
“Mas…”
Bu Lisa segera menghamburkan tubuhnya memelukku, beranjak dari kursi roda ke kasur tempatku berbaring. Dia baru saja terbangun dari tidur lalu mendapati aku sedang mengelus pipinya.
“Adek takut, Mas… Adek takut…” Lirihnya pelan.
Suara istriku perlahan mengecil lalu tak lama digantikan dengan suara isak tangis. Pelukannya semakin erat, seolah takut aku akan pergi kemana.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk tersenyum, mencoba menenangkannya. “Tidak apa-apa Lisa, Mas sudah baik-baik saja sekarang.”
Walaupun aku sudah berkata demikian berulang-ulang, Bu Lisa masih terus menangis. Aku mengelus punggungnya sambil mengatakan maap karena membuatnya khawatir. Gara-gara kecelakaan ini, selain membuat istriku sedih menunggu hingga aku terbangun, juga membuatnya terpukul. Bu Lisa bahkan hampir tidak makan seharian ini, menolak makan dan hanya ingin menemaniku.
Sambil dalam keadaan memelukku, istriku mengutarakan isi hatinya. Tidak terlalu jelas karena isakan tapi aku cukup mengerti bagaimana cemasnya dia padaku.
“Mas... jangan tinggalin Adek~”
“Aku ada disini, sayang. Mas sekarang baik-baik saja.” Aku tersenyum, mengusap lembut pucuk kepalanya.
“Adek tidak ingin kehilangan, Mas.”
“Tidak akan, Mas cuma tidur sebentar tadi. Maap yahh… membuatmu khawatir.”
Menyaksikan bagaimana istriku menangis lima belas menit lamanya sudah membuat dadaku sesak. Aku menyeka sudut mata, hampir menangis. Tidak boleh! Aku harus jadi suami yang kuat, menjadi pegangan Bu Lisa saat dia bersedih seperti ini.
Menurut cerita ayah, aku dibawa oleh ambulan paska kecelakaan tersebut, beruntungnya rumah sakit yang dituju ambulan itu sama dengan rumah sakit tempat istriku melahirkan. Karena HP yang aku bawa baik-baik saja setelah kecelakan, maka tidak sulit untuk mengabari keluargaku.
Saat itu lagi dalam bahagia-bahagianya ketika Bu Lisa melahirkan dengan sehat, namun tidak berangsur lama, seperti telapak tangan yang mudah dibalik, keadaan tersebut berubah drastis menjadi ketidak percayaan dan syok. Raka kecelakan! Itulah ujaran dari orang yang menelepon ibuku.
Ayah tidak menceritakan semuanya, atau lebih tepatnya beliau tidak ingin aku menyalahkan diri sendiri karena kecelakaan tersebut, membuat semua orang khawatir.
Lagian juga, kecelakaan ini tidak separah yang terlihat. Didetik mobil hendak tabrakan, ia sempat mengerem mendadak, meminimalkan benturan yang akan terjadi. Meskipun bagian kepalaku kena, tetapi kata dokter itu adalah luka yang tidak parah, tidak harus dikhawatirkan.
Lima menit berlalu lagi, akhirnya Bu Lisa melepaskan pelukannya. Ia menatapku sesaat sebelum kemudian mencium bibirku sekilas, wajahnya merona lalu segera menunduk malu.
Aku tertawa kecil, mengecup keningnya singkat. “Pagi istriku.”
“Mm… Pa-Pagi, Mas.” Balasnya dengan tatapan salah tingkah.
Aku mengelus pucuk kepalanya, jika Bu Lisa sudah bersikap seperti biasanya, itu menunjukan dia sudah tidak cemas lagi.
Setelah dilihat lagi Bu Lisa, aku baru menyadari ada kain yang melilitnya di bagian paha, sengaja pahanya dirangkap, tidak bisa dibuka lebar. Aku berpikir, mungkin itu karena Bu Lisa habis melahirkan.
__ADS_1
“Mamah Ratna sama ayah kamu, dimana, Mas?” Istriku celingukan melihat sekeliling. Dia habis menangis, takut kejadian tadi terlihat oleh mertuanya. Memalukan.
“Tenang, hanya kita berdua disini, tidak ada siapa-siapa.”
Setelah kami makan sekeluarga diruangan tempatku dirawat, kedua orangtuaku langsung berpamitan sebentar untuk pulang dan membersihkan diri. Mereka sudah seharian disini.
Bu Lisa menghembuskan napasnya lega, seperti terselamatkan sesuatu. Disaat dia seperti itu, aku malah langsung mengecup bibirnya tiba-tiba, membuat matanya terbelalak kaget.
“Maap yah, Mas tidak membantumu saat kamu butuh, seharusnya aku ada disana ketika kamu melahirkan.” Jelas niatku menciumnya.
Istriku menggelengkan kepalanya langsung. “Yang penting, Adek ingin Mas sekarang kembali sehat lagi, mendampingi Adek dalam keluarga kecil kita.”
Jujur. Ungkapan tadi sungguh membuat hatiku senang, terlebih lagi istriku mengukapkannya secara tulus.
