
Pelajaran biologi merupakan pelajaran yang paling aku minati disekolah, pelajaran yang membuatku kagum tentang banyak hal dari alam, lingkungan, dan mahluk hidup. Apalagi sekarang, guru biologi kami sedang membahas tentang sel, susunan terkecil dari mahluk hidup.
Biasanya, aku akan bersemangat mendengar penjelasan dari depan, mencatat setiap pengetahuan yang dijelaskan. Tetapi untuk kali ini, rasanya sulit bertindak demikian, pikiranku teralihkan oleh sesuatu yang sangat penting, yang sangat membuatku bertanya-tanya.
Aku menghela napas kesekian kalinya, beralih menatap langit dari jendela kelas, mengabaikan guru yang sedang menerangkan dari depan.
Tadi pagi, ketika aku berpamitan dari rumah, Bu Lisa tidak biasanya menahanku agar tidak berangkat ke sekolah. Aneh memang, bukankah biasanya dia selalu menyuruhku agar rajin sekolah, tidak boleh absen kecuali sakit atau ada keperluan tertentu. Tapi kenapa pagi tadi dia melarangku untuk berangkat.
“Entahlah, Mas. Dari tadi Adek punya pirasat gak enak. Adek takut kamu nanti kenapa-napa.” Jelas Bu Lisa setelah aku bertanya mengapa dia melarangku pergi.
“Itu hanya pirasat saja, sayang,” aku tersenyum lembut, mencium keningnya singkat. “Sudah ya, kamu jangan banyak pikiran apapun, kesihan loh nanti dedek bayinya melihat mamahnya murung gini. Ingat loh Dek, tinggal 3 hari lagi kita akan bertemu dengannya. Ayok tersenyum dong calon mama.”
Bu Lisa dengan terpaksa tersenyum, mungkin perkataanku boleh jadi ada benarnya baginya.
Persoalannya bukan Bu Lisa saja yang berkata demikian tetapi ibuku juga. Perkataaannya sama persis dengan istriku tadi, yaitu ‘Pirasat’.
“Kamu jangan negebut-ngebut dijalannya Raka, kalau bisa pelan saja asal aman. Hari ini perasaan Mamah tidak enak, Mamah takut ada sesuatu yang terjadi sama kamu.” Ibuku menatapku dengan pandangan yang berbeda, saat aku mulai maju menaiki motor, ibuku seperti tidak rela melihatnya.
Aku kembali menghela napas panjang, menggelengkan kepala, sepertinya aku terlalu banyak pikiran, boleh jadi itu hanya pirasat saja, tidak lebih.
Namun sayangnya aku sangat keliru mengartikan hal tersebut, sangat-sangat keliru. Satu jam dari sekarang akan ada berita besar diikuti dengan kejadian yang besar, tepatnya ketika hendak pulang dari sekolah.
***
Sore hari, awan mendung memenuhi langit dengan gumpalan hitam yang amat pekat, terlihat seram melihatnya, apalagi ketika kilat cahaya muncul membuat seseorang urung untuk berpergian.
Setelah pelajaran biologi tadi selesai, bel pulang akhirnya berdering keras memenuhi sekolah. Para murid bersorak ria, bergegas mengambil tas, siap menuju rumahnya masing-masing.
Berbanding terbalik dengan mereka, aku justru terdiam dulu menimang-nimang apakah aku harus pulang sekarang atau tidak. Jika iya, aku takut nanti ditengah perjalanan hujan akan turun, sedangkan sekarang aku tidak membawa jas hujan. Dan kalaupun tidak, aku takut menunggu lama disini, bisa-bisa akan terlalu sore sampai rumah.
Jika tempat tinggalku di kompleks, aku bisa saja sudah pulang dari tadi karena jaraknya dekat, namun sekarang tempat tinggalku dirumah ibuku, membutuhkan 1 jam lebih hingga sampai.
Aku kembali menapakuri langit atas, memperkirakan apakah hujan akan turun cepat atau lambat.
__ADS_1
“H-hai?”
Suara pelan diikuti kegugupan mengalihkan pandanganku dari atas. Saat aku menoleh, ternyata Airin sudah berdiri didekatku dengan wajah yang menunduk.
Aku tersenyum ramah, membalas sapaannya. “Kamu belum pulang, Airin? Dan, dimana kakakmu?”
“Eh, Aku… Aku belum pulang… Eh, maksudku Arin ada disana.” Airin menunjuk lorong kelas dengan gugup, terlihat Arin yang sedang berdiri menelepon seseorang.
Aku menggaruk pipi, melihat reaksi Airin seperti ini membuat suasana jadi sedikit canggung. Jika boleh mengungkapkan, aku paling sulit berkomunikasi dengan Airin di banding dengan kakaknya. Airin adalah wanita pendiam dan terkesan pemalu, ia akan berbicara jika hanya perlu saja.
Beruntung, sebelum aku dan Airin berdiri saling diam-diam’an. Arin datang menghampiri, menyelamatkanku dari rasa canggung.
