segalanya.


“Tetapi walaupun begitu, Della. Uang dan kebahagiaan adalah kedua jenis yang berbeda. Tidak semua yang punya banyak uang akan bahagia, dan tidak pula yang bahagia harus punya banyak uang. Uang adalah uang, kebahagiaan adalah kebahagiaan. Mereka tidak dapat disamakan.”


Della lamat-lamat memandangku, kemudian ia tersenyum manis, sangat manis, sampai-sampai aku hampir betah memandangnya.


“Terima kasih, Raka,” ucapnya.


“Buat?”


“Kata-katamu tadi. Kalimat kau membuka pemahamanku tentang sesuatu.”


Aku tersenyum lebar, senang di puji oleh teman sendiri, walaupun aku tahu itu adalah kalimat dari ayahku.


Kami berdua tidak berbicara lebih lanjut. Setelahnya kami pergi ke tempat semula, ke ruangan Arin sebelumnya.


***


“Kak, kenapa Kakak gak bilang ada mereka di rumah? Aku malu tahu, belum mandi belum apapun mereka menyaksikan penampilanku yang bangun tidur.”


Airin berkata penuh protes pada kakaknya Arin. Sekitar 10 menit lalu dia baru bangun dari tidur siangnya, saat ia keluar dari kamarnya, ia dikejutkan dengan adanya keberadaan kami.

__ADS_1


Kami serempak menoleh dan menyapanya. Airin yang kala itu penampilannya berantakan, tersenyum malu membalasnya lalu berbalik badan kembali ke kamar lagi.


Arin tertawa jail. “Bukankah kakak sudah memberitahukannya kemarin. Kau lupa?”


“Kapan, kakak gak pernah bilang!”


“Bilang kok, saat jam 10 malam. Aku berkata bahwa besok teman-teman kita akan ke sini.” Arin menjawabnya enteng.


“Ih, kakak. Kalau jam 10 malam Airin sudah tidur.” Airin menggelembungkan pipinya marah.


“Yahh, itu salah siapa coba.” Arin mengangkat bahunya tidak peduli. “Kamu bayangkan, tadi teman-teman kita melihat kamu dengan rambut berantakan. Kira-kira seperti apa mereka memandangmu besok.”


Wajah Airin memerah malu. “Kakak sih, pasti ini rencana kakak ya?”


Setelah berkata seperti itu Arin langsung tertawa lebar, jelas-jelas dia mengakui pernyataan adiknya. Airin langsung cemberut, kedua tangannya di lipat di dada.


Dua jam berlalu kami berada di rumah si kembar akhirnya memutuskan untuk pulang. Bukan karena kami sudah bosan, melainkan waktu sudah menunjukan jam 3 sore. Kami terlalu lama di rumahnya.


Bersama dengan 7 maid pribadinya, Arin dan Airin mengantar kami sampai gerbang. Mereka berbasa-basi mengatakan seharusnya kami lebih lama. Kami menjawab seadannya, melambaikan tangan lalu berpamitan pulang.


Sekelebat aroma masakan menyambutku sesampai di rumah, aku tersenyum bahagia, itu pasti adalah masakan Bu Lisa. Aromanya benar-benar menggoda.


“Masak apa sih? Harum banget tahu sampai-sampai baru buka pintu langsung kecium.” Aku berdiri di samping istriku saat dia tengah memasak.


“Kamu sudah pulang, Mas.” Bu Lisa mencium punggung tanganku yang langsung aku balas dengan kecupan di dahi dan bibirnya membuat ia tersipu memerah. “Mas ihh, jangan cium mulu.”


“Kan kamu yang janji asal nyium punggung tanganku, yahh aku cuma mau membalas dua kali lipat.”


“Tapikan itu beda!”


“Sama, kok! Sama-sama pake bibir.” Aku nyengir lebar. Bu Lisa memutar matanya malas, ia kembali menoleh ke arah masakannya.


Kulirik istriku dari bawah ke atas. Bu Lisa memakai celemek berwarna ungu, karena dia memakai rok pendek sampai paha, membuatnya terlihat seolah ia memakai celemek tanpa busana sedikitpun.


Aku meneguk ludah, pikiranku sudah terbang ke kejadian di pemandian air panas lalu, saat tidak sengaja melihat maid-maid itu berendam. Aku tersenyum penuh makna yang dalam pada Bu Lisa.


Melakukan hal itu di sore hari tidak masalahkan?

__ADS_1


***


“Kamu kenapa sih, datang-datang mau ngelakuin itu, akukan belum nyelesain masakan.” Bu Lisa memegang selimutnya erat, takut akan melorot dan menampilkan tubuhnya yang telanjang.


“Yahh, pengen aja, Dek.” Aku menjawabnya santai. Mana mungkinkan aku beralasan bahwa instingku bangkit karena tidak sengaja ngintip.


Bu Lisa menarik selimut di bagianku agar tidak terlalu terbuka. Kami sebelumnya memang sudah melakukan hak suami istri barusan, jadi tubuh kami sama-sama telanjang dan tertutupi oleh selimut tebal.


Jam 4 sore. Sudah 15 menit berlalu kami masih berposisi tiduran.


“Mas gak nonton film 18 tahun ke atas kan saat main tadi. Mas gak boleh nonton yang begituan, kamu masih sekolah!”


“Ya enggaklah, Ma.” Aku membantah tidak terima. “Kenapa aku harus menonton yang begituan jika bisa melakukannya langsung.” Aku tersenyum lebar pada Bu Lisa. Menaikan kedua alis secara bersamaan.


Bu Lisa tersenyum malu-malu.


“Terima kasih ya, Ma, kamu selalu nurut dengan yang aku mau, walau saat sore seperti ini.”


“Itu hak kamu, Mas, dan kewajibanku menurutinya.”


Bu Lisa mulai menyambar pakaiannya satu persatu dari atas kasur tetapi segera aku menahan pergelangan tangannya untuk berhenti.


“Satu ronde lagi, yuk?” Ajakku.


“Tapi masakan Adek belum selesai, Mas, nanti malam aja lanjutnya.”


“Aku maunya sekarang, sayang…”


Bu Lisa menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. “Sepertinya Lisa tidak bisa menolak.”


Aku tersenyum lebar. Tentu saja.




**Like dan Vote**

__ADS_1


__ADS_2