“Sini... Mas pengen meluk istri yang cantik ini dulu. Kangen...”
“Adek juga sama.” Katanya yang segera menyandarkan kepalanya pada dadaku. Aku memelukknya erat, mengelus punggungnya.
Baru saja kami sedang sayang-sayangnya, saling berpelukan, mengeluarkan kata-kata kasih sayang, tetapi tiba-tiba ada seseorang masuk kedalam ruanganku.
Aku mendongak, segera melepas pelukan saat menyadari itu adalah kedua mertuaku, Bu Ayu dan Pak Harun. Tentu saja, aku malu bermesraan dihadapan mereka berdua.
Disisi lain, Bu Lisa sedikit kebingungan ketika pelukanku mengendur dan terlepas, tetapi tidak lama ia menyadari penyebabnya.
“Eh? Mamah kesini gak mengganggu kalian kan?” Ujar Bu Ayu menyadari sesuatu.
“Enggak, Bu. Gak ngeganggu kok.” Balasku gugup, salah tingkah.
Pak Harun tertawa. “Ayu, segera serahkan bayinya pada mereka. Bukankah kita ada urusan sekarang?”
“Urusan? Urusan apa Mas, perasaan Ayu gak punya uru-” Bu Ayu mulai mengerti maksudnya. “Ah iya, Ayu lupa. Kita harus kesana ya, Mas?”
Pak Harun mengangguk, tertawa kecil.
“Sayang, ini katanya cucu Mamah mau ketemu ibunya, dia dari tadi nangis terus. Mungkin pengen lihat ayahnya yang baru siuman” Bu Ayu meliriku sekilas, tertawa renyah.
Dengan hati-hati Bu Ayu menyerahkan Ralisa kecil kami pada istriku. Kalisa tersenyum, segera menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Selepas itu kedua mertuaku berpamitan pergi, meninggalkan kami berdua.
“Mas, lihat... Ini anak kita.” istriku berucap antusias, menunjukaannya padaku. “Dia seorang perempuan, Mas, cantik bukan?”
Aku mengangguk, merapatkan posisi pada tubuh istriku. Melihat anakku lebih dekat.
__ADS_1
“Mas, kamu belum kasih nama?” Bu Lisa menuntut.
Aku tersenyum, mengelus kepala istriku ini. Dasar tidak sabaran.
“AMELIA, itulah nama anak kita, Sayang. AMELIA”
Bu Lisa menoleh padaku, mengecup pipiku sekilas. “Terimakasih Mas, telah memberi nama pada anak kita.” Lalu pindah lagi pada Amelia, tersenyum. “Jadi anak mamah ini ternyata Amelia, ya? Cantik, secantik anak mamah dan papah.”
Istriku berceloteh dengan Amelia, seperti mengobrol. Sedangkan Amelia meggoyang-goyangkan tangan dan kakinya, tertawa imut.
“Eh, Mas lihat-lihat! Amelia tertawa.” Istriku girang menunjukkannya. “Pasti Amelia senang yah, sekarang sudah diberi nama sama papah.”
Aku tertawa kecil, senang sekali melihat Bu Lisa begitu bahagia mengobrol dengan Amelia, suasana yang sangat damai namun penuh dengan segala keindahan. Benar kata orang lain bilang, anak adalah pelengkap dari keluarga.
“Mm... Dek?” Aku berdeham, memotong kebersamaan Bu Lisa dan Amelia.
“Iya Mas. Ada apa?”
“Eh, itu... Mm... Mas boleh gendong gak?” Aku menunjuk Amelia, sedikit gerogi.
Bu Lisa tersenyum. “Tentu saja, Mas. Ini anak kamu, anak kita juga.”
Istriku menyerahkan Amelia yang segera aku terima dengan pelan dan penuh kehati-hatian.
“Tidak usah kaku seperti itu, Mas. Tenang saja. Amelia tidak akan apa-apa kok.”
Istriku jelas tertawa melihatku yang seperti robot ketika Amelia sudah aku gendong. Aku membalasnya dengan cengengesan tidak jelas. Jujur! Ini baru pertama aku menggendong seorang bayi, terlebih bayi itu anakku.
Belum juga satu menit aku gendong, tiba-tiba Amelia menangis, meminta dikembalikan pada ibunya. Aku mau tak mau menyerahkan lagi pada istriku.
“Sepertinya, Mas tidak berbakat gendong bayi.” Aku menggaruk bagian kepala yang tidak gatal.
“Bukan ‘tidak’ tapi belum, Mas. Nanti juga kamu akan terbiasa.” Katanya sambil menerima Amelia kembali.
Ternyata, Amelia ingin menyusui pada ibunya, terlihat jelas dia begitu tenang ketika Bu Lisa segera menyusuinya.
Maka dengan hadirnya Amelia, keluarga kecil kami bertambah, penuh cinta dan kebahagiaan. Besok-besok, boleh jadi anggota keluarga kami bertambah lagi. Entahlah, siapa yang tahu bukan? Hanya yang di Atas yang tahu segalanya.
__ADS_1
Selamat malam minggu\*\*...