“Ayo dek, sebentar lagi ada sopir yang menjemput…” Arin tiba-tiba menarik tangan adiknya menyuruhnya bergegas pergi, tetapi langkah terhenti ketika melihat wajahku
“Eh, Raka? Kau belum pulang?” tanyanya sedikit heran.
Aku menggeleng, menghela nafas panjang. “Sayangnya belum, Rin."
Arin sepertinya dalam keadaan buru-buru, ia tidak banyak bicara kepadaku dan langsung pergi melambaikan tangan bersama adiknya keluar kelas.
Aku menghela napas sejenak, menatap sesisi kelas yang mulai kian sepi, muri-muridnya semakin berkurang, mereka kebanyakan bergegas pulang sebelum hujan benar-benar turun.
Sepertinya aku sedikit menyesal membawa motor ke sekolah, mungkin jika tadi aku menaiki angkot, aku bisa saja pulang bersama Reza, Della, dan Zildan.
Aku menatap langit lagi (dan lagi), memperhatikan pergerakan awan yang mendung. Apakah hujan akan turun cepat atau tidak ya?
Saat aku memikirkan hal itu, sejenak suara dan getaran dari hp disaku celana menghentikan lamunanku tentang hujan. Aku segera mengambil dan melihatnya. Ada telepon?! aku segera mendekatkan ke telinga.
“Raka, bergegas ke rumah sakit kota! Cepat! Hari ini Kalisa akan melahirkan…” Ibuku berkata buru-buru. “Mamah dan Mertuamu saat ini sedang menuju rumah sakit mengantar Kalisa. Kamu langsung kesini sekarang!”
“Eh, bukannnya Kalisa akan melahirkan 3 hari lagi, Mah?” Aku menegang, jantungku berdebar memburu.
“Itu hanya perkiraan saja, Raka, bisa lebih cepat bisa lebih lambat. Saat ini tidak ada waktu ibu menjelaskan. Kamu sekarang bergegas kesini, Kalisa membutuhkan kamu!”
__ADS_1
“Iya Mah, Raka segera kesana…”
Kabar istriku melahirkan adalah sesuatu yang tidak aku sangka. Aku segera berlari cepat menyulusuri lorong kelas, bergegas ke parkiran untuk mengambil motor.
Tidak ada lagi berpikir apakah akan menunggu hujan atau tidak? Aku sudah tidak peduli lagi! Saat ini yang terpenting adalah menemui Bu Lisa, dia membutuhkan suaminya sekarang. Motor yang aku naiki segera melaju cepat meninggalkan sekolah.
Namun, disinilah inti dari cerita ini.
Jauh didepan sana saat aku berkendara. Ada sebuah mobil truk yang melaju cepat di jalan raya. Sopir mobil itu begitu piawai mengendarainya, menyalip mobil didepannya satu persatu, begitu lincah dan cerdik. Teramat jelas dia sangat mahir dan berpengalaman dalam berkendara.
Sayangnya kali ini, karena berpikir jalan raya akan sepi mengingat hujan segera turun, sopir mobil truk itu sedikit lengah dan abai.
Tanpa harus melirik ke depan sedikitpun, sopir mobil truk itu langsung menyalip mobil didepannya begitu saja. Dia lupa, alasan mobil didepannya bergerak lambat karena ada motor yang hendak berbelok. Alhasil kejadian tak terduga pun terjadi.
Aku yang kala itu baru berbelok ke jalan raya, tentu tak menyangka ada truk yang tiba-tiba sudah ada didepan mata dengan laju kencang. Tanpa bisa bereaksi apapun, motorku bertabrakan dengan mobil truk tersebut, menyebabkan tubuhku terpental beberapa meter hingga terhenti di pembatas jalan.
Kepalaku terbentur terlebih dahulu hingga menyebabkan pendarahan. Helm yang seharusnya menjaga kepalaku sudah terlepas saat tabrakan terjadi, aku sangat menyesal tidak memakainya dengan betul.
Saat ini, aku tidak bisa melanjutkan pergi ke rumah sakit untuk menemui Bu lisa. Aku sudah tidak bisa bergerak lagi, bukan karena tubuhku sakit melainkan karena kesadaranku yang mulai memudar akibat benturan di kepala.
Sayup-sayup, aku mendengar orang-orang disekitar meminta tolong, saling berteriak ada kecelakaan, saling cepat meminta bantuan ambulan atau mobil yang lewat, agar aku segera dibawa kerumah sakit.
Aku tidak memperhatikan jelas suara mereka. Saat ini ada banyak hal yang terlintas dipikiranku, tentang bagaimana reaksi ibuku saat tahu bahwa aku kecelakaan kedua kalinya? Mamahku pasti sangat cemas dan khawatir… Lalu bagaimana dengan istriku yang tengah melahirkan? Seharusnya aku ada disana sekarang, menemaninya dalam perjuangan.
Kesadaranku hampir hilang. Aku menatap langit mendung kesekian kalinya, tetesan air pertamanya mengenai wajahku.
Tepat setelah itu, pandanganku akhirnya gelap sempurna.
...***Like dan Komennya***......
__ADS_1